Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Mendidik Anak (Jangan) dengan Dongeng

Posted by Farid Ma'ruf pada April 29, 2011

Oleh : Hesti Rahayu

“How do you expect kids to listen to their parents… Tarzan lives half naked, Cinderella comes back home at midnight, Pinocchio lies all the time, Aladdin is the king of thieves, Batman drives at 320 KM/h, Sleeping beauty is lazy, and Snow white lives with 7 guys. We shouldn’t be surprised when kids misbehave! They get it from their story books”. X_X

Pesan BBM itu terkirim dari seorang sahabat di kemarin sore di bulan April ini… Sejenak tertegun membacanya dan tersenyum-senyum sendiri (tapi itu reaksi yang wajar dan bukan gejala kegilaan lho)…he3

Aku terus berpikir…walo sekilas pesan itu hanya sebuah guyon, Tapi kupikir ini serius juga lho… Hmm…sepertinya bukan hanya dongeng2 ala Disney, Marvel Comics, ataupun 1001 malam itu yang kalo kita renungkan jalan cerita serta karakter tokoh2nya ternyata mengandung ajaran yang kurang bener – terutama bila dilihat dengan paradigma Islam… tapi, dongeng2 dari negeri kita sendiri -dongeng2 nusantara- ternyata banyak juga yang kurang bener… (Whaduuw gawaat…). Masaaak??

Coba aja simak :

1)      Kisah Ande2 Lumut & Yuyu Kangkang, ini adalah kisah yang sangat merendahkan perempuan karena perempuan dalam dongeng ini (Klenthing Abang dan Klenthing Ijo) harus bela2in memburu si pria (Ande2 Lumut), bahkan harus disertai dengan pengorbanan untuk rela dinodai Si Yuyu Kangkang ketika akan menyeberang sungai. Si Klenthing Kuning yang menjadi pemenang dalam cerita ini, walo suci bebas dr perkosaan Yuyu Kangkang, tetap bukanlah sosok yang ideal dan patut dicontoh karena meski perawan tapi Klenthing Kuning adalah gadis yang jorok(kemproh) hingga baunya seperti mbelek lencung (tahi ayam yang super bau). Wanita sholihah harusnya dapat menjaga kehormatan dan juga penampilan diri yang bersih menghindari najis.

2)      Kisah Jaka Tarub dan Dewi Nawang Wulan, juga bukan kisah yang pantas untuk dicontoh. Bagaimana mungkin seorang bidadari kahyangan yang suci, tetapi mandi sembarangan di tempat terbuka? Belum lagi baju yang diletakkan di sembarang tempat… pasti Dewi Nawangwulan ini seorang bidadari yang ceroboh. Sedangkan Jaka Tarub? Wah, maaf saja, barangkali dia seorang psychopengidap voyeurism (kelainan jiwa suka mengintip) sehingga dengan tega mengintip para bidadari mandi, bahkan mencuri bajunya…. (#teplok jidat#)

3)      Bawang Merah-Bawang Putih, juga kisah yang tidak kalah rusaknya. Selain membuat pencitraan bahwa “Ibu Tiri pasti Jahat”, kisah Bawang Putih yang mencuci baju di sungai hingga hanyut,menggambarkan seorang gadis yang jorok karena sungai jaman sekarang kan nggak ada yang bersih (Yee…itu kan konteks jaman dulu..) Iya, jaman dulu sungai masih bersih, tapi semua orang kan M-C-K (mandi-cuci-kakus) semua tumplek bleg di sungai itu…jorok dong. Belum lagi mencuci di sungai itu perbuatan yang merusak lingkungan hidup karena deterjennya ngga bisa diurai bakteri…. (Yee…jaman dulu belum ada deterjen…) Iya, tapi kalo Ibu Tiri itu kaya, kenapa juga ngga mbangun sumur di rumah? (semakin memberi citra buruk bahwa ibi tiri itu pelit)…

4)      Kisah Bandung Bandawasa dan Rara Jonggrang, kisah ini menggambarkan Rara Jonggrang yang super matre. Mestinya kalo memang tidak suka dengan seorang pria yang melamar, ungkapkan saja terus terang dan jangan memeberi harapan kosong… Akibatnya kan fatal, demi menuruti syarat dari Rara Jonggrang, Bandung Bandawasa sampai terjerumus perilaku syirik meminta bantuan para jin…

5)      Kisah Si Kancil Nyolong Timun.  Dari dulu kala kerjaannya kok hanya mencuri saja… Kapan Kancil jadi enterpreuner?

Naah…tergambar kan? Walau menurut sebagian pakar pendidikan, dongeng itu positif digunakan untuk membentuk kepribadian anak2 kita, tapi harus pilih2 dong, dongeng yang kayak apa dulu..?? Ya to. Alhasil, sungguh benar bila dalam pendidikan Islam, kisah (bukan dongeng) sejarah para Nabi dan Rasul serta kisah2 dalam Al Quran merupakan sumber terbaik yang wajib didengar anak2 kita menjelang tidur. Kisah2 itu bukan dongeng, tetapi  berdasar kenyataan  yang istimewanya, dapat berlaku sepanjang zaman… Coba aja…dan lihat apa yang terjadi…!! ^_^

Wallahu a’lam bishowab…

Sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=1774785643883&comments

4 Tanggapan to “Mendidik Anak (Jangan) dengan Dongeng”

  1. ummu zaky said

    Subhanallah,,baru terpikirkan kalo dongeng2 itu tak ada nilai plusnya,coz dulu waktu kecil saat di dongengi si mbah gak kepikiran sampai situ,,memang dongeng yang paling bagus adalah kisah para nabi dan sahabat anak2 bisa lebih tau dan menjadikan para Nabi sebai tokoh idola yg patut di tiru

  2. ummu mazaya said

    hehehe.. senyam senyum sendiri mbacanya. setuju 1000%, musti pilihh2 cerita yang akan disampaikan menjelang tidur. tidak semua kisah cocok buat balita. tapi tetap saja, saya yakin yang namanya bercerita, entah dengan kisah, maupun dongeng yang baik, akan mencerdaskan dan memperkaya khasanah dan ‘rasa’ balita kita.

  3. Mifta said

    mending kalo dongeng Islami

  4. hmmmm ga semua dongeng ga bgs,kita bisa pilih2 kok dongeng yg mana yg hrs kita berikan to anak2 kita sebelum menceritakan kita jg harus pilih2 dongeng yg mna yg bgs to anak untuk usia sekalian,bener bgt kl kisah2 nabi dan rosululloh bgs bgt dan byk contoh dan faedahnya,kisah2 di qur’an jg bgs 2 loh didalamnya bisa mereka bisa belajar apa aja yg ada dalam kehidupan kelak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: