Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Khitbah Lewat SMS dan Batas Waktu Khitbah

Posted by Farid Ma'ruf pada Maret 6, 2009

Tanya :

Ustadz, bolehkah ikhwan mengkhitbah akhwat lewat SMS? Adakah batas waktu khitbah?

Jawab :

Boleh hukumnya mengkhitbah (melamar) lewat SMS, karena ini termasuk mengkhitbah lewat tulisan (kitabah) yang secara syar’i sama dengan khitbah lewat ucapan. Kaidah fikih menyatakan : al-kitabah ka al-khithab (tulisan itu kedudukannya sama dengan ucapan/lisan). (Wahbah Az-Zuhaili, Ushul Al-Fiqh Al-Islami, 2/860).

Kaidah itu berarti bahwa suatu pernyataan, akad, perjanjian, dan semisalnya, yang berbentuk tulisan (kitabah) kekuatan hukumnya sama dengan apa yang diucapkan dengan lisan (khithab). Penerapan kaidah fikih tersebut di masa modern ini banyak sekali. Misalnya surat kwitansi, cek, dokumen akad, surat perjanjian, dan sebagainya. Termasuk juga “bukti/dokumen tertulis” (al-bayyinah al-khaththiyah) yang dibicarakan dalam Hukum Acara Islam, sebagai bukti yang sah dalam peradilan. (Ahmad Ad-Da’ur, Ahkam Al-Bayyinat, hal. 71; Asymuni Abdurrahman, Qawa’id Fiqhiyyah, hal. 52).

Dalil kaidah fikih tersebut, antara lain adanya irsyad (petunjuk) Allah SWT agar melakukan pencatatan dalam muamalah yang tidak tunai (dalam utang piutang) (QS Al-Baqarah : 282). Demikian pula dalam dakwahnya, selain menggunakan lisan, Rasulullah SAW juga terbukti telah menggunakan surat. (Kholid Sayyid Ali, Surat-Surat Nabi Muhammad, Jakarta : GIP, 2000). Ini menunjukkan bahwa tulisan mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan lisan.

Jadi, seorang ikhwan (pria) boleh hukumnya mengkhitbah seorang akhwat (wanita) lewat SMS, berdasarkan kaidah fikih tersebut. Namun demikian, disyaratkan akhwat yang dikhitbah itu secara syar’i memang boleh dikhitbah. Yaitu perempuan tersebut haruslah : (1) bukan perempuan yang haram untuk dinikahi; (2) bukan perempuan yang sedang menjalani masa ‘iddah; dan (3) bukan perempuan yang sudah dikhitbah oleh laki-laki lain. (Nida Abu Ahmad, Al-Khitbah Ahkam wa Adab, hal. 5).

Adapun mengenai batas waktu khitbah, yaitu jarak waktu khitbah dan nikah, sejauh pengetahuan kami, tidak ada satu nash pun baik dalam Al-Qur`an maupun As-Sunnah yang menetapkannya. Baik tempo minimal maupun maksimal. (Yahya Abdurrahman, Risalah Khitbah, hal. 77). Dengan demikian, boleh saja jarak waktu antara khitbah dan nikah hanya beberapa saat, katakanlah beberapa menit saja. Boleh pula jarak waktunya sampai hitungan bulan atau tahun. Semuanya dibolehkan, selama jarak waktu tersebut disepakati pihak laki-laki dan perempuan. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda,”Kaum muslimin [bermu’amalah] sesuai syarat-syarat di antara mereka, kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau yang menghalalkan yang haram.” (HR Abu Dawud & Tirmidzi). (Ash-Shan’ani, Subulus Salam, 3/59).

Namun kami cenderung menyatakan semakin cepat menikah adalah semakin baik. Sebab jarak yang lama antara khitbah dan nikah dapat menimbulkan keraguan mengenai keseriusan kedua pihak yang akan menikah, juga keraguan apakah keduanya dapat terus menjaga diri dari kemaksiatan seperti khalwat dan sebagainya. Keraguan semacam ini sudah sepatutnya dihilangkan, sesuai sabda Rasulullah SAW,”Tinggalkan apa yang meragukanmu, menuju apa yang tidak meragukanmu.” (HR Tirmidzi & Ahmad). Wallahu a’lam.

Yogyakarta, 18 Januari 2009

Muhammad Shiddiq Al Jawi

5 Tanggapan to “Khitbah Lewat SMS dan Batas Waktu Khitbah”

  1. Imam Jamburi said

    Ass…Wr…Wb…
    Mengomentari tentang khitbah melalui, saya kurang setuju meskipun disetujui oleh kedua belah pihak.

    Namun dari norma dan adab, hal tersebut kurang patut dilakukan. Alangkah baiknya kalau yang mau mengkhitbah bersilaturrahiim ke keluarga akhwat, agar pihak keluarga dapat mengenal dengan baik, bagaimamana perangainya yang mengkhitbah. Karena jangan sampai seperti : MEMBELI KUCING DALAM KARUNG.

    Dan untuk akhwat, jangan gampang menerima khitbah dari ikhwan jika cara yang digunakan kurang cocok dengan tatakrama.

    Dan untuk jarak khitbah dan nikah, sebaiknya jangan terlalu lama. Karena sesuatu hal yang baik, namun SERBA TERLALU akibatnya kurang baik. Ingin tau contohnya banyak sekali.

    – Makan Terlalu banyak kagak baik,
    – Menghias wajah TERLALU berlebihan tidak baik,
    dan banyak lagi yang lainnya.

    Kurang lebihnya minta maaf.
    Wass…Wr…Wb…

  2. annisa said

    Assalamu’alaikum,
    uztad gmn jika pernikahan beda harakah.jzklh….

  3. Mantab nih…jd nambah ilmu…hehe jd inget waktu muda dulu

  4. wahidah said

    aslmkm.. uztad bagaimana jika rentang waktu khitbah smpe menikah itu 2 tahun, tp setelah 2 tahun org tua dr akhwatnya tidak setuju krn si akhwatnya masih kuliah, kemudian ortu si akhwat menyetujui kalo si akhwat sdh lulus, padahal kalo menunggu lulus itu dr khitbah – menikah diperkirakan 3 tahun?? apa yg seharusnya dilakukan akhwatnya untuk kebaikan semuanya??mohon jwbnya ya.. jazakalloh…

  5. Assalamualaikum, saya mau tanya. Kalau misalkan seorang ikhwan ingin mengkhitbah seorang akhwat namun si ikhwan masih harus melanjutkan kuliahnya sampai lulus sekitar 4 tahun apakah itu boleh” saja ? Sedangkan si ikhwan sudah sangat ingin menikahi si akhwat ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: