Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Sekolah Rumah, Mengapa tidak?

Posted by Farid Ma'ruf pada Januari 28, 2008

Baiti Jannati. Ada tren baru di dunia pendidikan. Anak tak lagi disekolahkan di sekolah formal, tapi hanya belajar di rumah. Model pendidikan ini mulai tumbuh di Indonesia. Itulah homeschooling alias sekolah rumah. Salah satu tokoh yang menerapkan model pendidikan ini kepada anaknya adalah Kak Seto.

Dengan model seperti ini anak hanya belajar di bawah kendali orang tuanya. Gurunya adalah orang tuanya. Walaupun orang tua menjadi penanggung jawab utama homeschooling, tetapi pendidikan homeschooling tidak hanya dan tidak harus dilakukan oleh orang tua. Selain mengajar sendiri, orang tua dapat mengundang guru privat, mendaftarkan anak pada kursus, melibatkan anak-anak pada proses magang dan sebagainya.

Sesuai namanya, proses homeschooling memang berpusat di rumah. Tetapi, proses homeschooling umumnya tidak hanya mengambil lokasi di rumah, tapi juga di mana saja yang memungkinkan anak belajar.

Banyak alasan orang tua memilih homeschooling. Di antaranya, ingin meningkatkan kualitas pendidikan anak,  tidak puas dengan kualitas pendidikan di sekolah regular, orang tua sering berpindah-pindah atau melakukan perjalanan,  keamanan dan pergaulan sekolah tidak kondusif bagi perkembangan anak, menginginkan hubungan keluarga yang lebih dekat dengan anak. Selain itu, sekolah yang baik semakin mahal dan tidak terjangkau, anak-anak memiliki kebutuhan khusus yang tidak dapat dipenuhi di sekolah umum, ada keyakinan bahwa sistem yang ada tidak mendukung nilai-nilai keluarga yang dipegangnya, dan orang tua merasa terpanggil untuk mendidik sendiri anak-anaknya.

Metode pendidikan ini sangat tergantung pada orang tua. Di luar negeri, berdasarkan sebuah riset, mayoritas homeschoolers (71 persen) memilih sendiri materi pengajaran dan kurikulum dari yang tersedia, kemudian melakukan penyesuaian agar sesuai dengan kebutuhan anak-anak, keadaan keluarga, dan prasyarat dari pemerintah.  Selain itu, 24 persen di antaranya menggunakan paket kurikulum lengkap yang dibeli dari lembaga penyedia kurikulum dan materi ajar. Sekitar 3 persen menggunakan materi dari sekolah satelit (partner homeschooling) atau program khusus yang dijalankan oleh sekolah swasta setempat.

Makanya, semuanya tergantung pada orang tua. Berbeda dengan sekolah, di mana orang tua harus mengeluarkan sebuah biaya tetap yang telah ditetapkan (biaya gedung, seragam, buku, iuran bulanan, dsb), para praktisi homeschooling memiliki fleksibilitas untuk menentukan jumlah biaya yang harus dikeluarkan untuk anak-anak. Tapi yang perlu diingat, homeschooling tidak gratis karena orang tua tetap membutuhkan materi-materi untuk pendidikan anak-anak dan memperkaya pengetahuan orang tua. Homeschooling dapat menjadi murah kalau orang tua dapat memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya, misalkan barang-barang yang di rumah, keluarga, teman, tetangga, dan fasilitas-fasilitas umum. Orang tua juga tidak harus membeli, tetapi dapat meminjam, membeli barang bekas, melakukan daur-ulang (recycle), dan sebagainya.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana nanti untuk mendapatkan legalitas/-mendapatkan ijazahnya? Jika ijazah untuk Perguruan Tinggi yang menjadi kebutuhan, praktisi homeschooling dapat mengikuti ujian kesetaraan (Paket A, B, C) dan melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi seperti pendikan reguler pada umumnya. Tapi jika sertifikat yang menjadi pintu profesi, praktisi homeschooling dapat mengikuti kursus dan program sertifikasi yang banyak diselenggarakan oleh asosiasi profesi atau perusahaan swasta tertentu.

 Profesi-profesi berorientasi output semakin luas dan memiliki masa depan yang cerah misalnya: bisnis, komputer, marketing, fotografi, entertainment, tulis-menulis, desain, dan sebagainya. Karenanyanya, homeschooling memiliki potensi besar untuk mengembangkan kemampuan dan keahlian anak-anak.[Mujiyanto/www.sekolahrumah.com/www.suara-islam.com]

5 Tanggapan to “Sekolah Rumah, Mengapa tidak?”

  1. mutiara said

    subhanallah bagus banget ini

  2. akmal said

    Konsep sekolah rumah sudah di buat oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya. Para sahabat mendidik anak2 mereka di rumah, sehingga dahulu tidak di kenal sekolah, universitas, madrasah, dsb. Mereka hidupkan talim di rumah mereka masing2, sehingga lahir dari rumah sahabat seorang a’lim, hafidz, mujahid, dsb. Konsep inilah yang membawa kejayaan islam.

  3. sugieanto said

    subhanallah bagus dan sesuai dg syariat islam nich..boleh dicoba dirumah..oh y ada syartny apa tidak jk mndirikan sekolah rumah ini..terima kasih

  4. nani said

    saya tertarik untuk menerapkan metode sekolah rumah ini pada anak-anak saya, tapi di daerah saya belum terlalu dikenal khalayak. Kebetulan kami baru pindah ke kab rejang lebong, propinsi Bengkulu, dimana metode ini masih asing bagi banyak orang. Bagaimana saya harus memulai, mohon sarannya.

  5. husin said

    assalamualaikum….boleh saya minta no hpnya..?jika ada yg telkomsel….saya ingin berkosultasi ttg pendidikan anak sata..terima kasi wassalam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: