Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Sistem Bobrok Merusak Keluarga

Posted by Farid Ma'ruf pada April 14, 2013

mbak_zuliaKekerasan yang terjadi di dalam keluarga di Indonesia semakin beragam. Dari yang ringan hingga yang sangat berat. Korban sudah berjatuhan. Hukum yang ada tidak pernah membuat jera orang untuk melakukan hal yang sama. Mengapa sadisme di keluarga ini muncul dan harus seperti apa penyelesaian tuntasnya? Wartawan Tabloid Media Umat Joko Prasetyo mewawancarai Zulia Ilmawati, seorang psikolog dan aktivis dakwah. Berikut petikannya.

 

Bagaimana tanggapan Anda dengan semakin maraknya pembunuhan, mutilasi dan pemerkosaan di tengah keluarga?

 

Miris. Betapa  manusia yang diciptakan Allah SWT paling sempurna tapi berperilaku bejat, melebihi binatang. Dengan teganya seorang ibu membunuh bayinya sendiri karena alasan yang sepele, atau seorang ayah yang memerkosa anaknya bertahun-tahun, hingga tertular dan terinfeksi penyakit kelamin yang akhirnya tidak tertolong.

Anak-anak yang semestinya mendapatkan perlindungan dari mereka sebagai orang tua justru “disakiti”.  Dan fakta membuktikan, semakin hari jumlah kasus semakin bertambah. Belum lagi kasus-kasus yang tidak terungkap di media, yang sangat mungkin jumlahnya lebih banyak.

 

Mengapa kriminalitas di tengah keluarga bisa terjadi, bahkan saat ini semakin marak?

 

Faktornya beragam tetapi semua bermuara pada diterapkannya sistem yang rusak dan jauhnya dari ajaran Islam. Sehingga ketika menghadapi masalah, orang mudah stres yang kemudian melampiaskannya dengan cara yang keliru.

Apakah faktor ekonomi sebagai pemicu stres?

 

Iya, salah satu di antaranya. Diakui atau tidak, saat ini kita menerapkan sistem ekonomi kapitalisme.  Dalam sistem ini, akses terhadap sumberdaya hanya diberikan kepada orang-orang yang memiliki modal.  Sedangkan orang yang tidak atau hanya sedikit memiliki modal, menjadi semakin miskin.

Kesenjangan antara yang miskin dan yang kaya makin melebar.  Kondisi ini tidak jarang menciptakan stres di kalangan orangtua, yang kemudian melampiaskan kepada anak-anak, isteri atau keluarga dalam bentuk kekerasan.

Dalam ideologi kapitalisme yang diterapkan saat ini juga melahirkan kehidupan materialistis, sehingga tingkat stres terus cenderung semakin meninggi.

Mengapa?

Karena  dalam masyarakat yang seperti itu tolok ukur keberhasilan dan kesuksesan hidup bersifat material, maka jika kebutuhan materinya tidak terpenuhi akan timbul kegelisahan yang sangat.

Ketika misalnya seseorang kehilangan pangkat, jabatan, status sosial, uang, kekuatan fisik, intelektual, cinta, perhatian dan lain-lain yang bersifat lahiriah orang bisa mengalami stres, dan kemudian melakukan tindakan-tindakan di luar batas kemanusiaan.

 

Tetangga yang bersikap masa bodoh juga berpengaruh?

 

Lingkungan memiliki peran yang sangat penting dalam hidup. Masyarakat yang berpaham materialis cenderung individualis. Kepekaan terhadapan lingkungan sosialnya menjadi sangat rendah.

Orang akan bersaing untuk dirinya sendiri dengan berbagai cara, tanpa peduli dengan kepentingan orang lain. Hubungan interpersonal semakin fungsional dan cenderung mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan seperti keramahan, perhatian, toleransi dan tenggang rasa.

Akibatnya, tekanan isolasi dan keterasingan kian kuat, orang makin mudah kesepian di tengah keramaian.  Ini yang disebut  lonely crowded, gejala mencolok dari masyarakat kapitalis di mana-mana, sebagai salah satu pemicu munculnya stres, dan ketika ada persoalan, maka akan diselesaikan dengan caranya sendiri.

Tetangga sebagai lingkungan terdekat yang seharusnya dapat membantu memecahkan masalah dan juga mencegah terjadinya tindak pembunuhan dan pemerkosaan, baru ‘ngeh’ setelah melihat korban pembunuhan dan pemerkosaan itu warga di sekitarnya sendiri, itu pun tahunya dari televisi.

Kekerasan dan pemerkosaan terhadap anggota keluarga sendiri juga bisa diakibatkan karena hukuman yang terlalu ringan?

 

Ya, memang kita melihat hukuman bagi para pelaku kekerasan ini sangat ringan. Akibatnya hukum menjadi mandul, tidak memiliki efek pencegahan, bahkan tidak membuat jera pelaku.

Mengapa hukumannya ringan?

Hukum yang sekarang ini ada merupakan hasil penerapan demokrasi, yang penyusunannya diserahkan kepada pikiran dan akal manusia yang sifatnya terbatas.  Karena rasa kasihan manusia membuat hukum rajam, hukuman mati, atau hukuman di hadapan khalayak ditolak.

Itu semua terjadi lantaran tidak berpegang teguh pada agama?

O ya, jelas. Nilai kebebasan yang terdapat dalam sistem kehidupan sekuler telah meracuni akal dan naluri manusia. Ketika seseorang tak memiliki pemahaman agama yang dijadikan sebagai tolok ukur dalam berperilaku, maka dia akan melakukan apa saja sekehendak dirinya.

Paham kebebasan telah menghilangkan ketakwaan individu. Bahkan orang tua yang seharusnya menjadi pelindung  justru menjadi sumber ancaman bagi anak-anak.  Seorang suami yang semestinya melindungi isterinya, dengan mudah membunuhnya hanya karena persoalan yang sepele. Ini merupakan gambaran dari sebuah keluarga yang rusak, keluarga yang tumbuh tanpa nilai-nilai agama sehingga fungsi-fungsi keluarga tidak berjalan.

Apakah semua faktor di atas berpangkal pada diterapkannya sistem kapitalisme?

 

Ya, kasus kekerasan dan pemerkosaan yang semakin marak bahkan di tengah keluarga sendiri, pada dasarnya penyebabnya adalah penerapan sistem yang rusak, yang melahirkan kebobrokan di semua lini kehidupan.  Selayaknya sistem ini kita tinggalkan, berpindah pada sistem yang memuliakan, yaitu sistem Islam.

Bagaimana solusi Islam menuntaskan masalah ini?

Aturan Islam adalah aturan yang menyelesaikan setiap persoalan, termasuk masalah kekerasan dan pelecehan seksual. Dari mulai pencegahan sampai hukuman yang membuat jera.

Dalam kehidupan keluarga dan pendidikan anak?

 

Islam adalah satu-satunya agama yang memiliki mekanisme untuk menjamin kesejahteraan anak.  Anjuran memberikan ASI selama 2 tahun, kewajiban seorang ayah menanggung nafkah anak.  Islam juga melarang orangtua menyakiti anak saat mendidik mereka.

Kebolehan memukul hanya setelah anak berusia 10 tahun saat tidak mau diperintahkan untuk shalat.  Itupun hanya dengan pukulan ringan yang tidak berbekas, semata-mata bertujuan memberikan pendidikan, bukan menghukum apalagi pukulan penuh emosi yang menyakiti anak.

Dalam masalah ekonomi?

Islam mewajibkan negara menyediakan lapangan kerja yang luas agar para kepala keluarga dapat bekerja dan memberikan nafkah untuk keluarganya. Semua sumberdaya alam strategis adalah milik umat yang dikelola negara.

Negara berkewajiban mendistribusikan seluruh hasil kekayaan negara untuk kesejahteraan warganegara, baik untuk mencukupi kebutuhan pokok, kesehatan, maupun pendidikan.  Dengan jaminan seperti ini, maka tekanan ekonomi yang menjadi salah satu faktor pemicu kekerasan dapat dihilangkan.

Penerapan sistem Islam juga menjaga suasana taqwa terus hidup di tengah masyarakat.  Negara berkewajiban membina warganegara sehingga ketakwaan individu menjadi pilar bagi pelaksanaan hukum-hukum Islam.  Individu bertakwa tidak akan melakukan tindak kekerasan.

Masyarakat yang bertakwa juga akan selalu mengontrol agar individu tidak melakukan pelanggaran.

Negara menjatuhkan hukuman tegas terhadap para pelaku kekerasan dan pelecehan seksual?

Pemerkosa dicambuk 100 kali bila belum menikah, dan dirajam bila sudah menikah.  Penyodomi dibunuh.  Pembunuh anak akan diqishas, yakni balas bunuh, atau membayar diyat sebanyak 100 ekor unta yang bila dikonversi saat ini senilai kurang lebih 2 milyar rupiah.  Setiap anggota tubuh anak memiliki nilai diyat sama dengan orang dewasa.

Dengan hukuman seperti ini, orang-orang yang akan melakukan kekerasan dan pelecehan seksual akan berpikir beribu kali sebelum melakukan tindakan. Penerapan hukum secara utuh ini akan menyelesaikan masalah kekerasan secara tuntas.

Namun hukum-hukum Islam terkait keluarga dan ekonomi tersebut tidak bisa berdiri sendiri. Karena satu hukum dan hukum lainnya merupakan subsistem dari sistem Islam yang kaaffah yang hanya bisa tegak secara sempurna dalam bingkai sistem kenegaraan Islam yakni khilafah.

[www.baitijannati.wordpress.com]

Sumber : Tabloid Media Umat edisi April 2013

Satu Tanggapan to “Sistem Bobrok Merusak Keluarga”

  1. Artikel yang bagus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: