Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Pelajaran dari Ukhtiku, Hajar

Posted by Farid Ma'ruf pada Juni 7, 2007

Oleh : Yumna 

Keluarga Samara. Sebut saja namanya Hajar. dia adalah seorang gadis afro karibia yang baru beberapa bulan memeluk Islam. saya mengenalnya sebagai gadis yang mengagumka, bukan hanya karena akhlaqnya yang bagus tetapi juga karena semangatnya yang membara untuk belajar Islam sekaligus mengambil Islam sebagai standar kehidupannya.Hajar yang berperawakan tinggi besar dengan senyum manis yang menjadi ciri khasnya sangat membuat siapapun yang berada disekitarnya menjadi bahagia dan juga ceria. Di tengah sosoknya yang periang ternyata hajar juga menyimpan kekuatan besar dan tidak pernah main main dengan Diin yang dipilihnya 7 bulan yang lalu.

Kami dipertemukan oleh Allah di sebuah forum kajian khusus wanita muallaf. saat itu juga kami bertukar nomer telfon dan beberapa hari kemudian hajar menelepon saya dan menanyakan apakah saya bersedia mengajarninya baca Quran. dengan senang hati saya iyakan. setiap hari setiap waktu ilmu bacaan Qurannya bertambah, dalam hati saya semakin menyimpan kekaguman terhadapnya, lafadz bahasa arab yang sangat asing dengan begitu mudah dia lafadzkan dan tanpa terasa dalam waktu kurang dari 6 bulan dia sudah hampir menyelesaikan separuh dari jatah paket yang harus dia selesaikan.Disela sela belajar itu, kami sempatkan diskusi dan hari itu saya ingat sekali kami sedang diskusi tentang masalah pakaian wanita muslimah. Hajar sendiri sudah menutup auratnya namun dia masih mencari pemahaman mendalam tentang pakaian muslimah. Malam itu saya jelaskan ayat tentang QS an Nuur: 31 yang mewajibkan wanita berkerudung (khimar) – Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya,(Qs. an-Nûr [24]: 31).- dan QS Al Ahzab: 59 yang mewajibkan wanita muslimah memakai Jilbab saat mereka keluar rumah- Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu.” (Qs. al-Azhab [33]: 59)-


Yang mengherankan saya, hanya satu pertanyaan yang muncul darinya yakni :Apa yang menjadi indikasi kewajibannya? saya jelaskan bahwa ada hadis Rosulullah Muhammad SAW yang berbunyi demikian:
Dari Ummu ‘Athiyah ra: “Rasulullah Saw memerintahkan kami untuk keluar pada Hari Fitri dan Adha, baik gadis yang menginjak akil balig, wanita-wanita yang sedang haid, maupun wanita-wanita pingitan. Wanita yang sedang haid tetap meninggalkan shalat, namun mereka dapat menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Muslim. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, salah seorang di antara kami ada yang tidak memiliki jilbab?” Rasulullah Saw menjawab, “Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya.” [HR. Muslim].
Dari stu hadis ini saja ternyata hajar bisa meyakini dan menerima kewajiban berjilbab dan subhanAllah, ke-esokan harinya tanpa mencari cari alasan dan juga keberatan dia memulai kehidupan barunya dengan memakai jilbab saat dia keluar rumah.

Inilah pribadi yang sebenarnya kaum muslimin butuhkan di masa sekarang. Pribadi pribadi yang bangga akan identitas kemuslimannya dan bukannya mempertanyakan Allah akan keadlian-Nya dengan mengatakan bahwa wanita teraniaya karena mereka harus memakai kerudung dan Jilbab. astaghfirullah!

secara hukum jilbab dan kerudung memang bisa dibuktikan kewajibannya, namun jika kita mau membuat sebuah logika sederhana maka aqal kita pun sebenarnya bisa menerimanya.

satu contoh,Bandingkan jika kita pergi ke warung, dan disana kita temukan dan ada sebuah makanan yang tertutup rapi dengan sebuah plastik, dan makanan yang hanya dibiarkan terbuka, dengan harga yang sama manakah yang akan kita ambil? jelas makanan yang terbungkus rapi karena kita yakin makanan itu belum tercemar dengan udara kotor, makan itu masih belum tersentuh manusia lain dan bungkus itulah yang membuat harga makanan itu lebih dari yang dibiarkan terbuka. demikianlah cara Allah menghargai wanita muslimah.

sudah semestinya mentalitas seorang muslim jika ada hukum syara’ yang baru dan wajib maka serta merta kita mengambilnya sebagai sebuah hukum. Satu hal yang perlu kita pertanyakan, adakah dalil yang menjadi landasannya? entah itu Al Quran, hadis atau mungkin ijma’ shahabat atau Qiyas? jika ada maka sesegera itu pula kita layaknya mengambil dan melaksanakannya.

Dalam QS Ali Imran [3] ayat 133-134, Allah SWT berfirman, Dan
bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang
luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang
bertakwa; (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik
diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya
dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang
berbuat kebajikan


Sebagian orang akan berusaha mencari cari hikmahya terlebih dahulu baru kemudian kita taat dan mengambil aturan Allah tadi. tapi apakah memang demikian pribadi yang diajarkan oleh Rosulllah Muhammad SAW? tentu tidak. jika iya? kenapa saat ayat tetang jilbab diturunkan, kaum wanita muslimah saat itu serta merta menarik kain kelambu untuk menutupi tubuh mereka? sungguh jika kita menunggu mengerti hikmah dari semua hukum Allah maka itu tidak sama saja dengan memilih dan memilih hukum Allah, mengambil hukum Allah dengan alasan manfaat. sikap ini bisa mendorong kita ke arah yang keliru, saat kita melihat ada manfaatnya kita ambil sedang saat kita tidak mampu menemukannya kita tinggalkan.
Aqal yang diberikan oleh Allah bukan untuk mencari cari manfaat, tetapi untuk membuat kita mengerti apa saja firman Allah dan apa saja kewajiban kita sebagai Hamba-Nya. awal bukan untuk memilah dan memilih mana hukum yang bisa kita ambil dan mana yang tidak. karena konsekuensi shahadat kita sesungguhnya sudah merupakan verifikasi bahwa kita mau myakini bahwa Allah adalah Tuhan sekaligus pembuat Hukum. Allah adalah Sang Maha Pencipta, sangat bisa diteirma oleh aqal kita bahwa hanya Dialah Satu satunya yang faham akan fakta dan hukum terbaik buat hamba-Nya?


“Maka demi Tuhanmu mereka pada hakekatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS An-Nisa’: 65). (www.keluarga-samara.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: