Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Ada Upaya Sistemastis Untuk Meliberalkan UU Perkawinan

Posted by Farid Ma'ruf pada April 10, 2009

Ada upaya sistematis untuk meliberalkan hukum Islam khususnya terkait keluarga dan perkawinan. Hal ini dipaparkan Ibu Neng Djubaedah, SH. MH dari Wanita Islam dalam acara Forum Kajian Tokoh Muslimah (FORUM KITA) Ke-9 bertajuk “Dibalik Perdebatan Nikah Sirri’, Selasa (24/3) di Jakarta. Acara ini diselenggarakan Dewan Pimpinan Pusat Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (DPP-MHTI).

“Definisi perkawinan saat ini mengalami perubahan, sebelumnya dalam UU Perkawinan no 1 tahun 1974, landasan perkawinan adalah untuk ibadah dan dalam rangka mentaati perintah Allah. Demikian pula dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI), pernikahan didefinisikan sebaga mitsaqon gholidzo dalam rangka beribadah kepada Allah. Namun dalam RUU Hukum Materiil Peradilan Agama (RUU HMPA), tidak ada lagi kata-kata ibadah dan dalam rangka mentaati perintah Allah.,” papar Ibu Neng Djubaedah.

Dalam RUU ini perkawinan didefinisikan sebagai ikatan lahir batin antara laki-laki dan perempuan sebagai suami istri berdasarkan akad nikah dan bertujuan untuk membentuk keluarga sakinah, keluarga bahagia sesesuai hukum Islam.

Beliau mempertanyakan kata-kata hukum Islam dalam RUU HMPA, karena membuka celah penafsiran secara liberal oleh kalangan gender. Sedangkan dalam Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam (CLDKHI) yang telah digagas kaum gender, pernikahan didefinisikan sebagai kesepakatan antara laki-laki dan perempuan. Dalam CLDKHI pencatatan dimasukkan sebagai rukun nikah.

”Berkaitan dengan nikah sirri, RUU HMPA yang memuat pasal tentang nikah sirri sebagai perbuatan illegal yang pelakunya akan dipidanakan dengan sanksi penjara maksimal 3 bulan dan denda 5 juta rupiah,” tambah Ibu Neng.

Hal senada disampaikan Ibu Ir. Najmah Saidah dari DPP MHTI. Ibu Najmah menyampaikan keluarnya HMPA bukan tanpa sebab. Didalamnya terdapat ruh dan nuansa liberalisasi yaitu CLDKHI.

” Ini merupakan upaya terselubung liberalisasi keluarga. Tatanan keluarga terus digoyang merupakan bagian dari penjajahan global oleh musuh-musuh Islam (AS) yang menginginkan hancurnya tatanan kehidupan keluarga muslim,” ujar Ibu Najmah. Skenario global ini secara sistematis dan struktural masuk melalui lembaga internasional (PBB) yang menekan negeri-negeri muslim jajahan untuk meratifikasi konvensi-konvensi yang sarat agenda liberal seperti CEDAW dll.

Selanjutnya negara menekan masyarakat dengan UU liberal yang dibuat dan diimplementasikan dalam bentuk program melalui Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (Meneg PP) hingga level masyarakat bawah yaitu posyandu. ”Liberalisasi keluarga pun dilakukan secara kultural melalui program aksi LSM gender yang menggiring masyarakat seolah mereka menginginkan perubahan-perubahan hukum,” tandas Ibu Najmah. Kalangan LSM pun saat ini gencar melakukan liberalisasi kepada para para ulama. Karena posisi strategis ulama di tengah masyarakat. Beliau pun menambahkan bahaya upaya liberalisasi keluarga berujung pada liberalisasi bangsa.

Ibu Nurni Akma dari Aisiyah membuktikan bahwa liberalisasi keluarga merupakan proyek global kaum liberal. Baru-baru ini, tepatnya tanggal 13-17 Februari 2009, beliau diundang oleh kalangan gender untuk menghadiri pertemuan Musawah di Malaysia. Agenda utama Musawah adalah menuntut keadilan dan kesetaraan dalam keluarga muslim. Kaum gender yang hadir adalah perwakilan dari 48 negara, termasuk Indonesia yang diwakili Musdah Mulia, Husein Muhammad, dan Nur Rofiah. Mereka menggugat hukum-hukum Allah, terutama hukum tentang keluarga diantaranya waris, poligami, izin perkawinan. Beliau menambahkan bahwa kaum muslimin harus dicerdaskan agar faham hukum Islam sehingga tidak terpengaruh oleh pemikiran liberal.

Ibu Ratu Erma dari DPP MHTI menyampaikan kritiknya bahwa menjadikan pencatatan sebagai suatu kewajiban merupakan upaya merubah hukum Allah. Karena hukum pencatatan di dalam Islam adalah mubah termasuk aspek administratif saja. ”Ketika kaum liberal mewajibkan pencatatan, mereka telah menjadikan fakta sebagai sumber hukum. Fakta dan alasan kaum liberal memasukkan pencatatan sebagai rukun nikah yaitu banyaknya pernikahan yang tidak tercatat. Pada saat ada masalah malah merugikan perempuan, karena perempuan menjadi terkatung-katung dan tidak ternafkahi,” kata Ibu Erma. Islam memiliki solusi masalah berkaitan hal ini. Hukum Islam menetapkan rukun nikah hanya ada 4 yaitu; ijab qabul, suami-isteri, wali dan dua orang saksi.

Beliau melanjutkan cara berfikir dan metodologi ijtihad liberal atau kaidah liberal sangat keliru, karena menjadikan akal sebagai landasan bukan nash syar’i. Demikian pula alur penafsiran Islam versi liberal yaitu menjadikan kemaslahatan, maqashid syar’i, akal publik, dan kearifan lokal sebagai landasan untuk menganalisa Al Quran dan Al Hadits, alur penafsiran ini sangat terlihat jelas termasuk ketika mereka menggugat poligami dan nikah sirri.

Arus liberalisasi masuk secara struktural dan kultural maka upaya membendungnya pun harus dilakukan secara struktural dan kultural tentunya hanya mampu dilakukan oleh negara adidaya kaum muslimin yaitu Khilafah Islamiyah. Demikian Ibu Ratu Erma menutup sesi talkshow.

Acara dilanjutkan dengan diskusi dengan peserta yang berlangsung hangat, para tokoh sangat antusias menyampaikan pertanyaan dan tanggapan diantaranya Ustadzah Latuconsina dan Ustadzah Syahrajjad Syaukat Al Bahry, keduanya merupakan tokoh pimpinan ormas muslimah. Acara yang dihadiri sekitar seratus tokoh muslimah berbagai ormas Islam ini dipandu oleh Ibu Ir. Eni Dwiningsih, S.TP, M.Si dari Lajnah Faaliyah DPP MHTI. (www.baitijannati.wordpress.com)

Sumber : http://www.hizbut-tahrir.or.id

4 Tanggapan to “Ada Upaya Sistemastis Untuk Meliberalkan UU Perkawinan”

  1. ariefdj™ said

    ulasan dan informasi yang menarik..

  2. artikel yang menarik

  3. bhoried said

    kl menjelaskan itu yang obyektiflah krn artikel anda itu di baca banyak umat.penjelasan UU No.1/1974 dari awal memang hanya untuk membentuk keluarga yg bhagia dn kekal berdasarkan ketuhanan Y.M.E,tulisan anda di bagian awal sudah salah, bukan ibadah dan menaati perintah tuhan (cba liyat UU psl 1 No.1/1974). dan UU itu di buat memang untuk seluruh umat bukan hanya untuk umat islam saja (buka kmbli sejarah UU nO.1/74).
    dan harusnya muslimat di indonesia itu nyadar dan banyak bersyukur krn RUU Perkawinan kita sudah mulai progresif, egak kaku.cb anda liat di negara-negara islam yg maju sperti Turki, mesir, iran Tunisia, di sana hukum perkawinanya sudah mengalami perombakan yang luar biasa, poligami di penjara, nikah harus berumur 21 tahun, pokok e banyak banget yang berubah dan semata-mata itu di laksanakan demi kepentingan umat itu sendiri, agar tidak ada yang tercurangi satu dg yang lain,bayangkan negara-negara yang nota bene di jadikan rujukan oleh ulama’-ulama’ indonesia aza sdh dari dulu melakukan pembaharuan hukum, sementara kita yang nota bene cuma bisa itba’ merasa sok paling bener dg kekolotan berfikir.maqoshidu-asyyari’ itu sdh betul,hukum harus progresif agar bisa mjd living low di masyarakat sehingga bener-bnr napak social-egineringnya bukan hanya kayalan semata, karena karakter hukum adalah mengayomi…. hanya orang-orang yang baru belajar islam saja yang belum mau mengakui kebenaran maqoshidu-assyari’.
    mask hanya masalah kata-kata ibadah aza jd ribut?? kayak baru denger bahasa arab aza, kita itu terlalu terhegemoni dg bahasa, pokok e kl udah arab udah bagus pd hal ma’nanya sama saja, ibadahkan substansinyakan hanya pengabdian to, toh siapa yang tau mereka-mereka punya tujuan apa untuk menikah, mendiskusikan istilah ibadah dalam konteks formalisasi itu semu, toh realisasinya gk da yg tau, tp qt sbgai umat muslim sendiri tdk terasa sebenarnya sudah terpecah belah hanya dengan istilah bahasan yg sepele itu,sungguh ironis.

    • Hery said

      buat bhoreid. saya hanya orang awam yg berusaha untuk mengamalkan segala perintah Allah SWT. dalam benak saya hanya menjalankan dengan baik apa yang telah Allah SWT perintahkan dan telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Dalam fikiran saya tidak akan terbersit untuk mengakali apa yg telah Allah perintahkan. Mungkin betul anda orang pintar, bahasa arab pun fasih dan beribu ayat dan hadits hafal. tapi dengan hafal dan mengerti itu tidak menjadi lebih dekat sama Yang Maha Kuasa tidak ada artinya. jangan kita tambah mengerti malah kita semakin bebas mengekspresikan dan memaksakan keinginan kita dengan ayat atau hadits yg harus disesuaikan dg alasan tidak relevan lg. ya allah lindungilah otak/fikiran dan hati kami dari kebebasan yang menyimpang dari ketentuan-ketentuan-Mu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: