Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Mendorong Si Buyung Bersaing

Posted by Farid Ma'ruf pada November 27, 2007

baitijannati. Berbagai ajang adu kreativitas anak saat ini telah memikat minat para orang tua. untuk mengikutsertakan buah hati mereka pada aneka macam perlombaan, dengan harapan si anak terasah bakat keterampilannya. Bagaimana menyikapi kompetisi agar bermanfaat bagi perkembangan jiwa si kecil?

Irvan tiba-tiba ngadat tidak mau menyanyi lagi. Padahal sebelumnya, anak ini sangat antusias setiap didaulat agar mengeluarkan suara emasnya. Menurut keterangan sang ibu, Irvan mulai ogah menyanyi sejak dia kalah di kompetisi menyanyi anak-anak yang diadakan oleh sebuah TV swasta.
” Hampir satu tahun anak saya mogok total tidak mau menyanyi lagi. Mungkin kekalahan itu demikian membekas dan mempengaruhi rasa percaya dirinya,” tutur sang bunda. Memang, kala di atas panggung, Irvan tidak menangis saat diputuskan juri untuk meninggalkan arena lomba. Tapi saat di belakang panggung, ia menangis sejadi-jadinya dan mengaku malu karena disorot kamera dan ditayangkan di seluruh Indonesia.
Readers, tak selamanya berbagai variasi kompetisi yang ada saat ini berbuah manis bagi pesertanya. Kompetisi, sekalipun memberikan manfaat namun tetap membutuhkan rambu-rambu pemahaman untuk tiap pihak yang terlibat di dalamnya. Baik pesertanya, lingkungan pendukung (orang tua atau guru) ataupun panitia pelaksananya. Dengan adanya kesatuan pemahaman dan penanganan, kompetisi yang berdampak negatif dapat ditekan seminimal mungkin.

Bersaing Adalah Naluri

Sebenarnya, tanpa diusahakanpun, keinginan untuk bersaing telah ada secara alami pada manusia secara umum. Anak-anak mulai menampakkan naluri untuk bersaing dalam bentuknya yang sederhana. Naluri bersaing nampak di saat dia mulai membandingkan tinggi badannya dengan tinggi badan teman sepermainannya. Atau di saat dia nampak bersemangat berlomba lari agar lebih cepat sampai di lapangan bola. Bahkan, suasana persaingan akan selalu ada di setiap tahap pertumbuhan dan perkembangan anak-anak.
Setiap anak dikaruniai naluri untuk mempertahankan diri. Karena adanya naluri ini, anak-anak akan membangun ego dan mencari identitas diri. Menurut Dr. Hermann Scheuerer-Englisch, psikolog dan ahli pendidikan anak di Jerman, sejak usia 3 tahun, seorang anak sudah memiliki rencana-rencana, tujuan-tujuan dan harapan-harapan sendiri. Oleh karena itu, anak-anak selalu ingin mendapatkan pengalaman sebanyak-banyaknya dan kesempatan untuk banyak mencoba. Dengan membuktikan diri bisa menentukan sesuatu sendiri atau bisa lebih baik dari yang lain, si balita merasa keberadaannya sebagai manusia diakui.
Aroma persaingan akan semakin menguat manakala anak telah mulai bersosialisasi atau berkelompok. Di saat anak-anak telah masuk TK dan bertemu dengan sejumlah anak seusianya, maka biasanya mereka memulai pengembangan konsep diri yang realistis. Mulailah si kecil membandingkan setinggi apa gunung pasir yang mampu dibuatnya, balok yang bisa disusunnya dsb.
Bagi balita, keberhasilan dan kegagalan dapat langsung terlihat karena hampir semua perbandingan dalam bentuk pencapaian bersifat fisik. Misalnya, ketrampilan melompat, lari atau memanjat. Dengan penilaian terhadap cepat-lambatnya lari, tinggi-rendahnya lompatan dan ukuran lainnya, balita akan merasa nyaman, karena penilaian dibuat oleh mereka sendiri. Dengan membandingkan diri sendiri terhadap teman-teman seusianya maka anak-anak akan belajar menghadapi keberhasilan dan kegagalan. Mereka belajar bahwa setiap anak dapat melakukan atau tidak dapat melakukan sesuatu.
Kompetisi kecil-kecilan, sebenarnya juga mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan seringkali merupakan inisiatif orang tua sebagai trik untuk mencapai tujuan. Seperti, “Siapa yang mau mandi lebih dulu, mama buatin susu coklat.” Atau ” Siapa yang makannya nambah, boleh “ Persaingan seperti itu, terbukti manjur dan seringkali dilakukan oleh orang tua. Hanya saja, agar anak-anak tidak haus kompetisi, ingin menang sendiri atau jadi anak berpamrih, sebaiknya cara ini hanya digunakan sekali-sekali.
Semakin hari, seiiring dengan pertambahan usianya, anak-anak yang beranjak dewasa ini akan memahami bahwa persaingan di dalam kehidupan nyata semakin bervariasi dan menyesakkan dada. Anak-anak ini harus mulai belajar menghadapi apa yang terjadi di dunia nyata. Secara nyata pula, dia harus bersaing agar dapat bertahan dan menjadi pemenang di masa depan.

Kompetisi Bermasalah

Sekalipun keberadaannya alamiah, naluri untuk bersaing membutuhkan pengelolaan dan pengaturan khusus. Karena, jika tidak, tak ayal kisah di atas dapat terjadi pada anak kita. Alih-alih bakat alamya, yang didapat justru rasa rendah diri yang semakin parah.
Jika kita mengamati berbagai fenomena ajang adu kreativitas yang ada saat ini memang sarat dengan praktek-praktek yang tidak mendukung perkembangan jiwa anak. Ajang perlombaan untuk anak biasanya justru sering digunakan sebagai ajang adu gengsi para orang tuanya. Maka tak mengherankan, jika orang tualah yang uring-uringan kala sang anak gagal untuk memenangkan kompetisi.
Komersialisasi juga melanda ajang adu kreativitas ini. Tak sedikit orang tua yang sengaja mengikutsertakan anaknya karena tergiur dengan hadiah yang lumayan besar atau terbukanya peluang untuk menjadi artist atau orang terkenal dan sukses secara materi. Seperti ajang penyanyi cilik, artist cilik yang ada saat ini.
Selain itu, suasana kompetisi terkadang juga tidak mendukung peserta agar menerima kekalahan atau kemenangan secara wajar saja sebagai konsekwensi dari suatu perlombaan. Kasus Irvan di atas, misalnya. Kekalahan didramatisir sedemikian rupa sehingga peserta yang kalah seakan-akan ditelanjangi di depan penonton. Demikian pula sebaliknya. Peserta yang beruntung dan menang dielu-elukan dan dihujani ucapan selamat layaknya pahlawan yang memenangkan peperangan. Sentuhan entertain yang terlalu berlebihan, membuat jalannya kompetisi tidak sehat dan tidak alami.
Demikian halnya dengan sistem penilaian yang dilakukan oleh para juri. Terkadang, standart penilaian yang digunakan tidak sesuai dengan tahap perkembangan kemampuan anak. Misalnya, standart sebuah gambar dinyatakan bagus untuk anak-anak TK dalam lomba mewarnai, tentunya tidak terletak pada kemiripan gambar tersebut dengan aslinya. Tapi lebih tepat jika menilainya pada tingkat kerapian dan kebersihan. Kesalahan penetapan standart penilaian hanya akan menghambat kreativitas dan kompetisi tidak mampu mendorong anak meningkatkan ketrampilan dan kemampuannya. Standart penilaian yang asal-asalan tidak akan mampu mendukung anak agar berprestasi sesuai dengan tahap perkembangannya.

Persaingan Sehat

Membiarkan sebuah persaingan berjalan sealamiah mungkin, tanpa campur tangan orang dewasa akan mampu mendorong anak meningkatkan kemampuan dan menempa daya juang mereka. Inilah yang disebut dengan persaingan sehat.
Persaingan di antara anak-anak perlu dibersihkan dari campur tangan orang dewasa. Karena ukuran anak-anak dibandingkan orang dewasa sangat berbeda dalam urusan persaingan. Anak-anak menganggap persaingan tak lebih sebagai bagian dari kegiatan bermain. Mereka tak sakit hati, malu atau dendam jika harus mengalami kekalahan. Merekapun tak berpikir rumit untuk berusaha memenangkan persaingan.
Selain mengakomodasi keinginan anak untuk bersaing, para orang tua hendaknya juga mengasah keterampilan anak berkegiatan secara kelompok. Dengan demikian, anak-anak dapat belajar bahwa dalam banyak hal ia harus dapat bekerjasama dan tidak saling membandingkan dan mengalahkan teman-temannya.
Keinginan bersaing diiringi pemahaman penting dan perlunya berkegiatan secara kelompok membuat anak mampu bersikap proporsional dalam kehidupan nyata. Anak-anak akan mampu memilah san memilih hal-hal yang perlu dipersaingkan dan hal-hal yang harus dilakukan dengan kerjasama. Jika anak telah memahami hal ini, maka ia akan menjadi pemenang dan akan mampu bertahan di dunia nyata. (Shal/FR) (www.baitijannati.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: