Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Agar Bisa Lebih Menghargai

Posted by Farid Ma'ruf pada April 4, 2007

Oleh : Mutiara

 Baitijannati. Dulu, saya sering sekali mengeluh karena belum menikah. Saya selalu merasa ingin memiliki seorang suami yang dengan kekuatannya akan menutupi kelemahan saya, yang dengan ketelitiannya akan menutupi kecerobohan saya, yang dengan kelebihannya akan menutupi kekurangan saya.

Saat saya harus bercapek-capek naik ke lantai atas rumah saya membawa dua sampai tiga ember pakaian yang telah dicuci untuk dijemur, kadang-kadang saya mengeluh, “Senangnya kalau punya suami, nggak usah ngangkat-ngangkat ember kayak begini”.

Saat saya harus pergi belanja ke pasar dan pulang kelelahan membawa belanjaan yang berat, saya juga mengeluh “Bahagianya punya suami, nggak mesti jalan sendirian. Nggak perlu bawa-bawa belanjaan berat kayak begini lagi.”

Saat suatu hari saya mencoba meluruskan cantelan tas yang terbuat dari besi dengan menggunakan tang, saya pun mengeluh, “Kalo punya suami… nggak harus megang-megang tang kayak gini nih, tangan pake lecet segala lagi.”

Saat saya mencoba mengganti lampu yang mati dengan yang baru, sekali lagi saya mengeluh, “Wah, enaknya punya suami, nggak mesti naik-naik tangga kayak begini benerin lampu, pake kena setrum lagi…”

Biasanya saya suka menimpali diri saya sendiri, “Emangnya suami tukang ngangkatin ember?!” atau “Emangnya suami tukang benerin lampu?!”, “Emangnya suami apaan?!”

Tapi itu dulu… hingga suatu hari saya bertemu dengan kakak sepupu saya beberapa waktu lalu.

***

Dia seorang wanita karir, dan saya tidak menyangka akan mendapatkan pelajaran berharga darinya.

Sepupu saya itu bercerita bahwa ia harus bekerja dari pagi sampai sore hari. Sebenarnya mungkin tidak terlalu banyak yang dia kerjakan di kantor. Hanya saja dia harus datang sebelum bosnya datang dan pulang setelah bosnya pulang. Jarak antara rumah kosnya dengan kantornya yang cukup jauh, ditambah dengan kemacetan di jalan, sangat menyita banyak waktunya.

“Melelahkan! Kalau saat ini kakak udah punya suami dan punya anak…” katanya, “wah, susah banget deh jadi wanita karir, jadi istri, trus jadi ibu pula pada saat yang bersamaan.”

Itulah yang membuatnya mengambil keputusan bila ia menikah nanti ia akan melepaskan pekerjaannya. Ia meragukan dirinya bisa menyiapkan sarapan untuk suaminya sebelum berangkat bekerja sementara ia sendiri harus bersiap untuk pergi bekerja juga, menyediakan makan malam untuk suaminya sebelum pulang kantor padahal ia sendiri mungkin masih keletihan karena baru pulang dari kantor, itu pun kalau dia sudah pulang. Sulit baginya membayangkan bagaimana ia akan menjalankan perannya sebagai istri di rumah bila ia tetap mempertahankan pekerjaannya yang melelahkan itu.

Mungkin tidak banyak wanita di zaman ini yang sependapat dengannya. Karena saya lihat di luar sana banyak wanita yang telah bekerja kemudian menikah tetapi tetap mempertahankan pekerjaanya. Dan (tampaknya) mereka baik-baik saja.

Mendengar keluh-kesahnya, saya tidak merasa lebih beruntung karena pekerjaan saya di rumah lebih ringan dibandingkan pekerjaanya. Ingin rasanya waktu itu saya meyakinkan kakak sepupu saya itu bahwa pekerjaan di rumah juga tidak kalah melelahkan dengan menjadi seorang wanita karir seperti dia. Namun belum sempat saya bercerita,

“Tapi… ada hikmahnya juga kakak ngerasain capek-capek kerja kayak gini…” katanya, “pergi pagi, pulang malem, sibuk di kantor, dan capek di jalan…”

Dia memandang saya dengan mata yang menerawang. Sementara saya mencoba mengerti hikmah apa sebenarnya yang dia maksud.

“Ternyata… begini toh rasanya bekerja keras, bersusah payah mencari uang buat makan. Ternyata nggak gampang! Kakak jadi bisa lebih menghargai suami kakak nanti yang nyari nafkah buat kakak…” katanya mengakhiri perbincangan hari itu.

Kata-kata itulah yang membuat saya berhenti mengeluhkan pekerjaan-pekerjaan yang saya lakukan di rumah dan berhenti berandai-andai kalau saya punya suami maka pekerjaan saya akan lebih ringan.

Yah, saya jadi menyadari bahwa pekerjaan suami itu jauh lebih berat dari sekadar mengangkat ember atau membawa belanjaan sehingga saya harus lebih menghargai jerih payahnya dan rela ngangkat-ngangkat sendiri. Tanggung jawabnya lebih besar dari sekadar menjaga saya dari setruman listrik atau melindungi tangan saya supaya nggak lecet sehingga saya harus lebih menghormatinya dan lebih berhati-hati menjaga diri saya sendiri.

Tapi… saya rasa walaupun setiap wanita sanggup dan rela melakukan itu semua sendiri, sepertinya seorang suami tidak akan rela. Sehingga dialah yang akan melakukannya untuk isterinya. Dan pada saat itulah sang istri tahu apa yang harus ia lakukan untuk suaminya.

Sekarang, saya menikmati melakukan semua pekerjaan saya di rumah. Saya hayati bagaimana pun beratnya pekerjaan itu, bagaimana pun susahnya pekerjaan itu. Supaya suatu saat nanti saya akan lebih menghargai seseorang yang akan melakukan semua itu untuk saya.

“teman-teman seperjuangan”-ku, berjuanglah… karena ada yang sedang berjuang juga untuk kita di luar sana (www.baitijannati.wordpress.com)

Sumber : prayoga.net

3 Tanggapan to “Agar Bisa Lebih Menghargai”

  1. Tulisan yang menggugah, semoga setiap yang membaca bisa mengambil ibrohnya, amiin.

  2. maimunah said

    saya sangat senang apabila rubrik seperti ini lebih di tingkatkan ,karena dapat memperdalam pengetahuan kita tentang hakekat islam sesungguhnya

  3. Lita Budiarti Pamungkas said

    Subhanallah…
    ada haru ketika membacanya, ada getran lain yang menyeruak…benar2 bisa menge-charge ruhani…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: