Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Broken Home Berujung Seks Bebas

Posted by Farid Ma'ruf pada Maret 6, 2012

Oleh Kholda Naajiyah

(Aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia)

BaitiJannati — Sebut saja namanya Saras (16), siswi SMA swasta di Surabaya yang terjerumus pelacuran. “Semua berawal ketika ibu saya meninggal dan ayah saya menikah lagi. Sejak saat itu, saya jarang mendapatkan perhatian dari ayah dan hampir tidak pernah mendapatkan uang jajan,” katanya.

Sarah yang waktu itu masih SMP memutuskan ikut kakek neneknya. Tanpa bimbingan langsung dari orang tua, pergaulan Sarah tak terkontrol. Mulailah dia berkenalan dengan rokok, minuman keras, bahkan obat-obatan terlarang. “Saya kenal teman-teman yang nakal itu pas SMP,” ungkapnya.

Permasalahan lebih pelik dia hadapi waktu duduk di bangku SMA. Sarah merasa kasihan melihat kakek-neneknya yang tak memiliki uang untuk biaya sekolah. “Kondisi itulah yang akhirnya mendorong saya jatuh ke pergaulan bebas. Saya dikenalkan oleh teman kepada pria hidung belang untuk mendapatkan uang. Sekolah juga saya tinggalkan,” katanya.

Cerita lain dituturkan Anggi (nama samaran, 17) yang saat diwawancarai sedang hamil tujuh bulan. Lagi-lagi, masalah rumah tangga yang memicunya lari ke pergaulan  bebas. Kisah kelamnya berawal dari perceraian ayah dan ibunya yang sudah sama-sama memiliki calon pasangan baru. “Saya sempat ikut ayah, tetapi selalu bertengkar dengan ibu tiri. Akhirnya, saya pergi ke tempat ibu kandung,” ujarnya.

Di sana, ia mendapatkan perlakuan sama dari ayah tiri. Akhirnya, Anggi memutuskan tidak ikut siapa-siapa. Dia menerima tawaran kerja salah seorang temannya di sebuah warung di Lamongan. “Saya pikir kerja di warung cuma bikin minum dan menyiapkan makanan. Tapi, ternyata tidak,” akunya.

Dia malah dikenalkan pada dunia malam oleh teman-temannya. Dari situ dia mulai merokok, minum miras, narkoba, dan pergaulan bebas. “Awalnya, saya kaget, sering menangis, dan ingin pulang. Tetapi, teman saya terus mempengaruhi. Akhirnya, saya terjerumus ke dunia malam itu,” ungkapnya.

Ketika disinggung masalah kehamilannya, dia mengaku siap punya anak meski khawatir kesulitan untuk merawat. “Nanti saya tunjukkan ke ibu saya. Kalau tidak mau merawat, saya ingin ada orang yang mau mengadopsi anak saya ini,” tuturnya.

Kisah Angel (bukan nama sebenarnya) tak kalah mengejutkan. Dia mengaku mengenal narkoba sejak kelas IV SD. “Saat SD, saya memang sudah berteman dengan anak-anak SMA,” ucap perempuan yang sekarang duduk di bangku SMA kelas X itu.

Segala polemik hidup Angel sejatinya berawal dari lingkungan keluarga yang sangat tidak kondusif. Dia mengenal hubungan intim justru dari ulah kakak kandungnya. Orang tuanya pun memberikan label nakal terhadap Angel dan mengirimnya ke sebuah panti asuhan di Porong. “Saya tidak betah dan sempat pulang ke rumah,” katanya.

Sesampai di rumah, orang tuanya  memberikan pilihan sekolah atau bekerja. Kalau pilih sekolah, dia hanya diberi uang Rp 3 juta untuk seluruh biaya sampai lulus. “Akhirnya, dengan terpaksa, saya memilih bekerja di perusahaan mebel,” katanya.

Kepada semua anak seusianya, Angel berpesan agar tidak menyia-nyiakan perhatian yang diberikan orang tua meski sangat sedikit. Dia mengatakan, di luar sangat banyak anak yang hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. “Saya tahu betul, banyak sekali anak yang sudah benar-benar kehilangan kasih sayang. Itu sangat berbahaya,” ujarnya.

Kisah-kisah pilu di atas bukan fiksi, melainkan nyata, ada di tengah-tengah kita. Mereka adalah anak-anak korban trafficking yang sedang ditangani oleh Yayasan Hot Line Surabaya dan Yayasan Hot Line Pendidikan Jawa Timur (Jawa Pos, 11/2/2012).

Masih banyak cerita pilu di kalangan anak-anak seperti mereka yang tidak terekspose. Ya, dunia anak saat ini begitu dekatnya dengan perzinahan, seks bebas dan bahkan pelacuran. Pertanyaannya, ada apa dengan para orangtua? Ke mana saja mereka?

Korban Broken Home

Bila dicermati, mayoritas anak-anak di atas berasal dari keluarga broken home. Broken home, yakni kondisi hilangnya perhatian keluarga atau kurangnya kasih sayang dari orang tua disebabkan beberapa hal. Bisa karena perceraian, sehingga anak hanya tinggal bersama satu orang tua kandung. Bahkan akibat perceraian, banyak anak yang dititipkan ke kakek-neneknya, karena orang tua tunggalnya sibuk bekerja.

Broken home bisa juga terjadi pada anak yang meski orangtuanya tidak cerai, tapi terlalu sibuk. Mereka abai terhadap kebutuhan kasih sayang anak-anaknya. Terlebih di zaman teknologi saat ini, kerap menjadi alasan bagi orang tua untuk merasa tenang dan nyaman berjauhan lama dari anaknya. Padahal anak butuh kontak fisik, lebih dari sekadar suara orang tuanya. Apalagi bagi anak usia dini, ketersediaan orangtua di sisinya sangat penting.

Broken home juga terjadi pada kondisi rumah yang seperti neraka, dimana orang tua kerap bertengkar di depan anak-anak. Ini karena orang tua tidak dewasa dalam bersikap, tanpa memikirkan dampak bagi anak-anak mereka.

Akibat broken home, fungsi keluarga tidak berjalan ideal. Di antaranya Pertama, fungsi afeksi atau kasih sayang.  Karena tidak mendapatkan limpahan kasih sayang, anak-anak mencari perhatian di luar rumah. Entah dari sahabat, pacar atau bahkan lelaki hidung belang.

Kedua, fungsi rekreasi. Keluarga idealnya tempat menyenangkan bagi anak, dimana ia merasakan rindu dengan kehangatannya. Keluarga harusnya menentramkan, membuat rileks dan gembira. Namun, broken home menyebabkan anak tidak betah di rumah, bahkan tempat yang paling dibenci. Akibatnya ia lari ke dunia luar yang ia anggap lebih peduli.

Ketiga, fungsi edukatif. Orangtua semestinya menjadi pendidik dan teladan bagi anak-anaknya. Broken home justru menciptakan ketidakpercayaan anak pada orangtua. Bahkan anak menjadi trauma dengan institusi pernikahan.

Tentu saja, tidak berfungsinya keluarga di atas, berdampak buruk bagi perkembangan anak. Dalam ilmu kejiwaan dikatakan, seorang broken home akan mengalami Pertama, broken heart, yakni  kepedihan dan kehancuran hati sehingga memandang hidup ini sia-sia dan mengecewakan.

Kecenderungan ini membentuk si anak menjadi orang yang krisis kasih dan biasanya lari kepada hal-hal yang bersifat seksual, karena menganggap hanya seks yang memberi kepuasan dan kebahagiaan. Misalnya terjerumus seks bebas, homoseks, lesbian, jadi simpanan, tertarik dengan isteri/suami orang, dll.

Kedua, broken relation, yakni anak merasa bahwa tidak ada orang yang perlu dihargai, tidak ada orang yang dapat dipercaya serta tidak ada orang yang dapat diteladani. Kecenderungan ini membentuk si anak menjadi orang yang masa bodoh terhadap orang lain, ugal-ugalan, cari perhatian, kasar, egois, dan tidak mendengar nasihat orang lain. Ia cenderung “semau gue”.

Ketiga, broken values, yakni si anak kehilangan “nilai kehidupan” yang benar. Baginya dalam hidup ini tidak ada yang baik, benar, atau merusak yang ada hanya yang “menyenangkan” dan yang “tidak menyenangkan”. Apa saja yang menyenangkan dilakukan dan sebaliknya.

Kondisi ini tak bisa terus menerus dibiarkan. Anak-anak adalah para calon pemimpin di masa depan. Apa jadinya jika sejak kecil kurang kasih sayang sehingga tidak termotivasi untuk berprestasi. Walhasil, generasi mendatang bisa lebih buruk dari generasi orang tua mereka.

Ujian Keluarga

Harus diakui, fakta buruk pada anak broken home adalah dampak dari egoisme orang tua. Walaupun tidak bisa disalahkan 100 persen karena ada andil si anak juga, namun orang tua memang harus berkaca. Seperti fenomena yang terjadi belakangan ini, dimana orang tua dengan mudahnya memutuskan tali perceraian tanpa memikirkan dampaknya bagi si anak.

Padahal, semestinya orang tua berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan rumah tangga. Janganlah begitu mudah mengucap kata talak hanya karena sedikit rasa jenuh dengan pasangan. Sebab ketika menikah lagi, si anak bukannya bahagia malah terasing di rumahnya sendiri dengan ayah/ibu tiri. Termasuk ketika menghadapi ujian dan cobaan, janganlah orang tua bertengkar habis-habisan di depan anak-anak.

Selain itu, orangtua masa kini, kadang juga terlalu sibuk dengan urusan mereka hingga mereka lupa bahwa mereka memiliki anak yang wajib diperhatikan. Lalu kadang mereka juga menganggap bahwa anak tidak perlu tahu masalah orang tua. Padahal adakalanya anak harus diajak bicara agar merasa berharga. Orang tua hendaknya menciptakan situasi rumah yang hangat, menentramkan dan menyenangkan bagi anak-anak. Jadikan semboyan rumahku surgaku benar-benar nyata di benak anak.

Keluarga seperti ini hanya bisa dibangun dengan pondasi Islam. Saat keluarga mendapat cobaan dan ujian, apakah masalah ekonomi, kenakalan anak, kejenuhan dalam pernikahan, dan lain lain, selalu disandarkan kepada Allah SWT. Ia yakin dengan firman Allah SWT: “Fainna ma’al usri yusro, inna ma’al usri yusro” Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” [Alam Nasyrah:5-6]

Mereka juga menyandarkan pada firman Allah SWT surat Al Baqarah: “Laa yukalli-fullahu nafsan illa wus’aha; laha makasabat wa’alaiha maktasabat” Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya” [Al Baqarah:286]

Karena itu, agar tidak terjerumus menjadi broken home, orang tua hendaknya memperbaharui lagi tujuan pernikahan itu sendiri, mereview kembali apa fungsi pernikahan, visi dan misinya dalam mengarahkan keluarga dan mendidik anak. Hanya dengan mengembalikan fungsi keluarga pada posisinya, anak-anak terhindar dari broken home. Selanjutnya, tidak akan ada lagi kisah-kisah pilu korban traficking atau seks bebas seperti dialami Sarah dan teman-temannya seperti di atas.(www.baitijannati.wordpress.com)

Sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/2012/03/06/broken-home-berujung-seks-bebas/

26 Tanggapan to “Broken Home Berujung Seks Bebas”

  1. Hanya doa kepada Allah semoga keluarga kita diberi keutuhan hingga akhir hayat kita, anak dan cucu juga diberi kehidupan yang bahagia dalam bertaqwa kepada Allah swt.

  2. Assalamu ‘alaikum wr.wb.
    “Baiti Jannati” konon ceritanya kata-kata atau kalimat ini berasal dari suatu hadits Nabi saw. namun saya belum pernah jumpa atau membaca redaksi hadits tersebut termuat dimana, mohon bantuan kiranya dapat menunjukkan dalam ktab apa bab apa..??? sekian terimakasih atas infonya.. wassalamu ‘alaikum wr.wb.

  3. vikka triana said

    bagaimana cr menghndari pngaruh bruk trhdap ank jika sudah trjadi perceraian,,,trma ksh,,,

  4. Didalam sbuah rumah tngga emang hrs saling ter buka antara anak dan orng tua,,kadan orng tua sbuk dengan bisnis mereka tnpa mengetahui per kmbngn ank” mereka.

  5. Semuanya dimulai dari awal pernikahan, bagaimana kita memilih jodoh kita.

  6. bagaimana cara memperbaikinya jika seornag anak sudah trjerumus dalam seks bebas?????????

  7. […] https://baitijannati.wordpress.com/2012/03/06/broken-home-berujung-seks-bebas/ […]

  8. […] https://baitijannati.wordpress.com/2012/03/06/broken-home-berujung-seks-bebas/ […]

  9. ekawidi said

    kembali ke qta masing masing

  10. Niat baik adalah sgalanx

  11. MIFTAKHUL KHOIRI said

    SEMOGA KITA SAMA-SAMA DIBERI KEKUATAN UNTUK MENJAGA AMANAH YANG BERUPA KETURUNAN INI

  12. Aku riska umur aku 16thn
    aku broken home , baru sekitar 1tahunan.
    Pada saat org tua aku berpisah sempet aku berfikir untuk jadi anak yg nakal / ke pergaulan bebas .
    Tapi orangorang disekitar aku seperti guru , teman sepermainan banyak yg mensport aku .
    Semuanya berawal dari teman sepermainan , kalo kita milih teman tidak baik atau ” NAKAL ”
    otomatis kita akan seperti itu , jujur aku lebih melampiaskan semua rasa kecewa aku ke hangout bareng temen , nonton di21 , nulis dll .
    Daripada jatuh ke hal yg negatif cuma buat kita menyesal aja dikemudian hari .

  13. Dede said

    Nice post !
    Terima kasih kpd penulis, membuat saya lebih bersabar stlah mmbca postingan ini.
    Apalah daya jika broken home telah terlanjur terjadi ditengah tengah keluarga. Toh segalanya telah ada yg ngatur, Allah maha pengasih lagi maha penyayang. Dalam kitabnya pun sudah dijelaskan bahwa “Allah tdk membebani seseorang melainkan sesuai dngn kesanggupannya”, maka bersyukurlah yg ditimpa musibah ini tetap masih bisa istikharah pada Allah, ini berarti anak broken home sedang diuji keimanannya untuk dapat naik derajat di mata Allah..subhanallah
    Allahuakbar

  14. dunk lenonz said

    terpuruk

  15. Retno said

    Hehehe… Azyix uga ceritha nya…

  16. Rahman said

    Saya Menyukai ini

  17. Artikel yang bagus, semoga bermanfaat untuk orang banyak. terimakasi infonya.
    kunjungan balik blog saya juga.

  18. Danny said

    Artikel buat pembelajaran yang bagus…..

  19. Andre said

    Artikel yang bagus, semoga ini semua jd belajaran yg baik buat anak2 dimasa depan, jngn lupa juga orng tua jngn suka turutin ego masing2 yg ada anak jd korban klu orng tua cerai.

  20. amira said

    saya suka artikel ini..
    org tua memang seharusnya haruz lebih mengerti dan berhati hati dlm mendidik anak2nya..

  21. Mantab ceritanya, saya suka yang begini. Ditunggu cerita ter-Updatenya. He hee

  22. Vicky said

    Cerita yg sama dg kehidupan saya.kdng aku gx ngrti begitu merindukan orangtua tp jika sketika ingat masa kecil dan perlakuan” kasar yg aku terima,hatiku menjadi jemu dan benci.tp Alhmdllh..sejauh ini aku msh bisa mengontrol emosi,hanya saja aku kesulitan melupakan sejarah itu dan menjadi pribadi yg lbh suka menyendiri.apa yg harus saya lakukan?

  23. ana anisa said

    ?

  24. delavani said

    sbnr’a gw juga sering mikir jadi kimcil gtu krna papah dan mamah gw tiap hari berantem trs tpi di samping itu juga gw peduli sma mereka krna papah mamah gw dari keluarga yg brpendidikan ,,di hormatin sma orang” ,,di kenal bnyak orang dan lebih parah’a lgi keluarga papah mamah gw keturunan darah biru ,,,jadi gw bingung hrus ngpain ???minta solusi’a dong

  25. Lutfi Khoirunnisa said

    Izin copy artikel nya min …😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: