Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Istana Kedua (Penerbit Gramedia, 2007)

Posted by Farid Ma'ruf pada Februari 29, 2008

Oleh : Helvy Tiana Rosa

Keluarga Samara. Menurut saya, Istana Kedua adalah novel terbaik Asma Nadia hingga saat ini. Awalnya novel ini merupakan tulisan bersambung di Majalah Ummi, namun ketika diterbitkan dalam bentuk buku, pengarangnya melakukan banyak revisi hingga novel ini terasa berisi dan kian menggigit. Saya berikan lima bintang untuk Istana Kedua. Mengapa?

istana-kedua.jpg1. Tema yang menarik dan “berani”. Novel tersebut berbicara mengenai poligami, sesuatu yang bisa jadi selalu hangat dibicarakan sampai kapan pun dalam kehidupan suami istri, dan dalam kehidupan bermasyarakat. Namun menariknya dalam buku ini Asma tak masuk pada wilayah pro kontra. Ia biarkan semua peristiwa dan tindakan yang dijalinnya dalam cerita meresap menjelma renungan bagi para pembacanya.2. Penokohan dengan karakter yang sangat kuat sehingga terasa betul bahwa semua tokoh yang diciptakan Asma, termasuk tokoh-tokoh utama (Pras, Arini, Mei Rose) memiliki nyawanya sendiri dan bergerak ke sana kemari tanpa bisa dikendalikan oleh pembaca. Tokoh-tokoh tersebut sangat khas dan jauh dari stereotip. Pembaca bahkan bisa dibuat simpati dengan tokoh antagonis Mei Rose. Pembangunan karakter disampaikan secara bertahap dan sangat halus hingga ketika tiba pada klimaks cerita, tokoh-tokoh tersebut terasa bulat dan utuh. Asma juga menciptakan tokoh cerita dalam cerita (berbingkai) yang ditulis tokoh Arini, yaitu Ratih. Kalau pembaca tak jeli, tokoh ini dikira sebagai perempuan biasa, teman Arini yang dikhianati suaminya. Padahal itu tokoh dalam novel yang ditulis Arini. Dalam “kerumitan” Asma membuat semua karakter mendapat ruangnya.

3. Teknik penceritaan yang berbeda dari kebanyakan novel yang ada. Asma menjalin ceritanyanya dengan menggunakan sudut pandang empat tokoh sekaligus yang dijalin lincah dan dibuat sengaja berlompatan. Semua bagai keeping puzzle yang harus diletakkan pembaca di ruang pikiran mereka sendiri. Susunan cerita yang dibangun secara acak, memaksa pembaca untuk terus berpikir dan merangkai sepanjang jalan cerita. Membuat cerita di dalam cerita, juga dilakukan Asma, bukan saja pada pemunculan tokoh Ratih dan kisahnya, namun juga secara cerdas mengaitkan semua cerita dengan dongeng-dongeng masa kecil para tokoh perempuannya.

4. Alur yang tidak linear, melompat-lompat dengan dinamis menjadi bagian dari teknik penulisan dan komposisi memikat yang dijalin oleh pengarangnya.

5. Pembaca juga akan disentakkan oleh banyaknya diksi yang indah dan tak biasa. Terasa betul Asma memikirkan diksi yang tepat untuk membangun semua unsur intrinsik yang terdapat dalam novel ini.

6. Pembaca tetap bisa mendapatkan bermacam hikmah tanpa merasa digurui sama sekali. Akhir cerita yang terbuka mengisyaratkan kerendahan hati sang penulis untuk menyerahkan semua pada tafsiran pembaca sesuai nurani dan wawasan mereka. .., sekaligus membuka peluang novel ini menjadi dwilogi, trilogi atau tetralogi.

Saya tidak akan terkejut kalau nanti novel ini mendapat banyak penghargaan. Selamat buat Asma! (www.keluarga-samara.com)


Sumber : http://helvytr.multiply.com/reviews/item/12/Istana_Kedua_Penerbit_Gramedia_2007_Asma_Nadia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: