Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Mas, Mengapa Memilih Menikahi Saya?

Posted by Farid Ma'ruf pada September 4, 2013

titinFaridM.Com — Setelah melewati masa lima tahun pernikahan, tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba istri saya bertanya. Isi pertanyaannya kurang lebih sebagai berikut:

“Mas, mengapa dulu Mas memilih untuk menikahi saya? Mengapa Mas harus jauh-jauh memilih akhwat dari Surabaya? Di Jogja kan juga banyak akhwat?”

Hmmm….

Pikiran saya pun melayang menuju kejadian sekitar enam tahun yang lalu. Ketika itu memang banyak tawaran datang kepada saya. Menawari saya untuk ditaarufkan dengan akhwat pilihannya. Kata mereka yang menawari, akhwat yang ditawarkan cocok untuk saya. Tawaran paling banyak tentu saja dari Bantul, karena saya memang tinggal di Bantul. Tapi tidak sedikit juga yang datang dari tempat-tempat lain seperti Kota Jogja, juga kampus-kampus di Jogja. Ada UNY, UGM, juga UII. Bahkan ada juga dari kota-kota lain seperti Bogor, Jakarta, Surabaya, dan lain-lainnya. Banyaknya tawaran tersebut bisa jadi karena saya sering aktif di berbagai kegiatan sehingga akhirnya kenal banyak orang, termasuk orang-orang yang sebelumnya sama-sama tinggal di Jogja tetapi kemudian pindah ke kota lain.

Di masa-masa ini juga ada satu kejadian unik. Suatu ketika, (calon) istri saya mengikuti kegiatan di sebuah kampus yang berbeda dengan kampus (calon) istri saya biasa beraktifitas. Di sana tiba-tiba didatangi seorang akhwat. Akhwat itu bilang ingin curhat. Ternyata curhat masalah “cinta”. Akhwat tersebut mengaku tertarik pada seorang ikhwan, tapi ia tidak tahu apakah ikhwan tersebut akan mau kepadanya atau tidak, karena si ikhwan kenal kepadanya saja tidak. Kemudian (calon) istri saya bertanya, apa yang membuat anda tertarik kepadanya. Kemudian akhwat tersebut menjelaskan alasannya. Nah, di sini kemudian (calon) istri saya yang penasaran bertanya, siapa ikhwan itu? Kok anda semangat sekali? Betapa kagetnya (calon) istri saya ketika si akhwat tersebut menyebut nama “Farid Ma’ruf”. Loh, itu kan nama calon suami saya. (Gubrak). Tapi demi menghormati si akhwat tersebut, (calon) istri saya pura-pura tidak kenal sama ikhwannya (padahal pada waktu itu sudah saya lamar). Dan memberikan nasihat kepadanya. Intinya, jangan terlalu memperturutkan perasaan. Apalagi sama orang yang belum dikenal. Baru ketika hari H pernikahan tiba, si akhwat dengan tampang malu dan muka bersalah mendatangi istri saya. Tentu saja minta maaf. He he… Tapi alhamdulillah hubungan personal tetap baik. Ketika anak kami lahir, datang juga kado dari si akhwat tersebut.

Kembali ke persoalan tawaran taaruf, biasanya kalau ada orang yang menawari seperti itu dan mau memberikan biodata akhwat, saya cenderung menolak untuk menerima biodata akhwat. Saya hanya mau menerima biodata akhwat yang mau sama saya saja. Jadi berikan saja biodata saya ke akhwat yang menurut Mak Comblang (MC) baik dan cocok untuk saya. Kalau akhwatnya mau, ya saya baru mau melihat biodata si akhwat. Tapi dalam prakteknya, saya tidak membuat biodata. Karena ketika saya bertanya kepada orang yang mau menjadi MC tentang informasi apa yang dibutuhkan si akhwat, rata-rata menjawab : nama lengkap, tanggal lahir, pendidikan, foto, dan sejenisnya. Wah, kalau cuma data umum seperti itu, buka saja Friendster saya (waktu itu belum zamannya Facebook). Sudah ada semua di sana. Terus, jika butuh informasi lain, ya MC ceritakan saja apa yang MC ketahui tentang saya. Beres kan?

Alasan mengapa saya tidak mau menerima biodata akhwat adalah, saya sebenarnya khawatir. Bagaimana kalau ditawarkan akhwat yang top markotop, sholehah pastinya, pintar, cantik sekali, baik, dan hebat dari semua sisi, sehingga saya menjadi semangat 45 untuk menikahinya, tetapi ketika disodorkan biodata saya, ternyata si akhwat menolak. Kalau hal itu sampai terjadi, ada resiko saya menjadi “nglokro”, desperate, atau patah semangat. Dan itu berbahaya bagi dakwah (saya memegang suatu amanah di dalam dakwah). Makanya, saya memilih untuk tidak usah menerima biodata akhwat. Daripada pusing memikirkan akhwat, lebih baik pusing memikirkan yang lain. He he.

Ternyata hal tersebut tidak menyurutkan orang-orang yang suka menawari. Tetap saja ada yang semangat memberikan tawaran. Tinggal saya mau apa tidak sama akhwatnya. Nah, di sinilah akhirnya saya harus berpikir. Akhwat-akhwat yang ditawarkan itu insya Allah baik semua. Tidak ada yang jelek secara kualitas aqliyah dan nafsiyahnya. Tetapi jika banyak pilihan, bagaimana saya harus memilih? Tidak mungkin untuk dipilih semua. Hanya satu yang harus saya pilih.

Maka saya menetapkan dua hal. Pertama, saya klasifikasi dulu. Masing-masing MC itu kira-kira berada di pihak siapa? Berada di pihak saya dengan mencarikan akhwat untuk saya, atau berada di pihak akhwat dan membantunya mencari ikhwan pilihan dan saya dijadikan targetnya. Dalam hal ini, saya cenderung memilih MC yang berada di pihak saya, bukan berada di pihak akhwat. Alasannya, saya menghindari resiko menjadi “korban” dari akhwat yang secara kualitas kalah tinggi dibanding yang lain sehingga “belum laku”. Kedua, saya menetapkan syarat tambahan. Syarat ini sebenarnya bukan syarat wajib, tetapi sengaja saya tambahkan agar lebih memudahkan saya dalam memilih calon. Karena jelas tidak lucu jika karena ada banyak pilihan, terus saya undi pakai dadu siapa yang mau saya pilih. He he he. Syarat tambahan tersebut ada dua.  Pertama, akhwat saya prioritaskan yang pengurus organisasi dakwah, atau sering terlibat dalam kepanitiaan dalam posisi strategis. Orang yang terbiasa dalam organisasi biasanya cenderung bisa berpikir tertata, tenang, dan sudah terbiasa menyelesaikan masalah. Sehingga ketika berumah tangga diharapkan juga bisa memanage rumah tangga dengan baik. Kedua,akhwat saya prioritaskan yang bisa berbahasa Arab. Saya ingin punya anak yang pintar, maka wajar kalau saya pilih calon ibunya anak-anak juga yang pintar. Jangan sampai dapat calon istri tampang artis tapi IQ jongkok.

Alhamdulillah dengan adanya dua syarat tambahan tadi, saya menjadi lebih mudah menentukan pilihan. Calon-calon yang tidak memenuhi kriteria tadi bisa langsung disingkirkan, dan pilihan akhirnya jatuh kepada seorang akhwat dari Surabaya. Proses pun dilakukan dengan sebaik-baiknya, dengan dilakukan saling verifikasi data yang akurat. Alhamdulillah selalu saja ada orang-orang baik yang mau membantu proses ini. Diantaranya Ustadz. Rohmad S. Labib untuk satu jalur, dan Ustadzah Retno Sukmaningrum dari jalur yang lain (untuk urusan penting, boleh pakai banyak jalur, biar benar-benar aman). Dan masih ada beberapa sahabat lain yang membantu proses ini. Alhamdulillah lancar.

Kembali ke masalah pertanyaan istri saya di awal tulisan ini. Saya tidak menanyakan apa alasan istri saya bertanya seperti itu. Toh, itu hak istri untuk bertanya kan? Bisa jadi karena ia tahu bahwa sebenarnya banyak akhwat lain yang bisa dipilih, tapi mengapa tidak dipilh? Dan suami wajib menjawab. Maka tanpa kebingungan, langsung saja saya jawab dengan jujur :

“Soalnya kamu itu pintar bahasa Arab, juga pengurus aktif organisasi dakwah. Kombinasi seperti itu susah mencarinya. Di Jogja memang ada akhwat pengurus organisasi dakwah dan pintar bahasa Arab, tapi sudah menikah. Sementara akhwat yang belum menikah, ada juga yang pintar bahasa Arab, tapi bukan pengurus. Makanya saya harus mencari jauh-jauh keluar dari Jogja, dan alhamdulillah bisa menemukan dirimu di Surabaya.”

Tentu saja, alasan saya memilih akhwat yang sekarang menjadi istri saya tidak hanya dua hal tersebut. Ada banyak alasan lainnya. Tetapi alasan yang bisa membedakan akhwat tersebut dengan akhwat-akhwat lainnya utamanya adalah dua hal tersebut.

Mengapa kisah ini perlu saya tuliskan ?

Anda yang belum menikah, harus siap sejak sekarang jika tiba-tiba mendapat pertanyaan seperti itu. Itu memang pertanyaan penting. Oleh karena itu, carilah jawaban sejak sebelum menikah.  Dengan adanya jawaban-jawaban itu, maka anda akan bisa memastikan bahwa anda memilih calon istri (atau calon suami) karena alasan yang sebaik-baiknya. Alasan yang menunjukkan bahwa istri anda adalah orang yang sangat-sangat spesial dan susah dicari tandingannya.

Jangan sampai alasannya seperti 10 contoh berikut ini:

  1. Karena tidak ada akhwat lain yang mau sama saya, kecuali kamu.
  2. Mumpung ada akhwat yang mau sama saya.
  3. Kebetulan saja saya ditaarufkan sama kamu.
  4. Karena kamu cantik. (Berarti kalau nanti tambah tua dan berkurang cantiknya, terus bagaimana?)
  5. Dulu itu saya ditawari beberapa akhwat. Karena bingung, terus saya undi saja. (Gubrak).
  6. Karena kamu anak orang kaya. (Bagaimana jika kekayaan itu hilang? Terus tidak jadi cinta?)
  7. Saya cuma manut 100 persen sama ustadz saya. Jadi saya sebenarnya tidak peduli kamu baik apa tidak, tapi karena itu saran ustadz saya, ya saya manut saja. (Alasan ini sebenarnya memang tidak jelek, tetapi tidak kreatif. Selain itu, ustadz juga bisa salah).
  8. Dulu itu saya cuma manut sama senior yang menjadi Mak Comblang (MC). Katanya kamu baik. (Alasan ini sebenarnya juga tidak jelek, tetapi harus diingat bahwa MC juga bisa salah. Bahkan kadang ada MC yang misinya itu cuma asal menjodohkan orang. Kalau orang yang dijodohkan mau, ya sudah, alhamdulillah).
  9. Saya cuma manut pilihan orang tua. (Ya kalau pilihannya baik, tidak masalah. Tapi bagaimana kalau tidak?).
  10. Karena saya dulu itu terburu-buru. Kuliah sudah lulus. Teman-teman saya satu per satu sudah menikah. Tinggal saya saja yang belum. Kedua orang tua juga sudah bertanya terus kapan saya menikahnya. Kalau tidak segera menikah, saya bisa terkena tekanan batin. Makanya, saya buru-buru menikah, sedapatnya siapa saja asal mau tidak apa-apa. (Ini sebenarnya alasan koplak, tapi kok sepertinya tidak sedikit ya kasus seperti ini?)

Apakah anda sedang mencari jodoh? Carilah calon yang benar-benar spesial, yang benar-benar istimewa, yang bisa mendampingi dalam perjalanan menuju surga (semoga Allah memasukkan kita ke dalamnya).

Carilah alasan yang bagus bahkan paling bagus sebelum menjatuhkan pilihan. Ingat, pilihan itu akan sangat mementukan perjalanan hidup kita selanjutnya. Hidup anda pilihan anda. (www.faridm.com)

 Keterangan foto :

Suatu siang di depan Kantor Departemen Agama Bantul untuk antar istri kontak tokoh. Sedang menghubungi temannya (Mbak Devi) yang belum datang. Bahagia jadi suami yang ternak-teri (antar anak-antar istri).

Satu Tanggapan to “Mas, Mengapa Memilih Menikahi Saya?”

  1. rojul said

    assalamu ‘alaikum.

    saya ingin bertanya. apakah niat menikahi sepupu karena kasihan adalah niat yang baik??

    saya (24tahun) memiliki sepupu perempuan (20 tahun) yang sekarang pergi merantau di malasia. dia sempat pulang dan bercerita kepada saya bahwa dia sudah memiliki pacar di malaysia sana. tapi sidik punya sidik di facebook pacar sepupu saya itu saya menemujan bahwa dia, pacar sepupu saya itu, sering mengupload gambar wanita seksi. sepupu saya pun bilang bahwa ia punya banyak wanita lain. dan tak pernah ada kejelasan nya untuk menikahi .

    saya sebagai kakak sepupunya kasihan dengan keadaanya itu, namun tidak tahu cara menyelamatkan nya dari kemungkinan dipermainkan pacarnya.

    jadi pertanyaan saya apakah niat menikahi sepupu karena kasihan adalah niat yang baik??

    demikian kiranya pertanyaan saya. jawaban nya saya tunggu dan saya ucapkan terimakasih.

    wassalamu ‘alaikum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: