Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Di Pagi Hari Ketika Umurku Dua Puluh Sembilan…

Posted by Farid Ma'ruf pada April 4, 2007

Oleh : Maharani Arrahman

Baitijanati. Ya Allah Alhamdulillah, umurku beranjak ke angka dua puluh sembilan pagi ini. Tiap kali berulang tahun, renungan demi renungan aku lakukan. Tahun ini, aku terima semua yang terjadi dalam hidupku dengan lapang dada, tanpa perlu kecewa ketika menghadapi kenyataan bahwa keinginanku masih belum dipenuhi Allah. Ya Allah terima kasih, aku diberi kesempatan untuk memperbaiki diriku dan menangkap hikmah dari semua kejadian.

Betapa banyak nikmat yang diberikan Allah dan betapa malunya aku yang kadang tidak menyadarinya hanya karena satu permintaanku sejak beberapa tahun lalu belum dipenuhiNya, yaitu mempunyai suami, pendamping terbaik di sisiku. Ketika akal sehat dikalahkan oleh rasa frustasi, aku bertanya dalam hati apa yang kurang dari diriku. Mungkin ke-takaburanku yang menyebabkan belum datang seorang “arjuna” untukku. Kadang terbersit pikiran, apakah akan ada yang mencintaiku sungguh-sungguh hingga ingin menikahiku. Kadang di tengah keputus-asaan aku mengadu kepada Allah, Ya Allah aku hanya ingin berumah tangga untuk menjalankan sunnah Rasul, untuk menjaga hati dari zina, untuk menyempurnakan ibadahku. Mengapa untuk hal yang begitu sakral dan mulia Rabb belum juga memberikan “arjunaku”?

Ketika semuanya menjadi buntu, Rabb memberikan hidayahNya, aku memberanikan diri menggunakan jilbab, hampir setahun yang lalu, ketika aku baru saja berpisah dengan lelaki yang sangat aku cintai. Keputusan yang berat harus aku ambil demi mujahadah menegakkan syariah Islam untuk tidak pacaran, karena lelaki itu belum siap untuk menikah. Aku begitu yakin Allah akan memberikan jalan keluar untukku mendapatkan “arjuna” yang akan meminang dan menikahiku. Aku mencoba untuk membuka hatiku untuk lelaki-lelaki lain. Kemudian beberapa orang kawan berbaik hati mengenalkanku dengan beberapa lelaki tetapi hingga detik ini Allah belum memberikan “arjuna” yang melamarku. Beberapa lelaki kenalan baruku itu ada yang mundur teratur ketika melihatku menggunakan jilbab. Ya Allah ternyata sampai detik ini aku masih dicoba dengan keinginanku ini. Aku dicoba untuk menjadi Muslimah yang sholehah yang teguh menggunakan jilbab di tengah-tengah pencarianku untuk mendapatkan “arjunaku”.

Walaupun begitu aku mencoba untuk menangkap hikmah dari semua ini, bahwa Rabb ingin aku memperbaiki diriku sebelum “arjuna”ku datang dan Allah akan memberikan yang terbaik untuk hidupku. Ya Allah aku senang dan bangga Engkau menyayangiku, Engkau akan memberikan yang terbaik untukku. Untuk itu, aku berusaha untuk selalu berlapang dada, pasrah dan bertawakal, bahkan jika Engkau belum mengizinkan aku menikah dalam waktu dekat ini. (SW 31071974). (www.baitijannati.wordpress.com)

maha_rid@yahoo.com

Sumber : http://www.prayoga.net

4 Tanggapan to “Di Pagi Hari Ketika Umurku Dua Puluh Sembilan…”

  1. Yanto said

    keteguhan iman seseorang akan senantiasa diuji oleh Allah apakah dia akan lolos atau gagal ketika menempuh ujian tersebut. kesabaran menjadi bagian terpenting ketika sedang menjalani semua itu.

  2. Asih said

    Ukhti, ada hikmah dalam setiap peristiwa. Sambil mencari pendamping saatnya kita memperbaiki diri. Mgk yang menurut kita baik belum tentu baik dalam pandangan Allah.
    Banyak akhwat yg diuji dalam hal ini. Semoga kita tetap istiqomah.

  3. Fatmawati said

    assalamu’alaikum warohmatullahi awabarokatuh
    Terlepas dari masalah takdir, jodoh dan pernikahan harusnyalah sudah menjadi tanggung jawab sosial di masyarakat.
    Di saat perbandingan perempuan yang lebih banyak dari laki-laki dan dari yang ada ada jauh lebih sedikit lagi yang memahami Islam dengan baik.
    Tanggung jawab sosial harusnya terbangun saat melihat kondisi semakin banyak perempuan yang secara usia sudah memasuki titik rawan, apalagi kemudian perempuan tersebut perempuan baik-baik yang menjaga aurat dan kehormatan dirinya. Ketika orang tua dan keluarga tidak paham dengan kondisi yang diinginkan harapan tinggallah pada saudara seiman yang sama-sama paham Islam dengan baik.
    Ketika ada seorang teman laki-laki di sebuah organisasi yang kebetulan usianya lebih muda meminta izin akan menikah duluan dengan seorang teman perempuannya yang secara usia lebih tua. Dengan gaya berseloroh, perempuan itu berkata, “Wah, semua pada mendahului mbak-mbaknya ya……”
    Dengan santainya si teman laki-laki itu berkata, “ mba-mba ya sih hanya sabar dan tawakal!berusaha dong mba.”
    Innalillahi ……
    Jawaban itu begitu menyakitkan …….. namun juga menyadarkan diri
    Sejauh mana akhwat muslimah pro aktif dalam masalah jodoh? Sejauh mana usaha akhwat muslimah dalam masalah jodoh?
    Ketika orang-orang terdekatnya satu persatu menikah kemudian ketika bertemu hanya say hello dan menanyakan kapan menyusul?
    Daripada menanyakan hal tersebut, apa tidak sebaiknya mencarikan solusi bersama.
    Apakah bukan termasuk da’wah ketika kemudian teman-teman yang laki-laki menikah dengan perempuanyang secara usia telah memasuki titik rawan. Ikhwan juga manusia sih, yang terkadang fisik dan usia dalam masalah pernikahan masih menjadi pertimbangan utama walau bukan pertama.
    Banyak aktifis muslim yang ketika telah siap menikah (secara usia dan ilmu) menunda hanya karena alasan ketidak siapan penghasilan. Dan ketika telah siap mereka lebih memilih akhwat yang lebih muda. Lalu bagaimana dengan akhwat yang seusia dengan mereka?
    Akhwat terkadang manusia yang bisa berburuk sangka kepada ikhwan sebagai saudara seimannya. Ketidak matangan ikhwan dalam menyikapi hidup.
    Demikian pula dengan kita semua, pernahkah terpikir bagaimana perasaan saudari kita yang telah memasuki usia rawan. Tidak kah terpikir bagaimana kesehatan reproduksi mereka, perasaan mereka ketika mendapat tekanan dari keluarga dan masyarakat. Belum lagi ditambah dengan ketidak pedulian kita dengan gampangnya menanyakan “kapan menyusul, kapan undangannya …?”

    Innalillahi …… betapa tidak pekanya kita

    Sudah saat nya kita semua berperan dalam memikul tanggung jawab sosial ini. Keberadaan mereka harusnya kita pikirkan untuk dicarikan solusi dan jangan menambah beban mereka sama seperti masyarakat umum di sekitar mereka.
    Pertumbuhan biro jodoh muslimah yang ada seperti kontak taarufnya Sehati milik Darul Tauhid pun belum banyak membantu karena keberadaannya masih tersentral di Jawa. Bagaimana dengan luar Jawa? Namun paling tidak ini sedikit kemajuan sebagai bentuk tanggung jawab sosial kita. Salut juga dengan upaya mba Sida ketika berusaha memfasilitasi permasalahan ini melalui emailnya di sebuah milis beberapa waktu lalu.
    Untuk akhwat yang belum menikah. tidak ada yang dapat mengubah takdir kecuali berdoa, mari senantiasa melantunkan do’a di malam – malam hari saat bermunajat dengan sang Pencipta.Ukhti fillah, jodoh kita bisa di dunia atau di akhirat yang jelas kematian lebih pasti datangnya. Jadi yang pasti, ukhti fillah berusaha menata hati dan memperbaiki diri dengan berlalunya hari serta berusaha menyakinkan orang tua dan dan keluarga atas prinsip yang diyakini.

  4. dija said

    insya allah dengan kesabaran yang ada
    apabila waktunya telah tiba maka semuanya akan terasa indah
    karena allah tidak pernah lalai dalam mengurus hambanya
    dengan keyakinan bahwa tuhan punya rencana lain dan terindah buat kita
    semangat terus untuk beribadah,berdo’a, dan berusaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: