Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Samsoe Bassaroedin dan Yayah Inayah: Merintis Kasih di Penghujung Senja

Posted by Farid Ma'ruf pada Oktober 1, 2012

Foto: Tristia R.

Foto: Tristia R.

baitijannati — Dalam pekatnya malam menjelang Senin (24/9), sepasang pengantin baru menyelinap menuju peraduan. Sejumlah berkas berita acara akad siang tadi di Majalengka telah dipersiapkan, takut-takut timbul  fitnah. Sebelum terbuai dalam lelap,  mereka memutuskan lapor pada RT  untuk minta permisi. Mujur, setelah pihak RT ditunjukkan berita acara berbubuhkan foto-foto, satu kalimat meluncur dari lisan sang ketua RT:

“Aman, Bu.”

Yayah Inayah, bersama suami barunya, Samsoe Bassaroedin pun melenggang lega.

***

Walau mereka sudah berusia senja, namun pintu harap  tak pernah mereka tutup bagi jodoh yang mengetuk. Samsoe (56), staf khusus pembina Masjid Salman ITB, dan Yayah (46), ketua Divisi Personalia SMA Salman Al-Farisi– akhirnya memutuskan untuk saling mengikat janji pada Ahad, (23/9). Berita pernikahan mereka pun menyunggingkan berlimpah senyum di kalangan para pegiat Masjid Salman. Foto mereka yang sedang bersanding banyak dijempoli dalam laman facebook. Akhirnya, menikah juga bapak yang strict dalam mengatur barisan salat ini.

Tentu, ada kisah di balik setiap peristiwa. Tak terkecuali pernikahan Samsoe dan Yayah ini. Menyadari akan hal itu, Tristia Riskawati dari redaksi Salman Media menyempatkan diri untuk mewawancarai pasutrigress ini. Semoga makna dari lika-liku pencarian mereka dapat menginspirasi kita semua– terutama bagi yang sedang galau akan takdir Allah. Selamat mencerap.

Apa arti pernikahan bagi Mas Samsoe dan Teh Yayah?

Samsoe (S): Yang jelas, menikah itu setengah dari keber-agama-an. Artinya, menikah betul-betul penting dan sangat esensial. Mungkin orang lihat saya kok lama sekali nikahnya. Kemarin-kemarin, saya tidak mengabaikan pernikahan, tetapi terus berusaha dalam masa pencarian yang panjang.

Selama ini, lucunya saya melayani segala macam konsultasi  termasuk pernikahan.Tapi saya memberikan dari segi pengetahuan saja, bukan dari pengalaman empirik. Ya, karena belum pernah mengalami.

Guyonan teman, antum ini sudah profesor dalam bidang fikih pernikahan, tapi taman kanak-kanak dari segi pelaksanaannya. (tertawa) Saya tidak takut menerima konsultasi tentang pernikahan, karena ternyata menyelamatkan banyak pasangan juga, tadinya mau bercerai jadi nggak jadi.

Yayah (Y): Pada dasarnya semua orang tahu bahwa pernikahan itu menyempurnakan agama dan sunah rasul. Sejak awal, saya membayangkan di dalam pernikahan ada kebaikan. Di dalam kebaikan itu akan menciptakan mahabba atau kasih sayang. Kemudian akan melahirkan saling pengertian, saling membahagiakan. Dan akhirnya akan melahirkan keridaan. Mardhatillah pun akan diraih baik melalui ridanya suami maupun ridanya istri.

Nah, di situ saya menganggap tidak sekadar sunnah. Dilaksanakan, lantas ya sudah. Prinsip-prinsip rumah tangganya tidak dilaksanakan. Tentu tidak seperti itu.

Bisa diceritakan proses Mas Samsoe dan Teh Yayah pertama kali bertemu?

Y: Jujur saja saya tidak mengerti dengan tim sukses saya.(tertawa) Sayablank. Saya tuh sekitar 29-30 Agustus, akan ada lokakarya manajemen di Cimbuleuit. Saya bolak balik ke Bank Muamalat di Salman bersama Teh Lina, ke sana kemari. Kemudian kami berpapasan dengan beliau (Samsoe.red). Ketika makan siang di kantin, eh ketemu lagi dengan beliau,nggak mikir apapun. Terus waktu salat ketemu lagi. Malah Bu Lina yang mikir, kita sehari ketemu tiga kali dengan Mas Samsoe ada apa ya?

S: Yang menjadi mediator kami itu Teh Lina. Dulu, saya membina beberapa masjid di daerah Sekeloa. Teh Lina menjadi salah satu alumni saya dalam proses pembinaan itu. Ramadan kemarin, Teh Lina bertemu saya di kantin Salman, lalu meminta nomor saya.

Beberapa waktu kemudian, Teh Lina mengirim SMS ke saya, “Maaf kalau tidak sopan. Apakah ustad masih ‘sendiri’?” Sendirinya pakai tanda kutip. (tertawa)

Saya jawab, “Iya.. sampai sekarang saya nyari SK dari langit belum dapet-dapet..”

Teh Lina membalas, “Kalau saya tawari teman saya, ustad bersedia?” Saya jawab, “Saya bersedia” tapi saya jawab jujur juga kalau saya sedang adataaruf juga. Teh Lina  jawab, “Oh, saya tunggu..” Ternyata di akhir Ramadan taaruf saya tidak berlanjut. Kemudian saya memberitahukannya pada Teh Lina.

Menanggapi “kekosongan” saya, selanjutnya Teh Lina bilang, “Bersiap ustad, tanggal 5 September kita bertemu.”

Pendamping dan Teh Yayah ini totalnya ada empat orang. Kami bertemu di sini (Ruang Rapat Pembina.red) pada 5 September 2012 lalu. Jadi kenang-kenangan juga ini ruangannya. Terakhir, supaya beliau lebih mengenal, saya memberi riwayat hidup saya dalam buku kepada Teh Yayah.

Entah mengapa dari awal saya berfirasat kalau ia bakal jadi istri saya.

Lalu, bagaimana proses meyakinkan diri dan orang tua agar semakin mantap untuk menikah?

Y: Dalam angan saya, target tahun ini adalah umrah. Di saat bertemu dengan Mas Samsoe pun saya sedang mengurus paspor. Alhamdulillahpaspornya selesai.

Nah, ini setelah saya bertemu Mas Samsoe pada tanggal 5 September. Hari Minggu tanggal  9 September, saya mau datang ke pengajiannya Pak Aam Amiruddin. Sayangnya saya terjebak macet, padahal pengajian beliau tinggal sepuluh menit lagi. Ketika nanti saya datang, pasti sudah bubar. Saya tidak mau mubazir niat, saya harus mengaji dimana pun. Akhirnya saya memutuskan untuk ke pengajian Aa Gym.

Begitu ke pengajian Aa Gym, subhanallah, justru fiqih munakahat yang sedang dibahas. Bahasan-bahasannya pun tentang kegalauan saya. Mungkin Allah sedang menjawab semua kegalauan. Jujur, pada saat itu saya masih belum klik. Kalau bahasa anak sekarang, masih galau. Cuma lagi-lagi intinya memasrahkan takdir kepada Allah SWT.

S: Semula, tanggal 23 September (tanggal akad nikah Samsoe dan Yayah.red) itu rencananya hanya mencari restu dari Emak, ibu Teh Yayah, ke Majalengka. Karena memang dalam Islam, keridaan Allah terletak pada ridanya orang tua. Begitu pula kemurkaan Allah berawal dari kemurkaan ibu dan ayah. Akhirnya, emak merestui. Ibu saya juga via telepon dari Surabaya merestui. Selanjutnya, agenda mencari restu bergeser cepat ke melamar. Itu betul-betul bukan rencana kami.  Itu rencana Allah..

Y: Mintanya satu, dikasih sama Allah-nya langsung tiga. Awalnya minta restu, eh, ternyata langsung khitbah, kemudian akad deh. (tertawa)

Mas Samsoe dan Teh Yayah baru pertama kali menikah dan dalam usia senja. Bisa dipaparkan perjuangan Mas dan Teteh dalam mencari pasangan hidup?

S: Sudah tak terhitung berapa akhwat yang saya PDKT-in untuk saya nikahi. Namun, beberapa sampai sekarang masih menjalin hubungan baik. Ada yang saya anggap adik. Saya suka membrikan tausiyah kepada mereka. Bahkan beberapa dari mereka mengucapkan selamat atas pernikahan saya.

Makanya saya selalu mengatakan, bukannya saya tidak berusaha, sudah banyak malah. Teman dekat saya menghitung ada sekitar 30 perempuan yang saya usahakan untuk dinikahi. Kalau yang hampir jadi, bahkan lebih dari 10, tapi ternyata malah belum jadi-jadi saja dengan satu pun. Belum ditakdirkan Allah. Baru yang ini nih.

Y: Saya juga mengalami hal yang sama. Ketika ada yang muda datang melamar, malah muda teuing (sekali.red), terus galau.. (tertawa)

Eh, sekarang ternyata mendapatkan yang lebih tua. Yah, diharapkan dapat menjadi imam di dunia maupun di akhirat nanti. Untuk mencarimardhatillah.

Saya selalu berdoa kepada Allah, “Ya Allah, jika saya diperkenankan untuk mendapat jodoh di dunia dan akhirat, berilah yang Engkau ridai. Saya tidak tahu mau minta yang bagaimana. Tetapi yang Allah ridai, melalui rida orang tua. Apabila saya sampai wafat, Allah tidak memberikan jodoh buat saya, semoga Allah memberikan di akhirat. Dan saya menjalani takdir ini dengan keikhlasan.”

Saya menganggap, bahwa kesendirian itu bukan aib.  Selama kita bisa menjaga kehormatan diri dan aqidah kita, saya pikir no problem. Tidak usah galau gitu ya.

Kelahiran, kematian, jodoh, itu tiga hal yang bisa direncanakan, tapi tidak bisa dipastikan. Terbukti  kan, kelahiran bisa direncanakan dengan caesar.. dengan segala kecanggihan saat ini. Ditentukan saat ini, tapi tidak bisa dipastikan ya. Kalau Allah menghendaki, ya sudah lahir pun, tidak bisa. Kematian juga bisa direncanakan, dibunuh atau bunuh diri, tapi yang memastikan hanya Allah.

Saya menguatkan diri, ya Allah jika ini memang rencana besarmu, maka inilah rencana yang terbaik bagi saya. Tinggal saya menjalani kebaikan-kebaikan tadi di dalam berumah tangga.

Ketika di usia senja, kemudian Allah tidak kunjung memberikan jodoh, bagaimana seharusnya sikap kita?

Y: Ada saatnya kita berpasrah secara total terhadap takdir Allah. Bukan saya sudah melalaikan atau tidak memikirkan lagi masalah pernikahan ya. Bagi saya, paling penting bagaimana kita dapat menjalani takdir itu dengan baik.

Nah, ketika saya memutuskan untuk berpasrah total, saya tidak menutup harap. Ketika kepasrahan itu total tapi harap itu tidak ditutup, Allah akan memberikan  karunia indah yang tidak kita duga. Jika Ia berkehendak.

Menikah di usia yang senja, itu bukan sesuatu yang  mustahil. Cepat atau lambat datangnya karunia Allah, itu tetaplah karunia. Lama atau sebentarnya menjalani rumah tangga itu juga bukan merupakan  ukuran menggapai mardhatillah. Namun yang Allah nilai adalah kualitas kita di dalam menjalani itu semua.

Akhir-akhir ini, banyak anak muda yang galau dalam masalah jodoh. Ada saran untuk menyembuhkan kegalauan tersebut?

S: Walaupun saya seolah-olah telat nikah, namun itu pilihan itu diberikan Allah yang terbaik untuk saya. Saya yakin, Teh Yayah inilah yang terbaik buat saya.

Pada intinya, kalau kita sungguh-sungguh memohon pada Allah dan melakukan syariat, Allah akan memberikan yang terbaik. Kapanpun. Tidak hanya pernikahan saya, namun dalam bidang apapun. Dalam pekerjaan, dalam bidang studi, apapun.

Apa-apa hal terbaik yang diberikan Allah, bukan diukur dengan nominal versi kita. Semua yang diberikan oleh Allah  pasti bermanfaat. Misal pekerjaan. Tidak selalu, misalkan, direktur utama itu lebih baik dariprogrammer. Terimalah takdir tersebut dengan rasa syukur. Kualitas kita dinilai dari seberapa baik kita menjalani  takdir tesebut.

Saya tidak peduli berapa tahun kemarin yang saya jalani dalam kesendirian. Saya memohon, Adinda Yayah ini adalah yang terbaik buat saya baik di dunia maupun akhirat.

Y: Pernah ada yang bertanya begini, “Memohon udah. Ikhtiar udah. Kok, belum diberi juga? Teteh, nggak marah sama Allah?”

Jawab saya, mengapa harus marah terhadap takdir Allah? Mengapa harus marah kepada apa yang Allah timpakan kepada kita? Apapun yang Allah takdirkan, maka itu  yang terbaik bagi kita. Dalam rukun iman, salah satunya kita wajib mengimani takdir dari Allah SWT. Buruk menurut kita, belum tentu buruk menurut Allah kan, ya?

Apakah belum menikah– atau lambat menikah– adalah takdir buruk? Saya tidak mengartikan itu. Jadi, saya tidak suka dengan pertanyaan “Mengapa belum menikah?”. Lho, itu hak prerogatif Allah. Mengapa harus dipertanyakan?

Jadi, nggak usah galau anak muda..” (tertawa). Allah telah menakdirkan jodoh kita sejak  kita berusia 40 hari.  Kalau memang kita beriman kepada Allah mengapa harus galau.

Dan tentunya, ada usaha yang ditempuh secara syar’i. Insya Allah, rezeki Allah pun baik. Kalau misalnya kita lihat ada yang rumah tangganya kacau beliau, bukan berarti salah mengawalinya. Namun hal tersebut adalah ujian berikutnya. Memangnya setelah nikah tidak ada ujian lagi? Untuk mencapai derajat yang tinggi, pasti di situ ada ujian, kan?

Ada yang berubah setelah menikah?

Y: Mungkin belum merasa. Tapi sekarang saya sadar kalau saya adalah seorang istri. Saya harus berubah. Saya biasa semaunya. Rumah juga rumah milik sendiri, mau berantakan nggak ada yang ngomelin. Tapi rumah saya memang bersih kok, dan saya sendiri suka rapi-rapi. (tertawa)

S: Kalau harus berubah ya memang harus berubah. Katakanlah dari segi waktu. Dulu kan bebas kesana-kemari. Kalau sekarang mau tidak mau, jadwal harus serba saling dikomunikasikan. Suami-istri sudah punya hak dan kewajiban.

Adakah target bersama yang hendak  dicapai setelah akad?

Y: Jangka panjangnya tetap, menggapai mardhatillah. Ingin sakinah, mawaddah, warrahmah. Dan apabila Allah memang berkenan pula, semoga kami diberitkan keturunan yang saleh. Itu tidak mutlak sebenarnya, tapi kami tetap memohon.

S:  Target saya adalah kebahagiaan abadi di taman surga.  Berapapun sisa waktu di dunia, itu cuma awalan saja. Saya ingin beliau menjadi bidadari saya baik di dunia ini dan taman firdaus kelak.

Itu target yang paling ultimate. Saya tidak mau hanya berbahagia dunia. Gawat itu. Karena ada fakta, seolah-olah berbahagia di dunia, tetapi di akhirat yang masuk surga  misalnya hanya suami saja. Nah itu seperti Nabi Luth dan Nabi Nuh. Ada yang malah istri saja seperti Asiah istri Fir’aun. Saya tidak ingin yang seperti itu. Inginnya bareng-bareng dengan istri.*** (www.baitijannati.wordpress.com)

Sumber : http://salmanitb.com/2012/10/samsoe-bassaroedin-dan-yayah-inayah-merintis-kasih-di-penghujung-senja/

Satu Tanggapan to “Samsoe Bassaroedin dan Yayah Inayah: Merintis Kasih di Penghujung Senja”

  1. subhanallah keren, semoga mereka menjadi kluarga yang penuh berkah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: