Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Suami Istri Kompak ? Wah…,Harus Itu!

Posted by Farid Ma'ruf pada November 27, 2007

baitijannati. “Mama nggak usah turut campur deh dengan urusan-urusan papa. Yang penting papa bisa kasih duit cukup, dan pekerjaan mama cukup mengurus rumah ini dengan baik,”ungkap Ardi. Nina, sang istri pun hanya terdiam dalam pilu mendengar kata-kata yang meluncur deras dari suaminya.

Di hadapan istrinya, Rinto menegaskan,”Mama kemanakan sih uang yang papa kasih? Kok selalu tidak cukup. Memangnya cari duit itu gampang?”ungkap Rinto dengan nada marah. Dan Tias pun tak kalah berangnya menanggapi omelan suaminya,”Dulu Mas yang minta aku berhenti kerja. Kalau tidak kan nggak akan seperti ini. Aku juga bisa kok cari duit sendiri, supaya aku nggak terlalu tergantung padamu.”
Tak kalah hebohnya adalah apa yang dikatakan Elen kepada suaminya,”Mas, krisis ekonomi semakin menggila. Gaji Mas pas-pasan. Sudahlah… biar aku saja yang kerja. Dengan jabatanku sebagai manajer di perusahaanku, kesulitan ekonomi rumah tangga kita akan beres. Sekarang Mas saja yang ngurusin anak-anak di rumah”
Pertengkaran-pertengkaran kecil semacam ini, barangkali sering kita dengar di dalam sebuah kehidupan suami istri. Suami tak puas dengan apa yang dilakukan istri, pun demikian, istri pun tak puas dengan apa yang dilakukan suami. Akibatnya, antara suami dan istri senantiasa saling tuntut-menuntut. Suami merasa dirinya capek karena harus mencari nafkah untuk menghidupi istri dan anak. Istri pun merasa sudah begitu letih disibukkan oleh setumpuk pekerjaan kerumahtanggaan yang rasanya tak ada habis-habisnya. Kalau sudah demikian, pertengkaran adalah perkara yang sangat mudah terjadi. Rasanya tak ada lagi kebahagiaan yang mampu diharapkan dari kebersamaannya sebagai suami-istri. Yang tersisa hanyalah kekecewaan. Mengapa ini bisa terjadi?
Jika kita renungkan dalam-dalam, kehidupan suami-istri adalah kehidupan yang dari awal telah dirancang dan disepa-kati oleh dua insan untuk mewujudkan kebahagiaan, ketenangan dan kasih sayang. Namun, seringkali berbagai harapan keindahan itu sirna ditelan oleh pertengkaran-pertengkaran yang berawal dari ketidakpahaman baik pihak suami maupun istri akan arti sebuah pernikahan.
Islam sebagai sebuah aturan kehidupan telah memesankan bahwa sebuah kehidupan berjudul “suami-istri” adalah kehidupan “persahabatan”, dan bukan “kemitraan”. Berbeda dengan kemitraan yang lebih bernuansa perhitungan untung-rugi – layaknya sebuah perdagangan. Kehidupan persahabatan yang terjalin diantara suami-istri tidak didasarkan pada ada tidaknya keuntungan ataupun kerugian dari kebersamaan mereka. Suami sebagai sahabat sejati bagi istri, pun sebaliknya istri sebagai sahabat sejati bagi suami dimaksudkan untuk mewujudkan sebuah kedamaian dalam kebersamaan kehidupan yang mereka jalani.
Pintu pernikahan yang telah mendudukkan mereka sebagai pasangan suami istri akan menjadikan suami merasa tenteram dan damai di sisi istrinya, begitu pula sebaliknya, seorang istri akan merasa damai dan tenteram di sisi suaminya. Karena watak asli sebuah pernikahan adalah “ketenteraman”.
Islam telah menggariskan apa-apa yang menjadi hak istri atas suaminya dan hak suami atas istrinya. Seorang suami oleh Islam telah diberikan hak untuk menduduki posisi sebagi pemimpin rumah tangga. Namun, dengan posisi ini suami tidaklah lantas bertindak secara otoriter bak seorang raja yang tak bisa dilanggar perintahnya. Seorang istri berhak untuk menjawab atau menanggapi ucapan suaminya, berdiskusi dengannya serta membahas apa saja yang dikatakannya. Sebab pada dasarnya keduanya adalah dua orang sahabat, bukan pihak yang memerintah dan diperintah, bukan atasan dan bawahan.
Memang benar, kewajiban nafkah ada di pundak suami, sehingga secara ekonomi seorang istri pasti sangat bergantung kepada sang suami. Masalah ekonomi oleh banyak kalangan sering diidentikkan dengan masalah “hidup dan mati”, lantaran menyangkut urusan “perut” yang tidak bisa ‘tidak dipenuhi’. Meski nafkah adalah urusan yang sangat urgen menyangkut “hidup dan mati”, namun kondisi ini bukan berarti membolehkan suami berlaku layaknya seorang majikan yang bebas memperlakukan istri semaunya sendiri, menjadikannya sebagai alasan untuk berbuat semena-mena terhadap istri, mengancam ataupun mencela istri lantaran kehidupan istri ada di tangannya.
Islam mengajarkan kepada seorang suami untuk bersikap lemah lembut kepada istri, menghargai istri, penuh kasih sayang serta menjauhkan diri dari sikap ororiter dan semena-mena. “Janganlah kalian pernah mengetuk pintu rumah (istri) pada malam hari sampai wanita itu menyisir rambutnya yang kusut dan istri yang ditinggal suaminya itu mempercantik diri.” Hadits ini menggambarkan betapa seorang suami diajarkan untuk berbuat baik pada istrinya.
Sebagaimana Islam meletakkan kewajiban nafkah di pundak suami, Islam sekaligus menempatkan seorang istri sebagai penanggung jawab urusan rumah tangga suaminya. Istrilah yang harus mengelola segala perkara yang menyangkut kerumahtanggaan dengan sebaik-baiknya. Diakui, tugas istri tidaklah ringan. Mulai dari melayani keperluan suami, menun-taskan pekerjaan-pekerjaan rutin seperti menyiapkan makanan sekeluarga, membe-reskan pakaian, merapikan rumah, menja-ga kebersihan rumah dan lingkungan, sampai memegang tanggung jawab penuh dalam pengasuhan dan pendidikan anak.
Dengan peran ini, seorang istri tidak boleh berpikiran bahwa dirinya telah diposisikan sebagai “babu” lantaran jenis-jenis pekerjaan kerumahtanggaan yang dibebankan kepadanya. Para istri jangan sampai termakan oleh anggapan-anggapan yang berkembang di masyarakat bahwa pekerjaan seorang istri dalam lingkungan rumah tangga (domestik) dianggap pekerjaan yang “kurang bergengsi”. Justru dalam kaca mata Islam, peran istri dinilai sangat mulia. Peran istri tak pernah bisa dinilai dengan uang. Bayangkan dengan peran yang disandangnya untuk hamil, menyusui, mengasuh, mendidik dan membesarkan anak, perusahaan mana yang mampu menggaji pekerjaan sehebat itu? Jika seorang istri memahami peran tersebut, niscaya ia akan begitu banyak bersyukur telah dipercaya untuk mengemban peran besar tersebut.
Begitulah Islam memberikan koridor pembagian peran suami-istri dalam sebuah kehidupan rumah tangga. Jika hal ini dipahami baik oleh suami maupun istri, maka kasus-kasus pertengkaran semodel kasus di atas tak akan pernah terjadi. Jika demikian, model rumah tangga sakinah mawadah wa rahmah tentu akan mudah diwujudkan. (Arini/FR) (www.baitijannati.wordpress.com)

3 Tanggapan to “Suami Istri Kompak ? Wah…,Harus Itu!”

  1. Insya Allah…amin..
    Alhamdulillah, terima kasih atas artikelnya🙂

  2. Endang Suryana said

    subhanallah,, baik sekali masukannya

  3. jingga said

    Maaf saya jadi ingin bertanya nih…KOndisi yang anda ceritakan di atas kan kondisi ideal sebuah rumah tangga. dewasa ini kan yang terjadi istri banyak bekerja di luar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Bahkan banyak suami yang akhirnya menganggur karena persaingan kerja yang makin berat. Lalu bagaimana sebaiknya posisi istri ..? apa masih harus kerja untuk di rumah dan di luar..sementara si suami kongkow di rumah saja? Apa pantas suami juga mengerjakan pekerjaan rumah tangga mengantikan istri. Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: