Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Wahai Pria, Hormatilah Wanita!

Posted by Farid Ma'ruf pada Februari 7, 2012

Oleh : Kholda Naajiyah

baitijannati — Mahasiswi kebidanan ini hanya bisa menangis meratapi nasibnya. Ia menjadi korban pemerkosaan, entah ke berapa juta di dunia ini. Pelakunya bukan hanya satu, tapi lima orang pemuda mabuk. Shock kehilangan kehormatan, JM (18) pun depresi.

Kisah JM hanyalah sepenggal pilu korban kejahatan. Sudah berderet-deret korban bernasib tragis akibat ulah sadis dan biadab berjatuhan. Rasanya situasi dunia saat ini sudah demikian mengerikan. Di Indonesia, negeri yang dikenal zamrud khatulistiwa pun, seolah tak ada lagi tempat yang aman, nyaman dan damai untuk menikmati hidup.

Tingkat sadisme sudah melewati ambang batas. Tak ada lagi hati nurani, tak ada lagi rasa kemanusiaan. Bahkan tak jarang, manusia justru berperilaku lebih rendah dari binatang. Ya, betapa sekarang begitu mudah kita menemukan berita di luar nalar seperti: ibu membunuh anak kandung, ayah menghamili anak kandung, laki-laki bersetubuh dengan sesamanya, wanita menikahi wanita, anak-anak memerkosa teman kecilnya, perempuan diperkosa rame-rame di angkot, wanita keterbelakangan mental dihamili, anak kecil dijadikan budak nafsu, dll.

Sungguh, kejahatan-utamanya pada perempuan, dewasa maupun anak-anak-semakin masif. Betapa tidak amannya menjadi seorang perempuan di alam liberal ini. Ibaratnya: saat kecil dicabuli, besar sedikit diperkosa atau dijual ke pelacuran, sudah hamil diaborsi atau dinikahkan dengan non Muslim, setelah nikah dicerai atau diselingkuhi, lalu ketika jadi janda dijadikan selingkuhan, dizinahi ganti-ganti. Na’udubillahi minzalik. Di mana letak kehormatan kaum hawa? Mengapa dunia saat ini begitu kejam terhadap perempuan?

Kiprah Positif

Perempuan masa kini sewaktu-waktu diintai marabahaya. Padahal, Islam tidak melarang sama sekali perempuan untuk beraktivitas. Perempuan dipersilakan mengaktualisasikan dirinya sebagaimana halnya laki-laki. Sekolah, kuliah atau bahkan bekerja dengan berbagai profesi adalah aktivitas yang tak bisa hanya dilakukan di dalam rumah. Banyak perempuan bergelar doktor atau bahkan profesor dan bertekad mengabdikan ilmunya ke masyarakat.

Ada yang mengabdi menjadi guru, perawat, bidan, dokter, penjahit, desainer, konsultan dan ilmuwan. Selain itu, juga menjadi pengemban dakwah yang mengedukasi kaum perempuan agar pandai menjaga harkat dan martabatnya. Umumnya, aktivitas mereka tentu di luar rumah.

Ketidakamanan dan kerawanan sosial tidak mungkin serta-merta membendung aktivitas positif wanita tersebut. Karena bagaimanapun, umat membutuhkan sentuhan dingin tangan-tangan para perempuan cerdas yang berkiprah di masyarakat itu. Apa jadinya jika tidak ada bidan wanita, dokter wanita, guru wanita, penjahit wanita, dai wanita dan seterusnya?

Artinya, keberadaan wanita memang tidak serta merta disalahkan atas kerawanan sosial ini. Yang perlu digarisbawahi, mengapa situasi dan kondisi tidak kondusif bagi pergerakan wanita di manapun mereka berada?

Rapuhnya Hukum Sosial

Kejahatan disebabkan banyak faktor, ibarat lingkaran setan. Pelaku kejahatan ada yang didorong desakan ekonomi, desakan nafsu, atau pengaruh lingkungan. Pengangguran, kemiskinan dan ketidakadilan mendorong orang berbuat nekat. Kriminalitas makin subur dengan dibukanya lebar-lebar peredaran minuman keras, konten porno, industri hiburan, kebebasan pers dan propaganda-propaganda menyesatkan.

Sistem hukum yang lemah dalam menjerat pelaku kriminal, juga makin menyuburkan kejahatan. Tak heran bila anak-anak ingusan pun sudah lihai berlakon sebagai penjahat. Mencuri, menjambret atau menipu pun sanggup.

Lebih dari itu, tidak tegaknya tatanan sosial berupa aturan yang tegas dalam mengatur interaksi sosial menjadi biang malapetaka ini. Interaksi laki-laki-perempuan yang campur baur tanpa aturan, membuka peluang tindak kejahatan seksual di antara mereka. Ditambah masing-masing individu tidak bertakwa-sehingga tidak saling menundukkan pandangan-maka  semakin terbuka kesempatan terjadinya kasus-kasus asusila.

Inilah buat diterapkannya tata aturan pergaulan ala sekulerisme, kapitalisme, dan demokrasi. Bertameng hak asasi, interaksi sosial laki-laki dan perempuan sedemikian bebasnya. Ditambah lagi keterbukaan informasi, segala informasi sampah merasuki otak-otak manusia yang sudah bejat ini. Jadilah seonggok daging bernama hati dalam diri manusia ini membusuk.

Resakralisasi Nizham Ijtima’i

Penerapan sistem sosial Islam sebagai salah satu pilar mewujudkan masyarakat yang mulia, bermartabat dan harmonis adalah suatu keharusan. Aturan inilah yang mampu mewujudkan keharmonisan masyarakat yang berperadaban mulia. Aturan ini harus dikembalikan pada posisinya yang sakral, sebagaimana dahulu ketika globalisasi budaya sampah dari Barat belum mendunia. Sebaliknya, tata pergaulan Islam (an-nizham al-ijtima’i) inilah yang harus diglobalkan.

Tentu, sistem sosial ini tak bisa berdiri sendiri demi meminimalkan, atau bahkan menghapuskan kriminalitas, khususnya kejahatan seksual. Harus ditopang negara yang kuat yang disokong sistem hukum yang tegas, sistem ekonomi yang adil, sistem pendidikan yang cerdas dan sistem Islam lainnya dalam naungan khilafah.

Di antara aturan tersebut, negara wajib mengatur secara tegas batas interaksi antara laki-laki dan perempuan. Kehidupan laki-laki terpisah dari kehidupan perempuan. Semua pintu yang mengarah pada pergaulan bebas dan aktivitas campur-baur (ikhtilath) laki-laki dan perempuan ditutup rapat-rapat. Perempuan dan laki-laki yang bukan mahram dilarang berduaan dan bersepi-sepi (khalwat). Perempuan hanya dibolehkan keluar rumah dengan pakaian sempurna (jilbab dan khimar) dan dengan menaati tata pergaulan Islam.

Namun demikian, laki-laki dan perempuan boleh bertemu dan berinteraksi dalam berbagai aktivitas saat ada kepentingan yang dibolehkan syariah seperti urusan jual-beli, kesehatan, pendidikan, perwakilan (wakalah); atau dalam rangka melaksanakan perintah syariah semisal haji, zakat, menjenguk orang sakit dan sebagainya.

Dengan penerapan hukum-hukum Islam telah terjamin sebuah kehidupan masyarakat yang mulia dan beradab. Laki-laki dan perempuan melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari dengan cara yang terhormat. Laki-laki wajib menghargai, menghormati dan melindungi perempuan. Tidak memperlakukannya keji dan biadab.

Imam Ali as menukil hadits dari Rasulullah SAW mengatakan, “Seseorang tidak akan menghormati kaum perempuan, kecuali jika orang tersebut berjiwa besar dan mulia. Dan seseorang tidak akan merendahkan kaum perempuan, kecuali jika orang itu berjiwa rendah dan hina.”

Dalam sejarah panjang kekhilafahan selama 13 abad, sangat sedikit ditemukan perempuan sebagai korban kekejian. Kaum perempuan tetap berkecimpung di dunia sains dan akademik tanpa mengurangi sedikitpun kualitas keagamaan, iffah, ketakwaan, kepribadian dan martabatnya sebagai Muslimah. Mereka juga tidak mendapat hambatan apapun di ranah ilmu keagamaan.

Sudah selayaknya mereka bisa berkiprah di masyarakat sambil tetap mempertahankan hijab dan wibawanya sebagai muslimah sejati. Ini hanya bisa terwujud jika negara benar-benar mencampakkan sekulerisme-kapitalisme.(www.baitijannati.wordpress.com)

Sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/2012/02/07/wahai-pria-hormatilah-wanita/

Satu Tanggapan to “Wahai Pria, Hormatilah Wanita!”

  1. Negeri ini hampir sempurna kebejatan moralnya, tinggal berapa persen dari warga ini yang berakhlaq mulia… yang anarkis siapa saja itu… yang korupsi siapa mereka itu.. yang melecehkan wanita siapa mereka… yang melecehkan santrinya… ustadz siapa itu… tinggal berapa gelintir dari kita yang masih sehat imannya, kita hanya berdoa minta kepada Allah semoga iman kita di akhir zaman ini tetap kuat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: