Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Tips Keluarga Sakinah (2): Padamkan Api Kemarahan dengan Air Kesabaran

Posted by Farid Ma'ruf pada Januari 7, 2014

Oleh : M. Ihsan Abdul Djalil

istri-cium-tangan-suamiSyariahPublications.Com — Dalam berumah tangga, kadang ada saja masalah yang bisa memicu pertengkaran. Bahkan hal sepele dan ringan pun dapat merusak keharmonisan suami istri. Jika ini terjadi, kontrol emosi Anda, wahai para suami.

Saat istri diliputi api kemarahan, jangan malah menuangkan “bensin” dengan meladeninya bertengkar. Siramkan air kesabaran, dengan tak melayaninya berdebat. Insya Alloh, saat si dia melihat Anda mengalah (bukan berarti kalah), pertikaian akan segera mereda. Tak ada kebahagiaan di dunia yang melebihi keharmonisan suami istri.¬†

Status ini saya tujukan kepada para suami, karena di tangannya ada hak talak. Jika suami ikut-ikutan marah, emosinya memuncak, lepas kendali, maka talak (mungkin) hanyalah soal waktu. Naudzu billah min dzalik…

Saya bersedih mendengar pasangan muda itu bercerai. Terlalu sering mereka bertengkar, mungkin tiap hari. Malam terakhir malah saling menyerang fisik. Anak perempuan satu-satunya yang masih 2 tahun hanya bisa menangis menyaksikan 2 orang dewasa yang mestinya mengajaknya bermain malah saling bentak di hadapannya.

Lalu…. “SAYA CERAI KAMU!”. Kalimat itu akhirnya keluar juga. Menggelegar. Kerasnya serasa hingga menembus langit. Mendadak pertengkaran berhenti. Hening. Semuanya terdiam. Esok paginya, si istri membawa anaknya pergi ke rumah orang tuanya. Mirip lagu cengeng “pulangkan saja aku pada ibuku atau ayahku”.

Saya memutuskan menemui sang suami, saat berada di kota itu. Kami berbicara empat mata, sebagai dua lelaki yang sama-sama menjadi suami. Lelaki muda itu hanya menunduk sepanjang pertemuan kami. Sesekali dia melirik saya. Sambil menghela napas panjang. Ada nuansa penyesalan dalam dirinya.

“Tapi kami sudah rujuk, Ustadz. Tiga minggu setelah kejadian itu, saya menjemputnya dari rumah mertua”.

Alhamdulillah, jawaban itu sungguh melegakan. Selama 3 minggu perpisahan, pasangan muda ini telah introspeksi. Kesimpulannya adalah sebelum ini mereka sama-sama cepat marah. Saya meminta sang suami untuk lebih bisa menahan diri.

“Tapi kami sekarang lebih harmonis kok, Ustadz”. Anak muda itu tersipu malu. Saya pun tersenyum.

Saya meminta lelaki muda itu untuk lebih bersabar. Dan dia mau berjanji untuk saya. Pertemuan itu pun berakhir manis. Saya mendoakan untuk kebaikan dia dan keluarganya. Dan semoga, kita semua juga menjadi orang-orang yang bisa bersabar dan menahan diri dari amarah.

*Diketik di Juanda Airport Surabaya, 8 Januari 2014, sesaat sebelum terbang ke Jakarta. (www.syariahpublications.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: