Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Suami-Istri Tidak Akur Saat Ramadhan, Ini Kerugiannya

Posted by Farid Ma'ruf pada Juli 1, 2014

sms-bangunkan-sahurSepasang suami istri sedang kurang akur. Sudah beberapa waktu mereka tak saling sapa. Kalau mau komunikasi, terpaksa lewat SMS atau menulis catatan di kertas.

Kalau suami mau pulang telat karena ada keperluan pekerjaan di kantornya, dia mengabarkannya lewat catatan di kertas yang ditempel di kamar. Begitu pula kalau istrinya mau ke luar rumah untuk suatu urusan, minta ijinnya lewat SMS saja. Tak ada saling sapa. Tidak ada pembicaraan. Mereka berdua serumah, tapi seperti dua manusia asing yang tak saling kenal.

Situasi seperti ini bisa terjadi di antara pasutri yang tengah berseteru. Semoga saja ini tidak terjadi di antara teman-teman saya di sini, karena insya Allah komunikasi antara suami dan istri semuanya lancar jaya  

Tapi, jika misalnya kejadian, mohon segera akurlah. Tidak ada gunanya suami-istri berseteru. Apalagi pas Ramadhan seperti sekarang. Kuatirnya nanti joke di bawah ini bisa terjadi beneran (saya garis bawahi ya, ini hanya humor saja):

Sang suami yang sedang tidak saling sapa dengan istrinya, menulis di kertas: “Mama, nanti tolong bangunin jam 3 ya. Biar bisa sahur”. Kertas itu kemudian ditempelkan di kaca meja rias istrinya.

Tepat jam 3, sesuai permintaan, sang istri ganti menempelkan kertas di samping bnatal suaminya. “Pa, ayo bangun, sudah jam 3. Katanya mau sahur!”.

Istri sahur duluan. Ditunggu sampai jam 4 kok suami belum bangun juga, si istri menulis kertas lagi, “Pa, sudah jam 4 nih, sebentar lagi imsak. Buruan sahur. Makanan sudah siap di meja”. Kembali catatan kertas ini diletakkan di atas bantal suami.

Jam 4.15 adzan berkumandang dari masjid sebelah rumah. Sang suami langsung kaget dan loncat dari tempat tidurnya. Buru-buru ke meja makan, tapi ouuppsss…. sudah masuk subuh. Kamu terlambat, Mas Bro

Dengan kesalnya, suami mengambil kertas folio dan menulisinya dengan spidol merah, “Mama ini gimana! Kan sudah saya minta bangunkan untuk sahur. Sekarang sudah telat nih!”.

Kertas itu diberikan istrinya yang barusan keluar dari kamar mandi dengan wajah bersungut-sungut.

Istri bergegas masuk kamar, dan tak lama kemudian menghampiri suaminya dengan secarik kertas kecil bertuliskan, “Kan tadi sudah dibangunkan. Tuh lihat kertas di bantal”.

Begitulah. “Dialog” suami istri di atas memang imajinasi saya. Ini hanya kisah fiktif. Belum benar-benar terjadi dan saya berharap tidak benar-benar terjadi.

Cerita aslinya, tempo hari saya mendengar kabar dari teman tentang suami-istri yang sedang tidak akur. Dan kalau komunikasi ya memang mengandalkan catatan kertas atau SMS.

Di Ramadhan mulia ini, meski saya belum sempat menemui sang suami untuk menasehatinya agar segera akur dengan istrinya, tapi saya berdoa kini keduanya sudah kembali rukun. Ayo, saling memaafkan di bulan penuh ampunan ini. (M. Ihan Abdul Djalil)

(www.syariahpublications.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: