Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Agar Anak tak Jadi Korban Pelecehan

Posted by Farid Ma'ruf pada April 4, 2013

bbbPenjahat kelamin tak pandang bulu membidik korban. Malah, belakangan ini anak-anak yang kerap jadi sasaran. Maklum, mereka adalah individu yang masih polos dan tak berdaya menghadapi orang dewasa. Apalagi di bawah ancaman orang yang dikenal dekat, seperti guru, paman, kakek, atau ayah kandungnya.

Tentunya kita tak ingin anak-anak terus menjadi korban. Pasalnya, pelecehan seksual berdampak besar terhadap psikologis anak, karena mengakibatkan emosi yang tidak stabil. Anak-anak yang menjadi korban pelecehan seksual akan mengalami sejumlah masalah, seperti: kehilangan semangat hidup, membenci lawan jenis, dan punya keinginan untuk balas dendam.

Nah, berikut cara-cara untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual pada anak:

Jalin Komunikasi Intensif

Orang tua wajib membuka komunikasi dan menjalin kedekatan emosi dengan anak-anak. Sempatkanlah bermain bersama mereka, bercengkerama dan berdialog tentang keseharian mereka. Kedekatan emosional ini penting untuk membangun rasa aman dan nyaman, serta memupuk rasa percaya diri anak.

Tanamkan Soal Tubuh

Orang tua wajib memberikan pengertian kepada anak-anak tentang tubuh mereka, terutama terkait dengan batasan aurat. Pahamkan pula tentang hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh orang lain terhadap bagian tubuhnya. Misalnya, anak diberi pengertian bahwa kalau ada orang lain yang mencoba mencium pipi misalnya, jangan diperbolehkan. Apalagi orang lain yang tidak dikenal.

Ajak Menutup Aurat

Jika sang anak sudah melewati usia balita, ajarkan bersikap malu bila telanjang. Ajarkan sedini mungkin untuk menutup aurat. Memang, menutup aurat bukan jaminan tidak dilecehkan, namun setidaknya dengan menutup aurat anak tidak menjadi pemicu mencuatnya syahwat. Sebaiknya anak memiliki kamar sendiri. Lalu, ajarkan pula untuk selalu menutup pintu dan jendela bila tidur.

Pahamkan Tentang Mahram

Pahamkan pada anak tentang mahram dan non mahram, serta bagaimana bersikap terhadap mereka. Termasuk, kenalkan kepada anak mengenai perbedaan antara orang asing, kenalan, teman, sahabat, dan kerabat. Misalnya, orang asing adalah orang yang tidak dikenal sama sekali. Terhadap mereka, si anak tak boleh terlalu ramah, akrab, atau langsung memercayai. Kerabat adalah anggota keluarga yang dikenal dekat. Meski terhitung dekat, sebaiknya sarankan kepada anak untuk menghindari situasi berduaan saja.

Jaga Pergaulan Anak

Beri pengertian pada anak, batas-batas pergaulan yang boleh dan tak boleh. Mungkin saja anak terlalu akrab dengan teman lawan jenis. Meski ia belum baligh, tetap harus dijaga. Jangan sampai mengajak teman beda lawan jenisnya main di kamar misalnya. Pantau pula di mana aktivitas anak, usahakan agar tidak sendirian di tempat yang rawan atau berdua-duaan dengan lawan jenis.[](kholda)

Sumber : Tabloid Media Umat edisi April 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: