Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Menjadi Sahabat Anak

Posted by Farid Ma'ruf pada September 22, 2013

sahabat-anakMenjadi orang tua di zaman jahiliyah modern saat ini sungguh tidak mudah. Tantangannya semakin canggih. Bukan hanya dari personel sang buah hati, tapi juga pengaruh luar. Lingkungan pergaulan, teknologi informasi hingga media massa tak henti-hentinya menjajah pemikiran anak-anak. Tak mudah bagi orang tua untuk senantiasa memahami isi kepala ananda tercinta.

Nah, salah satu strategi untuk selalu bisa mengawasi perkembangan anak adalah dengan menjadi sahabat anak.  Ini karena sebagai pribadi yang masih labil, dalam kesehariannya anak-anak sangat membutuhkan figur orang tua. Orang tua adalah role model bagi mereka.

Tapi, di sisi lain, dengan perkembangan usia, anak membutuhkan sosok sahabat yang bisa menjadi partner dalam dunianya. Nah, sebagai orang terdekat anak, orang tua harus bisa berperan sebagai sahabat bagi anak. Sebagai sahabat, orang tua hendaknya menempatkan diri sejajar dan partner anak. Bagaimana caranya?

Pertama, jadilah pendengar yang baik dan aktif. Siapkan telinga untuk mendengar celotehnya. Berikan respons positif dan logis ketika anak curhat. Ajukan pertanyaan-pertanyaan seputar ceritanya, tapi jangan membuat privasinya merasa terusik dan terganggu. Berikan anjuran atau pendapat yang bisa ia mengerti, tapi jangan menekankan keharusan yang terkesan mendikte. Kembangkan inisiatif dan kreavitasnya.

Kedua, libatkan diri dalam kegiatan anak. Pahami apa yang disukai dan tidak disukai anak. Selami dunia si kecil. Temani dan dampingi anak ketika bermain. Pahami kebiasaan-kebiasaan yang ia lakukan saat beraktivitas. Perhatikan kreativitasnya terhadap mainan dan ajaklah berbicara secara aktif agar kecerdasannya terstimulasi secara efektif. Dengan melakukan ini, orang tua dapat memahami kelebihan dan kekurangan anak, serta tidak selalu memaksakan kehendak terhadap anak.

Ketiga, berikan pujian dan teguran secara jujur, tulus, proporsional dan rasional. Ketika anak berbuat salah, tegur ia dengan sikap tidak menghakimi. Jangan mengekspresikan kemarahan berlebihan yang akan membuatnya tertekan. Berikan pujian untuk setiap keberhasilan yang diraihnya agar ia merasa dihargai dan termotivasi, tapi jangan berlebihan. Sampaikanlah kelebihan dan kekurangan anak dengan jujur, tetapi dengan cara yang membuatnya mengerti dan tidak merasa disakiti.

Keempat, berikan kepercayaan pada anak. Sesekali biarkan anak mencoba sendiri hal-hal yang ingin dilakukannya asal tidak membahayakan. Misal mandi dan makan sendiri atau mencoba permainan baru. Cara ini dapat menumbuhkan kepercayaan dirinya, tidak selalu bergantung kepada orang lain, merasa dihargai dan bisa mandiri. Dengan penghargaan dan kepercayaan, kemampuan kreatifnya pun akan lebih berkembang.(kholda/berbagai sumber).

Sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: