Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Jangan Biarkan Kartini Menangis

Posted by Farid Ma'ruf pada April 21, 2011

Oleh : Asri Supatmiati, S.Si

baitijannati — Mungkin kita kerap mendengar ungkapan, kalau wanita cantik berbuat salah, para pria bilang ‘nobody is perfect.’ Tapi kalau yang berbuat salah perempuan jelek, langsung dicap “pantas…tampangnya saja kriminil!” Ya, punya predikat cantik memang menguntungkan. Bahkan ketika berbuat salah pun tetap ‘dibela’. Luna Maya, meski terlibat skandal mesum dengan Ariel, kini sudah eksis lagi. Masyarakat seolah sudah memaafkannya.

Di dunia kriminal, dulu kita pernah dikagetkan dengan ulah ratu ekstasi Zarima Mirafsur. Tapi, tak lama masyarakat juga melupakannya. Sekeluar dari penjara, bukan dikucilkan, malah laris dapat tawaran sinetron. Belakangan ada Malinda Dee yang “sukses” menjebol Citibank. Label “cantik dan seksi” di usia 47, membuat MD jadi artis dadakan. Ulasannya jadi headline berbagai media massa sepekan lebih. Lantas, apa hubungannya perempuan-perempuan cantik tadi dengan Kartini?

Tuntutan Zaman

Kartini terlanjur dilekatkan sebagai ikon penarik gerbong perjuangan hak perempuan di Indonesia. Walhasil, kiprah perempuan di ranah publik, meningkat deras seiring isu emansipasi perempuan sejak era 80-an. “Semangat” Kartini telah menjadikan para perempuan berbagai latar belakang terus merangsek ke sektor-sektor publik, mengisi ruang-ruang yang dulu hanya dihuni kaum adam.

Terlebih di era liberalisasi saat ini, kebebasan perempuan semakin tak terbendung. Terjadilah revolusi, dari profil perempuan rumahan menjadi wanita super sibuk yang banyak kegiatan di luar rumah. Dulu, profil perempuan rumahan yang digambarkan hanya berkutat pada dapur, sumur dan kasur, tidak pernah memperhatikan penampilan.

Berbeda dengan sekarang, ketika perempuan berkiprah di ranah publik, dituntut (lebih tepatnya menuntut dirinya sendiri) untuk tampil habis-habisan. Menghargai diri sendiri, agar percaya diri dan dipercaya relasi. Begitu dalihnya. Tuntutan seperti itu pada akhirnya melahirkan perempuan-perempuan pemuja materi. Bukankah untuk mempermak penampilan tidak murah? Maka, jangan kaget ketika perempuan (cantik) pun, akhirnya terlibat tindak kriminal. Motifnya sungguh sepele: demi menunjang penampilan.

Maklum, kecantikan mahal harganya. Zaman sekarang, kalau tidak cantik, susah mendapatkan pekerjaan, jodoh, mengejar target penjualan, merangkul klien baru, dan seterusnya. Paradigma itulah yang menyihir jutaan wanita di seluruh dunia, hingga membelanjakan hampir sebagian besar isi dompetnya demi satu predikat: cantik. Padahal, sejatinya mereka hanya memperkaya para pelaku industri kecantikan.

Ironi Kesetaraan

Kini, di tengah “kesuksesan” emansipasi dalam mengeluarkan para perempuan dari rumah-rumah mereka, sederet persoalan menyertai. Suatu keniscayaan, interaksi perempuan dan laki-laki yang makin intens di ruang publik, kerap menimbulkan gesekan. Kisah-kisah perselingkuhan, perzinaan hingga pelecehan seksual tak henti menghiasi media massa. Masih ingat dengan skandal mesum Maria Eva dan Yahya Zaini yang menghebohkan itu? Juga, skandal Antasari Azhar dan caddy golf Rani? Betapa menyedihkan jika kiprah perempuan sebatas selir di antara kaum adam.

Demikian pula angka kejahatan seksual, kekerasan, ekspolitasi, perdagangan perempuan dan diskriminasi, terus meroket. Dan, perempuan bukan hanya korban, tapi juga pelaku. Bagaimana ibu tega menghabisi nyawa suaminya, mengaborsi janinnya dan bahkan membunuh darah dagingnya. Begitu pula perceraian dan single parent, menjadi problem sosial berikutnya yang dipicu oleh ulah kaum perempuan itu sendiri.

Memang, tak sedikit perempuan yang mendapat “berkah” dari emansipasi. Mereka menjadi perempuan mandiri, khususnya dari sisi finansial. Sayang, kemandirian ini kerap dijadikan daya tawar  terhadap kaum lelaki. Hingga banyak rumah tangga berantakan karena gugat cerai istri.

Seperti pernah diungkapkan Menteri Agama Suryadharma Ali. Ia mengaku prihatin terhadap tingginya kasus cerai gugat (istri minta cerai). Seperti di Riau, angka gugat cerai mencapai 82 persen setiap tahun (www.liputan24.com).

Selain karena meningkatnya kesadaran perempuan akan hak-haknya, kemandirian ekonomi istri juga tak dimungkiri sebagai faktor pendorong terjadi perceraian. Padahal semua sepakat, perceraian banyak meninggalkan problem. Seperti keterlantaran anak, kurangnya kasih sayang, dan terpenting, terputusnya proses regenerasi.

Redefinisi

Perjuangan Kartini nampaknya telah ditafsirkan melampaui batas oleh kaum perempuan saat ini. Karena itu, hendaknya mereka meredefinisikan kesetaraan dan keadilan gender yang dikehendaki.  Jangan sampai mematikan nurani perempuan sebagai sosok lemah-lembut, penuh kasih dan manusiawi.  Kita tidak ingin mendengar lagi perempuan-perempuan (cantik) menjadi ikon para kriminalis.

Untuk itu, kita patut merenungkan kembali ruh perjuangan Kartini. Seperti petikan suratnya: “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama” (Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902).

Sejatinya, yang diperjuangkan Kartini adalah agar perempuan tidak didiskriminasi dalam menuntut ilmu, khususnya terkait keterampilan keperempuanan. Kartini meyakini, jika seorang ibu memiliki bekal ilmu yang cukup, akan mampu melahirkan generasi yang berkualitas.

Kita berterima kasih, saat ini kaum perempuan mendapat kesempatan luas dalam menikmati pendidikan. Sayang, perempuan terdidik ini kerap menuntut lebih diluar hak-hak yang semestinya sudah ia dapatkan. Emansipasi kebablasan. Mungkin jika Kartini masih hidup, akan menangis melihat sepakterjang kaumnya saat ini. Bisa jadi dia akan menyesal telah dijadikan ikon perjuangan emansipasi kaum perempuan.(www.baitijannati.wordpress.com)

Asri Supatmiati, S.Si,
Jurnalis, Penulis Buku “Indonesia dalam Dekapan Syahwat”.

Sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/2011/04/21/jangan-biarkan-kartini-menangis/

Satu Tanggapan to “Jangan Biarkan Kartini Menangis”

  1. lebih sering menuntut akan hak, sementara melupakan kewajibannya sebagai seorang wanita, sebagai seorang ibu, sebagai seorang istri.

    kartini yang hebat bukanlah ditentukan oleh jabatan yang bisa dia capai, tapi dari bagaimana hubungan dia dengan anak, suami, keluarga dan masyarakat🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: