Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Mama Defacto

Posted by Farid Ma'ruf pada Juni 26, 2007

Oleh : Jamil Azzaini 

baitijannati. Berita Pembantu Rumah Tangga (PRT) selalu menyedihkan. Seperti Ceriyati (34) PRT yang melarikan diri dengan bergelantungan dari lantai 15 hingga lantai 12 di apartemen majikannya di Malaysia. Ceriyati dan PRT di bebagai negara disiksa, disia-sia, ditelantarkan. Derita mereka (terutama yang di Hongkong, Makao, Malaysia) bisa saya rasakan, karena mereka sering curhat dengan saya.

Sesungguhnya, mereka tidak layak mendapat perlakukan seperti itu. Peran mereka di rumah tangga majikannya sangatlah bermakna. Mereka menjadi ibu yang defacto (ada di hati dan pikiran) putera-puteri majikannya. Sementara sang majikan justru hanya menjadi orang tua dejure (orang tua biologis semata).

Simaklah kisah Asih yang menjadi PRT di Malaysia. Kisah ini saya peroleh dari teman yang tinggal di Malaysia. Asih berasal dari Jawa Tengah. Majikannya (suami-istri) bekerja. Sepasang suami-istri yang super sibuk itu memiliki satu orang anak yang sangat cantik, Nurbaiti namanya.

Asihlah yang mengajarkan Nurbaiti baca Al Qur’an, mengajarkan sholat, menemani belajar, memberikan apresiasi bila gadis mungil itu meraih prestasi. Sementara kedua orang tua Nurbaiti sibuk mengejar harta dan tahta. Secara batin, Nurbaiti lebih dekat dengan Asih ketimbang kedua orang tuanya.

Suatu ketika kedua orang tua Nurbaiti mampu membeli mobil kelas menengah. Nurbaitipun ikut senang. ”Malaikat” kecil itu menuangkannya dalam bentuk mengambar mobil baru itu dalam secarik kertas. Nurbaiti memberikan warna-warni yang indah. Ia ingin memberikan gambar mobil itu kepada mamanya. Ia ingin mamanya bahagia. Ia ingin mamanya tahu bahwa ia mampu menggambar mobil barunya.

Nurbaiti menanti mamanya pulang kerja. Begitu terdengar suara mobil di depan rumah, Nurbaiti bersiap-siap di depan pintu ruang tamu dengan mendekap gambar mobil itu. Ia ingin membuat kejutan buat mamanya. Tatkala pintu rumah terbuka, langsung Nurbaiti berkata ”Mama, aku ingin menunjukkan sesuatu kepada mama”

Tanpa peduli dengan perasaan darah dagingnya, wanita karir itu menjawab, ”jangan sekarang ya, mama lagi capek.” Mendengar jawaban itu, hati Nurbaiti terluka. Ia sedih. Gadis kecil itu berlari menuju kamar Asih, ia menangis dalam pelukan sang pembantu. Nurbaitipun akhirnya tertidur dalam pelukan Asih.

Keesokan harinya, Nurbaiti bangun lebih pagi. Dengan hati yang masih terluka ia pergi ke taman, mencabut bunga-bunga berduri. Dengan dua genggam bunga berduri di tangan, ia goreskan bunga itu ke mobil baru orang tuanya. Nurbaiti tak peduli tangannya berdarah, dia terus menggoreskan bunga itu, hingga sebagian besar badan mobil tergores.
Ketika orang tuanya hendak berangkat kerja, terkejutlah mereka. Ibunda Nurbaiti tak bisa menahan emosi. Ia cari Nurbaiti dan ia pukul tangan Nurbaiti berulang kali. Darah segar mengalir kembali di tangan Nurbaiti. Dengan hati kesal, mereka berangkat kerja meninggalkan Nurbaiti yang menangis dalam pelukan Asih.

Hari berganti hari, ternyata luka di tangan Nurbaiti tak kunjung sembuh bahkan semakin parah. Nurbaitipun akhirnya dirawat di rumah sakit. Karena luka tangan itu semakin membusuk dan meluas, dokter memutuskan, tangan kanan Nurbaiti harus diamputasi. Kedua orang tuanya, sedih, menyesal dan tak bisa berbuat apapun. Mereka pasrah.

Setelah 22 hari di rawat di rumah sakit, perban di tangan Nurbaiti dibuka. Terkejutlah anak semata wayang itu ketika ia tahu bahwa tangan kanannya telah tiada. Dia menangis tiada henti. Dia selalu bertanya, kenapa tangannya hilang?

Karena tangisnya tak kunjung reda, Asih menelpon kedua orangtuanya agar segera datang ke rumah sakit. Melihat mamanya datang, Nurbaiti justeru ketakutan. Nurbaiti berlindung di pelukan Asih. Nurbaiti terus menangis sambil berteriak ”Mama, kembalikan tanganku, aku janji tidak akan memperlihatkan gambar mobilku kepada mama. Biar mbak Asih saja yang melihat. Tapi mama, kembalikan tanganku… kembalikan tanganku mama…”

Ibu yang melahirkan Nurbaiti itu menarik napas panjang. Bercampur antara penyesalan dan kesedihan. Dengan terbata wanita itu berkata “Maafkan mama sayang, maafkan mama.” Butiran bening terus mengalir deras di pipi. Ia iri dengan Asih, seorang pembantu, namun telah menjadi Mama defacto bagi Nurbaiti. (www.baitijannati.wordpress.com)

Sumber : HU Republika, 22 Juni 2007

Iklan

2 Tanggapan to “Mama Defacto”

  1. Subhaanallah, miris sekali. Astaghfirullahhaladzim.

  2. tuty zuham said

    aku sangat sedih membaca kisah ini, saat membacanya sambil membayangkan putri kecilku yang slalu memberikan hasil gambarnya dalam sebuah amplop yang sampulnya tertulis buat bunda saat aku pulang dari kantor. Semoga kisah ini menjadi pelajaran buat ibu yang sibuk kerja di luar rumah agar slalu memberikan perhatian pada buah hatinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: