Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Peran Ummahaat Dalam Perubahan Umat

Posted by Farid Ma'ruf pada April 11, 2007

Baitijannati. Tak ada umat manapun yang akan tetap eksis di dunia ini, bila tidak ditopang dengan peran para ibu dalam melahirkan generasi penerus yang tangguh. Tangguh dalam mempertahankan eksistensi umatnya maupun tangguh dalam menghadapi persaingan global dengan umat yang lain. Pun dengan Islam, kebangkitan umat yang terus diupayakan untuk meraih kejayaan jilid kedua membutuhkan peran yang cukup besar dari para ibu. Tak hanya ibu yang berani melahirkan anak yang banyak, tapi juga ibu yang berani mempersiapkan diri, anak-anaknya dan suaminya terjun dalam barisan perjuangan Islam.

Tanggung Jawab Besar

Istilah “Ummi” lazim dipergunakan dalam keluarga-keluarga keturunan Arab sebagai kata panggilan untuk seorang Ibu. Dalam kultur masyarakat Indonesia, sebutan “Ummi” sering dipakai secara umum sebagai julukan bagi seorang istri kyai, ulama atau ustad. Sebutan “Ummi” juga sering diberikan kepada seorang ustadzah yang dikenal mengajarkan Alquran dan ilmu agama baik kepada anak-anak maupun ibu-ibu.

Kata “Ummi” berasal dari kosa kata Arab “ummun” artinya ibu. Kata inilah yang lazim dipakai untuk memanggil seorang ibu. Beberapa versi panggilan seperti “Ummi” atau “Umma” atau “Ummu” atau “Ummahat” biasanya digunakan sesuai kondisi atau tradisi masyarakat. Dahulu, kaum Muslimin memanggil istri-istri Nabi Muhammad SAW dengan sebutan “Ummahatul Mukminin”, artinya para ibunya kaum Mukmin. Saat ini banyak dari keluarga-keluarga Muslim yang mulai memahami bahasa Arab membiasakan anak-anaknya memanggil seorang ibu dengan sebutan “Ummi”.

Gelar “Ibu” atau “Ummi” memang memiliki makna khusus dibandingkan istilah wanita atau perempuan (dalam bahasa Arab biasa disebut Nisaa’). “Ummi” mengandung makna sebuah tanggung jawab yang besar yang melekat pada seorang wanita. Tanggung jawab seorang ummi berdimensi sangat luas, tak sekedar menjadi seorang ibu biologis bagi anak-anak yang dilahirkannya saja.

Tiga Dimensi Prima

Islam memberikan peran yang cukup besar kepada para ummahat (ibu-ibu). Paling tidak ada tiga dimensi utama peran ibu dalam pandangan Islam. Pertama adalah peran ibu dalam dimensi keluarga, kedua dimensi sosial masyarakat dan ketiga dimensi politik.

Pada dimensi pertama, semua kewajiban yang digariskan Allah SWT kepada para ibu akan berdampak langsung kepada semua elemen dalam keluarga. Kewajiban itu mencakup tanggung jawab sebagai istri maupun sebagai ibu. Dalam tulisan ini tak akan banyak dibahas dimensi pertama ini. Pendek kata, peran ummi dalam sebuah keluarga sebagai ummun wa rabbatul bait diharapkan dapat mewujudkan ketenangan dan kebahagiaan bagi suami dan anak-anaknya.

Dimensi Sosial dan Politik

Perbincangan peran ummahat pada dimensi kedua dan ketiga yakni sosial, masyarakat dan politik sering luput dalam sorotan. Seolah para ummahat hanya memiliki kewajiban tunggal di dalam rumahnya saja. Padahal, sesungguhnya ummahat adalah bagian dari umat juga. Mereka juga memiliki tanggung jawab untuk menopang kekuatan umat. Mereka juga dituntut untuk berkontribusi dalam perubahan umat menuju masyarakat Islam.

Tak dapat dipungkiri bahwa dalam realita sejarah telah terbukti bahwa para ummahat ikut ambil bagian dalam perjuangan Islam. Dari masa Rasulullah SAW hingga masa generasi sesudahnya terukir nama para ummahat yang rela menyumbangkan tenaga, waktu, pikiran, harta, serta keahlian dalam dakwah Islam. Berikut ini beberapa peran yang patut dijadikan acuan bagi para ummahat di masa ini:

Aktif melakukan dakwah fikriyah. Umat yang hidup dalam lingkaran pemikiran kapitalis sekuler tak akan bisa bangkit kecuali bila pemikirannya berubah menjadi pemikiran Islam. Perubahan pemikiran umat ini memerlukan sentuhan dakwah yang tepat dan terus menerus. Dalam konteks ini, para ummahat memiliki peran yang besar untuk mendakwahkan pemikiran Islam di tengah keluarga, kerabat dan kaum wanita secara umum. Dakwah yang bisa mencerahkan umat untuk memprioritaskan keridhaan Allah dan Rasul-Nya daripada kenikmatan duniawi.

Dalam periode awal Islam tercatat bagaimana Umar bin Khaththab tersentuh dakwah pertama kali ketika adik perempuan bersama suaminya secara tak sengaja membaca ayat-ayat Alquran dan membuat Umar marah. Namun, keteguhan sang adik, di samping hidayah dari Allah SWT mampu memicu keislaman Umar, yang pada masa berikutnya justru menjadi pembela setia Rasulullah dan menjadi salah satu Khalifah.

Demikian pula kita dapat melihat bagaimana Sumaiyyah rela mengorbankan nyawanya untuk mempertahankan keimanannya. Keteguhan keluarga Amar bin Yassir ketika mendapatkan penyiksaan dari kaumnya, memberikan energi yang luar biasa bagi orang mukmin lainnya, betapa keridhaan Allah dan Rasul-Nya itu jauh lebih berharga daripada keridhaan kaumnya. Di masa ini, umat membutuhkan banyak umahat yang gigih mendakwahkan Islam di tengah keluarga dan para wanita lainnya, agar mereka dapat menjadi pendukung tegaknya kehidupan Islam. Sebab, masih banyak keluarga-keluarga dan para wanita yang telah teracuni oleh pemikiran sekuler belum dapat menerima aturan-aturan yang datang dari Islam.

Aktif mempromotori lingkungan yang Islami. Lingkungan adalah elemen terdekat bagi sebuah keluarga. Rusak atau baiknya lingkungan sedikit banyak akan membawa dampak secara langsung kepada keluarga-keluarga yang hidup di dalamnya. Tanpa ada upaya dari kader dakwah untuk mengubah atau mewarnai lingkungannya dengan pemikiran, perasaan dan kegiatan keislaman, maka keluarga muslim yang taat akan terisolasi dan terasing dari lingkungannya. Itulah sebabnya, para ummahat yang sebagian besar waktunya berada di lingkungan sekitar rumah punya peran yang strategis dalam menyuburkan lingkungan yang Islami.

Kita dapat meneladani apa yang dilakukan oleh ibunda Aisyah dalam mengajarkan ilmu Islam kepada para sahabat Rasulullah saw. Demikian pula apa yang dilakukan oleh putri Rasulullah saw, Fatimah, yang giat mendatangi para wanita dari kaumnya untuk mengajarkan Islam serta mendatangi para qadhi (hakim) untuk mengingatkan mereka agar senantiasa berpegang pada hukum Allah dan tidak berlaku dzalim.

Aktif menyumbangkan harta untuk dakwah. Sekalipun laki-laki yang diwajibkan bekerja untuk mencari nafkah, bukan berarti wanita tak boleh bekerja untuk memperoleh harta. Islam memberikan hak penuh kepada para wanita untuk memiliki dan menggunakan hartanya, baik yang diperoleh dari bekerja, nafkah, hadiah, warisan atau yang lainnya.

Para ummahat yang diberikan kemampuan harta oleh Allah seyogyanya menyumbangkan sebagian hartanya di jalan dakwah. Hal ini sangat berharga untuk memperkuat upaya perjuangan Islam, kerena perjuangan itu membutuhkan biaya. Isteri Rasulullah SAW, Khadijah merupakan contoh nyata seorang ibu yang memiliki kekayaan harta dan semua dia persembahkan untuk mendukung perjuangan Rasulullah dalam menegakkan panji-panji Islam.                 

Aktif menggalang kesatuan dan kekuatan ummat. Bagaimanapun, umat yang terdiri dari kaum wanita dan laki-laki dan tersebar dalam berbagai kelompok, ormas, orpol, jama’ah dll merupakan aset perjuangan Islam. Mereka semua perlu dipersatukan dan digalang untuk satu tujuan yang sama, yakni menegakkan kehidupan Islam. Karenanya, bersilaturahmi dengan para ustadzah, tokoh wanita Islam yang berpengaruh di tengah umat menjadi agenda penting bagi kader dakwah. (www.baitijannati.wordpress.com)

Ummu Azkiya

sumber : Tabloid Suara Islam, Edisi 15

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: