Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Membeli Cinta Anak

Posted by Farid Ma'ruf pada September 30, 2008

M Ihsan

M Ihsan

Oleh :M. Ihsan Abdul Djalil

Baiti Jannati. Anda pernah dapat hadiah? Saya rasa semua orang pernah terima hadiah. Bisa dari bos, orang tua, istri atau suami, teman baik, atau dari siapa saja. Tapi hadiah yang saya terima kali ini sungguh luar biasa. Mungkin ini akan menjadi yang terindah dalam hidup saya.
Malam itu saya baru datang dari luar kota. Seperti biasa, begitu masuk garasi, anak-anak menyambut dengan heboh. Tiba-tiba Faris (anak kedua, sekarang  kelas 1 SD) mendekat, “Ayah, aku ada hadiah buat ayah”.
“Oh ya, apa mas?”. Penasaran.

Faris berlari masuk rumah dan sebentar kemudian menyodorkan selembar kertas.
“Wah, mas, ini bagus sekali. Mas Faris yang membuatnya?”
“Iya, soalnya aku kangen. Terus aku buat kreasi untuk ayah”.
“Hebat kamu mas, terima kasih ya”.
Sambil memasuki rumah, saya pandangin terus lukisan pemberian Faris. Temanya laut. Ikan dan tumbuhannya dibuat dari kertas, digunting, lalu ditempelkan dengan lem untuk membuat kesan timbul. Hmm.. anakku kangen? Padahal saya keluar kota hanya nginap semalam.
Pojok kiri atas Faris menulis, “Dari Faris Untuk Ayah”. WOW
Sementara anak-anak lain di luar kamar, Faris terus membuntuti. Kelihatan sekali dia lagi kangen berat. “Mas, napa sih kamu kangen sama ayah?”.
Faris terus lengket menggandeng saya, “Soalnya enak kalau ada ayah. Ada yang ajak main”.
Main? Di rumah ada 3 saudaranya, ada ibunya juga. Tiap hari juga main, tapi kangen saya karena menjadi teman mainnya? Begitulah cinta anak. Tak bisa kita membelinya dengan uang, pakaian, atau hadiah paling mahal sekalipun. Anak menerjemahkan cinta orang tua berdasar waktu berkualitas yang kita berikan. Kalau kita terus sibuk, tak pernah ada waktu bersama, mereka mengartikan kita sedang tak mencintainya. Anak butuh waktu kita. Dan itulah pemberian saya yang membuat Faris jatuh cinta.

Saya masih ingat pagi dimana saya sengaja mengalah saat badminton dengan skor tipis: 21-19. Faris dengan bangga menceritakan kemenangannya itu ke semua penghuni rumah. Kakak adiknya, ibunya, semua dikabari, “Aku tadi bisa ngalahkan ayah”. Gubrakkss… “Iya nih, Faris tambah hebat sekarang. Masa ayah bisa kalah”, saya sengaja nambahin karena kakak adiknya terkesan tak percaya.  Lha masa belum genap 7 tahun bisa ngalahkan ayahnya. Hil yang mustahal, hehe..

Begitulah saya “membeli” cinta anak. Bukan dengan uang. Hanya waktu. Mainan robot mahal dari saya sekarang hanya ditaruh di kamarnya. Saat menerima memang dia terlihat senang, lalu dilupakan begitu saja. Tapi 20 menit badminton sehabis subuh, membuat saya begitu dirindukannya. Dan ketika anak lelaki sudah mencintai figur ayahnya, saya menjadi sangat powerful di hadapan dia. Saya bisa meminta dia melakukan apapun yang saya ingin dia melakukannya. Karena cinta.  (www.baitijannati.wordpress.com)

Surabaya, 28 September 2008

Catatan:
Lukisan indah tersebut sekarang jadi wallpaper laptop saya, sebagai reminder, sesibuk apapun saya harus luangkan waktu untuk anak, karena itulah wujud cinta kita, dan dia sangat membutuhkannya.

7 Tanggapan to “Membeli Cinta Anak”

  1. hujanjam13 said

    Benar, mas. Cinta anak kadang melebihi perhatian istri kepada kita. Tidak jarang, ketika kita bertugas keluar kota, baru saja kita menginjakkan kaki di kota tujuan, ponsel kita sudah ber”bip-bip” ria. Pesan singkat dari anak masuk, menanyakan “sudah sampai, ya, yah?”
    Berpuluh-puluh kali telepon maupun pesan masuk, selama kita ‘berpisah’ dengan mereka, tak jua
    membuat kita bosan. Mungkin saja, mereka rindu karena kita adalah tempatnya meminta, berkisah,
    maupun mengadu. Bisa juga, karena kita adalah ‘hero’ bagi mereka, bersama kita mereka merasa
    sangat aman, dan tak ada yang berani mengusiknya.

    Cerita yang menggugah….. dan, salam kenal!

  2. FAJRI said

    Assalamu’alaikum, wr, wb

    Selamat dah untuk Faris yang sudah mengalahkan ayah. Lain kali ke Palembang ya, sama ayah. Nanti om Fajri ajak naik perahu mengarungi sungai Musi. Dan bisa mampir di waroeng Legenda ada pempek palembang. Semoga Bahagia Selalu

    salam sayang
    Fajri
    http://www.izzuddin.com

  3. aisonhaji said

    Wah mas, terima kasih. Tulisan singkat kok rasanya sangat dalam buat saya yang sedang mencari jalan bagaimana mendidik anak yang baik dan efektif.

  4. Benar sekali pak! Kedekatan kita dengan anak akan membuat anak dekat dengan kita

  5. Kadang tak pernah terpikirkan bahwa hal yang sederhana bisa membuat anak bahagia…
    kisah robot mahal itu, barbie, yg lebih sering mereka lupakan pernah saya alami.
    Sejak itu kami bertekad untuk meluangkan ‘waktu’ menemani anak, biarpun dia hanya menggunting-gunting kertas dan menggambar, ternyata kehadiran dan perhatian kita yang sangat luar biasa buat mereka, dan semoga mereka cukup bahagia tanpa mainan mahal…bahagia dengan perhatian dan bimbingan yg kita berikan.

  6. Innazaki said

    salut.. membeli cinta anak tidak harus dengan uang tapi sesungguhnya perhatian kita akan diri anak itulah yang menjadikan dia mempunyai arti lebih bagi orang tua maupun diri anak sendiri…sederhana tapi dibalikya ada suatu kekuatan dan hasil yang luar biasa..

  7. RIKHA YULIASTUTI said

    salut banget,hal seperti itu gak akan terjadi kalau sang orangtua tidak memberi contoh dan mengajarkan hal serupa.salut buat orangtuanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: