Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Aku Ingin Mati :)

Posted by Farid Ma'ruf pada Juli 22, 2012

Oleh : Muhammad Ihsan Abdul Jalil

BaitiJannati — “Yah, orang yang belum haidh itu, nggak punya dosa ya?”. Safira, putri sulung saya mendadak bertanya.

“Oh iya. Wanita yang belum menstruasi itu dianggap belum baligh atau dewasa. Karena itu dia belum punya dosa atas apa saja yang dilakukannya”. 

“Kalau begitu, aku nggak mau mens, selama-lamanya,” tanya Safira lagi. “Ye, ye, ye… Ye”. Entah mengapa anakku kali ini riang sekali mengatakannya.

Saya menjawab datar, “Begini. Meski wanita itu belum haidh, tapi kalau usianya sudah sekitar 13 tahun, maka dia dianggap sudah dewasa. Dan karenanya dia sudah baligh berdasarkan usianya”. Alhamdulillah, saya menemukan jawaban yang semoga menenteramkan. Enak ajah, wanita kok nggak mau mens, hehe…

“Kalau begitu, aku mau mati saja sebelum umur 13 tahun. Biar nggak punya dosa. Boleh kan, Yah?”. Safira kembali riang, dan tangannya seolah berjoget, “Ye,, ye…. ye… yee… yeeeee”

Deg. Pertanyaan terakhir ini benar-benar mengejutkan saya. Tapi saya harus menuntaskan dialog ini dengan baik dan memuaskan keingintahuan anak. “Gini, Mbak. Anak yang meninggal sebelum baligh, sudah pasti dijamin masuk surga. Karena dia memang belum punya dosa sedikitpun. Tapi orang dewasa juga bisa masuk surga kok. Caranya, ya harus punya amal baik yang banyak”.

Alhamdulillah setelah jawaban terakhir ini, anak saya tidak melanjutkan bertanya lagi. Saya sudah gelagepan menjawabnya, hehe…

Sebenarnya dialog ini sudah terjadi sekitar 3 tahun lalu ketika Safira masih kelas 4 (sekarang Safira baru masuk kelas 7). Saya bahkan masih ingat persis detail kejadiannya. Saat itu saya sedang perjalanan pulang menjemputnya dari sekolah dan mobil tengah berhenti karena lampu merah di perempatan jalan Kertajaya dan Dharmawangsa Surabaya. Awalnya kami berdua memang sedang berbicara soal beberapa teman sekelas Safira yang sudah mens (byyuuhhh…. anak sekarang kelas 4 kok ya sudah baligh, hehe… kasihan sekali ya)

Yang jadi poinnya adalah mengapa Safira begitu entengnya menyambut kematian bahkan sangat siap, dan ingin segera mati? Sementara kebanyakan manusia, mungkin termasuk kita, sangat takut menghadapi kematian. Mari introspeksi, apakah kita termasuk yang dikatakan Nabi, punya sifat “wa karohiyatul maut… Dan orang-orang yang takut mati?”. Wallohu a’lam. Masing-masing lebih tahu kondisinya🙂

Tapi kalau saya simpulkan, Safira tadi nggak takut mati, atau bahkan ingin segera mati, adalah karena keyakinan dia bahwa habis mati ya masuk surga. Karena anak kecil kan memang belum berdosa. Sementara kebanyakan orang dewasa takut mati ya karena memang tidak siap untuk mati. Atau yang lebih tepat: tidak siap menghadapi pengadilan akhirat setelah kematian karena merasa memiliki banyak dosa semasa hidup di dunia.

Jadi, kata kuncinya, kalau yakin bakal dijamin masuk surga ya inginnya mati sesegera mungkin. Tapi jika nggak yakin masuk surga, atau malah merasa kelak pantasnya bakal “dicemplungkan” neraka karena nggak punya banyak amal baik, itulah yang membuat manusia takut mati.

Nah, menyambung soal takwa yang saya tulis pada catatan ramadhan pertama (CR-1), maka pilar takwa yang ketiga adalah: mempersiapkan diri menghadapi hari yang kekal (akhirat). Orang dikatakan bertakwa kalau memang dirinya sudah sangat serius menghadapi hari akhirat yang abadi dan selama-lamanya.

Perhatikan kisah sahabat Umair bin al-Humam al-Anshory saat perang Badar di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

Nabi SAW berangkat bersama para sahabatnya hingga mendahului kaum musyrik sampai sungai Badar. Setelah itu kaum musyrik pun datang.
Kemudian Rasulullah bersabda, “Berdirilah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi”.
Umair bertanya, “Wahai Rasulullah, benarkah yang engkau maksud itu surga yang luasnya seluas langit dan bumi?”
Rasululullah menjawab, “Benar”.
Umair berkata, “ehm, ehm”.
Rasulullah bertanya kepada Umair, “Wahai Umair, apa yang mendorongmu untuk berkata ehm-ehm?”
Umair berkata, “Tidak apa-apa Ya Rasulullah, kecuali aku ingin menjadi penghuninya”
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya engkau termasuk penghuninya, wahai Umair”.
Anas bin Malik yang meriwayatkan hadits ini mengatakan, kemudian Umair mengeluarkan beberapa kurma dari wadahnya dan ia pun memakannya.
Kemudian Umair berkata, “Jika aku hidup hingga aku makan kurma-kurma ini sesungguhnya itu adalah kehidupan yang lama sekali”.
Maka Umair kemudian melemparkan kurma yang dibawanya, kemudian maju untuk memerangi kaum musyrik hingga terbunuh.

Allohu akbar. Begitulah sahabat yang mulia ini. Kalau sudah yakin bakal masuk surga, bahkan menunggu sampai kurma habis dimakan pun sudah kelewat lama ya… Maunya langsung mati agar segera bisa masuk surga yang dijanjikan.

Apakah kita sudah siap mati karena merasa yakin bakal masuk surga di akhirat kelak? Apakah ada yang ingin segera menyongsong kematian seperti Umair bin al-Humam? Atau malah kita berdoa agar dipanjangkan usianya, karena belum siap menghadapi akhirat? Sayangnya kematian itu bukan soal siap atau tidak. Kalau ajalnya telah tiba, maka tak bisa dimundurkan ataupun dimajukan barang sedetik pun. Jadi, lebih baik ayo sama-sama kita mempersiapkan diri dengan bekal yang diperlukan untuk menyongsong kehidupan akhirat yang kekal. Dan itulah ciri ketiga orang-orang yang bertakawa kepada Alloh🙂
(www.baitijannati.wordpress.com)
Surabaya, 23 Juli 2012

Satu Tanggapan to “Aku Ingin Mati :)”

  1. nurhikmah said

    Kalau masih berusia 12 tahun belum menstruasi gimana dong apa masih masuk surga??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: