Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Jangan Saingi Sang Pengantin

Posted by Farid Ma'ruf pada November 22, 2013

Oleh : Farid Ma’ruf

nikahDi sebuah pesta pernikahan, saya berniat menyalami dan mengucapkan selamat kepada pengantin ikhwan. Wajah si pengantin ikhwan belum saya kenal. Saya pun celingak-celinguk kebingungan mencari pengantin ikhwan. Saya cari orang pakai jas, tidak ada. Pakai baju paling menonjol, juga tidak ada. Cari pelaminan, tidak ada. Adanya semua terlihat sebagai tamu.

Beruntung saya menemukan teman yang saya kenal. Tanpa basa-basi, saya langsung bertanya (dengan suara tidak berbisik), “Mana pengantin ikhwannya?” Teman saya menjawab : “Ini orangnya.”, jawab teman saya sambil menunjuk seorang laki-laki yang duduk persis di sampingnya. Saya terkaget-kaget, juga muncul perasaan tidak enak karena tentu tadi pertanyaan saya didengarnya. Pengantin pria tersebut hanya memakai sandal, serta baju koko biasa yang sudah lawas, bukan baju koko yang baru atau meriah. Kalau saya boleh bilang, pakaian yang dipakai teman saya lebih rapi daripada yang ia pakai. Saya dan tamu-tamu yang lain pun justru memakai sepatu, lebih terkesan “resmi” daripada pengantinnya.

 

Beberapa menit kemudian, datanglah seorang tamu ustadz terkenal, ustadz yang sering mengisi di berbagai kota di Indonesia bahkan di berbagai negara. Sialnya, sang ustadz ini juga tidak kenal sama pengantinnya. Ia masuk, kemudian bersalaman dengan beberapa tamu. Sampai bersalaman dengan saya, masih salaman biasa, maklum sudah kenal dengan ustadz tersebut. Giliran sampai salaman dengan teman saya (yang kebetulan tidak dikenal sang ustadz) sang ustadz langsung memberikan selamat dan doa. Dikiranya teman saya tadi adalah pengantinnya. Teman saya pun hanya bisa senyam-senyum, tamu-tamu yang lain tidak bisa menahan tawa.

 

= = = =

Hari ini saya akan mengantar seorang ikhwan untuk bertaaruf dengan seorang akhwat. Kebetulan, baik si ikhwan maupun si akhwat sama sekali belum pernah bertemu. Termasuk saya sendiri, juga belum pernah bertemu dengan si akhwat. Tapi saya berani mentaarufkan karena saya mempunyai  beberapa “agen rahasia” yang telah melaporkan segala sesuatu tentang si akhwat.

 

Belajar dari pengalaman kasus di pesta pernikahan tersebut, maka saya diwanti-wanti sama istri. Pokoknya jangan tampil terlalu rapi sehingga siapa tahu lebih rapi daripada si ikhwan yang mau ditaarufkan. Coba bayangkan, bagaimana jika si akhwat nanti keliru mengidentifikasi. Kan gawat …..!

 

He he he ….

(www.faridm.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: