Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

SANDAL JEPIT ISTRIKU

Posted by Farid Ma'ruf pada Maret 7, 2007

baitijannati. Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh… betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop ini rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin nggak ketulungan. “Ummi… Ummi, kapan kau dapat memasak dengan benar…? Selalu saja, kalau tak keasinan…kemanisan, kalau tak keaseman… ya kepedesan!” Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.”Sabar bi…, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul…? ” ucap isteriku kalem. “Iya… tapi abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini…!” Jawabku dengan nada tinggi. Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya sudah merebak.

 ***

Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan ‘baiti jannati’ di rumahku. Namun apa yang terjadi…? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal burak (pecah). Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta pora di dapur, dan cucian… ouw… berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan detergen tapi tak juga dicuci.

Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada. “Ummi…ummi, bagaimana abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini…?” ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Ummi… isteri sholihat itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah…?” Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. “Ah…wanita gampang sekali untuk menangis…,” batinku berkata dalam hati. “Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihat…? Isteri shalihat itu tidak cengeng,” bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai dipipinya. “Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja untuk jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,” ucap isteriku diselingi isak tangis. “Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda…” Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.

***

Bi…, siang nanti antar Ummi ngaji ya…?” pinta isteriku. “Aduh, Mi… abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?” ucapku. “Ya sudah, kalau abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,” jawab isteriku. “Lho, kok bilang gitu…?” selaku. “Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam bus dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa,” ucap isteriku lagi. “Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja,” jawabku ringan. Pertemuan hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai.

Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. “Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu,” aku membathin sendiri. Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Dug! Hati ini menjadi luruh. “Oh….bukankah ini sandal jepit isteriku?” tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus. “Maafkan aku Maryam,” pinta hatiku. “Krek…,” suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar.

Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berbaya gelap dan berjilbab hitam melintas. “Ini dia mujahidahku!” pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri. Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku.

Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: “Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.” Sedang aku..? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku…? terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terdzalim!!! “Maryam…!” panggilku, ketika tubuh berbaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia. “Abi…!” bisiknya pelan dan girang. Sungguh, aku baru melihat isteriku segirang ini. “Ah, kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?” sesal hatiku.

***

Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. “Alhamdulillah, jazakallahu…,”ucapnya dengan suara tulus. Ah, Maryam, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud dan ‘iffah sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku…?

Semoga berguna bagi kita semua….amin ya rabbal alamien
Wassalam
Hamba Allah

Semoga Bermanfaat untuk menambah pengetahuan kita.
Wassalamualaikum wr wb

Menilai, Sebelum dan Sesudahnya

Dia menikahi suaminya karena dia adalah “pria yang demikian berkuasa,” dan dia menceraikan suaminya karena dia adalah “pria yang sangat menguasai.

” Dia menikahi istrinya karena dia begitu “lembut dan mungil” dan menceraikannya karena dia begitu “lemah dan tak berdaya”.

Dia menikahi suaminya karena ia “tahu membiayai hidup yang layak” dan menceraikannya karena “semua yang dipikirkannya hanyalah pekerjaan.”

Dia memperistrikan dia karena “dia mengingatkan saya kepada ibu saya” dan menceraikannya karena “dia setiap hari semakin mirip dengan ibu saya.”

Dia menikahi suaminya karena dia begitu “mudah bergaul dan romantis” dan menceraikannya karena dia “tak punya kemauan dan hanya ingin bersenang-senang.”

Dia memperistrikan dia karena dia begitu “mantap dan pandai” dan menceraikannya karena dia begitu “membosankan dan tidak menarik.” (baitijannati.wordpress.com)

Source : http://www.prayoga.net

20 Tanggapan to “SANDAL JEPIT ISTRIKU”

  1. Tania said

    Perhatian, cinta & kasih sayang adalah modal utama untuk mencapai suatu kebahagiaan yang hakiki sehingga akan terbentuklah suatu ikatan keluarga sakinah, mawaddah & warrohmah.amien

  2. arul said

    ceritanya menyentuh…. tapi gini… suatu saat saya bisa membenarkan tindakan suami tersebut…
    kita kadang memang lupa…
    kadang kita juga tidak bisa membagi waktu dengan baik… sehingga hal2 kecil tetapi berdampak besar tersebut….

    kadang saya sering mengalami hal tersebut sehingga kadang saya tidak harus mendahulukan kepentingan yg mana… ditegur kadang saya baru merasakan saya tlh melupakan sesuatu itu.

  3. erysaryos said

    SAya memang belum menikah
    tapi setelah membaca cerita di atas
    saya tahu apa yang akan saya lakukan ketika saya telah menikah
    karena sekarang ini saya tengah bersiap-siap untuk melangsungkah pernikahan saya
    semoga keluarga kami menjadi keluraga yang sakinah
    amien

  4. budi said

    kisah yang luar bisaa.dapat mengingatkan saya bila nanti daya menikah.

  5. nizar said

    ….
    ane juga mesti banyak berubah nanti klo dah nikah
    (Underconstruction)
    doain yah….

  6. kfighters said

    what a nice story🙂
    ada baiknya seorang suami sedikit agak sensitif di tengah keluarganya. sensitif untuk melihat apa yang terlihat dan apa yang dibaliknya.

  7. Endang Suryana said

    cerita yang menyentuh,, semoga menjadi pelajaran bagi para suami-suami ataupun bagi para calon suami…

  8. Sha2 said

    Semoga… para suami terus berusaha untuk menjadi yang paling baik buat keluarganya, dan begitu pula para istri terus berusaha menjadi yang terbaik bagi suaminya…

  9. imastutiah said

    cerita di atas sangat bagus bisa menginsfirasi para suami agar lebih peduli terhadap isterinya, ketika seorang isteri menjadi aktivis para suami hrs bisa mendukung, memback up nya dengan sharing pekerjaan rumah……… sehingga peran isteri sebagai daiah menjadi otimal

  10. ashraf said

    ciptakanlah keluarga yg sakinah mawadah warohmah
    niscaya allah akan melindungi kita
    amiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn
    amiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn
    amiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn
    yarobbal alamin

  11. Kris iyan said

    Trimakasih atas ceritanya, begitu menarik dan menyentuh smp ak ga jadi marah ma istriku.

  12. Anas said

    Doakan smg rmh tngga sy trhindr fitnah,cobaan yg mndra,akn ttp slalu bhagia,sknah dn warhmah.Amin ya rabbal alamin.

  13. cicy said

    saya sudah pernah membacax d buku SABAR
    saya terharu sampai meneteskan air mata….

  14. ACHMAD PURWANTO said

    SAYA MINTA DIDOAKAN OLEH SEMUA AKHI DAN UKHTI….
    SEMOGA SAYA DIBERIKAN SEORANG ISTRI YANG ZUHUD DAN SOLEHAH, DAN MENDUKUNG SAYA DALAM KETAATAN KEPADA SANG KHOLIK ALLOH SWT…

  15. Khourun nisa' said

    Subhannawllah,bgtu menyentuh qolbu ne,stlh ana bc crtanya,mmg cinta,syg n perhatian sungguh luar biasa dasyatnya bisa mengembalikan keharmonisan keluarga.

  16. Syifaa said

    Subhanalloh.. Begitu besar cinta yg disematkan Alloh kpd qt,

  17. Insyaallh kelak akan ku perhatikan Istri ku………

    untuk Bu Ndut Ku Tercinta…..Jazzakmllah

  18. Adi said

    Mnurut saya,crita ini bkn hnya u/ para suami atau calon suami,tp lbh dr itu. Bgaimana qt brinteraksi dgn siapapun,ibu,ayah,kakak,adik,tmen,dll.bahwa qt jg hrs m’lihat kbaikan2 yg ad pd diri mreka,dan m’ngoreksi sgala kkurangan qt.

  19. Maman said

    cerita yang sangat menyentuh, dalam berkeluarga (suami istri) tentu ada kalanya senang, bahagia disertai tawa dan canda tetapi sebaliknya ada kalanya “cobaan” datang untuk menjadikan hubungan keluarga semakin indah dan bahagia sampai akhir masa. “just sharing”.

  20. Dizzy Dv said

    tersentuh sangat,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: