Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Sisi Emosional dalam menghadapi hukum Poligami

Posted by Farid Ma'ruf pada Februari 4, 2007

Oleh : Rusyda Ummu Hafizh

mmmm…Finally akhirnya aku beranikan diriku untuk menuangkan unek unekku tentang masalah satu ini. Selain itu juga untuk memenuhi permintaan dari Jeng Ifa (mama Razzan) untuk mengungkapkan pendapatku tentang hal ini. Awalnya aku takut untuk menuliskannya, tapi dengan niatan yang ikhlas akhirnya aku memulainya. Semoga tulisan ini kelak menjadi saksi diriku dan menjadi pengingat disaat aku lalai. Itulah sebetulnya salah satu fungsi kita menulis, selain bisa mengungkapkan pendapat kita, juga bisa menjadi pengingat diri kita sendiri…sungguh baik jika bisa bermanfaat untuk orang lain…mungkin bisa dibilang sebagai amal zariah, yang tidak akan terputus pahalanya..Amienn 🙂

Ditulisan ini saya tidak akan membahas poligami dari segi syar’i, karena sudah banyak orang yang tahu bahwa poligami adalah salah satu hukum Allah. Meskipun ada perbedaan dari segi hukumnya, ada yang mengatakan bahwa asal hukum pernikahan itu Poligamy, tapi kalau tidak mampu baru monogamy, dan ada juga yang mengatakan poligami itu sunnah. Selain itu ada yang mengatakan poligami itu hukumnya mubah saja, dan saya salah satu yang mengikuti hukum poligami mubah itu. Temans bisa melihat artikelnya disini. Namun yang pasti, sudah jelas hukum poligami itu bukanlah haram.

So disini saya hanya akan membahas bagaimana kita menyikapi polygamy ini secara emosional. Sebetulnya tulisan ini adalah pengalaman emosional saya pribadi :D.

Sebagai wanita, kadang agak susah untuk menerima suami menduakan diri ini dengan yang lain, bahkan sampai mentigakan atau mengempatkan :). Karena memang kodrat wanita untuk menyayangi suami sepenuh jiwa dan raganya. Kadang untuk membayangkan saja hal itu terjadi pada diri ini….mmm tak bisa tidur, bahkan kadang tak kuasa untuk makan :D. Namun sebagai muslimah, kita sepenuhnya harus menyadari bahwa hukum Allahlah yang terbaik untuk manusia ini. Bahwa hukum Allah harus kita terima seutuhnya…”masuk Islam secara kaffah” (Al-Baqarah: 208). Selain itu jika kita tidak menerima hukum Allah secara keseluruhan maka bisa-bisa kita termasuk orang fasiq, dhalim and kaffir (Al-Maidah 44, 45 and 47).

Dan perlu kita tanamkan terus pada diri ini, bahwa kita di dunia ini bagaikan musafir, yang hanya singgah di dunia ini untuk sementara waktu saja..ya paling-paling cuman sampai 60 tahun or 70 tahun..wallahua’alam. Tujuan utama kita adalah dunia akherat yang kita akan hidup kekal didalamnya. Tentunya, untuk bisa menempuh kehidupan yang indah di akherat itu tidaklah menurut jalan kita sendiri, kita harus mengikuti ketentuan yang Allah tetapkan. So kalau kita mengaku muslimah, kita harus mengambil sepenuhnya hukum-hukum Allah baik yang berkaitan dengan kemuslimahan kita langsung atau yang menyangkut hal-hal lainnya. Jangan sampai karena kita mementingkan perasaan semata lantas kita menolak hukum-hukum Allah. Karena kita tak kuasa menjalani dimadu, lantas kita mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah. Dan tentunya kita tahu apa yang akan kita dapatkan diakherat nanti jika kita menentang hukum Allah. Apakah kita akan mengejar kebahagiaan semu semata di dunia ini dan mengabaikan kebahagiaan hakiki di akherat nanti atau sebaliknya. Tentunya sebagai orang yang mengimani akan adanya hari pembalasan, kita akan berhati-hati dalam menyikapi segala sesuatunya, kita akan berfikir sampai seribu kali untuk mengingkari hukum-hukum Allah dan akan sami’na wa atho’na dalam menjalankan hukum-hukum Allah.

InsyaAllah, dengan memikirkan kembali posisi kita di dunia ini dengan pemikiran yang mendalam dan jernih, insyaAllah kita akan menerima hukum poligami ini dengan penuh keimanan dan keikhlasan, seperti halnya kita menerima hukum-hukum Allah yang lain. Lantas…apa yang kita lakukan jika sampai masanya, poligami ini harus kita hadapi.

Jika suami inginkan menikah lagi, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan. Karena bagaimanapun posisi suami istri adalah sebagai sahabat, so kita harus saling amar ma’ruf satu dengan yang lainnya. Ini ada sedikit tips dari saya, dan ini sebetulnya juga tips buat saya pribadi 🙂

1) Mengingatkan suami akan kedudukan poligami. Meskipun poligami itu boleh, apakah suami sudah tahu responsibilitas apa yang akan dia tanggung ketika dia menjalankan poligami, bagaimanapun hukum poligami itu bukanlah yang ringan bagi sebagian kaum laki-laki, karena dibalik hukum ini ada tanggungjawab berat yang harus dipikul bagi mereka dan harus dipertanggungjawabkan bukan hanya kepada keluarganya namun juga kepada Allah. Selain itu, kalau ada anak, maka jangan sampai memberikan contoh yang buruk kepada anak-anak, yang mungkin akibatnya anak-anak tidak bisa menerima hukum poligami lagi. Mungkin saja suami kita lalai akan tanggungjawab itu, tiada salahnya ketika suami mengungkapkan hajatnya untuk berpoligami, kita ingatkan beliau akan beberapa tanggungjawab yang akan beliau tanggung.

2) Kalau ternyata suami sudah merasa siap dengan segala tanggungjawab itu, maka diskusikan kepada seluruh anggota keluarga, terutama anak-anak. Jelaskan bahwa ini adalah salah satu syari’at Islam, dan kalau memang Allah membolehkan insyaAllah itu hal yang baik. Jadi ini juga salah satu moment untuk menjelaskan ke anak-anak tentang hukum poligami.

3) Tanyakan secara pribadi, siapakah yang akan dijadikan istri kedua oleh suami. Dan kalau suami tidak keberatan, tanyakan pula kenapa suami memilihnya. Kalau mungkin suami memilih gadis muda belia dan dengan alasan perasaan saja, coba kasih pandangan lain ke suami. Mungkin lebih bagus menikah dengan orang yang membutuhkan perlindungan dan tiada tempat untuk bergantung. Orang yang sangat miskin namun agamanya sangat baik sekali or else.

4)Kalau sudah final…sudah melawati semua proses diskusi, dan akhirnya mengambil suatu keputusan (yang mungkin keputusannya itu tetap sesuai keinginan suami semula), maka cobalah untuk menerima dengan segenap hati dan keikhlasan yang tulus. Kalau kita ikhlas insyaAllah akan dimudahkan oleh Allah dalam menghadapi segala sesuatu. Dan yang perlu kita tetap jaga adalah melayani suami tetap sebaik-baiknya. Kendalikan perasaan kita, demi mengejar pahala yang besar ketika kita memberikan pelayanan yang sangat baik kepada suami, apalagi sampai suami kita merasa bahagai dan ridho dengan kita. So jangan kurangkan kasih saying ke suami, meskipun awal-awalnya terasa sulit, insyaAllah Allah akan selalu membantu.

Itulah hanya sekelumit tips dari saya, semoga bermanfaat. Namun yang perlu diingat juga, bahwasannya suatu kebahagiaan tergantung bagaimana kita memandangnya. Ada orang yang bahagia sekali meskipun tak punya apa-apa tapi ada keimanan yang sangat besar didada, begitu pula ada orang yang sangat kaya raya namun tiada keimanan kepada Allah maka dia akan selalu merasa kehidupannya sangat sempit. InsyaAllah kalau kita ikhlas dan memperkuat keimanan, kita akan selalu ridho dengan keputusan Allah dan akan selalu merasa bahagian karena Allah ridho dengan kita..Amien.

Catatan: he he aku nulis nie bukan karena suami mau menikah lagi, hanya sharing bagaimana caranya saya dalam memperkuat kembali penerimaan terhadap hukum ini dengan sepenuhnya. Dan ini juga tidak lepas dari peran suami dalam mengingatkan saya selalu untuk selalu taat akan hukum-hukum Allah…luv u so much honey 🙂

Iklan

7 Tanggapan to “Sisi Emosional dalam menghadapi hukum Poligami”

  1. sendhy said

    assalamualaikum ww..

    saya pernah mendengar ceramah seorang ustadzah..
    kata beliau,kalau kita tidak ikhlas suami berpoligami,tp suami teatap bersikukuh..maka kita diperbolehkan menggugat cerai..alasannya daripada kita tidak bs lagi memberikan pelayanan yang baik & ihlas kepada suami?apa benar pendapat ustadzah itu?

  2. Rusyda said

    wallahua’lam bishowab sis 🙂

    Namun yang perlu kita ketahui, bahwasannya Allah saja membolehlah laki-laki berpoligami, kenapa kita tidak ikhlas menerimanya?. Bukannya keridhoan kita itu adalah apa yang Allah ridhoi dan apa yang kita benci adalah apa yang dilarang oleh Allah. Lantas kenapa kita tidak ikhlas dan membenci sesuatu yang dibolehkan oleh Allah.

    Saya juga pernah menanyakan hal ini kepada seoang ustadz, apakah alasan seperti itu boleh dijadikan alasan untuk bercerai?, sang ustadz hanya menjawab, apakah itu alasan syar’i?

    Tentu saja alasan itu hanyalah alasan emosional kita saja. Memang tidak mudah untuk menerima suami berpoligami, bahkan akan terasa imposible menjalankannya. Karena memang kondisi masyarakat saat ini yang selalu menempatkan poligami sebagai hal yang buruk, bahkan pemerintah kita juga ikut mengkampanyekan bahwa poligami itu adalah sesuatu yang jelek.

    Namun, apakah kita akan menjadikan standart syara’ sebagai pegangan ataukah standart masyarakat yang kita jadikan panutan?

    Tentu saja sebagai seorang muslim kita akan memilih al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai landasan kita dalam dalam melakukan segala sesuatu termasuk juga memanage perasaan kita.

    Begitu juga bagi para suami yang ingin berpoligami, syara’lah landasan yang mereka gunakan. Jangan sampai para suami itu berjalan miring di akherat nanti karena tidak memperlakukan semua istrinya dengan baik dan adil.

    Begitu saja mungkin sis jawaban dari saya, kalau ada yang salah itu hanya dari saya dan mohon koreksinya. Dan maaf kalau ada hal yang kurang berkenan

  3. nadia said

    assalamu’alaikum
    menurut saya, meskipun al-qur’an tlah dengan jelas membolehkan poligami, tapi al-Qur’an juga dengan jelas mengatakan bahwa lbih baik monogami jika tidak bisa berbuat adil.
    dan yang lebih penting menurut saya adalah mengambil contoh dari rosulullah. Rosulullah Saw tidak melakukan poligami pada saat beristri dengan Khodijah, sampai ketika Khodijah meninggal, setelah itu Rosul menikah kembali dan berpoligami. Semua istri Rosulullah adalah seorang janda (mulai dari janda yang berusia 60an tahu, janda yang mempunyai banyak anak, janda yang membutuhkan pertolongan karena tidak ada orang yang mo menikahi)hanya seorang aisyah yang masih perawan, itupun baru berusia 7 tahun yang dalam hal ini bisa kita liat bahwa niat berpoligami bukanlah untuk memenuhi nafsu belaka.
    Begitu juga ketika menantu Rosulullah Saw Ali bin Abi Thalib ingin melakukan poligami, Rosulullah menyatakan keberatannya, sehingga Ali bin Abi Tholib tidak jadi melakukan poligami.
    Dari sini bisa dilihat bagaimana seharusnya poligami diposisikan. Rosulullah sendiri mencontohkan bahwa bermonogami lebih baik. Kalaupun harus hidup berpoligami, niat yang ada bukanlah karena nafsu, jadi kalo ada suami yang ingin berpoligami karena nafusnya, saya kira itu bukan hal yang di syariatkan oleh agama bahkan bisa jadi itu melanggar syariat.

    Wallahu a’lam bishawab

  4. fiza said

    salam,

    saya ingin bertanya tentang situasi saya ini..

    suami saya telah meminta izin untuk berkahwin seorang lagi.pada awalnya, memang tidak boleh lari dari perasaan sedih yang tak terkata kerana suami yang di cintai sanggup menduakan saya..lebih seminggu saya tak makan tak tidur..fikiran kacau..saya mengambil keputusan tabahkan hati berjumpa dgn bakal madu say..
    orgnya cantik, muda baru 25 tahun, warganegara asing(thailand), janda anak 1 suami meninggal..perwatakannya lembut..tidak ada cacat cela..cuma yang saya khuatir, suami akan melupakan saya setelah berkahwin memandangkan madu saya terlalu muda dan cantik..
    saya berfikir, beristikarah dan menuntut ilmu dalam memahami poligami..
    akhirnya walaupun dgn perasaan yang masih terganggu, saya redha suami saya berpoligami..
    cuma masalah nya, saya memberitahu suami bahawa saya mungkin tidak mampu melayan batinnya kerana saya bimbang ketika suami bersama saya..saya akan terbayangkan suami sedang bersama dgn madu saya..bukan kah itu haram..
    kita tidak boleh membayangkan sesiapa ketika bersama suami..namun bukan niat saya tidak sudi bersama dengan suami tetapi disebabkan perasaan cinta saya yg mendalam, dan kadang2 ada perasaan seolah2 saya terasa diri saya kekurangan..saya menampakkan kelebihan pada madu saya..tambahan pula saya sekarang sedang sakit..menghidap ketumbuhan di payu dara yang seharusnya di bedah..namun memikirkan keadaan anak saya sanggup berkorban tidak melakukan pembedahan..untuk pengetahuan ustaz, saya terlalu kecil hati dengan suami saya kerana perkhabaran yg di bawa untuk berkahwin lagi adalah ketika saya baru saja mengetahui saya mengidap penyakit itu..

    bantulah saya menghadapi kebuntuan ini

  5. lela said

    Assalamualaikumm,
    Bapa saya ingin berkahwin lagi, atas alasan ingin membantu seorang janda. Persoalannya, layakkah bapa saya berpoligami sedangkan urusan nafkah keluaga sekarang ditanggung oleh mama. Mama telah berkorban untuk keluarga sejak dari mula lagi. Wajarkah mama dipohon untuk berkorban seumur hidupnya?

  6. samsul kuaro said

    Poligami itu Karunia dan Ujian tergantung kita menyikapinya deh…

  7. samsul kuaro said

    poligami itu perintah bagi yang mampu karena dengannya bisa memberi kemaslahatan kepada beberapa jiwa, dan larangan keras bagi yang nggak mampu karena bisa menjadikan perceraian dan kehancuran rumah tangga.
    gunakan azas manfaat….ada nggak manfaatnya? ..ada nggak nilai kebaikannya?…. jika ada… mampu nggak melaksanakannya?….. kata sobat diatas Kondisional atau Situasional..sangat erat kaitannya dengan hukum yang telah ditetapkan Sara, boleh sih tapi hitung2 dulu friend …ok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: