Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Menjaga Kehormatan Keluarga

Posted by Farid Ma'ruf pada April 7, 2013

mesraSemakin maraknya kasus KDRT di negeri ini tak dipungkiri semakin mengoyak kehormatan keluarga terutama keluarga Muslim. Terlebih kasus-kasus kekerasan tersebut itu tak jarang menelan korban jiwa hingga tindakan kejam sang pelaku seperti mutilasi. Dalam sistem kapitalis dan kehidupan bebas yang disuguhkannya memang tak mudah membina keluarga harmonis sebagaimana diimpikan para pasangan suami-istri. Saat ini kesadaran dan pemahaman keagamaan suami-istri yang juga ditanamkan kepada para anggota keluarga yang lain, benar-benar menjadi benteng terkahir.

Islam telah mengajarkan bahwa seorang istri bukanlah mitra hidup  suaminya melainkan sahabatnya. Hubungan suami-istri bukanlah hubungan kemitraan dalam relasi bisnis. Hubungan keduanya adalah hubungan persahabatan. Allah SWT menyatakan dalam Alquran, “Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya agar dia merasa senang kepadanya” (TQS 7:189). Dalam ayat lain, ” Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.(TQS. 30:21). Jadi, tujuan dari pernikahan adalah terwujudnya ketenangan  dalam diri pasangan suami-istri.

 

Hak dan Kewajiban

Untuk mewujudkan ketenangan tadi, syariat telah menatapkan hak dan kewajiban di antara keduanya. Allah SWT berfirman: “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf”. (TQS. 2:228). Ayat ini menunjukkan bahwa suami istri memiliki hak dan kewajiban yang sama. Dalam mencontohkan penerapan ayat ini Ibnu Abbas berkata: “aku berdandan untuk istriku sebagaimana ia berdandan untuk ku”. (al-Imam al-Qurtubi, al-Jami’ Li ahkmil Quran, 3/123)

Lebih lanjut al-Imam al-Alusi, sebagai dinukil as-syaikh Tanthowi, ia menyatakan bahwa maksud kesamaan(al-mumatsalah) dalam hal hak dan kewajiban adalah al-mumatsalah fil wujub (kesamaan dari sisi kewajibannya), laa fii jinsil fi’li (bukan pada jenis pekerjaan) (Muhammad Sayyid Tanthowi, al-wasiit, 1/407).  Dari sisi pembagian tugas (pekerjaan) menyangkut keluarga Rasulullah SAW telah menetapkan bahwa tugas utama seorang suami adalah bekerja di luar rumah khususnya terkait nafkah, sementara istri melaksanakan pekerjaan-pekerjaan di dalam rumah seperti mencuci, memasak, memebereskan dan merapikan rumah, serta tugas-tugas yang lain yang berkaitan dengan pelayanan terhadap suaminya. Abu Salamah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW berkata kepada ‘Aisyah: “Wahai ‘Aisyah sediakan makanan untuk kami….., sediakan minuman untuk kami”. (HR. Abu Daud). Hal ini ditegaskan dalam keputusan Rasulullah SAW dalam kisah Ali ra dan Fatimah, di mana Rasulullah SAW menetapkan bahwa tugas Fatimah adalah melaksanakan pekerjaan-pekerjaan di dalam rumah (khidmatil bait), sementara Ali bekerja di luar rumah (Mushannaf al-Imam Ibnu Abi Syaibah, Bab Aqdiyatir Rasul, Juz 6, hal 10).

 

Namun pelaksanaan tugas-tugas tadi tentu selama masih berada dalam batas kemampuan masing-masing. Jika tugas-tugas istri di rumah itu sangat banyak, hendaknya seroang suami menyediakan pembantu bagi istrinya, dan seorang istri berhak memintanya dari suaminya. Adapun jika suami, tidak lagi mampu memberikan nafkah yang layak, seorang istri hendaknya bersabar, meski ia memiliki hak untuk menuntut suaminya. Dari Abi Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: Seorang istri (berhak) untuk mengatakan kepada suaminya: “ath’imnii au tholliqnii (beri aku makan atau ceraikan aku” (HR. Daruqutni).

Ini dari sisi pembagian tugas dalam keluarga. Adapun dari sisi pergaulan dan perlakuan yang baik di antara keduanya, maka Rasulullah SAW telah banyak berwasiat sekaligus memberikan contoh. Dalam khutbah di haji wada’, beliau berpesan: “Bertakwalah kalian kepada Allah dalam memperlakukan istri-istri (kalian), sungguh kalian mendapatkan  mereka sebagai amanah Allah, dan mereka menjadi halal bagi kalian dengan kalimat Allah” (HR Muslim).  Rasulullah sosok yang paling penyabar terhadap istrinya, beliau menyatakan: ““Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik perlakuannya kepada keluargaku”(HR Hakim).

Hal yang sama bisa kita dapatkan dari nasihat dan contoh para sahabat. Sayidina Umar bin Khaththab yang terkenal ketegasan dan sikap kerasnya dalam mengahadapi kemunkaran, pernah berkata saat didatangi oleh orang Badui yang hendak mengadukan sikap cerewet istrinya. Di saat bersamaan, Umar pun baru saja mendapat omelan dari istri dengan suara yang cukup keras. Umar memberi nasihat kepada si Badui, “Wahai saudaraku se-Muslim, aku berusaha menahan diri dari sikap (istriku) itu, karena dia memiliki hak-hak atas istriku. Aku berusaha untuk menahan diri meski sebenarnya aku bisa saya menyakitinya (bersikap keras) dan memarahinya. Akan tetapi, aku sadar bahwa tidak ada orang yang memuliakan mereka (kaum wanita), selain orang yang mulia dan tidak ada yang merendahkan mereka selain orang yang suka menyakiti. Aku sangat ingin menjadi orang yang mulia meski aku kalah (dari istriku), dan aku tidak ingin menjadi orang yang suka menyakiti meski aku termasuk orang yang menang.” Demikian pula generasi setelahnya, Imam Ahmad pernah menyatakan: “Ummu Shalih telah berada bersamaku selama tiga puluh tahun, maka aku tidak pernah berbeda pendapat denganya meski dalam satu kata” (al-Khatib al-Bagdadiy, Tarikh Bagdad, 14/438). Hal ini tidak mungkin terjadi kecuali karena besarnya kesabaran sang suami. Seorang suami memang sangat membutuhkan pasokan kesabaran agar ia tangguh dalam menghadapi keadaan yang tidak mengenakkan. Suami tangguh adalah suami yang tidak mudah terpancing untuk lekas naik pitam saat melihat hal-hal yang kurang tepat demi cinta dan rasa sayangnya kepada istri.

Sebaliknya, Rasulullah SAW juga memberikan nasihat kepada para istri. Tatkala ada seorang istri yang hendak menghadiri kematian bapaknya sementara suaminya sedang safar dan melarangnya keluar rumah,  beliau berpesan: “Bertakwalah kalian kepada Allah SWT dan janganlah kalian menyelisihi suamimu”. Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda: “Seorang istri dilarang puasa (sunnah) tanpa seizin suaminya, menerima orang lain d irumahnya kecuali seizin suaminya, membelanjakan harta suaminya  tanpa perintah darinya” (HR.Ibnu Bathoh). Karenanya tak heran bila Rasulullah SAW  menyatakan kepada seorang perempuan:“Sungguh suamimu adalah surga sekaligus nerakamu” (HR al-Hakim). Maksudnya, perlakuan serta sikap istri terhadap suami adalah penyebab apakah ia berhak masuk atau neraka.

Kepemimpinan

Kehidupan suami-istri pasti tidak selamanya berjalan mulus sesuai harapan. Adanya perbedaan, silang pendapat atara suami istri, bahkan perselisihan di antara keduanya sangat mungkin terjadi. Karenanya syariat telah menetapkan salah seorang dari keduanya sebagai pemimpin, yakni suami.  Suami berhak melarang istrinya keluar rumah. Meski suami hendaknya tidak melarang para istri keluar rumah dalam hal kebaikan, seperti menjenguk kedua orang tuanya, ke masjid, berdakwah, dll.  Karena hal itu akan mendorongnya untuk melakukan pengingkaran kepada suaminya. Di samping hal itu bukanlah termasuk mu’asyarah bil ma’rufsebagaimana diperintahkan syariat.  Makna kepemimpin seorang suami atas istri tidaklah berarti bahwa suami seperti penguasa yang keinginannya tidak boleh ditolak dan pendapat-pendapatnya tidak bisa disanggah. Tetapi keduanya adalah sahabat, di mana syariat memberikan hak kepemimpinan itu kepada salah seorang di antara keduanya.

Jika fungsi kepemimpinan itu berjalan, hak dan kewajiban masing-masing disadari dan dilaksanakan semata karena Allah SWT, maka instusi ini akan tetap terjaga. Paradigma ini pulalah yang juga dijadikan dasar bagi para khalifah dalam menuntaskan persoalan-persoalan yang menimpa kelurga Muslim. Ketika pengaduan atau perselisihan di antara suami-istri, yang pertama kali diselidiki adalah pelaksanaan hak dan kewajiban keduanya, sebagaimana terlihat dalam qadha (keputusan) Rasulullah SAW dalam kisah Ali dan Fatimah di atas. Di samping persoalan-persoalan luaran yang lain menyangkut kesejahteraan, pendidikan, keamanan,  termasuk pelaksanaan sistem persanksian yang membuat jera para pelaku kekerasaan dan kejahatan. (Abu Muhtadi)

Sumber : Tabloid Media Umat edisi April 2013

Iklan

2 Tanggapan to “Menjaga Kehormatan Keluarga”

  1. satu perajaran dari artikel yang anda tulis tenang menjaga kehormatan keluarga kita , saya ucapakan banya terimakasih mungkin tidak hanya bermanfaat bagi saya akan tetapi bermanfaat untuk semua orang juga .
    kunjungan balik blog
    haturnuhun 😀

  2. anononim said

    Ass……
    saya seorang suami telah melarang istri mengikuti tarekat karena kepergiannya keluar rumah berminggu-minggu sedang anaknya masih kecil sedang saya tugas di lain daerah. pertanyaannya, apakah sikap saya ini salah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: