Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Pernikahan Lintas Harokah, Perlukah?

Posted by Farid Ma'ruf pada September 21, 2010

Oleh : Farid Ma’ruf*

SyariahPublications.Com – Baru saja saya berkomunikasi dengan seorang ikhwan yang memberikan kabar bahwa dirinya sebentar lagi akan menikah. Suatu kabar gembira. Ia pun menambahkan bahwa pernikahan ini lintas harokah. Alasannya adalah untuk menjaga ukhuwah dengan harokah lain. Selain itu, ia juga akan merekrut istrinya untuk menjadi kader di harokah yang ia ikuti. Ia pun memberikan argumen tambahan bahwa ada ikhwan senior yang juga melakukan pernikahan lintas harokah. Istrinya adalah tokoh di harokah lain dan sekarang istrinya menjadi pejuang dakwah yang tangguh di harokah yang ia ikuti. Setujukah anda dengan langkahnya?

Tulisan ini saya buat agar menjadi bahan renungan bagi kita, perlukah pernikahan lintas harokah? Apa saja sisi positif dan negatifnya, dan langkah apa yang sebaiknya kita pilih.

Pernikahan lintas harokah adalah pernikahan yang dilakukan oleh anggota suatu harokah A dengan anggota suatu harokah B. Pernikahan tersebut bisa terjadi karena beberapa sebab atau tujuan. Diantaranya yaitu :

1.Tujuan merekrut kader baru

Yaitu faktor yang muncul dari idealisme seseorang untuk merekrut anggota-anggota baru dengan berbagai macam cara yang diperbolehkan. Salah satu yang dipandang efektif adalah dengan pernikahan.

2. Tujuan memperbaiki atau mempererat ukhuwah Islamiyah

Tidak bisa dipungkiri bahwa perbedaan harokah kadang-kadang menimbulkan ketegangan tertentu karena kurang paham dalam mengelola perbedaan. Dengan pernikahan lintas harokah diharapkan ketegangan tersebut bisa dikurangi atau dihilangkan.

3. Faktor ketidakseimbangan jumlah kader ikhwan dengan kader akhwat

Saya pernah menghadiri resepsi pernikahan di suatu kota. Kebetulan saya berkesempatan berbincang panjang lebar dengan mempelai yang ikhwan. Dari perbinvangan itu terungkap bahwa ternyata ia aktif di harokah A sementara istrinya di harokah B. Ia mengatakan bahwa ia sangat bersyukur bisa menikah dengan akhwat dari harokah B.

Ternyata kejadian tersebut bukan satu-satunya kasus. Saya mendapatkan beberapa informasi lain bahwa ternyata banyak ikhwan-ikhwan dari harokah A yang menikahi akhwat harokah B. Mengapa demikian? Pertanyaan saya berujung pada kesimpulan bahwa jumlah kader ikhwan di harokah A lebih banyak dari pada kader akhwatnya sehingga mereka akhirnya memilih untuk mencari akhwat dari harokah lain.

4. Faktor kebetulan

Faktor ini bisa terjadi misalnya karena antara ikhwan dan akhwat tersebut memang sudah terlanjur dalam proses taaruf atau pun khitbah. Ternyata dalam waktu/proses tersebut keduanya secara kebetulan masuk dalam harokah yang berbeda. Namun mereka tidak ingin mempermasalahkan perbedaan tersebut dan tetap melanjutkan ke jenjang pernikahan.

5. Faktor nafsu

Faktor ini bisa jadi muncul pada anggota yang masih yunior. Si ikhwan atau akhwat terlanjur jatuh cinta pada seseorang yang kebetulan berbeda harokah. Perasaan tersebut telah membutakan hatinya dan ia merasa bahwa dalam harokahnya tidak ia temukan calon pasangan yang sebaik calonnya. Mungkin dinilai kurang cantik, kurang pintar, kurang berpendidikan, kurang kaya, atau kekurangan-kekurangan yang lain.

Sisi Positif dan Sisi Negatif Nikah Lintas Harokah

Pernikahan lintas harokah memang mempunyai sisi positif, walaupun juga ada sisi negatifnya.

Sisi positif pernikahan lintas harokah

1. Menambah kader dakwah

Komunikasi antar suami istri tentu akan sangat dalam sehingga tersingkaplah semua tabir penghalang. Sesuatu yang sebelumnya tersembunyi, bisa menjadi nyata kelihatan. Diskusi antara suami dan istri pun bisa terjadi setiap hari dalam waktu yang lama, sehingga terbuka lebar kemungkinan terpengaruhnya salah satu pihak sehingga berubah pikiran. Maka bisa bergabunglah si suami atau istri ke harokah pasangannya. Tentu ini sebuah keutungan bagi harokah yang mendapat kader baru, walaupun di sisi lain, harokah yang satunya berarti kehilangan satu kader.

2. Terjadi komunikasi lebih dalam antar harokah

Apabila kemungkinan pertama tidak terjadi, maka setidaknya akan muncul kemungkinan yang kedua yaitu komunikasi yang lebih dalam antar dua harokah. Ini tentu saja bisa terjadi kalau yang menikah adalah sama-sama tokoh di dua harokah tersebut. Misal, si suami adalah pengurus penting di harokah A dan si istri adalah pengurus penting di harokah B. Tapi jika salah satu atau keduanya hanyalah anggota level bawah, maka hal itu tidak akan terjadi.

3. Bisa menolong harokah lain yang kebanyakan ikhwan atau akhwat

Saya pernah menemukan suatu harokah yang terlalu banyak akhwatnya. Kalau ada satu ikhwan, maka kurang lebih ada enam akhwat. Ketidakseimbangan jumlah ini tentu menimbulkan masalah. Dengan adanya pernikahan lintas harokah, maka masalah ini bisa sedikit tertolong. Seorang akhwat aktivis tentu akan merasa lebih nyaman menikah dengan seorang ikhwan yang aktivis juga, walaupun berbeda harokah, jika dibandingkan menikah dengan orang awam.

Sisi negatif pernikahan lintas harokah

Sayangnya, pernikahan lintas harokah juga mempunyai banyak sisi negatif yang bisa timbul. Diantaranya yaitu :

1. Anak kebingungan memilih harokah

Kita tentu ingin mendidik anak sesuai dengan idealisme kita. Kita ingin anak kita menjadi seperti kita bahkan jauh lebih baik dari pada kita. Sekarang coba pikirkan, apa jadinya jika ayah dan ibu memberikan paham yang berbeda kepada anaknya.

Si ayah mengatakan : “Demokrasi adalah sistem kufur, haram terlibat di dalamnya dan haram pula menyebarkannya”.

Sementara itu,

Si ibu mengatakan : “Demokrasi adalah ajaran Islam, boleh terlibat di dalamnya dan baik pula menyebarkannya”.

Apa jadinya si anak kalau begini kejadiannya? Ia tentu akan bingung. Lebih dari itu, kita pun akan kecewa berat jika ternyata ia memilih harokah yang diikuti pasangan kita yang berbeda harokah.

Alih-alih mendapatkan kader dakwah yang tangguh (yaitu anak kita), tapi kita justru “kehilangan” anak kita. Lebih payah lagi, kita bisa kehilangan potensi mendapatkan pahala besar dari anak kita bahkan bisa jadi kita akan mendapatkan dosa yang banyak. Gara-garanya, kita salah memilihkan ibu bagi anak-anak kita. Terus terang saya tidak setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa pendidikan anak dimulai dari saat masih dalam kandungan. Menurut saya, yang benar adalah Pendidikan anak dimulai sejak saat memilih calon ibunya. Tidak ada orang hebat yang lahir dan dididik oleh ibu yang biasa saja. Orang-orang hebat lahir dan dididik oleh ibu yang juga hebat. Silakan baca buku “Ibunda Para Ulama” untuk mendapatkan penjelasan yang lebih detail.

2. Tidak menjadi uswah khasanah bagi masyarakat

Apa jadinya jika apa yang kita dakwahkan ternyata tidak dilakukan atau bahkan bertentangan dengan dakwah pasangan kita.

Misalnya si suami mengatakan kepada masyarakat : “Nasionalisme adalah paham sesat. Ide ini lahir dari perasaan mempertahankan diri yang muncul di saat ada ancaman. Perasaan ini sangat rendah, perasaan yang juga ada di dunia binatang. Ide ini jelas bertentangan dengan Islam yang melarang ashobiyah, sehingga haram bagi kita untuk mengikuti ide ini apalagi menyebarluaskannya.”

Sementara itu si istri mengatakan :”Nasionalisme adalah ide yang Islami. Nasionalisme adalah cinta tanah air dimana cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Ide nasionalisme juga sesuai dengan Al Quran surat Al Hujurat ayat 13. Maka penting bagi kita untuk memupuk paham nasionalisme pada generasi muda”.

Masyarakat yang mendengar dakwah si suami bisa jadi akan mengatakan : ”Nggak usah kebanyakan ngomong teori Mas, lihat tuh istri sampeyan”. Nah loh !!!

3. Menghambat dakwah

Jika si suami memahami bahwa terlibat dalam aktivitas demokrasi adalah haram, sementara si istri adalah aktivis yang pro demokrasi, kira-kira apa yang akan terjadi? Ketika si suami akan berangkat dakwah yang isinya menjelaskan sesatnya paham demokrasi, kira-kira apa yang akan dilakukan si istri? Apakah akan diam saja? Bisa jadi si istri akan menghalangi suaminya untuk berdakwah, karena menurut istri demokrasi adalah hal yang baik. Berarti suaminya akan berangkat untuk menghalangi orang dari suatu hal yang baik. Ini harus dicegah. Maka si istri pun akan melakukan berbagai macam strategi agar suaminya tidak jadi berangkat dakwah. Bisa pura-pura sakit, atau mempengaruhi suaminya agar mengganti tema dakwahnya.

4. Terbukanya rahasia organisasi

Tiap organisasi tentu punya rahasia yang tidak boleh diketahui oleh semua orang kecuali oleh yang mempunyai kewenangan. Jika suami istri berasal dari satu organisasi yang sama, maka akan saling membanu untuk menjaga rahasia masing-masing. Namun apa jadinya jika berbeda organisasi? Bisa jadi, suami memegang suatu informasi yang rahasia. Si istri mengetahui informasi tersebut tapi menurut istri bukan rahasia (atau si istri sengaja membocorkannya). Nah, tentu akan sangat berbahaya.

5. Menimbulkan ketegangan baru

Timbulnya ukhuwah belum tentu terjadi, namun bisa jadi justru timbul ketegangan baru antar harokah. Harokah si istri, katakanlah harokah B, akan merasa kecolongan. Lebih jauh dari itu, harokah B merasa bahwa harokah A telah berbuat jahat dengan merebut anggotanya dengan cara-cara yang tidak elegan. Sebagai catatan, biasanya istri lebih mudah terpengaruh untuk ikut suami.

6. Kasihan anggota harokah kita sendiri

Jika kita menikah dengan akhwat lain harokah, lantas siapa yang akan menikahi akhwat dari harokah kita sendiri? Pernahkah kita memikirkannya? Atau jangan-jangan ego kita telah mengalahkan pandangan yang lebih jernih ini?

Apa jadinya jika kita menikahi akhwat yang berbeda harokah, sementara akhwat di harokah kita sendiri malah dinikahi orang lain, baik berbeda harokah atau justru dinikahi orang awam?

Belum tentu akhwat yang kita nikahi ikut bergabung dengan harokah kita, eh malah akhwat harokah kita keluar dari dunia dakwah karena dihambat suaminya. Nah loh…. !!!

Kesimpulan

Pernikahan lintas harokah lebih banyak sisi negatifnya dari pada sisi positifnya. Resiko yang kita tanggung terlalu besar dari pada keuntungan yang sebenarnya bisa kita dapat dengan cara-cara lain. Oleh karena itu, bagi anda yang akan menikah, carilah pasangan yang sepaham dengan anda. Jangan sembarangan memilih calon pasangan. Ingat, kita menikah bukan untuk waktu yang sementara tapi untuk selama-lamanya. Apakah kita tidak ingin pasangan kita di dunia ini juga akan menjadi pasangan kita di akhirat nanti? (Jombang, 10 Syawal 1431 H). (www.syariahpublications.com)

*Penulis adalah pengelola blog Baiti Jannati (www.baitijannati.wordpress.com) dan pemerhati masalah keluarga.

22 Tanggapan to “Pernikahan Lintas Harokah, Perlukah?”

  1. maaf ustaz jika ana boleh bertanya, bagaimana dg kedudukan takdir???? apa kita bs mendesain jodoh kt dr sesama harokah??? sedang yg tau jodoh kt hanya ALloh sj.

  2. neoaisyah said

    kenapa dengan berharokah urusan jodoh seseorang jadi sempit?
    apakah ini ada contoh kasusnya di zaman Rasul?
    kalau ada kasus dimana seseorang mempermasalahkan soal perbedaan harokah dengan pemilihan suami atau istri, Bagaimana kira-kira reaksi Rasulullah SAW?

    maaf saya orang awam

    =)

  3. c. rajab said

    hmmmm……

    kenapa harus membedakan 1 harokah dengan harokah yang lain??!!
    bukankah tujuan harokah islam itu sama… untuk menuju khilafah??!

    jadi, mengapa harus dipermasalahkan?!
    ane setuju sama akhi tsaqib zulva…

    mohon penjelasan lebih lanjut..

  4. abu salamah said

    syarat2 n rukun pernikahan apa? Apakah diluar harokah trmsk syarat n rukun nikah?

  5. syahid.syuhada' said

    Assalamu`alaikum

    ya, ana setuju yang jodoh itu ketentuan Allah.
    Namun, sebagaimana yg sering kita pelajari, Allah memberi kita peluang dalam soal jodoh untuk memilih jodoh yang bagaimana kita mahu…yg tinggal itu usaha kita…andai sudah sepenuh jiwa (kita rasakan) berusaha untuk mendapatkan jodoh yg soleh/hah (misalnya), namun tidak juga kita perolehi, maka kita juga kena ingat bahawa InsyaAllah Allah akan mengurniakan kita jodoh yg soleh/hah diakhirat kelak…semuanya bergantung pd keyakinan dan usaha kita dlm menjadi insan yg soleh/hah…

    dalam soal berbeza harakah, itukan masih dalam kelompok pilihan. masih mampu dipilih oleh manusia. adapun, jika sama harakah, tetap saja kita tidak tahu apa itu jodoh dunia dan akhirat kita, atau sampai kapan kita akan bersama2 dengan pasangan untuk tetap memilih thariqah dakwah ini (yg sama). boleh jadi akan berlaku perubahan pd salah seorangnya…

    ana secara peribadi memandang, kepentingan untuk mendpatkan calon dari satu halatuju yg sama kerana, kita harus faham, w/pun semuanya menginginkan khilafah, namun, thariqah dakwahnya berbeza bagi setiap harakah. yg kita yakini benar itu, semestinya itu juga yg kita mahu pasangan kita ikut. masalah seperti yg Ustaz farid kemukakan juga bisa berlaku, lalu bagaimana kesan dan akibatnya dikemudian hari.

    ya, berkenaan di negeri akhirat, insyaAllah, dengan kekuasaanNya kita yakin walau berbeza harakah sekalipun kita masih bisa menjadi pasangan suami isteri diakhirat sana… semuanya ketentuan Allah…cumanya, sebagai hambaNya yg lemah, pasti kita risau andai mempunyai pegagngan yg berbeza hatta dalam hal kecil, misalnya, si isteri bilang “demokrasi haram dan perbankan Islam mengamalkan riba’ maka haram.”, sebaliknya si suami, “demokrasi halal dna perbankan Islam juga cukup syarat dn bisa menjadi halal.” BUKAN kah itu sudah jelas adanya perbezaan dari pelaksanaan syariat Islam antara keduannya??? Dan bukankah sebagai pasangan suami isteri, kelak masing2 akan dipertanggungjawabkan juga tentang peranan masing2 -termasuklah dalam isu mencari dan melaksanakan yg terbaik dalam Islam??? itu jugakan suatu yg dipertanggungjawab.

    adapun, penelitian dalam memilih pasangan itu bukankah sebaiknya agar kita bisa berjuang bersama2 menegakkan syariat Islam dengan methode yg sama, thariqah yg sama sebagaimana yg kita yakini. sanggupkah kita melihat pasangan kita melakukan sesuatu yang pada pemahaman kita merupakan “dosa” dan “salah”?. Redha aja?

    Dan bagi isteri, andai si suami memilih yg terbaik di sisi agama namun dia meyakini pendapat lain sebagai yg terbaik dan mendokong pendapat itu, lantas menolak arahan/pendapat yg didokong oleh si suami, lalu bagaimana? sakit bukan?

    sakit…

    itu hanya sebahagian contoh…

    pada pendapat ana, adapun perkahwinan itu misinya utk menegakkan syariat Allah secara kaffah… maka, semestinyalah kita ingin menegakkan syariat islam dari sekecil2 perkara sehinggalah sebesar2 perkara dengan thariqah yg kita percayai bahawa itulah yg terbaik.

    Maka, dalam hal harakah ini, kebanyakan orang rmai yg melupakan akan kepentingan misi dan visi harakahnya serta thariqah dakwah yg didokong itu. andai dia meneliti sehabisnya kepentingan perkara2 demikian, maka dia akan memahami kepentingan pengaruh dalam membina keluarga terhadap apa yg (dibawanya )didakwahkannya. (sudah dicontohkan oleh ustaz farid)

    mudah2an Allah menganugerahkan kita pasangan yg saling menjadi pembantu antara satu sama lain utk menegakkan agama Allah…

    wallahu`alam.

  6. syahid.syuhada' said

    sedikit tambahan…

    kita tidak tahu dihari penghisaban nanti apa kah soalan dari Alalh secara spesifiknya.
    namun, kita yakin dan tahu bahawa Allah akan memaparkan segala perbuatan kita dan itulah yg akan dipertanggungjawabkan.
    Bahkan, jangan sesekali lupa bahawa setiap apa yg dilakukan pasti dipersoalkan dan tiada apapun alasan itu diterima kerana sesungguhNya Allah Maha Mengetahui dan memperhitungkan segala apa yg diperbuat, didengar dan dilihat oleh hambaNya…
    Maka, TIADALAH MUSTAHIL bagi Allah utk juga bertanyakan mengapa kita memilih sesuatu landasan dakwah itu sebagai platform utk menegakkan syariatNya. Sesungguhnya TIDAK ADA apa pun yang mustahil baginya, apalagi untuk menilai perbuatan manusia.dan DIA juga berkuasa mengaturkan manusia berkelompok-kelompok mengikut kehendakNya. Itu sesuatu yg kecil bagiNya kerana Allah itu Maha Berkuasa dan keagungan jelas terpancar di mana-mana. Ingatlah pengetahuan manusia itu sungguh sikit dan kerdil.
    Maka, berhati2 dalam setiap bicara, perbuatan dan etc….

    wallahu`alam…

    Segala puji bagi Allah yg Maha Agung dan Maha Tahu…

  7. syahid.syuhada' said

    typing error Alalh = Allah
    semogah dimaafkan.

  8. Agam Rudi said

    Bagaimana Islam bisa kuat, bersatu saja susah? Apakah harokah itu lebih penting dari Islam, lebih penting dari nabi Muhammad, lebih penting dari Allah?

  9. emmi said

    Assalamu Alaikum..
    Afwan ustad, mungkn in akn terjad pd dr saya, keputusan blm final krn perbedaan harakah! klupun terjadi, bgm cr meminimalisir perbedaan pemahamn yg ad. syukran

  10. Muhammad Sunan said

    Assalamu’alaikum…

    Af1 ustz. Apakah ketika kita menikah dengan berbeda harokah ini merupakan sesuatu yang tidak baik kita lakukan?

    Lantas bagaimana dengan usaha kita, yang sudah mencari pasangan yang se-harokah tetapi Allah Swt. tidak mempertemukan kita jodoh.

    Apakah hanya dengan satu harokah saja, suami-istri mampu berjuang untuk untuk din ini? Padahal kita harus ridlo dengan apa-apa yang telah allah berikan kepada kita.

    • Al Fakir Ilm said

      maaf nih…sedikit nimbrung

      menurut saya..sesungguhnya tidak ada batasan pernikahan apakah antara harokah A dan B atao sesama harokah…
      kalo saya baca tulisan pak Farid mungkin ada benarnya…sebagaimana ada sisi positif dan negatifnya….hal ini lebih menimbang pada sisi bagaiamana nantinya suami istri bisa ada kasuatuan visi,misi dan gerakannya dakwah yg akan dilakukan yang tentunya akan melahirkan keharmonisan dalam keluarga dan dakwahnya….memang tidak ada jaminan bahwa kalo nikah dengan satu harokah lantas kemudian bahagia atao ketika nikah dengan harokah selainnya tidak bahagia…dan sesungguhnya kebahagiaan dalam rumah tangga itu berproses…tidak bisa diukur dengan kecantikan pasangan, harta dan keturunan pasangannya…tetapi kebahagiaan itu salahsatunya adalah dimana suami istri mampu membagi peran dalam rumah tangganya…kedewasaan dalam berfikir dan kematangan diennya…

      mohon maaf sebelumnya….

  11. assalamualaikum wr.wb.

    maaf ikut nimbrung juga nih, pernikahan lintas harokah, wah kayaknya menarik..aku setuju dengan pernikahan antar lintas harokah tapi dengan tujuan sebelum terjadi akad nikah pasangan harus berjanji tidak akan mempermasalahkan hal ini, dan agar ada persamaan persepsi yaitu sama-sama mencari ridho Allah swt walaupun jalan yang dilalui berbeda asal didiskusikan sebelumnya saling suport dan menghargai satu sama lain, masing-masing menampilkan Islam secara indah dan anggun, pasti nanti salah satunya ada yang tertarik dengan penampilan yang lebih indah dan lebih anggun, dan akhirnya mereka bersatu dalam harokah yang sama yang nyaman bagi keduanya. Anda setuju…..

  12. Saya kok semacam kecewa dengan penjelasan anda yaa ustadz..😦

    karena sempit, dangkal dan sangat kasuistik. anda mengambil contoh harakah anda (Hizbut Tahrir) dengan PKS (tarbiyah) yang notabene sudah beda jalan.

    Tapi emang harakah cuma itu doang ya?

    masih ada salafi, JT, NU, Muhammadiyah, MTA, dll. dikemanain? apa kombinasi antara itu semua juga ngalamat gagal?

    Well, lebih baik, judulnya diganti deh, “Syabab HTI dengan Ikhwan Tarbiyah menikah, perlukah?” karena tendesius sekali😀

  13. neisa said

    misalkan menikahi yang tidak berharakah tetapi sangat paham dengan islam dan juga sangat paham harakah2 di indonesia bukankah tidak masalah us? yang terpenting bukankah ridho orang tua?

  14. al-ghuraba said

    assalamualaikum wr wb.

    ikut nimbrung yaa…maaf2 sebelumnya kalo bahasa saya aneh.. hahha saya bener2 awam tentang semua ini

    harakah?? apa itu harakah?? dan akhirnya saya tau dikit2 dari baca2 diatas :))

    apakah mesti harus se harakah buat nikah??
    sedangkan saya sendiri gak tau masuk harakah yang mana??? nah lho!!🙂
    gak cukupkah dengan apa yang udah dijodohkan sama Allah?
    gak cukupkah dengan Islam, dengan Nabi muhammad SAW, dan Alquran??

    atau gampanganya sih, gak cukupkah dengan cinta? cinta terhdap calon pasangan kita yang udah ditentukan oleh Allah SWT tersebut regardless dari harakah mana??

    ga usah dibikin masalah juga kenapa sih??
    ngapain juga di bikin list positf dan negatifnya -..-a
    setiap keluarga punya cara sendiri2 buat ngatasin masalah yang ada dalam keluarganya

    anak kebingungan harakah?? makanya ada yang disebut dengan toleransi…
    rahasia harakah terbongkar??? mangkanya jangan bawa2 urusan harakah kedalam keluarga!
    ketegangan baru di keluarga?? namanya aja udah nikah! masakmasalah beda paham gak bisa ditoleransi dikit sih?? terus mau udahan gitu nikahnya gara2 gini doang??? ckckckckck nikah itu besar dan berat…gara2 gini jadi batal?!? ..lemah banget menurut saya..
    kasihan anggota harakah sendiri?? yaah gimana? emang ga jodoh, tapi yang jelas mereka udah punya jodoh sih… dari yang di Atas..

  15. irawan said

    tulisan pak farid menurut ana sangat adil dan benar. kalau mau menikah baik dari harokah yg sama atau beda harus pertimbangan yg matang untuk dakwah.

  16. joko said

    Terlalu jenius luh.. yang mudah aja dipersulit, apalagi yang sulit…weleh..weleh

  17. bang dzia said

    Saya mengkritisi penulis terkait masalah sisi negatifnya. karena kasusnya terlalu dibuat-buat, dan contohnya cenderung (maaf) menyudutkan harakah lain. Dan contohnya pun cuma 1. antara pro-demokrasi dengan no-demokrasi. Kayak ngga ada contoh lain aja

    Terus terang, saya kecewa melihat dangkal dan sempitnya pembahasan tentang lintas harakah ini.

    Kutipan 01 : Perihal si anak menjadi kebingungan memilih harakah
    —-
    Si ayah mengatakan : “Demokrasi adalah sistem kufur, haram terlibat di dalamnya dan haram pula menyebarkannya”.

    Sementara itu,

    Si ibu mengatakan : “Demokrasi adalah ajaran Islam, boleh terlibat di dalamnya dan baik pula menyebarkannya”.
    —-
    Ini yang kedua apaan banget coba sak ringan-ringannya sebuah harakah memandang demokrasi, mengatakan demokrasi itu ajaran Islam, itu keterlaluan.

    Kutipan 02 : Perihal tidak bisa menjadi uswah di masyarakat
    —-
    Misalnya si suami mengatakan kepada masyarakat : “Nasionalisme adalah paham sesat. Ide ini lahir dari perasaan mempertahankan diri yang muncul di saat ada ancaman. Perasaan ini sangat rendah, perasaan yang juga ada di dunia binatang. Ide ini jelas bertentangan dengan Islam yang melarang ashobiyah, sehingga haram bagi kita untuk mengikuti ide ini apalagi menyebarluaskannya.”

    Sementara itu si istri mengatakan :”Nasionalisme adalah ide yang Islami. Nasionalisme adalah cinta tanah air dimana cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Ide nasionalisme juga sesuai dengan Al Quran surat Al Hujurat ayat 13. Maka penting bagi kita untuk memupuk paham nasionalisme pada generasi muda”.
    —-

    Ini istrinya jelas-jelas ngga ngaji. hubbul wathon minal iman itu hadist maudhu’ (palsu). Harakah? I don’t think so.

    Dan masih banyak yang lain.

    —-
    Taruhlah ini memang nggak sesuai, karena memang dua-duanya beda jalur dakwah. semisal kader HTI nikah sama kader tarbiyah/PKS. Susah emang.

    Tapi gimana kalo :

    Tarbiyah – Salafi?
    Salafi – Muhammadiyah?
    Muhammadiyah – NU?
    HTI – Salafi?
    HTI – Muhammadiyah?
    NU – Tarbiyah?
    dan masih banyak lagi.

    Allah yaa kariim, cukuplah agama ini yang membuat kita sekufu dengan pasangan kita.

  18. yufa said

    proses dlm mencari jodoh, saya yakin Allah jg yg menggerakkan….:)

  19. Ghazali said

    Ana Duda mau nikah sampai sekarang blm jg dpt Akhwat padahal sudah lama mengajukannya malah kata Ikhwan Ustad Pusat mau ketemu ana katanya para Ustad lg waspada jd kesimpulannya tdk mudah untuk mendapatkan Akhwat di jadikan istri

  20. Anton S. Pramono said

    Kenapa harus dipermasalahkan menikah lintas harokah? Selama “setara”, bukankah tidak masalah?
    Semua yang dikemukakan tidaklah relevan bila dikaitkan dengan perintah Allah dan Rasulullah. Saya tekankan di bagian perintah Allah dan Rasulullah bukan karena ada strategi lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: