Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

MENUMBUHKEMBANGKAN DAYA NALAR ANAK

Posted by Farid Ma'ruf pada Maret 4, 2007

                                                        Oleh : Reta Fajriah*

Allah Swt. telah mengajarkan kepada kita, melalui, perantaraan Rasul-Nya, untuk mendidik anak secara bertahap sedini mungkin, bahkan sejak anak masih berada dalam kandungan. Lalu segera setelah anak lahir, Rasulullah saw. mengajari kita untuk membacakan azan dan iqamat di kedua telinganya. Ini berarti, kalimat tauhidlah yang pertama kali didengar dan diperkenalkan kepada anak.

Proses pendidikan selanjutnya adalah mengajari anak akhlak dan hukum-hukum Islam, sebagaimana hadis penuturan Anas ra. (yang artinya): Seorang anak di-aqiqah-i pada hari ketujuh dari kelahirannya, diberi nama yang baik, dihilangkan penyakitnya dan dicukur rambutnya. Jika sudah menginjak usia 6 tahun ia diajarkan adab. Jika sudah menginjak usia 9 tahun maka pisahkan tempat tidurnya. Jika sudah menginjak usia 10 tahun maka ia dipukul jika tidak melaksanakan shalat dan shaum. (HR Ibn Hibban).

Agar pelaksanaan hukum-hukum ini dapat dilakukan dengan baik dan konsisten, proses penerimaan anak terhadap hukum tersebut mestilah dilandasi keimanan kepada Allah Swt., Rasul-Nya maupun al-Quran. Oleh karena itu, penting untuk menanamkan kebiasaan anak menerima segala sesuatu melalui proses ‘berpikir’. Dengan itu, anak dapat memahami informasi yang diterimanya, yang akan mendorongnya melakukan perbuatan sesuai dengan apa yang telah dipahaminya tersebut.

Pembiasaan berpikir pada diri anak mencakup segala hal, misalnya berpikir tentang kenyataan-kenyataan kehidupan yang ditemuinya sehari-hari, baik yang berkaitan dengan dirinya, keluarganya ataupun lingkungannya. Inilah yang menjadikan anak memiliki sikap kritis dan selektif. Sebab, tatkala dia mencerna apa yang dilihat, didengar maupun yang dirasakannya, kemudian dia mengaitkannya dengan apa yang telah dipahaminya, maka saat itulah dia sedang melakukan proses standarisasi yang akan melahirkan sikap tertentu.

Sebagai contoh, seorang anak yang telah memahami bahwa setiap yang dimakan maupun diminumnya harus halal, ketika diberi sebuah makanan yang belum dikenal sebelumnya, dia akan berusaha untuk mencari tahu kehalalan makanan tersebut, sebelum dia memakannya. Ketika ia dihadapkan pada pergaulan yang cenderung longgar, dan dia memahami bahwa pergaulan dalam Islam antara laki-laki dan perempuan memiliki batasan, maka dia bersikap menjauh dari pergaulan yang tidak sesuai dengan Islam. Demikian seterusnya. Pembiasaan berpikir yang dilakukan sejak kecil akan terbawa hingga anak mencapai kedewasaan saat persoalan kehidupan yang dihadapinya semakin meluas.

Pembentukan standar berpikir (akidah Islam) juga harus dimulai sejak usia dini dan terus dimantapkan pada usia selanjutnya. Akidah Islam dapat ditanamkan melalui pengamatan terhadap alam semesta, manusia maupun kehidupan yang sesuai dengan kadar usia anak. Adapun pemberian informasi-informasi Islam dilakukan secara bertahap dari mulai yang paling praktis dan aplikatif hingga yang membutuhkan pemahaman dalil yang rinci.

Berikut ini kami memberikan beberapa contoh praktis dalam menumbuhkan kemampuan berpikir anak yang disesuaikan dengan perkembangan usia anak:

I. Usia pra sekolah (0–6 tahun); Masa untuk menyerap informasi dan pembiasaan lewat keteladanan

a. Penanaman akidah, dengan target: Menyadari keberadaan Allah Swt. sebagai pencipta melalui pengamatan terhadap manusia, alam semesta dan kehidupan; memperkenalkan Rasulullah saw. dan menumbuhkan kecintaan kepadanya; memperkenalkan al-Quran dan menanamkan kebiasaan untuk menghapalnya; memperkenalkan agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw.

b. Pemberian informasi Islam yang mencakup: kewajiban shalat (nama, waktu dan jumlah rakaat shalat serta praktik gerakan shalat); kewajiban shaum (gambaran shaum, bulan Ramadhan, dan waktu yang dilarang berpuasa); hapalan surah-surah pendek dalam al-Quran, hadis-hadis pendek, doa sehari-hari, kalimat-kalimat thayyibah, dll.

Penanaman akidah dan informasi Islam yang telah diberikan kepada anak akan menjadi dasar bagi proses berpikir anak ketika ia melihat kenyataan kehidupan di sekitarnya. Contoh: ketika anak melihat seseorang yang tidak shaum pada bulan Ramadhan, dia akan mempertanyakan keadaan orang tersebut, apakah beragama Islam? Ketika dia melihat temannya bertengkar, dia akan menyikapinya dengan mengatakan, “Siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi.”

Semakin sering anak dilatih untuk mengaitkan realitas yang dia tangkap dengan informasi yang telah didapatkannya, anak akan semakin peka dan cerdas.

II. Usia Pra Balig (7–Menjelang Balig); Masa mempersiapkan anak untuk menerima tugas-tugasnya sebagai hamba Allah Swt. serta membekali anak dengan keterampilan yang dibutuhkan dalam menghadapi kehidupan.

a. Penanaman akidah secara ‘aqliyyah, dengan target: menyadari keberadaan Allah Swt. sebagai pencipta sekaligus pengatur alam semesta melalui pengamatan terhadap manusia, alam semesta dan kehidupan; memahamkan kebenaran al-Quran dan kerasulan Muhammad saw.; memahamkan posisi al-Quran dan hadis Rasul sebagai sumber hukum di dalam Islam; memahamkan Islam sebagai dîn yang akan membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat.

b. Pemberian informasi Islam yang mencakup: melanjutkan hapalan al-Quran dan hadis Rasul, khususnya yang berkaitan dengan dalil-dalil; halal dan haram di dalam Islam; tsaqâfah (ilmu-ilmu) Islam (yang terdiri dari: bahasa Arab, sirah Rasul, fikih, tafsir, dll); praktik-praktik ibadah, khususnya shalat, harus mulai didisiplinkan ketika berusia 10 tahun.

c. Pemberian informasi tentang keterampilan dalam kehidupan yang terdiri dari: ilmu-ilmu sains beserta penerapan praktisnya dalam bidang: matematika (berhitung), biologi (tentang manusia, tumbuhan dan hewan), fisika (pesawat sederhana, konsep titik berat, bejana berhubungan, dll), kimia (larutan, kalor, persenyawaan antar unsur, dll); pengetahuan umum beserta penerapan praktisnya (dasar-dasar perdagangan/jual-beli, jurnalistik, geografi, kesenian, dll); pengembangan kemampuan dasar dalam hal membaca secara terprogram, berpidato, berdiskusi, keorganisasian, komputer, dll; pengembangan diri dalam hal mencari berita, membuat kliping, membuat tulisan, dll.

Kemampuan nalar atau daya berpikir anak akan berkembang tatkala informasi yang telah didapatkannya berkaitan dengan kenyataan praktis dalam kehidupan. Misal: ketika dia memahami bahwa al-Quran dan Hadis Rasul adalah satu-satunya sumber hukum yang terpercaya, dia akan mempertanyakan praktik-praktik hukum yang tidak sesuai di masyarakat, seperti: Mengapa demikian? Apakah tidak berdosa? Bagaimana caranya agar hukum ini sesuai dengan al-Quran dan al-Hadits?

Demikian pula informasi-informasi tentang keterampilan hidup, selayaknya juga tidak hanya diterima secara teoretis. Kepekaan anak harus terus dilatih untuk selalu mengaitkannya dengan kenyataan. Misal: ketika anak bermain sepeda, ayunan; atau ketika anak naik kendaraan, membuat minuman, jajan di warung, menyiram tanaman, memelihara binatang, dan lain-lain. Saat itu orangtua bisa langsung menjelaskan prinsip-prinsip keilmuan apa saja yang tercakup di dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Dengan itu, kreativitas anak akan terangsang. Ia akan bereksplorasi lewat kegiatan yang dilakukan ataupun alat-alat yang sering digunakannya sehari-hari.

Setelah usia pra-balig, anak akan memasuki usia balig (dewasa). Dalam pandangan Islam, kedewasaan haruslah dipandang dari dua sisi: secara fisik maupun mental. Setelah dewasa anak harus bertanggung jawab sendiri terhadap seluruh perbuatannya, baik maupun buruk. Inilah tugas terberat bagi orangtua, yaitu bagaimana mengantarkan anak hingga saat anak telah balig secara fisik, mentalnya pun siap menerima segala bentuk pembebanan hukum (taklif hukum) serta telah memiliki keterampilan hidup yang memadai guna melengkapi kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai manusia yang telah dewasa.

Semoga kita dapat menjadi orangtua, khususnya ibu, yang mampu mempersiapkan putra-putri kita dalam menghadapi era yang semakin menantang.

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا

Hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah. (QS an-Nisa’ [4]: 9).

Wallâhu a‘lam biash-shawâb.

*Penulis adalah Kepala Sekolah Taman Pendidikan Anak Usia Dini Qurrota A’yun, Kedungbadak Bogor dan Aktivis Hizbut Tahrir Indonesia

source : http://hizbut-tahrir.or.id/main.php?page=alwaie&id=358

2 Tanggapan to “MENUMBUHKEMBANGKAN DAYA NALAR ANAK”

  1. lutfi said

    Situs ini membantu para muslimah untuk lebih cerdas dalam bertindak.terus berkarya…kalau bisa ditambahi dapur …biar kita juga mahir menyenangkan selera keluarga….wassa.
    ammah lutfia-
    elhawa45@gmail.com

  2. daud m said

    pengembangan diri anak penting dan menjadi tanggung jawab orang tua,untuk itu saya mendukung banget deh perjuangan moral dalam rangka pendidikan anak yang jelas-jelas aset bangsa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: