Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Hukum Islam Tentang Nikah Siri

Posted by Farid Ma'ruf pada Maret 13, 2009

Keinginan pemerintah untuk memberikan fatwa hukum yang tegas terhadap pernikahan siri, kini telah dituangkan dalam rancangan undang-undang tentang perkawinan. Sebagaimana penjelasan Nasarudin Umar, Direktur Bimas Islam Depag, RUU ini akan memperketat pernikahan siri, kawin kontrak, dan poligami.

Berkenaan dengan nikah siri, dalam RUU yang baru sampai di meja Setneg, pernikahan siri dianggap perbuatan ilegal, sehingga pelakunya akan dipidanakan dengan sanksi penjara maksimal 3 bulan dan denda 5 juta rupiah. Tidak hanya itu saja, sanksi juga berlaku bagi pihak yang mengawinkan atau yang dikawinkan secara nikah siri, poligami, maupun nikah kontrak. Setiap penghulu yang menikahkan seseorang yang bermasalah, misalnya masih terikat dalam perkawinan sebelumnya, akan dikenai sanksi pidana 1 tahun penjara. Pegawai Kantor Urusan Agama yang menikahkan mempelai tanpa syarat lengkap juga diancam denda Rp 6 juta dan 1 tahun penjara. [Surya Online, Sabtu, 28 Februari, 1009]

Sebagian orang juga berpendapat bahwa orang yang melakukan pernikahan siri, maka suami isteri tersebut tidak memiliki hubungan pewarisan. Artinya, jika suami meninggal dunia, maka isteri atau anak-anak keturunannya tidak memiliki hak untuk mewarisi harta suaminya. Ketentuan ini juga berlaku jika isteri yang meninggal dunia.

Lalu, bagaimana pandangan Islam terhadap nikah siri? Bolehkah orang yang melakukan nikah siri dipidanakan? Benarkah orang yang melakukan pernikahan siri tidak memiliki hubungan pewarisan?

Definisi dan Alasan Melakukan Pernikahan Siri

Pernikahan siri sering diartikan oleh masyarakat umum dengan; Pertama; pernikahan tanpa wali. Pernikahan semacam ini dilakukan secara rahasia (siri) dikarenakan pihak wali perempuan tidak setuju; atau karena menganggap absah pernikahan tanpa wali; atau hanya karena ingin memuaskan nafsu syahwat belaka tanpa mengindahkan lagi ketentuan-ketentuan syariat; kedua, pernikahan yang sah secara agama namun tidak dicatatkan dalam lembaga pencatatan negara. Banyak faktor yang menyebabkan seseorang tidak mencatatkan pernikahannya di lembaga pencatatan sipil negara. Ada yang karena faktor biaya, alias tidak mampu membayar administrasi pencatatan; ada pula yang disebabkan karena takut ketahuan melanggar aturan yang melarang pegawai negeri nikah lebih dari satu; dan lain sebagainya. Ketiga, pernikahan yang dirahasiakan karena pertimbangan-pertimbangan tertentu; misalnya karena takut mendapatkan stigma negatif dari masyarakat yang terlanjur menganggap tabu pernikahan siri; atau karena pertimbangan-pertimbangan rumit yang memaksa seseorang untuk merahasiakan pernikahannya.

Adapun hukum syariat atas ketiga fakta tersebut adalah sebagai berikut.

Hukum Pernikahan Tanpa Wali

Adapun mengenai fakta pertama, yakni pernikahan tanpa wali; sesungguhnya Islam telah melarang seorang wanita menikah tanpa wali. Ketentuan semacam ini didasarkan pada sebuah hadits yang dituturkan dari sahabat Abu Musa ra; bahwasanya Rasulullah saw bersabda;

لا نكاح إلا بولي

“Tidak sah suatu pernikahan tanpa seorang wali.” [HR yang lima kecuali Imam An Nasaaiy, lihat, Imam Asy Syaukani, Nailul Authar VI: 230 hadits ke 2648].

Berdasarkan dalalah al-iqtidla’, kata ”laa” pada hadits menunjukkan pengertian ‘tidak sah’, bukan sekedar ’tidak sempurna’ sebagaimana pendapat sebagian ahli fikih. Makna semacam ini dipertegas dan diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah saw pernah bersabda:

أيما امرأة نكحت بغير إذن وليها فنكاحها باطل, فنكاحها باطل , فنكاحها باطل

“Wanita mana pun yang menikah tanpa mendapat izin walinya, maka pernikahannya batil; pernikahannya batil; pernikahannya batil”. [HR yang lima kecuali Imam An Nasaaiy. Lihat, Imam Asy Syaukaniy, Nailul Authar VI: 230 hadits ke 2649].

Abu Hurayrah ra juga meriwayatkan sebuah hadits, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

لا تزوج المرأة المرأة لا تزوج نفسها فإن الزانية هي التي تزوج نفسها

”Seorang wanita tidak boleh menikahkan wanita lainnya. Seorang wanita juga tidak berhak menikahkan dirinya sendiri. Sebab, sesungguhnya wanita pezina itu adalah (seorang wanita) yang menikahkan dirinya sendiri”. (HR Ibn Majah dan Ad Daruquthniy. Lihat, Imam Asy Syaukaniy, Nailul Authar VI: 231 hadits ke 2649)

Berdasarkan hadits-hadits di atas dapatlah disimpulkan bahwa pernikahan tanpa wali adalah pernikahan batil. Pelakunya telah melakukan maksiyat kepada Allah swt, dan berhak mendapatkan sanksi di dunia. Hanya saja, syariat belum menetapkan bentuk dan kadar sanksi bagi orang-orang yang terlibat dalam pernikahan tanpa wali. Oleh karena itu, kasus pernikahan tanpa wali dimasukkan ke dalam bab ta’zir, dan keputusan mengenai bentuk dan kadar sanksinya diserahkan sepenuhnya kepada seorang qadliy (hakim). Seorang hakim boleh menetapkan sanksi penjara, pengasingan, dan lain sebagainya kepada pelaku pernikahan tanpa wali.

Nikah Tanpa Dicatatkan Pada Lembaga Pencatatan Sipil

Adapun fakta pernikahan siri kedua, yakni pernikahan yang sah menurut ketentuan syariat namun tidak dicatatkan pada lembaga pencatatan sipil; sesungguhnya ada dua hukum yang harus dikaji secara berbeda; yakni (1) hukum pernikahannya; dan (2) hukum tidak mencatatkan pernikahan di lembaga pencatatan negara

Dari aspek pernikahannya, nikah siri tetap sah menurut ketentuan syariat, dan pelakunya tidak boleh dianggap melakukan tindak kemaksiyatan, sehingga berhak dijatuhi sanksi hukum. Pasalnya, suatu perbuatan baru dianggap kemaksiyatan dan berhak dijatuhi sanksi di dunia dan di akherat, ketika perbuatan tersebut terkategori ”mengerjakan yang haram” dan ”meninggalkan yang wajib”. Seseorang baru absah dinyatakan melakukan kemaksiyatan ketika ia telah mengerjakan perbuatan yang haram, atau meninggalkan kewajiban yang telah ditetapkan oleh syariat.

Begitu pula orang yang meninggalkan atau mengerjakan perbuatan-perbuatan yang berhukum sunnah, mubah, dan makruh, maka orang tersebut tidak boleh dinyatakan telah melakukan kemaksiyatan; sehingga berhak mendapatkan sanksi di dunia maupun di akherat. Untuk itu, seorang qadliy tidak boleh menjatuhkan sanksi kepada orang-orang yang meninggalkan perbuatan sunnah, dan mubah; atau mengerjakan perbuatan mubah atau makruh.

Seseorang baru berhak dijatuhi sanksi hukum di dunia ketika orang tersebut; pertama, meninggalkan kewajiban, seperti meninggalkan sholat, jihad, dan lain sebagainya; kedua, mengerjakan tindak haram, seperti minum khamer dan mencaci Rasul saw, dan lain sebagainya; ketiga, melanggar aturan-aturan administrasi negara, seperti melanggar peraturan lalu lintas, perijinan mendirikan bangunan, dan aturan-aturan lain yang telah ditetapkan oleh negara.

Berdasarkan keterangan dapat disimpulkan; pernikahan yang tidak dicatatkan di lembaga pencatatan negara tidak boleh dianggap sebagai tindakan kriminal sehingga pelakunya berhak mendapatkan dosa dan sanksi di dunia. Pasalnya, pernikahan yang ia lakukan telah memenuhi rukun-rukun pernikahan yang digariskan oleh Allah swt. Adapun rukun-rukun pernikahan adalah sebagai berikut; (1) wali, (2) dua orang saksi, dan (3) ijab qabul. Jika tiga hal ini telah dipenuhi, maka pernikahan seseorang dianggap sah secara syariat walaupun tidak dicatatkan dalam pencatatan sipil.

Adapun berkaitan hukum tidak mencatatkan pernikahan di lembaga pencatatan negara, maka kasus ini dapat dirinci sebagai berikut.

Pertama, pada dasarnya, fungsi pencatatan pernikahan pada lembaga pencatatan sipil adalah agar seseorang memiliki alat bukti (bayyinah) untuk membuktikan bahwa dirinya benar-benar telah melakukan pernikahan dengan orang lain. Sebab, salah bukti yang dianggap absah sebagai bukti syar’iy (bayyinah syar’iyyah) adalah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh negara. Ketika pernikahan dicatatkan pada lembaga pencatatan sipil, tentunya seseorang telah memiliki sebuah dokumen resmi yang bisa ia dijadikan sebagai alat bukti (bayyinah) di hadapan majelis peradilan, ketika ada sengketa yang berkaitan dengan pernikahan, maupun sengketa yang lahir akibat pernikahan, seperti waris, hak asuh anak, perceraian, nafkah, dan lain sebagainya. Hanya saja, dokumen resmi yang dikeluarkan oleh negara, bukanlah satu-satunya alat bukti syar’iy. Kesaksian dari saksi-saksi pernikahan atau orang-orang yang menyaksikan pernikahan, juga absah dan harus diakui oleh negara sebagai alat bukti syar’iy. Negara tidak boleh menetapkan bahwa satu-satunya alat bukti untuk membuktikan keabsahan pernikahan seseorang adalah dokumen tertulis. Pasalnya, syariat telah menetapkan keabsahan alat bukti lain selain dokumen tertulis, seperti kesaksian saksi, sumpah, pengakuan (iqrar), dan lain sebagainya. Berdasarkan penjelasan ini dapatlah disimpulkan bahwa, orang yang menikah siri tetap memiliki hubungan pewarisan yang sah, dan hubungan-hubungan lain yang lahir dari pernikahan. Selain itu, kesaksian dari saksi-saksi yang menghadiri pernikahan siri tersebut sah dan harus diakui sebagai alat bukti syar’iy. Negara tidak boleh menolak kesaksian mereka hanya karena pernikahan tersebut tidak dicatatkan pada lembaga pencatatan sipil; atau tidak mengakui hubungan pewarisan, nasab, dan hubungan-hubungan lain yang lahir dari pernikahan siri tersebut.

Kedua, pada era keemasan Islam, di mana sistem pencatatan telah berkembang dengan pesat dan maju, tidak pernah kita jumpai satupun pemerintahan Islam yang mempidanakan orang-orang yang melakukan pernikahan yang tidak dicatatkan pada lembaga pencatatan resmi negara. Lebih dari itu, kebanyakan masyarakat pada saat itu, melakukan pernikahan tanpa dicatat di lembaga pencatatan sipil. Tidak bisa dinyatakan bahwa pada saat itu lembaga pencatatan belum berkembang, dan keadaan masyarakat saat itu belumnya sekompleks keadaan masyarakat sekarang. Pasalnya, para penguasa dan ulama-ulama kaum Muslim saat itu memahami bahwa hukum asal pencatatan pernikahan bukanlah wajib, akan tetapi mubah. Mereka juga memahami bahwa pembuktian syar’iy bukan hanya dokumen tertulis.

Nabi saw sendiri melakukan pernikahan, namun kita tidak pernah menemukan riwayat bahwa melakukan pencatatan atas pernikahan beliau, atau beliau mewajibkan para shahabat untuk mencatatkan pernikahan mereka; walaupun perintah untuk menulis (mencatat) beberapa muamalah telah disebutkan di dalam al-Quran, misalnya firman Allah swt;

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا وَلَا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَى أَجَلِهِ ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلَّا تَرْتَابُوا إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu`amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki diantaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu, (Tulislah mu`amalahmu itu), kecuali jika mu`amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.[TQS AL Baqarah (2):

Ketiga, dalam khazanah peradilan Islam, memang benar, negara berhak menjatuhkan sanksi mukhalafat kepada orang yang melakukan tindakan mukhalafat. Pasalnya, negara (dalam hal ini seorang Khalifah dan orang yang diangkatnya) mempunyai hak untuk menetapkan aturan-aturan tertentu untuk mengatur urusan-urusan rakyat yang belum ditetapkan ketentuan dan tata cara pengaturannya oleh syariat; seperti urusan lalu lintas, pembangunan rumah, eksplorasi, dan lain sebagainya. Khalifah memiliki hak dan berwenang mengatur urusan-urusan semacam ini berdasarkan ijtihadnya. Aturan yang ditetapkan oleh khalifah atau qadliy dalam perkara-perkara semacam ini wajib ditaati dan dilaksanakan oleh rakyat. Siapa saja yang melanggar ketetapan khalifah dalam urusan-urusan tersebut, maka ia telah terjatuh dalam tindakan mukhalafat dan berhak mendapatkan sanksi mukhalafat. Misalnya, seorang khalifah berhak menetapkan jarak halaman rumah dan jalan-jalan umum, dan melarang masyarakat untuk membangun atau menanam di sampingnya pada jarak sekian meter. Jika seseorang melanggar ketentuan tersebut, khalifah boleh memberi sanksi kepadanya dengan denda, cambuk, penjara, dan lain sebagainya.

Khalifah juga memiliki kewenangan untuk menetapkan takaran, timbangan, serta ukuran-ukuran khusus untuk pengaturan urusan jual beli dan perdagangan. Ia berhak untuk menjatuhkan sanksi bagi orang yang melanggar perintahnya dalam hal tersebut. Khalifah juga memiliki kewenangan untuk menetapkan aturan-aturan tertentu untuk kafe-kafe, hotel-hotel, tempat penyewaan permainan, dan tempat-tempat umum lainnya; dan ia berhak memberi sanksi bagi orang yang melanggar aturan-aturan tersebut.

Demikian juga dalam hal pengaturan urusan pernikahan. Khalifah boleh saja menetapkan aturan-aturan administrasi tertentu untuk mengatur urusan pernikahan; misalnya, aturan yang mengharuskan orang-orang yang menikah untuk mencatatkan pernikahannya di lembaga pencatatan resmi negara, dan lain sebagainya. Aturan semacam ini wajib ditaati dan dilaksanakan oleh rakyat. Untuk itu, negara berhak memberikan sanksi bagi orang yang tidak mencatatkan pernikahannya ke lembaga pencatatan negara. Pasalnya, orang yang tidak mencatatkan pernikahannya di lembaga pencatatan negara — padahal negara telah menetapkan aturan tersebut—telah terjatuh pada tindakan mukhalafat. Bentuk dan kadar sanksi mukhalafat diserahkan sepenuhnya kepada khalifah dan orang yang diberinya kewenangan.

Yang menjadi catatan di sini adalah, pihak yang secara syar’iy absah menjatuhkan sanksi mukhalafat hanyalah seorang khalifah yang dibai’at oleh kaum Muslim, dan orang yang ditunjuk oleh khalifah. Selain khalifah, atau orang-orang yang ditunjuknya, tidak memiliki hak dan kewenangan untuk menjatuhkan sanksi mukhalafat. Atas dasar itu, kepala negara yang tidak memiliki aqad bai’at dengan rakyat, maka kepala negara semacam ini tidak absah menjatuhkan sanksi mukhalafat kepada rakyatnya. Sebab, seseorang baru berhak ditaati dan dianggap sebagai kepala negara jika rakyat telah membai’atnya dengan bai’at in’iqad dan taat. Adapun orang yang menjadi kepala negara tanpa melalui proses bai’at dari rakyat (in’iqad dan taat), maka ia bukanlah penguasa yang sah, dan rakyat tidak memiliki kewajiban untuk mentaati dan mendengarkan perintahnya. Lebih-lebih lagi jika para penguasa itu adalah para penguasa yang menerapkan sistem kufur alas demokrasi dan sekulerisme, maka rakyat justru tidak diperkenankan memberikan ketaatan kepada mereka.

Keempat, jika pernikahan siri dilakukan karena faktor biaya; maka pada kasus semacam ini negara tidak boleh mempidanakan dan menjatuhkan sanksi mukhalafat kepada pelakunya. Pasalnya, orang tersebut tidak mencatatkan pernikahannya dikarenakan ketidakmampuannya; sedangkan syariat tidak membebani seseorang di luar batas kemampuannya. Oleh karena itu, Negara tidak boleh mempidanakan orang tersebut, bahkan wajib memberikan pelayanan pencatatan gratis kepada orang-orang yang tidak mampu mencatatkan pernikahannya di lembaga pencatatan Negara.

Kelima, pada dasarnya, Nabi saw telah mendorong umatnya untuk menyebarluaskan pernikahan dengan menyelenggarakan walimatul ‘ursy. Anjuran untuk melakukan walimah, walaupun tidak sampai berhukum wajib akan tetapi nabi sangat menganjurkan (sunnah muakkadah). Nabi saw bersabda;

حَدَّثَنَا أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ

Adakah walimah walaupun dengan seekor kambing”.[HR. Imam Bukhari dan Muslim]

Banyak hal-hal positif yang dapat diraih seseorang dari penyiaran pernikahan; di antaranya adalah ; (1) untuk mencegah munculnya fitnah di tengah-tengah masyarakat; (2) memudahkan masyarakat untuk memberikan kesaksiannya, jika kelak ada persoalan-persoalan yang menyangkut kedua mempelai; (3) memudahkan untuk mengidentifikasi apakah seseorang sudah menikah atau belum.

Hal semacam ini tentunya berbeda dengan pernikahan yang tidak disiarkan, atau dirahasiakan (siri). Selain akan menyebabkan munculnya fitnah; misalnya jika perempuan yang dinikahi siri hamil, maka akan muncul dugaan-dugaan negatif dari masyarakat terhadap perempuan tersebut; pernikahan siri juga akan menyulitkan pelakunya ketika dimintai persaksian mengenai pernikahannya. Jika ia tidak memiliki dokumen resmi, maka dalam semua kasus yang membutuhkan persaksian, ia harus menghadirkan saksi-saksi pernikahan sirinya; dan hal ini tentunya akan sangat menyulitkan dirinya. Atas dasar itu, anjuran untuk mencatatkan pernikahan di lembaga pencatatan negara menjadi relevan, demi mewujudkan kemudahan-kemudahan bagi suami isteri dan masyarakat serta untuk mencegah adanya fitnah.

Bahaya Terselubung Surat Nikah

Walaupun pencatatan pernikahan bisa memberikan implikasi-implikasi positif bagi masyarakat, hanya saja keberadaan surat nikah acapkali juga membuka ruang bagi munculnya praktek-praktek menyimpang di tengah masyarakat. Lebih-lebih lagi, pengetahuan masyarakat tentang aturan-aturan Islam dalam hal pernikahan, talak, dan hukum-hukum ijtimaa’iy sangatlah rendah, bahwa mayoritas tidak mengetahui sama sekali. Diantara praktek-praktek menyimpang dengan mengatasnamakan surat nikah adalah;

Pertama, ada seorang suami mentalak isterinya sebanyak tiga kali, namun tidak melaporkan kasus perceraiannya kepada pengadilan agama, sehingga keduanya masih memegang surat nikah. Ketika terjadi sengketa waris atau anak, atau sengketa-sengketa lain, salah satu pihak mengklaim masih memiliki ikatan pernikahan yang sah, dengan menyodorkan bukti surat nikah. Padahal, keduanya secara syar’iy benar-benar sudah tidak lagi menjadi suami isteri.

Kedua, surat nikah kadang-kadang dijadikan alat untuk melegalkan perzinaan atau hubungan tidak syar’iy antara suami isteri yang sudah bercerai. Kasus ini terjadi ketika suami isteri telah bercerai, namun tidak melaporkan perceraiannya kepada pengadilan agama, sehingga masih memegang surat nikah. Ketika suami isteri itu merajut kembali hubungan suami isteri –padahal mereka sudah bercerai–, maka mereka akan terus merasa aman dengan perbuatan keji mereka dengan berlindung kepada surat nikah. Sewaktu-waktu jika ia tertangkap tangan sedang melakukan perbuatan keji, keduanya bisa berdalih bahwa mereka masih memiliki hubungan suami isteri dengan menunjukkan surat nikah.

Inilah beberapa bahaya terselubung di balik surat nikah. Oleh karena itu, penguasa tidak cukup menghimbau masyarakat untuk mencatatkan pernikahannya pada lembaga pencatatan sipil negara, akan tetapi juga berkewajiban mendidik masyarakat dengan hukum syariat –agar masyarakat semakin memahami hukum syariat–, dan mengawasi dengan ketat penggunaan dan peredaran surat nikah di tengah-tengah masyarakat, agar surat nikah tidak justru disalahgunakan.

Selain itu, penguasa juga harus memecahkan persoalan perceraian yang tidak dilaporkan di pengadilan agama, agar status hubungan suami isteri yang telah bercerai menjadi jelas. Wallahu a’lam bi al-shawab. (Syamsuddin Ramadhan An Nawiy).

Sumber : HTI Press

39 Tanggapan to “Hukum Islam Tentang Nikah Siri”

  1. irham purnomo said

    info yg bermanfaat,, syukronnn kasiroonn

  2. irham purnomo said

    Dan bagaimana status hukum dari anak nikah siri? Mohon jawabanya

  3. Yudi said

    saya mau tanya, saya punya sahabat dekat ( seorang perempuan namanya sebut saja “bunga” )sedang kesulitan mau nikah dengan latar belakang sudah melakukan nikah siri tp tetep diketahui orang tua si bunga,tanpa dihadiri orang tua dari pria, si pria mengakunya sudah duda, artinya sudah cerai dengan istri pertama, lalu kemudian mau lah sibunga ini menikah dengan pria tersebut walaupun dengan nikah siri, sayangnya si bunga ini sebelum pernikahan siri ini dilakukan, sudah hamil duluan karena kepercayaan dan cinta yang terlalu dalam kepada si pria ini, sudah menginjak 3-4 bulan barulah nikah siri ini dilakukan, namun pada saat jatuh waktu pernikahan siri,si pria tadi baru mengaku bahwa yg bersangkutan belum bercerai karena istrinya gak setuju diceraikan, padahal si pria ini sejak awal ngakunya sudah single dan duda.karena sudah terlanjur dan si bunga juga sudah hamil (mba) maka pernikahan siri tetep dilakukan, cuma setelah jalan 10-12 bulan, ketika anak itu lahir, si bunga melarikan diri dari suaminya karena merasa tertipu oleh bersangkutan sejak awal pertemuan, dikarenakan di sudah mengalami musibah itu makanya dia mencoba
    utk bertahan dulu menunggu sampai anaknya lahir, sekarang si bunga tinggal bersama orang tuanya, sudah berkali-kali sibunga minta diceraikan oleh suaminya tetapi yang bersangkutan tidak mau melakukannya tapi sampai sekarang sdh berjalan 1,5 tahun mereka sudah berpisah tanpa status yang jelas, nah yang mau saya tanyakan, bagaimana hukumnya apabila si bunga ini mau melakukan pernikahan lagi dengan orang lain, dengan kasus seperti ini, apa bisa dibenarkan menurut islam?dan bagaimana cara yang harus ditempuh oleh si bunga, agar dia bisa mendapatkan suami yang sah untuk melanjutkan kehidupannya kembali menginggat anaknya sudah mulai besar dan membutuhkan kasih sayang orang tua ayah dan ibunya.terima kasih atas tanggapannya, saya sangat tunggu sekali.

    • Opin said

      ITULAH PA DIANTARA MADHARATNYA NIKAH SIRI, MAKANYA APA SUSAHNYA NIKAH DIHADAPAN PETUGAS/ KUA, INSYAALLAH SAH MENURUT AGAMA DAN LEGAL MENURUT NEGARA.

  4. Saya setuju nikah siri (yang dimaksud tanpa wali) diatur sanksinya karena akan menjadikan kemudahan (baca:pelecehan) dalam pelaksanaan pernikahan tsb., karena tidak memenuhi syarat nikah yang ditentukan agama Islam. Namun yang menikah sesuai ketentuan agama Islam tetapi tidak tercatat di kantor urusan agama tidak dianggap nikah siri dan pelanggaran agama, cuma belum lengkap sarat administrasi saja.Apalagi pernikahan itu disaksikan oleh orang banyak,para tetangga sambil mengadakan kenduri. Adapun status anak, sudah jelas sah anak si laki-laki yang menikahi perempuan tersebut. Saya setuju denga tulisan Farid Ma’ruf.

  5. nimus said

    saya mau tanya bagaimana kalau saya nikah sirih tetapi wanita yg saya nikahi dalam keadaan hamil . hamil dsini karena perbuatan saya . saya menikah sirih dengan niat ibadah dan bertanggung jawab atas semua yg saya lakukan . apakah setelah anak saya lahir saya harus mengucap ijabkabul kembali ( ijab kabul disini tetap sirih dikarenakan banyak hal )

  6. embun said

    saya ga setuju nikah sirih,alasannya;
    #hanya mementingka hawa nafsu saja,terrbukti ada pihak yang dirugikan,
    #tidak mengerti apa ati sebuah pernikahan,sarat dan rukunnya
    dengan demikian nikah siri tidak diperbolehkan kalo hal tersebut diabaikan.

    • HAKIKI said

      jgn lupa bhwa kewajiban bg ssorg menikah jika dy sudah tak bs mnahan hawa nafsunya, n jika dy takut mslah ekonomi, Allah brfirman bhwa akan mencukupkan bgnya. intinya drpd zina…

  7. ari said

    gtu aza kok repot….
    yang di usut itu ya yang menikahkannya kl emang tau hukum kenapa di nikahkan juga…..sama aja boooookkk………

  8. anto said

    mkany kl blm resmi nikah kt ht2 dlm mnjalin hub,nantiny yg ad penyesalan

  9. asep akhmad fayumi said

    السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
    sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih,,
    saya mau minta bantuan,, bolehkah saya mengcopy isi dari catatan tersebut buat skripsi saya nanti, terima kasih atas jawabannya,, mohon jawabannya lewat e-mail saya,,

  10. iway said

    assalamualaikum,

    saya mau tanya dan sangat berharap jawabanya.
    saat ini saya sedang kuliah di jerman dan mempunyai pacar orang jerman. (alhamdulilah sudah masuk islam).
    terus terang dalam hubungan pacaran, kami tidak melakukan hubungan sex, karena itu dilarang dengan islam.

    Insyaallah kami mau menikah tahun depan di indonesia, tetapi hanya nikah secara islam saja, dan 2 atau 3 bulan kemudian menikah sipilnya di jerman, karena hukum pernikahan di jerman sangat menguntungkan sang wanita, apabila terjadi perceraian.

    sebenernya juga bisa menikah sipil dulu dijerman, kemudian menikah secara islam di indonesia. tetapi keluarga besar saya menginginkan nikah islam dulu.

    na, apakah kalau kami menikah agama dulu di indonesia, tanpa mencatatkan diri ke sipil, itu juga melanggar hukum? kami akan melaporkan diri ke KUA indonesia, setelah kami menikah di jerman

    Terimakasih atas jawabannnya.

  11. nonik said

    mohon bantuannya, saya bingung harus seperti apa dan bagaimana! saya adalah seorang wanita yang telah menikah siri kurang lebih satu setengah tahun dan semenjak itu saya memutuskan untuk menjadi seorang mualaf. tapi, kekecewaaan saya yang terdalam adalah suami saya sama sekali tidak mau mengajarkan saya tentang islam, sholat bahkan untuk sholat berjamaah, suami saya selalu menolak. terlebih lagi semenjak saya hamil satu tahun yang lalu suami saya selalu melakukan kekerasan sampai satu bulan kemarin saya keguguran. mohon bantuan apa yang harus saya lakukan.

  12. sugianto said

    apakah nikah siri itu ada suratnya (surat nikah siri,dlm hal ini siapa yg mengeluarkan suratnya,kyai yg menikahkan kah…?

  13. apikkondang said

    waw ……
    ranglumannya komplit banet ya …
    aku suka …

  14. kiki rezki effendi said

    zaman sekarang nikah sirih di jadikan alasan untuk mencari kata-kata “halal”.. beberapa contoh, orang-orang melalukan nikah sirih karena ingin halal dan tidak ingin ketahuan oleh istri pertama… apakah sah nilai pernikahan seperti ini ?

  15. irmuliyani said

    pernikahan adalah hal yg sakral,seharusnya penikahan itu d lakukan jgn hanya asal nikah saja perhatikan hal2 yg penting sbelum pernikahan d langsungkan supaya jgn ada timbul rasa penyesalan

  16. ari said

    apa hukum nya bila nikah tanpa direstui orang tua..?
    boleh kah 1 pasangan melakukan nikah siri
    dikarnakan orang tua tidak merestui hubungan nya.?

  17. rizal said

    mnta ijin untuk copas artikelnya,biar lbh banyak orng yg tau hukum nikah siri,trimakasih

  18. ayu_fenty@rocketmail.com said

    Assalamualaikum. saya sangat suka ulasannya, sangat bermanfaat dan mendidik. Ada satu hal yang ingin saya tanyakan, apabila wanita yang sudah janda ingin menikah (siri) apakah juga harus dengan sepengetahuan orang tuanya? Karna ada opini yg mengatakan bahwa wali dari janda tidak harus dari orang tuanya meskipun beliau2 masih hidup. Tapi juga ada opini lain yang mengatakan bahwa Janda sekalipun harus menikah dengan ijin orang tuanya. mohon penjelasannya. matur nuwun.. Wassalam

    • Soleh said

      Wa alaikom asalam , islam mudah yg penteng halal & dlm agama islam wanita janda boleh boleh nikah tampa orang tuanya & apa nikah siri ? itu mustalah musuh2 orang islam & juga baniak orang islam faham agama bedah tida mau ikut hidup RASULULLAH SWS , coba liat nikah lebih baik atau (zina auzu bellah) apa lagi rata2 orang tua ga najar anaknya agama islam Nabi kita !

  19. Eda82 said

    Assalamualaikum..
    Sy mempunyai seorang teman wanita & dia sdh menikah tetapi secara Siri & telah dikaruniai seorang anak.. Tapi sekarang dia sedang dilanda permasalahan yg rumit sekali karena suaminya telah menikah lagi dgn teman dekatnya secara sah dlm agama & perkawinanya telah di catat pula di lembaga pencatatan sipil, semenjak menikah lagi suaminya tidak pernah memberikan nafkah lahir maupun bathin..,teman saya itu pernah meminta cerai kpd suaminya tapi suaminya tidak menyetujui & menolaknya shg keadaan teman sy sekarang statusnya di gantung tdk jelas, yg ingin sy tanyakan apakah suaminya berdosa jika suaminya tdk pernah memberikan nafkah, trus apakah nanti jika terjadi perceraian apakah teman sy itu mendapatkan bagian harta gono gini dari suaminya? Itu saja yg ingin sy tanyakan. terima kasih wassalam..

    Mohon jawabannya dikirimkan ke email sy

  20. priyanto slmt said

    Assalamualaikum……
    Saya mempunyai masalah rumah tangga yang rumit…saya nikah d surabaya kemudian tinggal d malang dan sudah punya kk malang,saya ingin mengajukan gugatan cerai tetapi smua jalan sudah tertutup,buku nikah di sita istri,mau ambil duplikat surat nikah jga susah,saya datang ke rt d surabaya mintak surat pengantar untuk dapat mengambil duplikat surat nikah jga gk di kasih dengan alasan tidak ada dasar untuk menuliskan surat penantar kewmudian saya d suruh balik ke malang mintak surat pengantar rt,rw sma permohonan pengambilan duplikat surat nikah…..setelah sampai dampit saya coba ke rt dan setelah saya mnta suratpenggantar ternyata katanya untuk pengambilan dublikat buku nikah tidak pakai pengantar………….langkah apa yg harus saya perbuat….?

  21. cuph said

    Terima kasih atas infonya.. sangat bermanfaat🙂

  22. sy said

    sya ingin tw bgamaina jka lau dgan pisah ranjang apkah sang suami msih hruz wjib memberi nfkah pda istri,krna sya skarang hrus bnting tulang bwt hdupin ank m ibu sya sdah tdk d nfkahi suami sya,pdhal kmi status nya msih psah rnjang,jd tlong beri sya penjelasan tntang arti dri psah ranjang scra islam…………………………..trims………………

  23. BETULKAH MENURUT IMAM ABU HANIFA SARAT SAH NYA PERNIKAHAN ADA 4.1ADA NYA MEMPELAI LAKI2 DAN PEREMPUAN 2 ..ADA SAKSI 3 ADA NYA HIJAP KOBUL 4 ADA MASKAWIN TRUS YANG SAYA TANYA LETAK GAK SAH NYA DI MANA?????? MAAF DAN TRIMKS

  24. LEBIH BAIK MANAKAH MENIKAH SIRI ATAU PERSINAHAN BEBAS[LEGAL]???MEREKA NIKAH SIRI KRN KBANYAKAN GAK ADA KOMPROMI// GAK MENYETUJUI. TRMS

  25. jenk sri said

    aku dah alami nikah sirih sebanyak 5x hanya untuk mencari kepuasan laki2 tanpa harus merasa dosa tapi ini belum menemukan kepuasan ada rencana mau ke 6, enaknya nikah sirih untuk menghindari perzinahan dan tdk ada tuntutan apa2 bila aku tdk puas ya aku minta cerai atau meninggalkan begitu saja karna toh tdk ada hukum yg berlaku dinegara ini dan selama ini aku so fun so good aja. Ingat aku bukan pelacur karna aku tdk butuh uang dan aku bukan tante girang karna aku selalu nikah bila ada yg mau keloni aku dan aku juga bukan perebut laki2 karna laki2 itu yg mau dan aku pilih aku cuma ingin bebas dan tdk terlalu terikat tanpa membuat kesalahan memang hanya laki2 saja yg bisa seperti itu aku juga bisa.ki2 tanpa harus merasa dosa tapi ini belum menemukan kepuasan ada rencana mau ke 6, enaknya nikah sirih untuk menghindari perzinahan dan tdk ada tuntutan apa2 bila aku tdk puas ya aku minta cerai atau meninggalkan begitu saja karna toh tdk ada hukum yg berlaku dinegara ini dan selama ini aku so fun so good aja. Ingat aku bukan pelacur karna aku tdk butuh uang dan aku bukan tante girang karna aku selalu nikah bila ada yg mau keloni aku dan aku juga bukan perebut laki2 karna laki2 itu yg mau dan aku pilih aku cuma ingin bebas dan tdk terlalu terikat tanpa membuat kesalahan memang hanya laki2 saja yg bisa seperti itu aku juga bisa.

    Tanggapan :
    Menyedihkan sekali…

  26. maulana said

    ASSALAMU ALAIKUM PAK USTADZ?
    Mau tanya penting sekali………………………

    Saudara saya perempuan umur 21Thn baru lulus kuliah dinikahi laki2 umur 58Thn (Mantan kyai/ gurunya dia dipesantren Bogor) untuk dijadikan istri ke-4.
    Sang perempuan tidak mau dan kabur dari rumah. Dalam kondisi perempuan kabur sang ustadz tetap menikahi perempuan tersebut dengan menggunakan wali orang tuanya (akad nikah dengan orang tuanya).

    Pertanyaannya:
    1. Akad nikah seperti tersebut di atas syah atau tidak (Lebih banyak madheratnya krn perempuan tetap tdk mau mengakui dia sebagai suami), mohon penjelasan dan dasar-dasar hukumnya?

    2. Kalo memang itu syah. Bagaimana cara untuk cerainya?? Karena Laki-laki itu tidak mau mengeluarkan talak kecuaili perempuan berani bayar Rp.100Jt, sedangkan mahar dia hanya Rp.3Jt.
    Bahkan dia berucap “tidak akan menalak sampai mati”.

    3. Bila perempuan itu menikah dengan laki-laki lain di KUA dan orang tua sebagai walinya syah tidak hukum pernikahannya?

    Mohon penjelasan karena sudah konsultasi kesana, kemari tidak ada solusi.
    Wassalam…….

    • Sdr. Maulana… nikahnya dibawah tangan atau di KUA… kalau dibawah tangan dan sudah diyakini sah nikahnya, tinggal Itsbat Nikah ke Pengadilan Agama setempat untuk kemudian bercerai dengan dasar Itsbat nikah tadi… walau suaminya nggak akan mentalak sampai mati kecuali dengan iwadl seratus juta tsb, itu nggak masalah… lelaki semacam itu bukanlah termasuk orang yang memuliakan kaum perempuan… segera bawa ke Pengadilan Agama… insyaallah selesai…

  27. songko said

    saya ingin menikah siri…. tapi tanpa wali calon istri saya, di karenakan beliau yang tidak merestui.. bolehkah kami melakukan pernikahan siri tersebut ?… dan saya jg gak punya niatan maen2 dngan hubungan tersebut….
    negara hanya mempersulit keadaan… muzti bayar inilah itulah…… bukankah yang penting secara agama??? bukankah menikah hak semua orang bukan aturan negara.? kami tau apa yang kami lakukan!!! kami hanya ingin menghalalkan hubungan kami tanpa adanya jarak lagi di antara kami………. tolong balsanya yang bijak…..

  28. yudistyas said

    january 4, 2012. pda 02:42

    saya brusia 20 dn psngan sya 22, kami pcran slma 2th lbih dg
    hub jrak jauh, dg kykinan utk serius sya brni utk mlkukn hub sex dg psngna sya. dan skrng prmslhnya, ortu sya tau tntng pa yg trjdi dg sya dan psngn sya,
    ortu sya mnghrapkan kta utk sgra menikah, ttpi dg scra materi psngan sya blm siap. krn dia masih kulyah dn sgra mlksnakan wisuda.dg kputusan brsma klrga sy mengusulkan utk nikah siri, bagaimana menurut anda dg kedaan sya
    atau sya yg rugi atau bagaiman,,?

  29. meyra said

    saya mw tanya, apabila pihak wanita nya seorang anak yatim,dan kluarga ayahnya..tidak memungkinkan untuk mewakili (katakanlah sanak saudara nya jauh-jauh) dan untuk melaksanakan pernikahan nya gmna?? ada alasan untuk nikah sirih itu dikarenakan tidak mw menyakiti anak pihak calon laki-laki.kebetulan calonnya seorang duda..gmna solusinya

  30. Echy said

    Assalamualaikum.wr.wb..
    sy ingin bertanya disini:
    1.bagaimana hukum nikah siri,tapi mempelai prianya dibawah pengaruh guna2(hipnotis)?syah atau tidak?
    2.bagaimana cara menceraikan suatu ikatan pernikahan siri itu,,???
    3.bagaimana hukum seorang wanita yang statusnya masih bersuami tapi melakukan nikah siri dengan orang lain?
    trimakasih
    wassalamualaikum.Wr.WB

  31. imron said

    nikah siri tanpa wali bisa? tetapi pakai wali hakim/ tuan kadhi, itu sah atau tidak dan ada saksi 2 orang

  32. imron said

    saya ingin menikah siri…. tapi tanpa wali calon istri saya, di karenakan beliau yang tidak merestui.. bolehkah kami melakukan pernikahan siri tersebut ?… dan saya jg gak punya niatan maen2 dngan hubungan tersebut….
    negara hanya mempersulit keadaan… muzti bayar inilah itulah…… bukankah yang penting secara agama??? bukankah menikah hak semua orang bukan aturan negara.? kami tau apa yang kami lakukan!!! kami hanya ingin menghalalkan hubungan kami tanpa adanya jarak lagi di antara kami………. tolong balsanya yang bijak…..

  33. septa said

    saya baru 20 tahun,,dan anak ke 2 ..pasangan sayapun 20 tahun dan anak kedua pula ,,kami sudah ingin menikah dari pada terus berpacaran yang banyak mudharatnya ..tapi kakak kakak kami belum menunjukkan tanda2 akan menikah ,,apa hal seperti ini bisa di selesaikan dengan nikah siri ??dan adanya hukum adat jika laki2 mendahului kakak perempuaanya tidak di ijinkan atau sebaliknya ..itu bagaimana ??
    mhon bantuan jawabannya ,,trimakasih

  34. sakti said

    saya seorang muslim dan mempunyai pacar seorang non muslim, kami berniat untuk menikah secara diam diam atau siri, tidak memberitahukan kepada keluarga pihak wanita karna pihak wanita semua non muslim dan wanitanya masih kuliah semester terakhir dan tentunya apabila kami memberitahukan niat kami kepada keluarga wanita tersebut pasti tidak setuju, jujur saja salah satu keinginan saya untuk menikahkan pacarsaya pertama karna pacar saya mau muallaf, menjauhi dari zina karna hubungan kami sudah terlalu jauh dan saya tidak ingin terus berbuat dosa, saya ingin yang haram itu menjadi halal, ingin berkeluarga karna sudah cukup umur.saya berjanji kepada diri saya akan menjadi suami yang baik untuk istrisaya walaupun pernikahan kami hanya pernikahan siri, dan niat kami pada saat istri saya sudah selesai kuliah kami akan menikah secara sah dan akan memberitahukan kepada keluarga istrisaya nantinya, apakah pernikahan siri saya ini sah menurut islam.
    dan apabila nanti pada saat pernikahan sah kami tidak ada masalah apabila saya mengucapkan ijapkabul keduakalinya, karna kami tidak ingin mengecewakan mengecewakan mereka karna telah diam diam menikah. mohon jawaban secepatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: