Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Mahar

Posted by Farid Ma'ruf pada Februari 29, 2008

Oleh : Helvy Tiana Rosa

tulisan-habib.jpgKeluarga Samara. “Apa yang kamu minta sebagai mahar pernikahan kita?” Itulah pertanyaan Mas Tomi 13 tahun lalu, saat kami tengah mempersiapkan pernikahan. “Apa ya?” Saya balas bertanya. Tapi hati dan pikiran saya seolah bersepakat, bahwa tak ada mahar yang lebih baik selain yang memudahkan sang pelamar.“Seperti kebanyakan orang saja, Mas. Seperangkat alat sholat dan cincin kawin.” “O ya? Itu sajakah?” tanyanya. Saya mengangguk. “Alhamdulillah semoga berkah selalu bagi saya dan kehidupan rumah tangga kita kelak. Amiiin,” kata saya dengan wajah cerah. Itulah mahar yang saya dapat dari pernikahan kami. Sebuah mahar yang bagi mas “melapangkan” dan bagi saya juga demikian.

Waktu memutuskan menikah, Mas baru saja lulus kuliah dan saya duduk di tingkat akhir di Fakultas Sastra UI. Kami berdua memang sangat bersemangat belajar dan mengamalkan ajaran Islam. Apa saja yang kami tahu, yang baru sedikit itu, kami coba jalankan. Kami pun memutuskan ke pelaminan tanpa proses pacaran. Setelah tiga bulan taaruf kami langsung menikah.

“Hah?” Jerit teman kuliah saya. “Lo gila ya? Lo kan ga tahu dia siapa? Trus lo mau nikah ama dia?

Saya mesem. “ Ya memang begitu. Tapi aku kan nggak bodoh. Aku juga sudah cari tahu tentang dia sebanyak-banyaknya. Dari keluarga, teman dekat, bahkan teman jauhnya,” kata saya nggak mau kalah. Saya geli sendiri mengenang ragam “inspeksi” yang saya lakukan untuk bisa tahu banyak hal mengenai Mas.

“Ya Allah, Vy, yang pacaran 5 tahun aja kadang belum berani nikah…?”

“Nah ntar takutnya giliran nikah, dah langsung bosen tuh…,” canda saya. “Kalau ini, aku suka…penuh misteri dan petualangan!”

“Vyyyyy. Gila bener deh Lo. Lo harus menyelami pribadi dia dulu biar nggak nyesel nanti.”

“Temanku pacaran tujuh tahun kurang “menyelam” apa ya?” canda saya, tapi serius. “Terus mereka nikah. Eh baru enam bulan malah cerai,” saya meringis.

O…o!

Bismillah. Kami akhirnya menikah. Dengan mahar yang orang bilang sederhana, murah. Seperangkat alat sholat dan cincin emas lima gram. Tapi makna di balik mahar itu buat saya luar biasa. Seperangkat peralatan sholat yang ia berikan, misalnya menunjukkan bahwa ia mengajak saya untuk benar-benar meniti jalan Illahi. Ia akan menuntun saya agar selalu dekat dengan Allah. Untuk mencintai apa yang Allah cintai dan menjauhi apa yang Allah murkai. Itu bermakna, ia menginginkan saya menjadi muslimah yang taat, yang mengerjakan, mendirikan, menegakkan sholat saya dalam diri, dalam keluarga, dan pada skala yang lebih besar, seperti masyarakat sekitar, bahkan mungkin ummat. Ya, sholat saya harus memiliki dampak dalam diri, keluarga dan masyarakat. Subhanallah. Dan cincin itu? Pengikat berkilau yang bisa dilihat banyak orang melingkar di jari saya, yang menandakan saya adalah pasangan seseorang. Di batin, cincin itu juga akan mengikat cinta kami.

Makanya ketika mendengar ada teman yang sudah mau menikah tapi “keberatan” mahal (alias maharnya mahal), kami cukup merasa prihatin.

“Calon istri saya bilang, yang bener aja masak lo ngargain gue segitu doang?” curhat seorang teman kami bingung. “Padahal saya sudah kasih dia cincin berlian yang mahal. Masak sih cuma cincin? Begitu dia bilang….”

Saya jadi ikut menarik napas panjang. Ini nih yang salah kaprah, mengaitkan harga diri perempuan dengan mahar. Padahal ya itu tadi, Rasulullah pernah berkata, bahwa sebaik-baik perempuan salah satunya adalah yang maharnya mudah.

Bicara soal mahar, saya jadi ingat salah satu adinda fillah saya. Suatu hari, ia mengirimkan naskah novel yang katanya akan diterbitkan. “Mbak, tolong ya beri endorsment. Ini novel perdana dan sangat berarti buat saya.”

Mengapa?

“Saya akan menikah, Mbak. Saya tidak punya sesuatu yang berharga maka saya berikan novel ini sebagai mahar bagi calon istri saya.”

“O ya? Subhanallah.”

Indah. Saya suka mendengarnya. Sebuah buku yang lahir dari pergulatan pemikiran dan perasaan, ditulis dari hati dan jiwa, sebagai sebuah mahar. Buku yang akan mempererat ikatan di antara diri, pikiran, hati dan jiwa mereka pula.
Menakjubkan.

Saya tulis sebuah endorsment tanda penghargaan saya untuk novel itu.
Mungkin sang penulis tak berpikir bahwa buku itu akan menjadi fenomenal dan meledak di pasaran, hingga dibuat soundtrack, bahkan filmnya. Begitu berminatnya masyarakat terhadap novel tersebut hingga banyak di antara mereka yang memutuskan pergi bersama sang penulis, mengunjungi tempat-tempat yang menjadi latar ceritanya.

Ya, saya rasa sang penulis mungkin tak pernah berpikir bahwa buku itu membawa rezeki dari Allah dan banyak keberkahan. Berkah sebuah mahar yang dulu diberikan dari hati
Habiburrahman El Shirazi, bagi Muyasarotun Sa’idah yang menerimanya dengan penuh ketulusan. Kini berkah itu bahkan berimbas pada sekitar mereka dan masyarakat Indonesia.
Lepas dari begitu banyak tanggapan atas novel tersebut, bagi saya, kisah Habib dan Sa’idah bahkan menandingi keindahan novelnya, mahar itu: Ayat-Ayat Cinta.

“Jadiiii, maksudnya, kamu juga ingin aku menulis buku untukmu?” Tanya Mas suatu ketika iseng, saat saya ceritakan kisah Habib dan istrinya.

Hmmmm…saya cubit lengannya manja. Yaaaaaa, mana ada istri yang nolak.dong. Kalau mahar sudah lewat, mungkin kado milad pernikahan? Batin say ge er. Kita lihat saja nanti. Tapi kalau buku itu betul-betul jadi, kira-kira buku apa ya? Saya pikir bukan novel. Mungkin buku tentang televisi hehehe atau novel tentang para jurnalis televisi? Dengan nama saya di halaman persembahan, tentunya…..Piiiiiiisss, Mas ;) (www.keluarga-samara.com)

Sumber : http://helvytr.multiply.com/journal/item/228/Mahar_

20 Tanggapan to “Mahar”

  1. Saya terkesan dgn kisah pernikahan anda yang prosesnya singkat tapi berlansung berumah tangganya awet. Memang kwalitas proses belajar dalam berpacaran tidak ditentukan oleh lama/ waktu yang digunakan, tapi sejauh mana keseriusan kedua belah pihak, untuk saling belajar, saling terbuka, perasaan masing2, termasuk kelemahan bahkan aib yang pernah dilakukan sebelumnya.

    Zaman sekarang sdh banyak keluarga muda, yang waktu pacarannya lebih lama dari mahligai rumah tangga itu sendiri, akhirnya anak yang korban.

    Btw bekas anak buah saya kemarin datang ke ruangan saya, minta advice karena istri minta cerai setelah status kerjanya kurang menjanjikan karena perusahaan semakin sulit. Tolong bantu saya memberikan advice terbaik untuknya. Kisahnya itu ada di blog saya: http//bersemilagi.blogspot.com . Terimakasih!

  2. ada lagu dari cros botom sembilan tahun lamanya…..pacaran tapi putus.. tragis sekali…dah berkorban apa aja tuh
    bahkan yang paling berharga…he…makanya pacaran adalah budaya jahiliyah mengapa kita tiru…islam Adalah cara dan budaya kita..

  3. henirusli said

    Saya seorang PNS. Salah satu pekerjaan saya di kantor yang dulu adalah memberikan penasihatan kepada para PNS yang akan bercerai (padahal saat itu saya belum menikah).
    Pernah ada klien yang ngotot untuk bercerai, padahal saat pernikahan mereka dulu, mas kawinnya (maharnya) adalah perhiasan mas seberat 150 gram (ck…ck…ck…), selain itu (berdasarkan cerita mereka), pernikahan mereka juga dilakukan melalui perjuangan yang berat, yaitu kawin lari.
    Tapi ternyata, mahar yang mahalpun tidak menjamin pernikahan mereka langgeng.
    Jadi menurut saya, yang terpenting adalah bagaimana niat kita sewaktu menikah itu. Apakah memang menikah ikhlas karena Alloh, atau karena hal lainnya. Jika memang ikhlas karena Alloh, semua proses, baik sebelum menikah, saat menikah, maupun saat menjalani kehidupan berkeluarga, Insyaalloh akan dibuat mudah dan dimudahkan oleh Alloh.

  4. dija said

    setuju banget deh artikel diatas….
    mahar tidak menjanjikan apapun
    walaupun sedikit tapi yang mau nikah punya ilmu
    insya allah itu yang akan menjadi bekal yang sangat mahal untuk semuanya

  5. retno said

    he2 saya jadi teringat masa2 saya menikah dulu…waktu itu saya menikah juga dengan mahar yang sederhana karena suami saya juga dari keluarga sederhana.Alhamdulillah sekarang kami berkecukupan dan mampu membeli sebuah rumah yang menurut saya lebih dari cukup, dan sesaat setelah menempatinya, suami saya (dengan sedikit bergurau) mengucapkan akad nikah yang dulu pernah ia ucapkan tapi dengan mahar rumah yang baru dibelinya itu. Saya sampai menitikkan air mata karena terharu dan bahagia.

  6. niez-nya adit said

    ah, saya juga maunya gitu…langsung nikah. cuma kepentok sama ortu yang minta nikahnya stelah lulus kuliya aja. uhuhuhuuu…

  7. Alex said

    metode islam sangatlah khas dan indah.
    Kalo di daerah sy tuh, kalo mw nikah harus nabung dulu mpe 6 taon baru bisa namanya juga negara sekuler

  8. goenk said

    bicara tentang mahar kalo di Aceh sudah kelewat batas. malahan ada masyarakat yang saling berlomba-lomba dalam menentukan mahar anaknya.
    sebagai contoh saya masyarakat umum sekarang mahar dihargai seberat 20 mayam emas (1mayam = 3,3 gram)

  9. semua artikel yg kubaca mengkisahkan istri sholehah mensyaratkan suami yang sholeh, keluarga sholeh, sodara sholeh. Ada ga kisah yang istri sholehah ya menikah dgn laki2 sholeh tapi dari keluarganya, sodaranya bahkan ga pada sholat?
    Pliis donk bagi2 motivasi

    jazakumullah

  10. ogit said

    Lagi nyari2 ide tentang mahar, Alhmdllh ketemu blog ini. Makasih untuk idenya ya..

    Respectly..

  11. puteri said

    Kalu minta mahar prestasi ikhwan boleh g?kan memotivasi tuh..
    misal, maharnya medali olimpiade sain?
    he5.
    maksa

  12. Assalamu’alaikum, Mbak Rosa…

    Kisah Mbak lumayan bagus, mudah2an memberi inspirasi untuk anak muda yang lain… bahwa untuk menikah jangan dipersulit seandainya syarat lain (misalnya; calon suami adalah pria yang sholeh) sudah terpenuhi. Cerita ini sebaiknya Mbak berikan saja untuk Mbak Asma Nadia, biar jadi salah satu bahan antologi cerita hati dari seorang isteri jilid 2.

    Wassalam

  13. Hilyatul Ulya said

    hmmmm,, calon suamiku tanya mahar,, aq jadi bingung…

    akhirnya cari inspirasi tentang mahar aja lewat dunia maya ni.. “alhamdulillah” makasih yaa inspirasinya ^^

  14. ditri said

    ahlmdulh ..bila maharnya murah..bingung klo minta yg mahal2 ..ya klo mampu klo nggak , smoga calon calon istri n calon2 suami memahami….^_^

  15. imas said

    wahh mbak, alhamduliiah ya.. insya allah itu semua adalah kesepakatan berdua juga…

  16. lukma said

    saya terharu membacanya… karena saat ini, sya mengalami hal yang sama, secara gitu lo… saya berpendidikan S 2 , aku sadari pasti ada orang yang berfikir “murah’ banget sih mahar lo…. but aku ngak peduli…. aku paham agama, ngerti syari’ah…. harga diriku tidak sebanding dengan apapun termasuk mahar itu tapi lebih dari itu…..

    semoga enjadi inspirasi/……

  17. abdul hamid said

    cerita ibu mengingatkan betapa dulu saya mempunyai pengalaman yang sama. Cukup tiga bulan menjalin hubungan dan terus menikah. Bagi saya pacaran bukanlah segalanya, karena sebelumnya saya pernah menjalin hubungan sampe lima tahun tapi kandas hanya karena sedikit berbeda pandangan soal masa depan. Tatkala mau menikahi sang istri, saya juga tanya dia mau minta apa : jawabannya persis seperti kata ibu dan malah tidak pake cincin. Maklum karena saat itu saya baru bekerja sebagai pegawai rendahan. Alhamdulillah sekarang kami dikaruniai tiga orang anak. Kisah ibu sungguh menyentuh perasaan saya yang paling dalam, tersadar betapa istri saya sangat mencintai saya : meski kadang pernah juga terlintas tuk me”madu”-nya. Terima kasih ibu, terima kasih atas ceritanya. Kisah ibu memberikan inspirasi bagi saya tuk terus menyayangi istri dan anak-anak, insyaallah Tuhan mendengar pengharapan ini.

  18. Delisa said

    assalamu’alaykum. Afwan…ijin nge-share ya. Semoga bermanfaat. Jazakallah..

  19. Rena said

    cincin 5 gram menurut saya mahal juga,saya ingat menikah dulu maharnya cuma 10rb

  20. anton said

    jd lega hbs baca arikel ini, jd terinspirasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: