Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Batas Usia Minimal dalam Pernikahan

Posted by Farid Ma'ruf pada November 16, 2008

Baiti Jannati. Pernikahan adalah suatu bentuk ibadah yang disakralkan dalam Islam. Pernikahan bukan hanya sekedar legalisasi hubungan seksual semata. Pernikahan bukanlah perampasan hak anak. Pernikahan adalah perpindahan perwalian dari seorang ayah kepada seorang suami. Ayah menyerahkan tanggung jawab mengasihi, menafkahi, melindungi, mendidik, dan memenuhi semua hak anak perempuannya kepada laki-laki yang ia percayai mampu memikul tanggung jawab tersebut. Islam membolehkan menikahkan anak yang sudah baligh atau belum baligh tapi sudah tamyiz (sudah bisa menyatakan keinginannya). Seorang anak yang memasuki pernikahan sesuai dengan syariat Islam tetap terpenuhi hak-haknya. Anak yang belum baligh belum dituntut tapi dipersiapkan untuk mampu melaksanakan semua kewajibannya sebagai seorang istri. Sementara yang sudah baligh mendapatkan hak sekaligus sudah harus melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri.

Menanggapi kasus upaya mengkriminalkan orang tua Lutfina Ulfa dan Pujiono Cahyo Widianto yang menikahkan dan menikahi anak di bawah usia 16 tahun, sementara anak yang bersangkutan tidak merasa tertekan dan bahagia dalam pernikahannya, maka :

1. Penetapan batas usia minimal dalam pernikahan perlu dihapuskan karena tidak efektif dalam melindungi anak dan hanya mengkriminalkan orang-orang yang tak bersalah. Orang yang mau bertanggung jawab dalam pernikahan dituding sebagai pelaku kriminal sementara penyeru safe sex (baca: perzinahan) dibiarkan bebas bahkan dianggap sebagai penyelamat.

2. Penetapan usia yang dianggap layak untuk menikah harusnya diserahkan kepada orang tua anak masing-masing. Orang tua adalah pihak yang dikaruniai Allah Sang Pencipta naluri untuk mencintai dan melindungi anak, mengetahui perkembangan anak, dan pihak yang paling menginginkan kebaikan bagi anak.

3. Untuk menghindari dan mengatasi kelemahan orang tua dalam melindungi anak memasuki pernikahan, yang dilakukan negara harusnya adalah:

a. Menerapkan sistem ekonomi dan politik sesuai syariah Islam sehingga mampu mensejahterakan seluruh rakyat, sehingga kemampuan orang tua melindungi anak terjaga dan tidak menyimpang karena tekanan ekonomi.

b. Melakukan pembinaan kepada orang tua yang memiliki kelemahan dalam pengasuhan dan pendidikan anak, sehingga bisa membimbing anak siap memasuki pernikahan.

c. Memastikan akses setiap anak untuk mendapatkan pendidikan, baik kepada anak yang belum atau sudah menikah. Anak harus tahu hak dan kewajiban yang telah Allah tetapkan kepada mereka, dan ke mana mereka harus meminta bantuan ketika orang tua mereka melanggar ketetapan tersebut.

d. Menumbuhsuburkan kontrol sosial masyarakat berdasar standar nilai agama dalam perlindungan dan pendidikan anak.


Referensi : Pernyataan Muslimah HTI

Iklan

2 Tanggapan to “Batas Usia Minimal dalam Pernikahan”

  1. ahmat yani siregar said

    yang perlu diketahui oleh semua, bahwa di dalam al-Quran ada yang dianjurkan betul untuk nikah, ada yang tidak dianjurkan untuk melakukan pernikahan, bahkan ada pernikahan yang dilarang. adapun pernikahan yang dilarang seperti menikahi pezina, nikah beda agama. namun kesemuanya itu tidak lain merupakan strategi al-Quiran agar setiap pernikahan sampai kepada tujuan dari pernikahan itu sendiri yakni, sakinah, mawaddah wa rahmah, sebab dapat dibayangkan betapa besrnya akibat dari pernikahan yang tidak bahagia seperti lahirnya sampah masyarakat, bertambahnya penduduk yang tidak berkualitas, dll.

  2. ainul kamal rofiqi said

    memang pada hakikatnya al-qur’an dan hadist tidak meyebutkan secara ekplisit mengenai batasan minimal umur seorang unutk melangsungkan pernikahan, hanya dengan ibarat baligh saja yang menjadi patokan. tpi pendefinisian baligh sendiri masih belum mencapai titik temu sehingga perlu dilakukan kajian lebih dalam lagi. jika baligh dikaitkan pada laki-laki yang sudah mimpi basah, pada zaman sekarang aja anak SD sudah yang banyak mengalaminya dan bagi perempuan dengan keluarnya darah haid maka akan menimbulkan permasalahan baru. apakah anak SD yang bru berusia 10 tahun tpi sudah ilzam atau haid bsa melakukan pernikahan…???
    maka dari itu undang-undang perkawinan sebagai payung hukum terhadap anak-anak usia dini yang masih membutuhkan pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: