Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Kalimat Berbahaya saat Menegur Anak

Posted by Farid Ma'ruf pada Juli 2, 2019

Sebagian orang tua membiarkan anaknya berbuat yang tidak semestinya dengan alasan “Ah wajar,masih anak-anak.” Sebagian orang tua lainnya beralasan bahwa menegur anak akan menghambat potensi, bahkan merusak sel otak anak. Oleh karenanya, mereka memilih membiarkan anaknya berbuat salah tanpa teguran.

Benarkah sikap seperti ini?

Tentu kalimat pembiaran ini tidak tepat karena anak akan merasa bahwa hal tersebut boleh-boleh saja dilakukan. Menegur dan menasihati anak adalah bagian dari mendidik anak.

Saat anak berbuat salah, terlebih perbuatan yang dilarang agama, maka menjadi kewajiban kita sebagai orang tua untuk meluruskannya.  Diceritakan oleh Abu Hurairah: Ketika Hasan (cucu Nabi saw.) masih kecil, ia pernah mengambil sebutir kurma dari kurma sedekah (zakat), lalu menjadikannya (masuk) ke dalam mulutnya, maka Nabi saw. memerintahkan: Kikh kikh. “Muntahkan, muntahkan.”—agar membuangnya kemudian beliau bersabda—: “Apakah kau tidak merasa bahwa kami tidak makan sedekah.” (HR. Al-Bukhari dari Abi Hurairah). Beginilah sikap Nabi SAW saat melihat cucunya melakukan perbuatan tidak pantas. Beliau tidak membiarkan dan memakluminya. Tapi beliau menegurnya.

Apakah menegur anak berarti boleh mengucapkan kalimat apa saja untuk memarahi anak? Tentu tidak. Ada batas yang harus dijaga orang tua saat menegur anak yang berbuat salah.

Apa saja batasan tersebut?

Pertama, Tidak Boleh Mencaci Maki Anak.

Anak memang harus diberitahu bahwa perbuatannya salah. Tetapi bukan berarti kita boleh mencaci maki anak.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Seorang pemabuk dihadapkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau memerintahkan agar ia dipukul. Di antara kami ada yang memukul dengan tangan, dengan sandal, ada pula yang memukul dengan baju. Ketika orang itu berlalu, seseorang berkata, ‘Celakalah ia, semoga Allah menghinakannya.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian menjadi penolong syaitan untuk mencelakakan saudara kalian.”

Orang tua yang menegur anaknya, tidak boleh sampai mencaci maki anaknya, misalnya mengatakan “dasar anak kurang ajar”, “dasar anak setan”, dan sejenisnya. Ini bukan lagi pembinaan, tapi justru perbuatan dilarang agama.

Kedua, Kalimat Menyesali Keberadaan Anak.

Dikarenakan sangat jengkel, bisa jadi orang tua mengucapkan kalimat :

“Ibu menyesal sudah melahirkanmu. Kalau kamu jadinya seperti ini, lebih baik dulu Ibu tidak melahirkanmu.”

Tentu ini jelas kalimat yang sama sekali tidak pantas diucapkan seorang orang tua kepada anaknya. Anak adalah amanah. Tugas orang tua adalah menjaga amanah itu sebaik-baiknya. Melahirkannya, menyusuinya, mencukup kebutuhannya, mendidiknya dalam ilmu agama dengan sebaik-baiknya. Tapi apakah anak tersebut akan menjadi baik atau tidak, itu adalah di luar kuasa kita.

Kesabaran orang tua dalam mendidik anak, membesarkan anak, dan berbagai ujiannya, adalah amal sholeh yang ada pahalanya di sisi Allah. Itu semua bukan perbuatan sia-sia yang boleh untuk disesali. Banyaklah berdoa kepada Allah agar anak kita menjadi anak yang sholeh.

Ketiga, Mengungkit Kesalahan yang Telah Lalu.

Anak sangat mungkin melakukan banyak kesalahan. Hendaknya kita menasihati anak terkait kesalahan dia yang sekarang dilakukan. Jangan ungkit kesalahan lain di waktu sebelumnya yang sudah dianggap selesai. Mengungkit-ungkit berbagai kesalahan di waktu yang lalu akan membuat anak merasa dirinya buruk. Ia akan merasa bahwa di mata orang tuanya, ia tidak bisa menjadi baik. Anak juga akan merasa bahwa orang tuanya adalah sosok pendendam yang sulit memaafkan.

Keempat, Menyamakan dengan Ayah atau Ibunya.

Di saat memarahi anak, tidak jarang ayah atau ibunya menyalahkan pasangannya. Misalnya mengatakan :

“Kamu itu susah banget dikasih tahu. Bener-bener mirip sama bapakmu.”

Tentu ucapan ini sama sekali tidak tepat. Kesalahan anak adalah kesalahannya, tidak ada hubungan dengan ayah atau ibunya. Selain itu, ucapan ini justru akan membuat anak merasa mendapatkan pembenaran karena sudah seperti ayah atau ibunya. Ucapan tersebut juga justru akan membuat masalah baru yang tidak perlu ada dengan pasangan.

Kelima, Membandingkan dengan Anak Lain.

“Adikmu yang kecil saja bisa, masak kamu tidak bisa?”

Pernahkan Ayah Bunda mengucapkan kalimat seperti itu kepada anak? Membandingkan seorang anak dengan anak lain, misalnya saudaranya, atau temannya, sebenarnya kurang tepat. Mungkin maksud kita sebagai orang tua adalah agar anak bisa meniru kebaikan anak lain tersebut. Namun hal ini sebenarnya justru membuat anak hancur kepercayaan dirinya. Ia akan merasa rendah diri dan tidak punya prestasi di hadapan orang tuanya.

Ayah Bunda yang berbahagia. Marilah kita sadar bahwa menegur dan menasihati anak adalah untuk mendidik dan memperbaiki kesalahan mereka. Bukan tujuan kita untuk menghancurkan perasaan mereka. Mari kita berlatih menahan diri dari ucapan-ucapan buruk, menahan diri dari emosi, agar tujuan kita mendidik anak menjadi anak yang sholeh bisa berhasil. Semoga bermanfaat ya Ayah Bunda.  (Tim Karima; www.karimafood.com)

 

Bagi Ayah Bunda yang ingin berlangganan materi edukasi tentang Bayi, Balita, dan Pendidikan Anak, silakan bergabung ke WA Group Edukasi Karima. Silakan klik : https://karimafood.com/ke untuk bergabung. GRATIS.

Sumber : https://karimafood.com/kalimat-berbahaya-saat-menegur-anak/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: