Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Ikhlas atau Percuma?

Posted by Farid Ma'ruf pada September 21, 2009

Oleh : Mohammad Ihsan Abdul Djalil

Saya punya kebiasaan membeli koran eceran di perempatan jalan dekat rumah. Kadang dua sekaligus. Padahal di rumah juga sudah langganan salah satu koran. Dibaca semuanya? Sejujurnya, tidak. Saya tak punya waktu membaca 3 koran dalam sehari, apalagi kebanyakan beritanya mirip.

loper-koranSebenarnya tak perlu membeli koran sebanyak itu karena melalui internet saya bisa mengakses banyak koran online kalau mau. Alasan saya membeli koran lebih karena salut pada mereka yang rela bekerja keras mendapatkan sedikit uang dengan cara yang benar dan halal.

Salah satu penjual koran di perempatan jalan Dharmawangsa – Kertajaya adalah lelaki tua dengan (maaf) kaki satu. Dia bertongkat karena kaki kanannya hanya selutut. Lelaki ini rela berdiri di tepi jalan sambil menawarkan korannya pada kendaraan yang berhenti saat lampu merah. Senyumnya terus mengembang penuh keramahan.

Ada juga anak-anak yang usianya baru 10 tahunan. “Beli koran ya Pak, buat bayar sekolah”, katanya suatu kali. Saya tergetar. Anak saya yang ikut mendengarnya pun terdiam. “Nak”, kata saya, “Ayahmu bisa bayar uang sekolah. Jadi anak yang rajin ya di sekolah”.

Si bapak tadi, kalau misalnya mau menengadahkan tangan seperti para pengemis lain di perempatan jalan itu, pasti juga akan dapat uang. Tapi dia memilih menjual koran ketimbang meminta-minta. Saya respek. Si anak tadi, saya menaruh hormat padanya, “Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu”.

Kalau sudah begitu, saya membeli satu atau dua koran dan tak berharap kembalian. Saat Anda melakukannya, senyum si bapak tadi akan terlihat lebih mengembang lagi. Si anak lebih demonstratif. Dia loncat-loncat kegirangan, “Koranku habis”, teriaknya pada kerumunan penjual koran lainnya. Aha, rupanya itu dagangan terakhirnya hari itu. Congrats ya nak, sudah sukses mencapai target harian.

Ayah gitu ikhlaskah?”, Safira bertanya.
“Ya ikhlas. Emang kalau nggak ikhlas kenapa, Mbak?”
“Kalau nggak ikhlas ya percuma”.
“Kata siapa?”
“Ustadzah”.
“Ustadzah kamu ngajarin gitu?”
“Iya”.
“Betul kamu, Mbak. Melakukan perbuatan kalau nggak ikhlas ya percuma saja”.

Luar biasa. Anak saya yang baru kelas 3 SD sudah mengerti konsep ikhlas. Inilah alasan saya dan istri tidak pernah komplain harus membayar uang sekolah yang kata teman-teman mahal. Mahal apanya? Guru dan sekolah bisa melakukan banyak hal yang kami berdua tak bisa mengerjakannya. Mereka pantas dibayar lebih mahal dari itu.

“Ikhlas atau percuma?”. Pertanyaan Safira membuat saya memikirkan banyak hal sepanjang perjalanan pulang sekolah hari itu. Apakah setiap kebaikan yang kita lakukan sudah dibarengi dengan keikhlasan, semata-mata berharap ridho Alloh SWT?

Di asrama haji dekat rumah saya hari-hari ini terlihat banyak calon haji yang diantarkan puluhan bahkan ratusan anggota keluarganya dengan konvoi mobil, sebagian di antaranya malah menyewa bis. Apakah di dalam hatinya terbersit kesombongan diri, “Nih, aku orang sukses, aku orang kaya, aku bisa haji saat orang lain tak mampu?”. Haji memang ibadah yang mahal. Perlu lebih dari 30 juta perorang untuk bisa berangkat ke tanah suci. Kalau suami istri bisa berangkat bersama, kita tahu pasangan ini menyisihkan minimal 60 juta rupiah. Bukan uang sedikit.

haji-asrama-dan-bis-pengantar

Ketika ada seorang pengusaha kaya mampu mengeluarkan zakat senilai 1,3 milyar dan mendapatkan publikasi besar-besaran oleh media nasional, mudah-mudahan beliau juga ikhlas. Kalau nggak ikhlas ya percuma.

Saat kita bisa mengerjakan sholat malam sendirian sementara yang lain tertidur pulas, apakah kita bisa ikhlas, atau menjadi congkak, “Ahli ibadah itu ya seperti saya ini. Yang lain tidur saja”. Kalau kita bisa membaca Alquran dengan lebih fasih, apakah kita lantas membanggakan diri, “Orang lain nggak mau belajar sejak kecil sih, makanya baca Alquran belepotan kayak gitu”. Dan sebagainya.

Dalam sebuah hadits yang dituturkan Abu Umamah al-Bahili, Nabi berpesan, “Innalloha laa yaqbalu minal amali, illa maa kaana lahu kholishon wabtughiya bihi wajhuhu…. Sesungguhnya Alloh tidak akan menerima suatu amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan dalam rangka mencari keridhoan-Nya(HR. An Nasa’i).

Safira mungkin belum pernah mendengar hadits ini, seperti kita yang sudah lebih dewasa. Tapi dia tahu satu hal, bahwa amalan akan menjadi sia-sia kalau tak dibarengi keikhlasan.

Sangat menyedihkan jika di hari akhirat nanti, saat pengadilan digelar dengan hakim tunggal Alloh Yang Maha Tahu dan Maha Adil, kita datang menggendong setumpuk amal lalu kita melaporkan dengan bangga, bahwa inilah amal baik yang kita lakukan di dunia. Inilah zakat dan shofaqoh yang kita bagikan kepada kaum dhuafa. Inilah ibadah haji, puasa, sholat, dan seluruh amal yang kita lakukan semasa hidup. Lalu dalam pengadilan itu terungkap, sebenarnya kita melakukan semua amal tadi lebih karena ingin mendapatkan pujian dari orang lain, dan karena kita sudah mendapatkannya di dunia, maka di akhirat kita tak berhak menuntut imbalan lain. Satu persatu tumpukan amal baik tadi diturunkan, dan mungkin hanya menyisakan sangat sedikit amal yang benar-benar kita melakukannya ikhlas semata mencari ridho Alloh SWT. Betapa meruginya kita kalau sudah seperti itu. Astaghfirullah.

Marilah bersama-sama belajar menjadi orang yang lebih ikhlas.

Bumi Dharmawangsa, 22 November 2008.

3 Tanggapan to “Ikhlas atau Percuma?”

  1. Wilda said

    maaf pak sebelumnya,..saya berniat meneliti tentang homeschooling,kebetulan saya dapat alamat blog ibu dan bapak dari search google…saya mahasiswi s2 psikologi UGM,..kiranya bapak dapat mengizinkan saya dan team(karena ini kebetulan penelitian payung yang dilakukan oleh dosen di fakultas kami) untuk menelitinya,..

    Terimakasih sebelumnya!
    Wilda

  2. budi said

    membeli koran dari orang tua, bukan untuk beritanya melainkan untuk menambah penghasilan si orang tua tanpa menjadi berhutang budi, salut untuk bapak, tapi saya kira akan lebih salut bila bapak menelepon BAZ setempat, dan minta untuk ditambah modal buat sibapak tadi, kemudian dibina tentang muamalah Islami sama BAZ, terus hentikan langganan ke koran dan berlangganan lah kepada si Bapak, sehingga uang kita yang sedianya untuk menambah penghasilan orang tua itu kita kumpulkan dan salurkan lewat BAZ setempat, lalu awasi deh perjalanannya uang kita di BAZ tersebut. lho kok…… jadi sok tahu saya?, maaf ya hanya saran saja.

  3. Eda82 said

    Memang kita harus lebih banyak belajar untuk menjadi orang yang ikhlas..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: