Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

PERKAWINAN YANG SETARA

Posted by Farid Ma'ruf pada November 14, 2007

Oleh : Ummu Mumtazah

baitijannati. Tidak jarang seorang wanita akhirnya menjadi seorang feminis setelah pada saat menjalani kehidupan pernikahan mereka mengalami apa yang disebut pengalaman “klik”. Yakni pengalaman yang tiba-tiba membuka mata mereka akan pentingnya sebuah kondisi “perkawinan yang setara”.Misalnya saja: Para Isteri merasa diabaikan untuk kesekian kalinya di sebuah acara ceremony hanya karena dia hanya memiliki jabatan sekedar”isteri si Anu” bukan seorang profesional sehingga dianggap tidak tahu apa-apa. Suami menyodorkan setumpuk pakaian untuk di cuci dan disetrika, kemudian manakala seorang isteri kerepotan menghadapi tugas-tugas rumah tangga ,kelelahan mengasuh anak-anak yang masih fase aktif(balita), mengantar anak-anak pergi ke sekolah atau les, pada saat yang bersamaan mereka merasakan betapa nyamannya kehidupan suami di luar sana dapat berinteraksi dengan siapapun, bebas mengekspresikan karyanya dan diberi penghargaan oleh orang banyak baik dalam bentuk materi maupun status sosial. Tiba-tiba saja para Isteri menyadari bahwa hidup mereka hanya bak seorang pembantu dan seorang sopir. Mau dikemanakan hidupku ini demikian tanya dalam hati mereka. Padahal mereka adalah wanita yang berpendidikan. Dan kemudian semuanya langsung”klik”.

Akhirnya seorang Isteri akan berupaya untuk mengubah keadaan mereka yang pasif dan terkesan hanya menguntungkan pihak suami . Semuanya harus berubah.Mereka akan mulai mendahulukan keinginan dan impian mereka daripada impian keluarga. Mulailah pentingnya prinsip-prinsip kesetaraan dalam rumah tangga terasa menjadi penting dan mendesak dan akhirnya dilakukanlah langkah-langkah agar perkawinan terasa seimbang. Siapa yang menjadi kepala Rumah tangga adalah suami dan isteri, nafkah bukan hanya tanggung jawab suami namun Isteri juga dapat di anggap sebagai pencari nafkah. Yang bertanggung jawab dalam urusan rumah tangga termasuk pengasuhan dan pemeliharaan anak, suami isteri harus berbagi secara seimbang. Kapan harus memiliki momongan harus berdasar kesepakatan.Dengan begitu diharapkan sebuah perkawinan yang ideal yaitu setara peran, setara ekonomi, setara dalam meraih kesempatan berkiprah disektor publik.

Pada masyarakat Barat Laki-laki dikatakan sebagai pria modern jika dia mempunyai pandangan bahwa perkawinan bukanlah kesepakatan memberi nafkah dengan imbalan dilayani di rumah. Bahkan tidak jarang kaum pria disana berangan-angan memiliki seorang Isteri yang berpenghasilan tinggi, dengan begitu dia akan hidup lebih nyaman di bandingkan hidup dengan penghasilan sendirian.

Jika dilihat sepintas lalu konsep perkawinan yang mementingkan nilai-nilai kesetaraan terasa baik dan menjanjikan sebuah kebahagiaan yang ideal baik bagi suami-isteri dan juga sebuah keluarga. Tidaklah mengherankan jika kemudian model perkawinan yang didalamnya terdapat pembagian peran yang baku seperti misalnya dalam pandangan agama Islam kewajiban suami untuk memberi nafkah dan memimpin dalam keluarga, sementara bagi isteri hanya mubah dan wajib taat sepanjang bukan maksiat mulai digugat. Relasi rumah tangga yang diinginkan adalah setara, dan untuk mengokohkan pendapat demikian gagasan fiqh Islam yang established dalam relasi suami-isteri direkonstruksi agar sejalan dengan gagasan kesetaraan.

Danielle Crittenden seorang kritikus sosial berkebangsaan Amerika dalam bukunya yang berjudul What Our Mothers didn’t Tell Us:Why Happiness Eludes the Modern Women. Mencoba memaparkan beberapa konsekwensi yang harus dibayar oleh pria dan wanita yang menganut konsep perkawinan yang setara ini. Menurutnya bagaimanapun individualis dan ambisiusnya seorang wanita, mereka tetap mengharapkan keberadaan pria yang setia padanya, sanggup menafkahi keluarganya dan merupakan ayah yang baik, penuh cinta dan tetap akan bersama Isterinya hingga akhir hayat. Namun kualifikasi pria demikian akan sulit diperoleh dalam perkawinan yang mengedepankan kesetaraan dan kehidupan perkawinan akan menjadi tidak menarik lagi bahkan penuh dengan tekanan.

Generasi para Isteri niat utamanya dalam perkawinan bukanlah merawat keluarga, melainkan merawat dan melindungi otonomi diri sendiri. Karena mereka menginginkan menjadi individu yang mandiri dan bebas.Kaum wanita modern memiliki harapan mereka tidak ingin melakukan apa-apa bagi untuk pria tetapi berharap kaum pria melakukan banyak hal bagi mereka. Bagaimana mungkin mengharapkan suami berbuat banyak sementara para isteri tidak mau berbuat banyak?

Baik suami maupun isteri dalam konsep perkawinan yang setara tentu menginginkan perkawinan yang abadi namun hal itu akan sangat sulit diperoleh karena begitu keras kepalanya mereka mempertahankan diri sebagai individu yang mandiri dan berbeda didalam sebuah lembaga yang menuntut hal sebaliknya yang mengharuskan adanya perpaduan dua jati diri. Jati diri suami dan Isteri yang disana akan terdapat pengorbanan yang tidak selalu sama dan setara jika kita menginginkan perkawinan yang abadi.

Memang kesetaraan dalam perkawinan akan melahirkan suami yang ”penolong” dalam sektor domestik dan terkesan berpandangan lebih adil, bersamaan itu pula dengan mendorong pria dan wanita untuk menuntut kesetaraan yang persis seimbang dalam suatu perkawinan sebenarnya kita telah membiarkan wanita dan anak-anak lebih mudah menjadi korban suami. Mengapa? karena wanita akan kehilangan hak pilihnya untuk merawat dan membesarkan anak-anaknya

Aktivitas menjadi isteri bagi suami dan Ibu bagi anak-anak telah ”dipersepsikan” bernilai non ekonomis. Seorang suami tidak akan lagi memberi penghargaan , karena isteri lebih dihargai jika memberi nilai ekonomi bagi keluarga. Akhirnya para wanita terpaksa terus bekerja karena takut, dalam waktu sepuluh atau duapuluh tahun mendatang, mereka bercerai dan mendadak membutuhkan pengalaman kerja yang mungkin telah mereka kesampingkan untuk membesarkan anak-anak.Dan, para wanita yang memutuskan untuk berhenti bekerja demi mengurus anak-anak sering dibuat merasa ganjil oleh orang-orang sekitar termasuk oleh suaminya sendiri! Karena suami akan merasa diperlakukan tidak adil dan tidak sama jika harus menanggung nafkah sendirian.

Sejatinya sebuah perkawinan yang sukses tak ada kaitannya dengan menggapai kesetaraan dengan suami atau sebaliknya karena yang berperan adalah sikap memahami, dan menerima, sikap mengalah dan pengorbanan yang muncul karena perbedaan gender, seperti Isteri lebih banyak terlibat dalam pengasuhan dan pendidikan anak, suami yang lebih banyak terlibat dalam menafkahi keluarga.Perkawinan lebih dari sekedar siapa yang membayar listrik dan siapa yang membayar kredit cicilan rumah, membagi dua tagihan, berakhir pekan bersama. Perkawinan bukan pula hanya sekedar kepuasan individual dan sekedar kecocokan melainkan tentang hidup dan mati, darah dan pengorbanan, tentang masa depan generasi dimasa kini dan dimasa mendatang dan bagaimana kehidupan kelurga kita diakhirat kelak. Wallahu’alam. (www.baitijannati.wordpress.com)

Satu Tanggapan to “PERKAWINAN YANG SETARA”

  1. Alangkah indahnya jika pernikahan itu dilandasi oleh sebuah cita-cita mulia, menegakkan islam dari lingkungan terkecil yg bernama Keluarga…

    Semoga Allah beri petunjuk dan kekuatan bagi kita kearah sana..Insya Allah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: