Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Seputar Khitbah dalam Pandangan Islam

Posted by Farid Ma'ruf pada Mei 14, 2009

Titin Erliyanti

Titin Erliyanti

Oleh : Titin Erliyanti, S.Pd.

(Praktisi Pendidikan dan Aktivis Hizbut Tahrir Indonesia)

Di..kedalaman hatiku, tersembunyi harapan yang suci..
Ta..k, perlu engkau menyangsikan..
Le..wat.. kesalihanmu yang terukir menghiasi dirimu,
tak perlu dengan.. kata-kata
Sungguh..hatiku kelu tuk’ mengungkapkan perasaanku..
Namun, penantianmu pada diriku, jangan salahkan..
Kalau memang..kau pilihkan aku, tunggu sampai aku datang..
Nanti kubawa kau pergi ke syurga abadi..
kini belumlah saatnya aku membalas cintamu… nantikan ku..di batas.. waktu..

(Lirik dalam nasyid ‘Nantikanku di batas waktu’ oleh:Ad Coustic)

SyariahPublications.Com — Manusia diciptakan oleh Allah Swt sebagai makhluk yang paling mulia, ia bukanlah sesosok makhluk yang sekedar memiliki jasad/organisme hidup, sehingga kehidupan yang dijalaninya pun bukan sekedar untuk tujuan memperoleh makan, tumbuh, berkembang-biak, lalu mati. Manusia diciptakan ke alam dunia ini disertai pula dengan berbagai potensi kehidupan yang diberikan oleh-Nya. Berbagai potensi kehidupan tersebut harus merupakan sesuatu yang disadari/difikirkan oleh manusia. Diantara potensi kehidupan tersebut adalah berupa naluri-naluri (gharaizh) yang diantaranya pula adalah naluri untuk melestarikan keturunan ataupun tertarik kepada lawan jenis (gharizatu nawu). Naluri ini merupakan dorongan yang muncul pada diri manusia ketika adanya stimulan dari luar. Sebagai contoh, suatu saat seorang ikhwan pernah merasakan perasaan yang ‘berbunga-bunga tidak karuan’ ketika di suatu tempat bertemu dengan seorang akhwat yang menurut penilaiannya, orang tersebut adalah sosok yang ‘special’ sehingga setiap kali berjumpa, memikirkan atau bahkan hanya sekedar mendengar namanya saja, tiba-tiba jantung ini bisa berdebar cepat dan kedua bibirpun akan menggeser menyimpul mesra. Kondisi ini tentunya juga dapat terjadi sebaliknya antara seorang akhwat terhadap seorang ikhwan.

Islam memandang ini sebagai hal yang fitrah (manusiawi) dan bukan hal yang tabu ataupun terlarang. Oleh karenanya dalam rangka menempatkan manusia agar tetap pada derajatnya sebagai makhluk yang mulia, maka Allah Swt menurunkan seperangkat aturan kehidupan yang harus diambil dan dijalankan oleh umat manusia yaitu Syari’at islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw, termasuk di dalamnya tercakup aturan untuk menyelesaikan masalah yang satu ini. Diantaranya adalah pengaturan mengenai khitbah (meminang) sebagai aktivitas syar’i yang harus dipilih oleh seorang muslim ketika dirinya terdiagnosa telah mengidap gejala-gejala terserang ‘virus merah jambu’ apalagi jika sudah sampai pada stadium yang akut (memangnya penyakit kanker.. ?).
I. Pengertian Khithbah

Dalam merencanakan kehidupan berumah tangga, diantara langkah yang harus ditempuh oleh seorang ikhwan adalah menetapkan seorang akhwat yang diinginkan untuk menjadi calon istrinya. Secara syar’i ikhwan tersebut menjalaninya dengan melakukan khithbah (peminangan) kepada akhwat yang dikehendakinya. Adapun salah satu tujuan disyari’atkannya khithbah adalah agar masing-masing pihak dapat mengetahui calon pendamping hidupnya (Syamsudin Ramdhan, 2004:49).

Sedangkan menurut Dr. Wahbah Az-Zuhaily (dalam MR. Kurnia, 2005:19) menjelaskan yang dimaksud Khithbah adalah menampakan keinginan menikah terhadap seorang perempuan tertentu dengan memberitahu perempuan yang dimaksud atau keluarganya (walinya). Selain itu Sayid Sabiq (ibid) juga menyatakan bahwa yang dikatakan seseorang sedang mengkhitbah seorang perempuan berarti ia memintanya untuk berkeluarga yaitu untuk dinikahi dengan cara-cara (wasilah) yang ma’ruf.

Islam telah menganjurkan dan bahkan memerintahkan kaum muslimin untuk melangsungkan pernikahan (An-Nabhaniy, 2001:146). Berkaitan dengan anjuran untuk menikah,Allah Swt, berfirman :
(Nikahilah oleh kalian perempuan-perempuan yang kalian sukai (QS.An-Nisa [4]:3)
Ibnu Mas’ud menuturkan bahwa Rasulullah Saw telah mengingatkan:
‘Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah sanggup memikul beban. Hendaklah ia segera menikah, karena hal itu dapat menundukan pandangan dan menjaga kehormatan. Sebaliknya siapa saja yang belum mampu, hendaklah ia shaum karena hal itu dapat menjadi perisai’.

Diantara peristiwa khithbah yang terjadi pada masa Rasulullah Saw, adalah yang dilakukan oleh sahabat beliau, Abdurrahman Bin ‘Auf yang mengkhithbah Ummu Hakim Binti Qarizh. Hadits riwayat Bukhari menjelaskannya sebagai berikut:

‘Abdurrahman Bin ‘Auf berkata kepada Ummu Hakim Binti Qarizh:”Maukah kamu menyerahkan urusanmu kepadaku?” Ia menjawab ”Baiklah!”, maka Ia (Abdurrahman Bin ‘Auf) berkata: “Kalau begitu, baiklah kamu saya nikahi.”
(HR.Bukhari)

Abdurrahman Bin ‘Auf dan Ummu Hakim keduanya merupakan sahabat Rasulullah Saw. Ketika itu Ummu Hakim statusnya menjanda karena suaminya telah gugur dalam medan jihad fii sabilillah, kemudian Abdurrahman Bin Auf (yang masih sepupunya) datang kepadanya secara langsung untuk mengkhitbah sekaligusmenikahinya.

Menurut Muhammad Thalib (2002:25) kejadian ini menunjukan seorang laki-laki boleh meminang secara langsung calon istrinya tanpa didampingi oleh orang tua atau walinya dan Rasulullah Saw tidak menegur atau menyalahkan Abdurrahman Bin ‘Auf atas kejadian ini.
Selain itu, seorang wanita juga diperbolehkan untuk meminta seorang laki-laki agar menjadi suaminya. Akan tetapi ia tidak boleh berkhalwat atau melakukan hal-hal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syari’at (Syamsudin Ramdhan, 2004:56). Kebolehan hal ini didasarkan pada sebuah riwayat berikut:

‘Pernah ada seorang wanita yang datang kepada Rasulullah Saw, seraya berkata ‘Wahai Rasulullah aku datang untuk menyerahkan diriku kepada Engkau’. Rasulullah Saw lalu melihatnya dengan menaikan dan menetapkan pandangannya. Ketika melihat bahwa Rasulullah tidak memberikan keputusannya, maka wanita itupun tertunduk” (HR.Bukhari)

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat difahami bahwa khithbah merupakan jalan untuk mengungkapkan maksud seorang ikhwan/akhwat kepada lawan jenisnya terkait dengan tujuan membangun sebuah kehidupan berumah tangga, baik dilakukan secara langsung (kepada calon) ataupun melalui perwakilan pihak lain.

II. Proses Khitbah
Dalam beberapa dalil di atas telah diungkapkan tentang bagaimana proses khithbah dapat berlangsung, yaitu diantaranya khitbah dapat dilakukan sendiri oleh seorang ikhwan langsung kepada akhwatnya ataupun dengan mewakilkan, kemudian bisa juga dilakukan oleh seorang ikhwan kepada keluarga atau wali pihak akhwat. Selain itu ada beberapa hal yang juga perlu difahami ketika melakukan khitbah, antara lain:
a. Kebolehan Melihat Akhwat Yang Dikhithbah

Syamsudin Ramdhan (2004:54) mengungkapkan bahwa sebagian ulama berpendapat, diperbolehkan bagi pelamar untuk melihat wanita yang dilamarnya, tetapi ia tidak boleh melihat auratnya. Sebagaimana Jabir menuturkan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda:
‘Jika salah seorang di antara kalian meminang seorang perempuan, sekiranya ia dapat melihat sesuatu darinya yang mampu menambah keinginan untuk menikahinya, maka hendaklah ia melihatnya. (HR. Abu Dawud dan Hakim).

Dibolehkannya melihat perempuan yang dikhitbah ini sebenarnya membawa banyak hikmah, diantaranya adalah dengan melihatnya akan lebih memantapkan hati untuk menikahinya. Kebolehan melihat ini adalah kekhususan pada saat mengkhithbah.

Sebagian ulama lagi membolehkan untuk melihat bukan hanya wajah dan telapak tangan, melainkan lebih dari itu karena wajah dan telapak tangan merupakan anggota badan perempuan yang terlihat sehari-hari. Sehingga perintah untuk melihat, dalam hadits tersebut tentu yang dimaksud bukan hanya wajah dan telapak tangan (MR.Kurnia, 2005:23)

b. Tidak Boleh Mengkhithbah Akhwat Yang Masih Dikhithbah Seorang Ikhwan
Seorang ikhwan tidak boleh mengkhithbah seorang akhwat yang masih berada dalam khithbah-an ikhwan lainnya, kecuali setelah khithbah tersebut dilepaskan oleh ikhwan yang pertama atau karena alasan syar’i lainnya seperti meninggal dunia, dll (Syamsudin Ramdhan, 2004:55). Hal ini didasarkan pada hadits Rasulullah Saw:

Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin yang lain. Tidak halal seorang mukmin menawar diatas tawaran saudaranya dan meminang (seorang wanita) diatas pinangan saudaranya hingga nyata (bahwa pinangan itu) sudah ditinggalkannya (HR. Muslim dan Ahmad)

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah Saw bersabda:

Tidak boleh seorang pria melamar seorang wanita yang telah dilamar oleh saudaranya hingga ia menikahinya atau meninggalkannya (HR. Abu Hurayrah)
c. Seorang Akhwat Berhak untuk Menerima ataupun Menolak Khithbah
An-Nabhaniy (2001:161) mengungkapkan bahwa jika seorang wanita telah dilamar, maka dirinyalah yang berhak untuk menerima ataupun menolak calon suaminya, bukan hak salah seorang walinya ataupun orang-orang yang akan mengawinkannya tanpa seizin wanita yang bersangkutan, dan dia pun tidak boleh dihalang-halangi untuk menikah.

Dalam hal ini, Rasulullah Saw bersabda:

Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan seorang gadis harus dimintai izinnya, dan izinnya adalah diamnya
(HR.Ibnu Abbas)
Adapun Abu Hurayrah menuturkan hadits Rasulullah Saw sebagai berikut:
Rasulullah Saw bersabda,’Seorang janda tidak dinikahi kecuali setelah dilamar, sedangkan seorang gadis tidak dinikahi kecuali setelah diminta izinnya’ Para sahabat lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana bentuk izinnya?’ Beliau menjawab,’Izinnya adalah diamnya’.
Hadits-hadits di atas seluruhnya menunjukan dengan jelas bahwa seorang wanita yang tidak dimintai izinya ketika hendak dinikahkan (oleh orang tua/walinya) maka pernikahannya dianggap tidak sempurna. Jika ia menolak pernikahannya itu atau menikah secara terpaksa, berarti akad pernikahannya rusak, kecuali jika ia berbalik pikiran atau ridha.

d. Tidak Menandai Khithbah Dengan Tukar Cincin
Aktivitas tukar cincin adalah saling memberikan cincin (untuk dipakai) antara calon suami dan calon istri sebagai pertanda adanya ikatan pertunangan di antara mereka. Aktivitas ini biasanya dianggap lumrah oleh sebagian besar masyarakat.
Menurut Muhammad Thalib (2002:48) bertukar cincin bukan merupakan cara islam melainkan cara bangsa Roma (eropa) yang mendapat pengesahan dari gereja. Jadi, saling tukar cincin pada mulanya bukan merupakan cara umat kristiani pula, melainkan warisan kebudayaan bangsa Romawi. Berkaitan dengan hal ini, maka Rasulullah Saw melarang kaum muslimin untuk meniru-niru kebiasaan kaum kafir. Ia bersabda:
Siapa saja yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka (HR. Abu Dawud)

e. Khitbah Bukanlah Setengah Pernikahan
Kekeliruan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat tentang khithbah sering menggiring mereka pada anggapan bahwa pasangan laki-laki dan perempuan yang telah melangsungkan peminangan, maka ia boleh melakukan sebagian aktivitas seperti suami-istri asal tidak kelewat batas. Misalnya, jalan berduaan, ngobrol berduaan, dll.

Menurut MR Kurnia (2005:25) khitbah bukanlah pernikahan, sehingga akad khitbah bukanlah akad pernikahan. Khithbah sebenarnya hanya merupakan janji kedua pihak untuk menikah pada waktu yang disepakati. Dengan demikian setelah akad khithbah dilangsungkan, maka status bagi keduanya adalah tetap orang asing (bukan mahram) antara satu dengan lainnya.
Kendati demikian, dalam menjalankan proses khitbah diantara keduanya boleh saling melakukan kebaikan seperti saling memberikan hadiah, menanyakan kepribadian masing-masing (karakter, kesukaan), cara pandang, sikap, dsb. Hal ini karena, khithbah memang merupakan sarana untuk dapat saling mengenal lebih jauh satu sama lain dengan cara yang ma’ruf.

Berkaitan dengan pemberian hadiah, Rasulullah Saw bersabda:

‘Saling memberikan hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai’
(HR.Abu Hurayrah)

Selain itu, Allah Swt juga telah memerintahkan kepada laki-laki dan perempuan untuk senantiasa bertakwa kepada-Nya:


Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah perkataan yang benar
(QS. Al-Ahzab [33]:70)

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, (QS. An-Nur [24]:30-31)

III. Kurun Waktu Dalam Menempuh Khithbah
Kurun waktu khithbah adalah rentang waktu antara diterimanya khithbah (akad khithbah) hingga dilangsungkannya pernikahan (akad nikah) (Muhamad Thalib, 2002:69)
Bagi seorang ikhwan yang telah mengkhithbah akhwat, berapa lamakah rentang waktu yang harus ia lewati hingga ia dapat melangsungkan pernikahan dengannya?

Berdasarkan peristiwa khithbah yang terjadi pada masa Rasulullah Saw yaitu antara Abdurrahman Bin ‘Auf terhadap Ummu Hakim Binti Qarizh, dimana Abdurahman Bin ‘Auf telah melakukan pengkhitbahan secara langsung kepada Ummu Hakim kemudian dilangsungkan pula pernikahannya pada waktu itu. Terhadap kejadian ini Rasulullah tidak menyalahkan perbuatan Abdurahman Bin ‘Auf, yang berarti pula hal ini menunjukan persetujuan Beliau Saw. (ibid).

Jadi, sebenarnya tidak ada batasan waktu yang pasti untuk melangsungkan pernikahan pasca dilakukannya khithbah, apakah 1 hari, 1 minggu, 1 bulan, atau bahkan satu tahun setelahnya. Hanya saja berkaitan dengan hal ini, syara’ juga menganjurkan untuk menyegerakan suatu perbuatan kebaikan apabila telah diniatkan. Rasulullah Saw telah mengingatkan:

Bersegeralah beramal sebelum datang berbagai fitnah laksana potongan-potongan malam yang gelap. (saat itu) di pagi harinya seseorang beriman tetapi di sore harinya ia menjadi kafir. Di sore hari seseorang beriman tapi di pagi harinya ia kafir. Ia menjual agamannya dengan harta dunia

(HR.Muslim dan Abu Hurayrah)

Melaksanakan pernikahan dengan segera apabila segala sesuatunya telah disiapkan dan dimantapkan (terutama niat dan ilmu, selain juga tidak mengabaikan kebutuhan materi) merupakan hal yang dianjurkan.
Firman Allah Swt:

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian*] diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. An-Nur[24]:32)

*] Maksudnya: hendaklah laki-laki yang belum kawin atau wanita- wanita yang tidak bersuami, dibantu agar mereka dapat kawin.

Rasulullah Saw bersabda:

Wahai para pemuda, barang siapa diantara kalian telah mampu untuk kawin maka menikahlah (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)
Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah Swt, yaitu Pejuang di jalan Allah, mukatib (budak yang membeli dirinya dari tuannya) yang mau melunasi pembayarannya, dan orang yang menikah karena hendak menjauhkan diri dari perkara haram. (HR. At-Turmudzi)
Dengan demikian dalam menetapkan rentang waktu antara khithbah hingga pernikahan, tergantung pada kesiapan dan kesepakatan kedua belah pihak (dan keluarganya) sehingga kesepakatan diantara keduanyalah yang menjadi acuan untuk menetapkan waktu pelaksanaan pernikahan setelah mempertimbangkan berbagai hal dan kemampuan yang mendukung terlaksananya pernikahan tersebut.

Apabila rentang antara khithbah dengan pernikahan ternyata cukup jauh, maka harus tetap adanya upaya untuk saling menjaga diri dalam keimanan dan ketakawaan kepada Allah Swt. Karena dalam rentang ‘masa penantian’ tersebut sangat mungkin muncul godaan-godaan untuk terjerumus pada pelanggaran syari’at ataupun godaan untuk berpaling kepada seorang calon yang lain, dan sebagainya. Namun bagi seorang mukmin tentu harus mewaspadai hal ini, sehingga senantiasa diperlukan adanya upaya diantara keduanya untuk saling berkomunikasi dan mengingatkan pada ketakwaan, yaitu:

Dan barang siapa yang tidak mampu menikah, maka hendaklah ia shaum karena sesungguhnya shaum itu merupakan benteng (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim).

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak boleh sekali-kali ia menyendiri dengan seorang perempuan yang tidak disertai mahramnya, sebab nanti yang ketiganya adalah syetan (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah [9]:71)

Ataupun, juga perintah-Nya:

dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS.Al-Maidah[5]:2)

Keberlangsungan khitbah pada waktunya akan berakhir pada satu diantara dua pilihan yaitu berlangsungnya akad pernikahan atau terjadinya pembatalan khitbah. Kedua hal ini merupakan konsekuensi yang relevan dengan fungsi dan tujuan khithbah itu sendiri, sehingga jangan sampai dianggap sebagai ending of story yang harus dipaksakan. Karena pernikahan yang terpaksa hukumnya tidak sah, dan pembatalan khithbah tanpa alasan yang syar’i juga tidak diperkenankan.

 

 

IV. Pembatalan Khithbah

Dalam melangsungkan proses khithbah, terdapat banyak hal yang akan ditemukan oleh kedua belah pihak (ikhwan-akhwat) terhadap keadaan, karakter, sikap, dan sebagainya, satu sama lain. Sehingga berkaitan dengan fungsi khithbah itu sendiri yaitu sebagai gerbang menuju pernikahan yang di dalamnya terdapat aktifitas saling mengenal (ta’aruf) lebih jauh dengan cara yang ma’ruf, maka apabila ketika dalam aktifitas ta’aruf tersebut salah satu pihak menilai dan mempertimbangkan adanya ketidakcocokan antara dirinya terhadap calon pasangannya ataupun sebaliknya, ia berhak untuk membatalkan khithbah tersebut.

Pembatalan khithbah merupakan hal yang wajar, bukanlah hal yang berlebihan. Menganggap hal ini secara berlebihan merupakan perbuatan yang keliru, misal ada anggapan bahwa pembatalan khithbah terjadi karena adanya penilaian bahwa salah satu calon bagi calon yang lainnya memiliki banyak kekurangan kemudian ia pun menganggap sebagai pihak yang tidak akan pernah dapat menikah dengan orang lain nantinya (setelah diputuskan cintanya) karena saat ini pun kekurangan-kekurangan tersebut dinilai telah berimplikasi pada kegagalan khithbahnya dengan seseorang. Padahal itu hanyalah sikap skeptis yang muncul pada dirinya karena lebih terdorong oleh emosional dan kelemahan iman.

Seperti halnya dalam mengawali khithbah maka ketika akan mengakhiri khithbah dengan pembatalanpun harus dilakukan dengan cara yang ma’ruf dan tidak menyalahi ketentuan syara’. Dalam membatalkan khithbah, hal yang perlu diperhatikan adalah adanya alasan-alasan syar’i yang membolehkan pembatalan tersebut terjadi. Misalnya salah satu ataupun kedua belah pihak menemukan kekurangan-kekurangan pada diri calonnya dan ia menilai kekurangan tersebut bersifat prinsip (fatal) seperti dimilikinya akhlak yang rusak (gemar bermaksiat), berpandangan hidup yang menyimpang dari mabda islam, memiliki kelainan seksual, berpenyakit menular yang membahayakan, serta alasan-alasan lain yang dinilai dapat menghambat keberlangsungan kehidupan rumah tangga nantinya apabila berbagai kekurangan tersebut ternyata sulit untuk diubah. Selain pertimbangan berbagai uzur tersebut, pembatalan khithbah juga berlaku apabila adanya qada dari Allah Swt semisal kematian yang menimpa salah satu calon ataupun keduanya sebelum dilangsungkan akad pernikahan. Selain atas dasar alasan-alasan yang syar’i, maka pembatalan khithbah tidak boleh dilakukan, karena hal itu hanya akan menyakiti satu sama lain dan merupakan ciri dari orang-orang yang munafik, karena telah menyalahi janji untuk menikahi pihak yang dikhithbahnya.

Rasulullah saw bersabda:
Sifat orang munafik itu ada tiga; apabila berkata ia berdusta, bila berjanji, ia menyalahi, dan bila dipercaya ia berkhianat. (HR. Bukhari)

Adapun berkaitan dengan sesuatu benda yang pernah diberikan sebagai hadiah/ hibah dan dilakukan sebelum pembatalan khithbah, maka sesuatu/benda tersebut tetap menjadi hak milik pihak penerima. Pihak pemberi, juga tidak boleh meminta kembali sesuatu/ benda yang pernah diberikannya tersebut.
Rasulullah Saw pernah bersabda:
Tidak halal seseorang yang telah memberikan sesuatu atau menghibahkan sesuatu, meminta kembali barangnya, kecuali pemberian ayah kepada anaknya (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmizi, dan Nasa’i dari Ibnu Abbas)

Muhammad Thalib (2002:76) mengungkapkan sebagai berikut, membatalkan pinangan adalah menjadi hak masing-masing yang tadinya telah mengikat perjanjian. Terhadap orang yang menyalahi janji dalam pinangan, islam tidak menjatuhkan hukuman materiil, sekalipun perbuatan tersebut dipandang cela oleh sebagian orang.

Mahar yang telah diberikan oleh peminang (untuk pernikahan nantinya) kepada pinangannya berhak diminta kembali bila akad pernikahannya tidak jadi (karena mahar itu hanya diberikan sebagai ganti dan imbalan dalam pernikahan). Selama akad pernikahan belum terjadi, maka pihak perempuan belum mempunyai hak untuk memanfaatkan mahar tersebut sekalipun telah ia dapatkan.

Adapun berbagai pemberian dan hadiah (selain mahar) maka hukumnya berbeda dengan hukum mahar, yaitu sebagai hibah. Secara syar’i, hibah tidak boleh diminta kembali, karena merupakan suatu derma sukarela dan tidak bersifat sebagai penggantian atas sesuatu. Bila barang yang dihibahkan telah diterima dari si pemberi, maka bagi pihak penerima barang tersebut sudah menjadi kepemilikan bagi dirinya dan ia berhak untuk memanfaatkannya.

Iwan Januar (2005:4) mengungkapkan bahwa sikap terbaik ketika seorang mukmin menghadapi kenyataan ini (pembatalan khithbah) adalah berserah diri kepada Allah Swt serta hanya memohon kebaikan kepada-Nya. Rasulullah Saw, bersabda:

Menakjubkan keadaan seorang mukmin! Sebab, segala keadaannya untuknya adalah baik, dan tidak mungkin terjadi demikian kecuali bagi seorang mukmin: Jika ia mendapat nikmat maka ia bersyukur, maka syukur itu baik baginya. Dan jika ia menderita kesusahan ia bersabar, maka itupun baik baginya. (HR. Muslim)

Demikianlah sekilas pandangan tentang proses khitbah serta beberapa hal yang terkait di dalamnya, semoga dapat memberikan pencerahan dan motivasi kepada sahabat-sahabat untuk segera merealisasikan keinginan yang selama ini telah menggebu-deru, namun masih terpendam dalam seolah enggan untuk nampak kepermukaan karena terkekang oleh perasaan malu-malu dan unselfconffident. Padahal, sesungguhnya ia merupakan sesuatu yang wajar dan boleh kita lakukan dengan disertai adanya kesiapan untuk memikul apapun resikonya.

Wallahu’alam bi shawab. (www.syariahpublications.com)

Referensi:
An-Nabhani, Taqiyudin. 2001. Sistem Pergaulan Dalam Islam. Kitab Mutabanat Hizbut Tahrir. Bogor: PTI
Januar, Iwan. 2005. Bulan Madu Sepanjang Hari. Booklet. Bogor: Al-Azhar Press
Kurnia, MR. 2005. Memadukan Dakwah dan Keharmonisan Rumah Tangga. Booklet. Bogor: Al-Azhar Press
………………..2005. Menjalin Cinta Suci. Booklet. Bogor: Al-Azhar Press
Ramdhan, Syamsudin. 2004. Fikih Rumah Tangga. Pedoman Membangun Keluarga Bahagia..Bogor: Ide Pustaka
Thalib, Muhammad,Drs. 2002. 15 Tutuntunan Meminang Dalam Islam. Bandung: Irsyad Baitussalam

63 Tanggapan to “Seputar Khitbah dalam Pandangan Islam”

  1. lilis said

    assalamualaikum…
    subhanallah bagus tulisannya…
    mw tanya neh mba…!
    kenapa seringkali orang yang sudah di khitbah, sering berniat untuk membatalkannya dengan alasan yang nggak jelas…
    apa bisa dikatakan godaan syetan?
    syukron atas jwbnnya….

    • ditya said

      Aslm, mba klo membatalkan khitbah karena kita merasa ada orang yang lebih baik boleh ga?

    • qq said

      boleh,karena klo akhwat mnilai ada ikhwan yg lebih baihk maka tidak menjadi masalah ketika akhwat membatalkan khitbahnya.

      • Farda said

        ukh, afwan mau tanya: gmana ya ukh menolak ikhwan dengan makruf. Ini coz ada masalah syar’i soal keyakinan. Tapi, khawatir prianya tersinggung dan marah. Keadaanya prianya memaksa ukh. mohon jawabannya

  2. fazhaji said

    Alhamdulillah ketemu artikel ini..:)
    terima kasih ya

  3. hanafi said

    afwan, boleh tanya?
    apakah khitbah tsb, dari pihak ikhwan boleh sendiri mengkhitbah tanpa didampingi orang tua

  4. zaki said

    subhanallah,
    luar biasa… syukron atas ulasan padat bergizinya ukhti fiellah
    doakan ana…!!!

  5. aina ainy said

    assalamualaikum wr wb
    insya Allah artikelnya bermanfaat banget..
    ijin forward ya mbak…
    jazakillah fi khoir..

  6. jordan-_men said

    Assalamualaikum.wah yg ini bagsus bnget… kok pingen cept2 dapt yg sholehah ya…???hehee,,,,tapi….

  7. im said

    boleh kah seorang wanita membatalkan lamaran dari pria karna tlah menemukan yang lebih baik..tp btw tega bangat wanita it…. siapa yang bisa menjamin bahwa ternyata dia yang lebih baik…kebenaran mutlak kn cmn Allah yg punya….. pada dasarnya semua manusia itu baik….. so + think…

  8. RITA MARLINA said

    ini untuk mu

  9. widodosaputra said

    Assalamu’alaikum.
    Apa boleh mengkhitbah seorang akhwat tetapi sangat jauh jaraknya dengan walimah. Orang tua ana belum mengizinkan menikah sebelum selesai kuliah.
    Syukron.

    Tanggapan :
    Memang tidak ada batasan yang pasti (artinya, secepatnya). Kalau anda memang belum siap nikah, buat apa khitbah?

  10. Febry ADL said

    Assalamu’alaikum…
    subhanallah…
    Saya sempat merinding membaca tulisan ukhty
    Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua amien..
    Tapi ada yang mau saya tanyakan,jika ada seorang ikhwan dan akhwat yang telah sepakat untuk melangsungkan pernikahan,tetapi dalam kurun waktu penantian saat itu tiba relatif lama dengan alasan masih ingin belajar dan menjadi sesuatu yang berarti dulu untuk orang tua.Apakah yang demikian itu,bisa disebut dengan khitbah? Dan apa itu artinya akhwat tersebut tidak boleh dikhitbah oleh ikhwan yang lain?
    Syukron katsiron
    jazakallahu aksanal jaza’

  11. cut malahayati said

    assalamualaikum….
    syukur alhamdulillah aq bisa tau lbh banyak dr artikel ni
    aq mau tnya,
    apakah sewaktu mengkhitbah pihak ikhwan boleh mmberi
    mahar sbg tanda, yaitu gelang?atau bgmn baikny
    krn tmn aq swktu khitbah ibu dr ikhwan memakaikn cincin n gelang
    pd tangan kananny…,bgmn itu?
    n bgmn mahar yg baik n pntas menrut islam?
    sukron atas balasannya nnti…

  12. ditri said

    aslkm mbak titin…sy ad pertanyaan dalam hal khitbah..berapa lama waktu yg diperlukan untuk berbincang karena untuk mengetahui sifat,menanyakan kepribadian masing-masing (karakter, kesukaan), cara pandang, sikap, dsb. ..perlu waktu yg tidak sedikit…? ap hanya sehari itu saja waktu mengkhitbah hrs selesei semua pertanyaan ato beberapa hari..? sedangkan tidak boleh ngobrol berdua atau bolehkah datang beberapa kali untuk meneruskan pertanyaan seputar dirinya tapi pihak akhwat di temani ibu bpknya? . Terima kasih jawabannya..^_^

  13. iyal said

    makasi mbak ya…
    ane skrg dah bs ikhlashkan atas kjdian yg ane alami, yaitu “pertunangan tnpa prstujuan pihk wanita”.
    arikel ni dah lbih mmbka pikiran ane utk mnjadi hmba yg ikhlash…
    mdh2an mbak sllu dlm ridha Allah SWT…Amiin…

  14. prasetya said

    assalamualaikum kak, maaf kak aku copy teksnya mau aku baca dirumah……….., kak aku mau tanya? bolehgak kalo khitbah lebih dari satu dalam waktu yang berdekatan…..

  15. futiha said

    Subhanallah…terima kasih atas informasi dan inspirasinya…semoga kebaikan mba titin di catat disisi-Nya…fitrah manusia untuk mempunyai nafs, namun tetap berpegang aturan islam yang syar’i dan pastinya terbaik untuk umat muslim…

  16. masdar said

    sebelum meminang haruskah sy menumpuk harta

  17. masdar said

    teteh……………..apakah ada di Hizbut Tahrir bagian yg mengurus permodalan usaha

    Tanggapan :
    komentar salah kamar. btw, setahu kami, Hizbut Tahrir bukan lembaga keuangan…. Jadi ya tidak ada hal tsb.

  18. Nurul said

    Subhanallah, artikelnya bagus banget,,saya tunggu untuk artikel2 lainnya,,
    Jd pngn cepet2 di khitbah,,tp lum ada yg ngajuin,😦

  19. gupi said

    Saya ingin menanyakan apakah pemberian cincin sebagai hadiah untuk pasangan yang akan kita khitbah hukumnya haram? kalau haram sebaiknya hadiah apa yang kita berikan kepada calon istri kita?

  20. aDIBA said

    aslm, kalo da yg menghitbah tp belum melalui proses taa’ruf sy langsung menolak apa itu keterlaluan…

  21. yitno said

    Assalamualaikum,,,
    membaca artikel anda hati saya bergetar, entah kenapa diri ini merasa bersalah,,, ada seorang akhwat yg begitu aq sayangi kami salang mencintai tapi kami tidak pacaran, kami terpisah jarak yg jauh, hampir satu tahun kami terputus komunikasi,dan sekarang komunikasi itu terjalin kembali, tapi keadaanya sudah berbeda, dia sudah di khitbah oleh seorang ikhwan,dia menerima pinangan itu karena ad yg memberi kabar kepada dia bahwa aq sudah menikah padahal aq belum menikah, kami masih salaing menyayangi,walu sekarang masih terpisah jarak,

    saya ingin bertanya beberapa hal,apakah akhwat yg aq sayangi tersebut boleh membatalkan khitbahnya,?? apakah aq berdosa jika menyayangi akhwat yg sudah dikhitbah, saya sangat menharapkan saran dari anda sebelumnya saya ucapkan terimakasih,

  22. rani said

    apa yg harus dikatakan seorang muslimah ketika ia di khitbah seorang laki2 pujaannya,untuk menandakan bahwa iya menerima khitbah tersebut . terima kasih

  23. Adinda said

    Teteh, hatur nuhun tulisannya. sangat informatif untuk orang awam seperti saya. barakallah…🙂

  24. ihsan said

    semoga tulisan mbak memberikan manfaat bagi ummat islam khususnya di indonesi. karna telah kita saksikan bersama bahwa tidak banyak masyarakat indonesia yg bisa memahami bagimana mengkhitbah yg sesuai dengan ajaran islam…

  25. M. Salam said

    Assalamu’alaikum..
    Saya sngt brterimaksih kpd penuli artikel ini, shngga saya menjadi dpt lbh mengetahui tentang khitbah…
    Begini mbak, dlm artikel td menjelaskan pula bhwa slh satu dr tujuan khitbah agar kita dpt lbh mengenal akhwat yg kita khitbah dngn cara tetap menjalin komunikasi supya kita bs jauh mengenal kepribadian kt.
    Saya telah terpikat seseorng ikhwat yg jauh dsana dan dia pun tau dan saya rasa dia jg demikian. Tapi saya blm bs menikah kira2 sampai 2 tahun kedepan karna saya msh trkat dinas. Yg bs saya lakukan skr hanya menelpon dan sms agar tetap terjalin komunikasi, namun setiap kali saya ajak komunikasi setiap hari kdng terbesit d pikiran dia telah main hati (jatuh cinta) sblm waktuNa shngga dia kadang tdk mau angkt tlp dr sy apbila sy tlp atau sms setiap hari
    Yg saya tanyakan.,bagaimana yg hrs saya lakukan untk menunjukkan/ membuktikan kalau saya ingin benar2 serius trhdpNa?
    Sekian, terimakasih

  26. triana said

    khitbah atau tunangan menurut saya adalah proses pemantapan hati atas calon pasangan kita agar dapat menelaah dan mempelajari kepribadiannya karena biasanya pasca menikah kita akan banyak menemukan hal-hal baru mengenai sifat dan karaktenya. bagi akhwat yang sedang ber-khitbah coba pelajari bagaimana sang akhwat mencari solusi saat mengalami suatu masalah, apakah dengan emosi atau dengan solusi yang bijak.

  27. reevolta galvani einstein d'cullen said

    hmmmmmmmmmm thanx eaa wat info khitbah’y
    bguz bngt tuch. ckup mmbntu

  28. Aep said

    artikel ini sangat bermanfaat bagi saya..Syukron

  29. RIZKY AL AYYUBI said

    aku sudah siap menghitbah namun belum ada 1 pun yang bisa aku khitbah….. bolehkah aku minta tolong ya ukhti ….

  30. Irfan Dermawansyah said

    Assalamu’alaikum

    Syukron ukhti artikelnya..
    Pada dasarnya saya faham dengan pokok bahasannya, tapi dengan artikel yang disajikan saya makin yakin lagi bahwa kebaikan itu jangan ditunda-tunda, terlebih ketika kita merasa sudah siap dan mampu secara materi dan mental..

    Dan alhamdulillah, saat ini saya sedang menunggu jawaban proposal khitbah terhadap seorang akhwat yang ditujukan kepada orang tuanya..

    Mohon do’anya ukht..

  31. utsman said

    mkci mba cttnya,, ikut ngopy eaa,,

  32. Arif said

    Barokallahu fik..

  33. subhanalloh…

  34. mimi said

    assalamu’alaikum…mba sya ada kebingungan…saya bru sja b’ta’aruf dg seorang ikhwan,lalu sya ktkan pd nya,jk ia ykin akan saya,saya ingin d khitbah,tdk mau mnjalani status pacaran…khitbah aku pintaku.
    dan dy m’jawab,apakah km sudah mrasa mampu untuk d khitbah.
    yang mjd pertanyaan saya,tentang mampu itu…

  35. assalamu’alaikum ukhty,… alhamdulillah, ini bener2 sangat bermanfaat. tpi ukh, knapa ya ketika seseorang telah di khitbah itu menjalaninya kaya orang pacaran. padahal kan dlm islam tdk d’blehkan pcran.dan sebenarnya khitbah itu sama dengan ta’aruf ndak?, dan padahal ta’aruf itu kata guru ana ada batasannya.
    syukran jazila….

  36. subhanallah,
    شكر ا جزيلا

  37. […] Kebebasan Sunyi 13. Indahnya Ta’aruf Secara Islami 14. Ta’aruf Gagal Terus 15. Seputar Khitbah Dalam Pandangan Islam 16. Mahar oleh Helvy Tiana Rosa 17. “Will you marry me?”pintanya 18. Walimatul […]

  38. riri said

    maf mw tanya saya seorang akhwat yang menjalani hub jarak jauh, saya memiliki kekhawatiran karna usia sy yg sdh kepala 3, saya meminta nya mengkhitbah saya sblum ia berangkat ke luar negri namun ia menolak dengan alasan “yg penting saling percaya az’
    sebaiknya sikap saya gimana yaaa??
    minta masukannya mba makasih

  39. Zahra said

    Assalamu’alaikum mba,,,
    Sebelumnya sya berterima kasih atas artikel mba ini..
    Mba,saya mau tanya bagaimna cara menolak ikhwan dg halus agar tdk menyakiti hatinya???
    Lalu , apa yang harus saya lakukan jika ada yang meminang saya tapi saya menolak dg alasan blm siap menikah dan ingin menggapai cita-cita saya dulu ,, salah satunya saya ingin kuliah dahulu.Apa saya termasuk akhwat yg krg bersikap baik atas kejadian itu.
    Terima kasih mba,tolong dijawab ke email saya mba…
    Jazakillahu khoiron katsiro🙂

  40. yana suryana said

    Assalamu’alaikum wr. wb

    teman saya telah melamar seorang wanita, 10 hari sebelum acara pernikahan dilaksanakan (18 hari setelah acara lamaran) pihak wanita membatalkan pernikahan, dengan alasan :
    1. Paman, bibi, dan neneknya tidak setuju karena status teman saya duda padahal sebelum lamaranpun mereka sudah tahu status teman saya dan lamaran diterima.
    2. Teman saya pernah mabuk, padahal cuma satu kali dan itupun sudah lama belasan tahun yang lalu setelah itu tidak pernah lagi.

    Bolehkah pernikahan itu dibatalkan, sedangkan orang-orang sudah tahu semua dan teman saya sudah mempersiapkan semua keperluan menikah seperti baju pengantin, sejadah, mukena, bahan-bahan makanan dan lain-lain?

  41. Asslamu’alaikum.. Ukhti Titin Erliyanti, S.Pd.. Setelah Ana membaca Artikelnya izinkan ana mengcopi teksnya yah… Jazaakumullah, ini sangat bermanfaat bagi semua insan yang ingin membina keluarga.. khususnya Ane sendiri he…hee…🙂

  42. wahidah said

    aslmkm… bagus sekali artikelnya..tp klo seorang akhwat sudah dikhitbah lama sekitar 2 tahun krn alasan pekerjaan ikhwan yg agak terganggu, dan org tua akhwt tersebut agak kurang setuju, hal sperti apakah yang hrus dilakukan si akhwat tsb? ditambah org tua ada calon untuk si akhwatnya. mohon balasannya ya.. syukron..

  43. dewi said

    Assallamu’allikum Wr Wb..
    jazk atas artikelnya..bagus.
    klo boleh saya bertanya ttg masalah ini, ada seorang ikhwan yang mengkhitbah saya dan dari saya sendiri telah menyetujuinya.ikhwan tersebut juga sudah memintanya ke wali saya, namun Bapak saya sebagai wali memintanya tidak menikah dl karena alsan tertentu diantaranya meninta ikhwan tersebut menunggu saya lu2s n kerja dl.akan tetapi karena ikhwan tersebut tidak sabar menunggu karena sudah sangat ingin menikah maka kita sepakat untuk tidak melanjutkannya namun masalah pembatalan ini belum tersampaikan ke bapak karena pembatalannya hanya lewat sms.saya mohon bimbingannya untuk masalah ini.dan untuk saat ini sepengetahuan saya, ikhwan tersebut sudah memiliki calon lain yang akan di khitbah.apakah ikhwan yang telah mengkhitbah saya tersebut harus bilang ke wali saya untuk pembatalannya atau bagimana?
    Jazakillahu khoiron katsiro

  44. ardun said

    boleh mengkhitbah wanita yang masih pacaran dengan orang lain (pacarnya) ?

  45. Husnul Khotimah, SHI said

    ukhti izin share ya…syukran..

  46. abey chandra wahyudi said

    Assallamu’allaikum Wr Wb. . .
    artikel yang sangat bagus semoga bermanfaat,
    saya mau bertanya, bagaiman hukumnya jika ada seorang perempuan yang di hitbah laki-laki terpaksa karena suatu alasan??
    bukan pilihan hatinya, dai ingin memutuskan hitbahnya tersebut?? karena tidak memiliki perasaan apapun mohon bantuannya??

  47. Neng Munir Assyamsie said

    Assalamu’alaikum,,. Ukhti saya mau brtanya,,. apakah sudah termasuk di khitbah seorang perempuan ketika di datangi keluarga laki-laki dan meminta’y untuk menikah dengan anak’y,. tapi tidak memberikan tanda mata,.?!!! apakah dengan memPending beberapa bulan dari rencana pernikahan merupakan penolakan/pembatalan khitbah bukan,,,,,?!!!! kendati da hal yang harus di selesaikan terlebih dahulu,.

  48. Assalamu’alaik
    Artikel yang sangat bagus ukhti, sebelumnya salam kenal🙂 Ada yang belum saya faham mengenai poin “Tidak Menandai Khithbah Dengan Tukar Cincin” mungkin jika ukhti mengacu pada kebiasaan di Eropa dan hadist “Siapa saja yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” (HR. Abu Dawud) maka itu logis dan dapat difahami.. tetapi jika kita melihat hadist ini ‘Saling memberikan hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai’ (HR.Abu Hurayrah) dan kita berniat saling memberi cincin dsb hanya sebagai “Hadiah” apakah diperbolehkan??? sebagaimana sebuah hadist “innamal ‘amalu binniat”
    Tolong dijawab ya ukhti, bisa juga dikirim ke email saya.. Jazakalloh
    Wassalam

  49. chepth ione said

    apakah orang yg sedang khitbah sudah harus menafkahi yg jd akhawatnya…???

    terimakasih

  50. tata said

    assalamua’alikum….
    bagus sekali artiKelnya,,saya senang menemukan bacaan ini,,karena ini berkaitan dengan hal yg akan saya tanyakan…
    saya ingin bertanya dan mohon jawabnya,,begini,,bagaimana kl dlm suatu kasus akhwat menerima pinangan / khitbah dri seorang ikhwan,,namun ternyata pada saat pertemuan keluarga kedua belah pihak terjadi,,.sang ayah dari pihak akhwat menolak pinangan tersebut dngan beberapa alasan yg saya rasa kurang syar’i,..bagaimana dgn kondisi itu?/padahal akhwat dan ikhwab itu sudh merasa siap untuk menikah..????mohon jawabannya,,,syukronn

  51. hatur nuhun..
    apa yang tth tuangkan sangat membantu bagi saya..
    sebab posisi saya sekarang seperti itu..
    mudah”an saya lebih sabar dan bisa menjaga diri..

    makasih atas ilmunya teh..

  52. […] web site salafi, http://almanhaj.or.id. dan dari web site salah satu akhwat aktivis Hizbut Tahrir, https://baitijannati.wordpress.com . Ya, saya acap kali belajar dari berbagai fikrah pergerakan Islam. Kali ini tidak ada salahnya […]

  53. harisfauz said

    jazakumullah ukhty….

  54. eka said

    Assalamu’alaikum
    Bagus sekali artikelnya Ukhty….saya memang punya niat untuk menikah muda. Tapi lembaga tempat saya kuliah tidak memperbolehkan mahasiswanya menikah sebelum lulus…..

  55. Tista said

    izin copy ke blog saya boleh yaaa

    Tanggapan :
    Silakan. Jgn lupa sertakan sumbernya.

  56. Roza Mustiana said

    Assalamualaikum ukhti
    saya mau brtanya brp batas waktu yg dsyaratkan bagi seorang ikhwan utk membatalkan khitbahx?benarkah 4bulan?alasan ingin membatalkan khitbah krn menemukan akhwat lain yg lbh baik.khitbah jg trjdi krn ikhwan trpaksa menerima wanita yg dkhitbah kakakx utk dirinya.sdgkn sbnrx dy sdh mempunyai calon.tetapi tdk dsetujui kluarga krn beda suku.Tetapi ikhwan trsebut tetap menerima khitbah trsebut krn mencintai kluarganya & tdk mau brtengkar.Mohon jawabanx ukthi.Trims🙂

  57. Mika said

    Assalamualaikum… Saya mau bertanya satu hal : saya sudah di khitbah (jika khitbah memang sesuai pemahaman saya atas artikel ini). Tp calon blm bicara dg ayah saya (baru diniatkan dlm wkt dkt ini),pertanyaan saya, apakah ayah saya berhak menolak atau semuanya harus diserahkan kepada saya? Terima kasih

  58. Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    saya mau tanya.
    kronologinya saya dulu pernah ingin meminang (mentunangi) seseorang yang sudah saya anggap cocok buat pendamping saya kelak. dan kita sempat komunikasi lewat telfon.
    namun saat kita sudah berpisah (sama-sama balik kepondok) saya menemukan seseorang (pihak ketiga) yang mana seseorang itu sama-sama ada kecocokan dan kita menjalaninya dengan istilah pacaran gitu.
    namun dari pihak si cewek dulu meminta saya untuk meminangnya (pertunangan). dan saya coba jelaskan kepada keluarga saya kalau saya sudah mendapatkan yang lebih cocok dan kita sudah 3 bulan menjalani pacaran.
    namun tanpa saya duga ternyata saya malah ditunangkan dengan si perempuan dulu.
    secara spontan saya terkejut dan saya berusaha untuk memutuskan pertunangan itu. namun pihak keluarga saya kurang setuju dan masih tetap mempertahankan pertunangan saya.
    dari kronologi di atas apakah saya boleh untuk memutuskan pertunangan tersebut dengan alasan saya sudah mendapatkan pasangan yang lebih cocok dan kita memang sama-sama cinta…
    mohon jawaban disertai dengan refrensi yang akurat dan berikan tipsnya agar pertunangan saya cepat putus dan saya bisa mentunangi pacar saya… karena saya takut keburu di ambil orang.
    sekian dan terima kasih.
    Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: