Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Cintailah Pasangan Kita Apa Adanya

Posted by Farid Ma'ruf pada Mei 20, 2009

Oleh : Zahrina Nurbaiti

Zahrina Nurbaiti

Zahrina Nurbaiti

BaitiJannati. — Teman-teman yang shalih dan shalihah, kugoreskan kembali sebuah kisah nyata dalam kehidupan kita sehari-hari, terutama untuk para aktivis da’wah yang telah memilih da’wah sebagai jalan hidupnya. Dengan memilih da’wah sebagai jalan hidup, tentu saja ada konsekuensi-konsekuensi yang harus kita ambil atau jalani manakala diri kita telah tersibghoh (tercelup) dengan nilai-nila Islam. Hal ini dapat kita lihat di dalam QS (2:208) yang artinya, “ Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh) dan janganlah ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagimu.

Salah satu konsekuensi yang harus kita ambil setelah memutuskan untuk berhijrah yaitu menikah tanpa melalui pacaran. Karena dalam Islam memang tidak ada konsep pacaran (lihat surat 17 : 32). Bagi seorang aktivis da’wah yang telah memutuskan untuk menikah tanpa melalui proses pacaran (dikenal dengan istilah ta’aruf secara Islami), kadang yang tergambar dibenak kita adalah seorang ikhwan yang akan menjadi pendamping hidup kita adalah seorang ikhwan yang benar-benar mengamalkan apa yang telah dicontohkan Rasulullah SAW. Ya keinginan yang wajar dan manusiawi jika kita ingin pasangan hidup kita shalih/shalihah, menjaga pandangan pada yang bukan muhrimnya, berusaha selalu membantu pekerjaan isteri, dan sebagainya.

Selama ini penulis sering mendapatkan pertanyaan seputar rumah tangga, suami dan keluarga. Kadang ada suami yang santai membaca koran, sedangkan isterinya sibuk memasak dan mengurus anak-anak, tanpa peduli untuk membantunya. Lalu bagaimanakah sikap kita terhadap pasangan hidup kita? Berikut adalah tips-tips bagaimana kita menyikapi pasangan hidup kita yaitu sebagai berikut :

1.Terimalah ia apa adanya

Pernikahan adalah menyatukan dua keluarga besar yang berbeda suku, kultur dan budaya serta pola asuh yang diterapkan pada masing-masing keluarga. Tentu saja tidak mudah merubah karakter yang telah melekat pada pasangan hidup kita. Namun Insya Allah dengan ikut tarbiyah, tentu saja perlahan-perlahan kita berusaha untuk menjadi pribadi yang kaffah.
Jangan pernah sekali-kali menbandingkan pasangan hidup kita dengan pasangan hidup teman kita. Yakinlah bahwa Allah pasti memberikan jodoh yang sekufu untuk kita. Bukankah Allah tidak pernah mengingkari janji-janji-NYA?

2.Pandai bersyukur atas anugerah suami yang shalih
Sebagai aktivis tentu saja, Alhamdulillah kita harus bersyukur pada Allah SWT, yang telah memberikan anugerah terindah dalam hidup kita yaitu seorang ikhwan yang sevisi dan semisi dalam mengarungi rumah tangga dan juga da’wah yang mulia ini. Coba kita bayangkan rumah tangga yang suaminya selingkuhlah, yang melakukan KDRT dalam rumah tanggalah, yang suami tidak shalatlah. Sementara Alhamdulillah, Allah anugerahkan pasangan hidup kita yang selalu tilawah, rajin datang liqo, aktif da’wah di masyarakat, mengerjakan yang sunnah-sunnah. Sementara rumah tangga lain, mungkin suaminya sering berkata-kata kasar? Sementara kita? Alhamdulillah, suami kita selalu berkata-kata lembut dan sangat menjaga perasaan kita, sebagai seorang isteri. Insya Allah karena suami kita memahami sebuah hadits yang mengatakan, “ Sebaik-baik pria adalah yang paling baik sikapnya terhadap keluarga.” Nikmat Allah mana lagi yang kita dustakan?

3.Saling menutup aib pasangan hidup kita
Sebagai aktivis, tentu saja kita juga manusia biasa yang tidak luput dari dosa dan kesalahan. Tetapi idealnya memang kesalahan para aktivis da’wah harus lebih sedikit dibandingkan yang lain. Bukankah kita selalu mengajak orang lain untuk menjadi lebih baik, kita harus lebih dahulu mengamalkan apa yang kita sampaikan/ceramahkan?
Sebaiknya dalam berumah tangga, aib pasangan hidup kita, harus kita tutupi, tidak perlu kita ceritakan pada orang lain, hatta pada adik dan kakak kita. Biarlah semua hanya suami dan isteri saja yang tahu akan aib pasangan hidup kita. Yakinlah di setiap kekurangan pasangan hidup kita, pasti Allah berikan banyak kelebihan pada dirinya..Bukankah setiap pasangan hidup merupakan pakaian bagi pasangan hidupnya?

4.Saling meningkatkan diri dan potensi pasangan hidup kita
Sebagaimana kita ketahui, ada beberapa gambaran rumah tangga, yaitu rumah tangga laba-laba, rumah tangga seperti rumah sakit, rumah tangga seperti rumah tangga pasar dan rumah tangga kuburan. Yang terbaik adalah rumah tangga seperti rumah tangga masjid. Di mana dalam rumah tangga tersebut tercipta suasana saling asih, asah dan asuh. Suami dan isteri pun harus meningkat dari sisi ketaqwaan, dari sisi pendidikan, dari sisi ekonomi, sehingga tercipta rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah. Suami tidak boleh membiarkan isteri untuk tidak berkembang, terutama dari sisi tsaqofah (pengetahuan). Jika memang ada rezeki, tidak salah jika isteri diizinkan untuk melanjutkan kuliah kembali, atau meneruskan kuliahnya kembali (karena keburu dikhitbah) ketika skripsinya misalnya. Insya Allah indah sekali manakala kita mampu memciptakan rumah tangga seperti rumah tangga masjid

Semoga dengan goresanku yang sederhana ini, Insya Allah mampu memberikan semangat dan motivasi untuk teman-teman FBku yang shalih dan shalihah untuk segera mewujudkan niat yang suci yaitu menggenapkan setengah diin, yakinlah menikah tidaklah serumit dan sekompleks apa yang dibayangkan sebagian orang. Justru dengan menikah Insya Allah kekuatan kontribusi da’wah akan semakin besar, karena di tengah lelahnya kita pulang berda’wah, sudah menanti pasangan hidup kita, yang siap kita berlabuh dan berbagi tentang suka duka kehidupan ini (tapi Insya Allah banyakan sukanya daripada dukanya).. Insya Allah untuk masalah rezeki, yakinlah apa yang kita berikan untuk pasangan hidup kita, akan menjadi tambahan amal shalih kita dan akan Allah cukupkan rezeki-NYA bagi yang ingin menggenapkan setengah diinnya.. Aamiin ya Robbal ‘Alamiin…Ana dan suami tunggu undangan berikutnya ya dari teman-teman FBku yang dirahmati dan dicintai Allah SWT.. (www.baitijannati.wordpress.com)

Sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=84692826305

8 Tanggapan to “Cintailah Pasangan Kita Apa Adanya”

  1. mamabanititi said

    ass. wr. wb. mbak baiti.. goresanmu membuat diri ini menengok ke belakang.. sebelum kulangkahkan kaki menuju prase kehidupan selanjutnya yaitu prase pernikahan. saat itu sama sekali tidak kukenal dia.. apalagi tahu kepribadiannya.. dia dan daku sekali bertemu kemudian keluarganya meminang, keluargaku tak keberatan, menikahlah kami dan sekarang sudah dikaruniai dua orang anak.. mestinya sih tiga tapi yang anak nomor tiga kembali ke Yang Khalik sebelum sempat melihat mama dan papanya serta saudara2nya.. dulu, yang namanya pacaran sangat kujauhi. aku jujur saja mudah jatuh cinta, sementara para pendakwah (di sekitarku) banyak yang menarik.. dan ada juga yang masih menganut paham, pacaran boleh2 saja.. wah rasanya suliiit sekali melalui yang namanya tidak pacaran itu.. tapi akhirnya, alhamdulillah tanpa pernah pacaran secara khusus, (sir-sir an gitu sering..tapi tidak ada momen yang berarti)..daku ditemukan dengannya. awalnya aku sulittt mengimbangi kepiawaiannya di bidang agama.. dia pasih sekali dalam doa, tarikh pun dikuasainya dengan baik, paham keislamannya pun bisa dianggap jempolan.. tapi mbak baiti, kenapa ya.. dia sangat mengutamakan uang.. duit.. ekonomi.. bahkan dia suka lalai gara-gara duit.. ujung2nya daku yang kena impas.. duh maaf mbak, jadi melanggar point no.3 ya..daku cuma kepingin ada masukan gitu, gimana yaa. meski pun prinsip dia begitu, daku sebagai istri masih bisa melangkah dengan baik dan benar menurut syariat islam.. trims jika dijawab… ass. wr.wb.

  2. cinta said

    Bagaimana jika suami tidak memberikan nafkah materi buat kita selama hampir 5 tahun?semua kebutuhan istri yang penuhi. Apa sang istri harus bertahan?

  3. eka said

    subhanallah, mudah2an rumah tanggaku termasuk rumah tangga masjid, dengan suami yang sabar dan insyaallah selalu istikomah dengan islamnya. tapi terkadang saya lah yang selalu tak sabar menghadapi masalah yang mendatangi kami. namun syukur alhamdulillah, saya memiliki suami yang sabar dan yakin bahwa allah Maha Besar, hingga saya ikut selalu bersyukur dengan apapun yang Allah berikan kepada kami, terima kasih Ya ALLah…

  4. Rohman said

    Assalammua’laikum… Alhamdulillah, sekarang saya jadi tambah paham, terimakasih yg membuat blog ini, tapi sekarang saya ingin minta tolong kira2 bisa gak yah? saya ingin mencari wanita yg sholehah berjilbab, karena saya sudah ingin sekali membina rumah tangga dengan wanita muslimah yg sholehah. kalau punya kenalan tolong sms saya di 087851102565. Wassalam… All the best!

  5. Rudi said

    Bagi yang belum menikah carilah pasangan yang mempunyai basic(dasar) keagamaan yang kuat atau setidak2nya mengerti agama mau menjalankan shalat 5 waktu. Cantik atau ganteng kadang2 menjadi ukuran kita dalam mencari pasangan itu juga perlu tapi kalau ini yang dicari penyesalan tidak datang duluan. Makan hati dan perlu kesabaran yang tinggi.

  6. eko said

    semoga kita bisa mengamalkan apa yang sudah kita pahami bersama tentang agama ini.
    istiqomah sampai mati…..

  7. Ass,
    Setelah saya membaca artikel perihal kerumahtanggaan secara islami, saya ingin berdiskusi lebih banyak mengenai rumah tangga saya.
    Saya seorang istri yang bekerja di perkantoran sementara suami memiliki usaha dan konsultan beberapa resto dan kami memiliki waktu kerja yang bertolak belakang, saya bekerja dari pagi sampai sore (serta membantu pengurusan keuangan suami)sementara suami bekerja dari sore sampai tengah malam sehingga kualitas dan kuantitas pertemuan kami sangatlah terbatas sehingga apabila terdapat percekcokan ataupun permasalahan kecil selalu dibesar-besarkan terlebih mengenai cara pengasuhan putri kami (19 bulan) yang terkadang suami saya selalu bersikap egois dan arogan ketika sedang berdiskusi dan beragumentasi. Terkadang ucapan2 suami yang sudah kelewatan yang membuat saya tidak tahan untuk meneruskan kehidupan berumah tangga tapi yang memberatkan saya adalah anak saya yang masih sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian kedua orangtuanya secara utuh.
    Pemikiran suami yang terkadang selalu menyudutkan saya bahwa saya bukanlah istri dan ibu yang baik buat mereka dikarenakan terbatasnya waktu yang kami miliki bersama.
    Sementara alasan saya tetap bekerja adalah permintaan suami untuk membantu beliau dari segi financial.
    Demikian saya sampaikan, semoga ibu dapat memberikan masukan dan saran demi keutuhan rumah tangga saya.
    Terima kasih dan Wass.

    Nina

  8. Kusnuryani Sri said

    Dalam berumah tangga memang diperlukan saling pengertian, saling memahami, saling mengingatkan, saling mengisi kekurangan dengan kelebihan masing2, saling menerima kelebihan dan kekurangan masing2, memang tak mudah kalau hanya saling mencari kekurangan pasangannya, karena toh tak ada manusia yg sempurna, meski pada awalnya terlihat sempurna tapi lama kelamaan akan tampak pula kekurangannya, jadi bagaimana memanage hati untuk saling dan saling tersebut, karena kita mengawali pernikahan atas nama Allah’ dengan konsekwensi inilah pasangan yg diberikan Allah pada kita, jadi selama kita berjalan diatas rel yg ditentukanNya Insya Allah Keluarga sakinah, mawadah wa rahmah akan kita gapai… Amiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: