Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Something Special

Posted by Farid Ma'ruf pada Januari 6, 2013

Oleh : Nurisma Fira

nurisma_firabaitijannati — Ia asli WNI. Kita sebut saja namanya Weni. Beliau memiliki dua putra. Yang pertama normal biasa saja. Yang kedua, didiagnosis menderita Down Syndrom.

Demi memberikan yang terbaik, Weni dan suaminya memboyong kedua anaknya ke Amerika Serikat.
Meski di Indonesia tergolong keluarga berada, di AS, sebagaimana di negara2 maju lainnya, Weni harus sedikit menurunkan kualitas hidupnya. Tak ada lagi asisten rumahtangga. Tidak ada lagi sopir pribadi. Semua harus dikerjakan mandiri. Mulai dari memasak, menyetrika, antarjemput sekolah anak, mengurus rumahtangga. Belum lagi mengurus anak Down Syndrom yang karena terdaftar sebagai pasien baru harus memulai prosedur dari awal. Appointment dengan dokter. Dirujuk ke dokter spesialis anak. Dirujuk ke dokter konsultan. Dirujuk ke terapis. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Hidup tanpa dikelilingi keluarga besar dan tidak ada lagi teman dekat membuat Weni lelah. Ia mulai bosan, jenuh, capek mengurus anak Down Syndrom. Ia bahkan mulai merasa Allah tidak adil.

“Apa salah dan dosaku hingga diberi anak yang menderita Down Syndrome? Bukankah aku selalu berusaha menjalankan perintah-Mu? Ada ribuan bayi yang tidak dikehendaki ortunya di luar sana mengapa Allah berikan mereka sehat dan normal? Mengapa bukan padaku Ia memberikan anak yang normal?”

Weni mulai membenci anak keduanya. Hingga suatu ketika, saat di heath centre demi mengantarkan putranya menjalani terapi rutin, ia bertemu Winona dan suaminya yang sedang mengantarkan keempat anaknya. Dan, keempat anak ini semua penderita Down Syndrome!

Bagai sungai bermuara ke samudera (jiaaahhh!!!), Weni pun curhat habis2an kepada Winona. Ia ungkapkan kekhawatiran akan masa depan anaknya. Bahwa kemungkinan besar anaknya akan seumur hidup tergantung kepada orang lain. Bahwa ia merindukan kebebasannya. Tentang rasa malunya memiliki anak Down Syndrom. Soal ia sudah capek, jenuh, bosan, merasa sudah nggak sanggup dan nggak kuat lagi merawat anak Down Syndrome, dan curhat2 lainnya.

“Bagaimana Anda bisa hidup dengan 4 anak Down Syndrome sementara saya dengan satu saja sudah seperti ini?” begitu curhatnya.

Winona menjawab dengan kurang lebih, “Anak adalah kado, hadiah, a gift, dari Tuhan kepada orangtua. Seperti kita memberikan kado kepada orang lain, semakin spesial orang yang kita beri kado, akan semakin spesial pula kado yang kita pilih. Kita akan memilihkan kado yang unik, yang istimewa, untuk orang yang istimewa.”

“Di mata Tuhan semua anak sama. Mereka terlahir dengan jiwa yang suci. Demi keperluan administrasi, manusia memberikan definisi anak2 ini dengan Native/white American, Chinese American, Black American, dan seterusnya. Toh tidak semua bisa didefinisikan. Banyak anak2 hasil perkawinan campuran yang sulit digolong2kan seperti ini.”

“Begitu juga dengan sebutan anak dengan Down Syndrome, anak dengan Tourette Syndrome, Asperger’s Syndrome, anak autis, anak dengan Attention deficit/hyperactivity disorder, dan sebagainya. Semua hanya buatan manusia yang terbatas akalnya dalam usahanya menjelaskan keragaman kado dari Tuhan ini. Tuhan sendiri tidak pernah melabeli anak dengan sebutan2 itu.”

Di akhir pertemuan, Winona mengatakan, “Saya bangga memiliki anak2 dengan Down Syndrome. Mereka adalah special children. And special children are for special parents.”

Hati Weni gerimis. Ia tak pernah lagi mengeluhkan keadaan anaknya yang menderita Down Syndrome. Ya, di negara2 maju, anak2 berkebutuhan khusus disebut sebagai special children. Mengasuh anak2 berkebutuhan khusus, umum disebut parenting special children. Pendidikan untuk mereka disebut Special Education Needs. Mereka tidak disebut cacad. Mereka adalah anak-anak spesial.

Weni tidak lagi malu memiliki anak Down Syndrome. Ia aktif membesarkan hati para orangtua dengan anak2 berkebutuhan khusus. Di mana2, juga di blognya, ia selalu mengulang kalimat Winona, “Anak Down Syndrome adalah anak spesial. Karena itu mereka diberikan kepada orangtua yang juga spesial. Special children for special parents.”

Ya, special children are for special parents.
Dan tentu saja, a special husband, is for a special wife.

🙂

Sumber : https://www.facebook.com/nurisma.fira/posts/10151341454903571

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: