Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Muliakanlah Guru

Posted by Farid Ma'ruf pada Maret 26, 2011

Oleh : Retno Sukmaningrum, M.T.

baitijannati — Salah satu pengalaman yang berkesan saat umroh beberapa waktu yang lalu adalah bertemu dengan alumni santri Pondok Tambakberas Jombang. Mungkin kelihatannya suatu yang hal biasa bertemu dengan orang Indonesia di Mekkah, tapi untuk yang ini – bagi saya – menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga. Mengapa ?

Beliau,sang santri sengaja datang jauh-jauh dari Riyadh ke hotel kami di Mekkah (jarak Riyadh – Mekkah sama dengan jarak Surabaya – Jakarta) dengan mengendarai mobil sendiri  untuk melayani kami. Beliau selalu mengirim tambahan pulsa, membelikan nomor lokal, mendorong kursi roda bagi kakak saya yang terserang polio saat kecil ketika thawaf dan sa’i, membelikan dan mengantarkan makanan bagi kami, serta membelikan oleh-oleh untuk pulang. Apa istimewanya kami ? Bukan kami yang istimewa. Tapi sikap santri inilah, yang menurut saya istimewa Sang santri mendudukkan kami orang yang layak dihormati, karena kami adalah putra dari guru/kyai  (saya kecipratan karena saya mantunya kyai J) yang dulu mengasuh dan mengajarnya di pondok. Baginya, sebagai wujud hormat dan ta’dzim kepada seorang guru adalah berbuat  baik dan hormat, melayani putra-putra sang guru, bahkan menganggap putra gurunya adalah juga guru baginya. Subhanallah…

Guru. Siapakah diantara kita yang pintar dengan sendirinya ? Tidak ada. Sebagaimana tidak ada satu pun manusia yang lahir dari batu, begitu pula tidak ada manusia pintar dan paham tanpa bimbingan  seorang guru.  Dengan demikian, memiliki seorang guru, pembina (musyrif), pembimbing (mursyid) adalah suatu keharusan. Para sahabat sendiri mengambil ilmu dan amalan mereka dari Rasulullah SAW. Rasulullah SAW mengambil ilmu dan amalannya dari Allah SWT melalui malaikat Jibril. Dan para tabi’in mengambil ilmu dan amalan dari para sahabat. Hari ini pun di tengah kita ada petunjuk, yakni Al Qur’an  dan as Sunnah. Untuk bisa tertunjuki dengan keduanya, menuntut adanya seorang guru (musyrif) di samping kita.

Terlebih bagi seorang pengemban dakwah, yang dia menyeru apa yang terkandung dalam Al Qur’an dan As Sunnah, mutlak adanya guru (musyrif) baginya. Guru  adalah pemimpin kita dalam menuju kebaikan yang diseru Allah SWT. Layaknya pemimpin, beliau mempunyai hak-hak atas kita-sebagai muridnya :

1.      Berprasangka baik padanya

2.      Memberikan nasihat. Guru kita bukanlah nabi, yang terjaga dari dosa. Memungkinkan baginya melakukan kesalahan dan kekhilafan. Beliau berhak mendapatkan nasihat dengan cara yang makruf

3.      menaatinya sepanjang bukan kemaksiatan kepada Allah SWT

4.      memuliakan dan melindunginya meski tidak bersama beliau

5.      menjaga rahasianya

6.      menghilangkan kesusahan hatinya

7.      mendoakannya

Sikap-sikap tersebut yang harusnya melekat pada seorang murid terhadap gurunya agar ilmu yang diperoleh manfaat fid dun-ya wal akherat. Namun tak jarang dijumpai, banyak murid yang lupa terhadap penjagaan sikap ini. Begitu waktu berjalan, sang guru sudah tak mengajarnya, sedangkan si murid hari ini telah menjadi guru pula bagi murid-muridnya. Lupalah dia akan guru yang telah memberinya ilmu, membimbing dan mengarahkannya dalam jalan kebaikan. Jangankan dia akan bantu anak gurunya. Saat gurunya pun tertimpa kesulitan, murid tak bergeming untuk membantunya. Jangankan menjaga rahasianya, justru murid yang pertama kali mengungkap aib sang guru. Jangankan mendoakannya, saat bertemu pun tak menyapanya. Na’audzubillahi min dzaalik..

Saat saya kagum melihat sikap santun dan tawadlu’nya santri Abah (alm), cukuplah menyadarkan bagi saya untuk memperbaiki sikap terhadap para guru saya. Jazaakumullah khairan ahsanal yaa Ustadz, Ustdzah atas bimbingan panjenengan semua. Mungkin ada di antara Ust, Ustdzah tidak membaca tulisan ini, namun insya Allah doa bagi penjenengan semua tak akan lepas dari lisan ini. Ya Allah ampunilah dosa guru-guru hamba, angkatlah derajatnya, satukanlah kami dalam perjuangan menjaga agamaMu, menegakkan syariatMu dalam bingkai Khilafah meski kami tak bertemu, kumpulkan pula kami di jannahMu kelak . Amiin..

Semoga manfaat….

Maret 2011

Sumber : http://www.facebook.com/#!/notes/arum-ihsan/muliakanlah-guru/210145039001023?notif_t=note_reply

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: