Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Perjuangan Muslimah di Persimpangan: Antara Liberalisme dan Islam

Posted by Farid Ma'ruf pada Februari 2, 2007

Oleh: Asri Supatmiati, dkk

baitijannati – Tahun 2005 merupakan tahun cukup berat bagi perjuangan muslimah. Banyak momen-momen terkait dengan dunia keperempuanan yang cukup menantang. Hembusan angin liberalisme semakin kencang bertiup, seiring dengan semakin menguatnya kesadaran muslimah akan identitas sejati dirinya. Ada ragam peristiwa dan wacana yang patut dicatat sepanjang Januari-Desember 2005. Berikut diantara yang mewakilinya:

Diawali bulan JANUARI, di Aceh tersebar isu pemurtadan dan perdagangan manusia (trafficking). Anak-anak dan perempuan adalah objeknya. Maklum, pasca Tsunami, merekalah yang paling rentan terhadap trauma. Uluran tangan ‘penyelamat’, baik dengan dalih bantuan kemanusiaan maupun perawatan medis, nyatanya hanya kedok untuk menutupi maksud sesungguhnya. Meski dibantah berbagai kalangan, kasak-kusuk soal pemurtadan dan perdagangan anak nyatanya bukanlah isapan jempol.

Gerakan Muslimah Indonesia mensinyalir adanya upaya-upaya pengambilan puluhan balita Aceh dari RS Adam Malik, Medan, Jumat (31/12/05). Menurut Ketua Gerakan Muslimah Indonesia, Irena Handono, sekitar 40 balita diambil dari RS itu dan 100 anak kecil diambil dari posko-posko bencana. Forum Bersama (Forbes) Anggota DPR dan DPD asal Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pun meminta pemerintah segera melakukan pendataan atas keberadaan anak-anak Aceh. Koordinator Forbes, Ahmad Farhan Hamid, mengatakan pemerintah harus memberi perlindungan dan menjamin anak-anak itu tidak dipungut sembarang orang. ”Kita tidak ingin mendengar mereka diperjualbelikan untuk menjadi budak seksual. Atau, dimurtadkan dari akar mereka yang menganut Islam,” kata Farhan di Jakarta, Ahad (2/1) (Republika, 3/1/05). Majelis Ulama Indonesia (MUI), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) menyerukan hal senada. Ketua Komnas PA, Seto Mulyadi, mengatakan perlindungan anak diperlukan agar mereka tidak diperdagangkan dan maksud-maksud lain.

Mengenai pemurtadan, Majalah Sabili edisi Januari 2005 melaporkan, gerakan kristenisasi di Aceh bak laron. Para misionaris, baik asing maupun lokal, berdatangan ke provinsi yang sedang dilanda musibah besar itu. Tak kenal siang dan malam, para aktivis gereja mendatangi rakyat Aceh di kamp-kamp pengungsi. Sambil membagi-bagikan bantuan, mereka menjalankan misinya, apa lagi kalau bukan memurtadkan. Diantara lembaga yang terlihat sangat berkeringat adalah Obor Berkat Indonesia (OBI) dan Yayasan Pelita Kasih.

Relawan muslimah pun bahu membahu menjalankan misi recovery mental di kamp-kamp pengungsian. Dengan dana dan sarana serba terbatas, jelas bukan pekerjaan ringan dalam ‘melawan’ arus kristenisasi di Serambi Mekah itu. Apalagi medannya cukup berat. Namun itulah perjuangan awal tahun yang cukup menyita perhatian.

Bulan FEBRUARI, menyusul santernya isu perdagangan anak-anak dan wanita, DPR RI menjadikan UU Trafficking sebagai agenda utama untuk segera disahkan (Pikiran Rakyat, 18/2/05). Deputi Pengembangan Kebijakan dan Informasi Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Dr Irma Alamsyah Djaya Putra menjelaskan, istilah trafficking tidak hanya terbatas pada mereka yang dibawa keluar daerahnya untuk dieksploitasi secara seksual. Lebih luas lagi, trafficking menyangkut mereka yang dieksploitasi jasa dan tenaganya.

Daerah yang memiliki kasus trafficking tertinggi di antaranya adalah Jawa Barat, di samping daerah lain seperti Jawa Timur, Kalimantan Barat, dan Nusa Tenggara Barat. Menurut Irma, dengan kondisi seperti itu, pemerintah daerah seharusnya lebih berperan untuk menangani masalah ini. “Hingga saat ini masih lemah karena acuan perundang-undangannya belum jelas,” tambahnya (Pikiran Rakyat, 18/2/05).

Bulan Februari juga muncul kontroversi dengan diluncurkannya buku “Muslimah Reformis, Perempuan Pembaru Keagamaan” karya Siti Musdah Mulia APU di Jakarta, Selasa (22/2/05). Buku setebal 568 halaman termasuk indeks itu, membahas berbagai hal mengenai perempuan dari perspektif yang berkeadilan terhadap perempuan dan laki-laki, perspektif demokrasi, hak asasi manusia, serta pluralisme agama.

Buku ini menyodorkan isu-isu seperti pembaruan tafsir tentang, oleh dan untuk perempuan, pernikahan lintas agama dengan model tafsir perempuan, tema-tema seputar perempuan sebagai ulama, perempuan melawan kekerasan termasuk kekerasan dalam rumah tangga, perempuan sebagai pemimpin, perempuan pelaku rekonsiliasi, perempuan dan kebijakan publik, perempuan peduli hak anak, perempuan menawarkan solusi, dan agenda gerakan muslimah.

Prof Dr Saparinah Sadli dalam tulisan pengantarnya menyebutkan, Musdah melakukannya dengan menyediakan interpretasi alternatif terhadap sejumlah ayat Alquran dengan sekaligus menunjukkan bagaimana berbagai interpretasi yang banyak dianut telah dipengaruhi pandangan misoginis dan patriarkhis (Kompas, 28/02/05). Tak ayal, buku ini sarat dengan isu genderisasi, mengingat latar belakang Musdah sebagai feminis dan libelralis. Musdah seolah ingin meneguhkan dirinya sebagai ‘pejuang’ perempuan yang berani mengoyak nash-nash suci Alquran. Tantangan berat bagi kaum muslimah untuk menjungkir-balikkan apa yang diwacanakan pengusung liberalisme ini.

Peristiwa lain yang cukup menohok umat Islam terjadi bulan MARET. Jumat, 18 Maret 2005, dunia dikejutkan oleh ulah seorang feminis Amerika Serikat Dr Amina Wadud Muhsin. Profesor ternama dari Virginia Commonweath University itu yang menjadi imam sekaligus khatib bagi 100 orang laki-laki dan perempuan dalam ritual agama yang revolusioner di sebuah gereja Anglikan, The Synod house of The Cathedral of St. John The Divine, di kota New York, Amerika serikat. Gereja itu menjadi saksi bisu prosesi ibadah yang dalam Islam dikenal sebagai shalat Jumat.. Motif utama pelaksanaan ibadah nyeleneh ini adalah upaya kesetaraan gender; tema lama yang sampai sekarang masih tetap hangat diperdebatkan.

Fenomena ini memicu kecaman dari seluruh dunia. Ulama sekaligus Grand Syekh al-Azhar di Mesir, Muhammad Sayyid al-Thanthawi mengajukan keberatan atas aksi Wadud, dan diikuti pula oleh ulama-ulama lain. Dr Yusuf Qardhawi, seorang alim yang bukunya banyak diterjemahkan di Indonesia, mengecam Amina telah menyimpang dari tradisi Islam yang telah berjalan 14 abad. Sementara Abdul Aziz al-Shaikh, Mufti Agung Arab Saudi, menganggap Amina sebagai “musuh Islam yang menentang hukum Tuhan” (Associated Press, 19/3).

Beberapa koran di Mesir dan Arab Saudi menempatkan berita itu di halaman utama, dan menganggap Amina sebagai “wanita sakit jiwa” yang berkolaborasi dengan Barat kafir untuk menghancurkan Islam (Associated Press, 19/3). Amina bukan hanya dicaci-maki dan dikecam, tapi juga diancam bunuh karena dianggap telah merusak Islam (Daily Times, 23/3).

Meski begitu, pengusung liberalisme dan pejuang feminisme membela mati-matian aksi Amina Wadud. Oleh mereka, para pengecam Amina dianggap paranoid karena tidak responsif terhadap perubahan. “Saya kira, penerimaan kaum muslim terhadap imam perempuan hanyalah soal waktu saja. Suatu saat nanti, saya meyakini, bahwa imam perempuan bisa diterima,” tulis Luthfi Assyaukanie (http://www.islib.com, 28/03/2005).

APRIL, bisa dibilang sebagai bulannya kaum feminis. Ya, peringatan Hari Kartini selalu disebut-sebut sebagai peringatan hari perjuangan emansipasi wanita, perjuangan menuju kesetaraan gender dalam segala hal.

Peringatan ini ditandai oleh aksi Forum Bersama Pekan Kartini yang merupakan gabungan dari LSM perempuan seperti Kapal Perempuan, Koalisi Perempuan Indonesia, Kalyanamitra, LBH Apik, Perempuan Mahardika, Rahima, dan Senjata Kartini. Dalam pernyataan sikapnya, mereka menyesalkan bahwa semangat Kartini oleh negara dimaknai sebagai ritual domestik. “Maka tidak mengherankan bila pemahaman masyarakat tentang perjuangan Kartini sebatas pada aktivitas rumah tangga. Sementara keprogresifan dan keradikalan pikiran dan tindakan Kartini tentang keadilan dan hak perempuan dengan sengaja dijauhkan dari pengetahuan masyarakat,” kata Direktur Senjata Kartini, Nuraini (Suara Karya Online).

Dan atas dasar penghargaan terhadap nilai kemanusiaan dan demokrasi, kelompok ini juga menyerukan kaum perempuan untuk secara bersama-sama meneriakkan penolakan terhadap poligami. Poligami dianggap sebagai mendiskreditkan perempuan.

Jelas, kaum feminis menggugat hukum Allah Swt atas kebolehan laki-laki menikah 2, 3 atau 4. Hukum yang sudah baku dan tentu membawa maslahat bagi seluruh umat manusia, termasuk wanita.

Sementara itu, bulan MEI dunia muslimah diuji oleh adanya eksploitasi perempuan, yakni dengan keberangkatan wakil Indonesia ke ajang Miss Universe 2005 di Bangkok Thailand tanggal 30 Mei. Kendati dikecam dan ditentang masyarakat, Putri Indonesia 2004 Artika Sari Devi nggotot ikut Miss Universe. “Mengambil bagian dalam Miss Universe adalah jalan terbaik untuk menunjukkan bagaimana sebenarnya Indonesia,” kata Artika (Kompas, 11/5/05).

Pengiriman tersebut jelas merupakan langkah mundur. Pasalnya, di masa Menteri Urusan Peranan Wanita zaman Orde Baru, Mien Sugandhi, Puteri Indonesia dilarang ikut Miss Universe, karena tidak sesuai dengan kebudayaan lokal, di mana kontestannya diwajibkan memakai baju renang. Kini, umat Islam, khususnya kaum muslimah menyuarakan dengan lantang bahwa ajang kontes kecantikan dunia itu bukan saja tak sesuai dengan budaya timur, namun juga haram diikuti karena mempertontonkan aurat yang berarti melanggar akidah agama. Lebih jauh, ajang tersebut hanyalah salah satu bentuk eksploitasi wanita untuk menghancurkan identitas kaum muslimah.

Bulan JUNI, Harian Kompas menurunkan artikel kontroversial mengenai ‘Wacana Nabi Perempuan dalam Kitab Kuning‘ yang ditulis oleh Nasaruddin Umar Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Jakarta dan Rektor Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ), Jakarta (Kompas, 06/06/05).

Dengan uraian argumen yang ia tulis, Nasaruddin Umar mengemukakan, terdapat tiga persepsi ulama tentang kenabian perempuan. Pertama, golongan yang tidak mengakui adanya nabi dan rasul dari kalangan perempuan. Pendapat ini dianut jumhur ulama. Kedua, golongan yang mengakui adanya nabi dan rasul dari kalangan perempuan, seperti dikemukakan Abu Bakr Muhammad bin Mawhab al-Tujibi al-Qabri. Ketiga, golongan yang mengakui adanya nabi perempuan dan tidak mengakui adanya rasul perempuan, seperti pendapat Ibn Hazm. ”Jika di kemudian hari ada pendapat yang mengakui adanya nabi dan atau rasul dari kalangan perempuan, sesungguhnya bukan pendapat baru. Seperti halnya boleh atau tidak bolehnya perempuan menjadi pemimpin atau imam shalat, wacana kenabian atau kerasulan perempuan sudah lama ditemukan di dalam kitab-kitab tafsir klasik,” tulisnya.

Bulan JULI, tepatnya 3-8 Juli 2005 digelar Muktamar Muhammadiyah ke 45 di Malang. Muktamar kali ini disebut-sebut sebagai kekalahan bagi penggagas liberalisme dan kemenangan bagi Islam konsisten. Misalnya dengan adanya penolakan atas ide-ide gender equality dan usulan untuk mengeliminasi kelompok Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) yang selama ini menjadi corong liberalisme. Adalah Komisi D yang menginginkan agar PP Muhammadiyah membubarkan JIMM, atau paling tidak menghilangkan huruf M (Muhammadiyah) dari namanya.

Tak ayal jika Ahmad Najib Burhani, Peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), dalam tulisannya di islamlib.com 25/07/2005, menyebutnya sebagai kekalahan golongan liberal. Dengan kata lain berarti merupakan kemenangan bagi kelompok yang konsisten dengan ajaran Islam. Adapun pemisahan antara Muhammadiyah dan Aisyiah, (sama halnya dengan pemisahan antara Pemuda Muhammadiyah (PM) dan Nasyiatul Aisyiyah (NA) dan juga antara Pemuda Anshor dan Fatayat NU), semakin memperteguh perjuangan muslimah pada garisnya. Dengan organisasi tersendiri, muslimah lebih leluasa dalam berkiprah.

Bulan AGUSTUS, ratusan orang dari Muslimah Peduli Umat (MPU) melakukan aksi damai di Bundaran Hotel Indonesia, Kamis (11/8). Mereka menolak penjajahan terhadap perempuan, termasuk pornografi dan pornoaksi yang dianggap melecehkan kehormatan mereka (Tempo Interaktif, 11/08/05). Aksi tersebut dipicu maraknya pornoaksi dan pornografi yang menempatkan para perempuan sebagai objeknya (korban). Hal yang jelas bertentangan secara diametral dengan ajaran Islam.
Poster-poster berisi penolakan penjajahan perempuan dibawa oleh sebagian besar peserta aksi. Aksi ini didukung juga oleh 45 organisasi perempuan diantaranya Aisyiah, Forum Cendekia Muslimah Peduli (FCMP) ICMI, dan Hizbut Tahrir Indonesia. Nurdiati Akma, ketua umum Muslimah Peduli Umat, disela-sela aksi mencontohkan adanya fenomena jual beli perempuan.

Sebagai tindak lanjut dari aksi itu, mereka akan melakukan tekanan ke MPR, DPR, dan pengusaha. MPU juga menyerukan kepada pihak berwenang untuk melindungi perempuan. Mereka juga memberikan dukungan terhadap MUI yang telah mengeluarkan fatwa mengharamkan liberalisme, sekularisme, pluralisme, dan larangan terhadap Ahmadiyah.

Bulan SEPTEMBER, semangat keislaman muncul dari dunia model. Tanggal 21 September 2005, digelar Pemilihan Model Muslimah 2005 yang diprakarsai oleh Ratih Sanggarwati. Ajang ini diikuti 30 wakil dari 7 kota di Indonesia. Menurut ibu tiga anak kelahiran Ngawi, 8 Desember 1962 itu, syarat utama peserta dalam ajang ini adalah kesehariannya harus sudah mengenakan jilbab.

Ajang Pemilihan Model Muslimah ini sendiri bukan yang pertama kali. Tahun lalu, meski kurang terekspose, ajang ini sudah digelar. Tujuannya, kata mantan None Jakarta 1984 itu, tak lain untuk memberikan ruang kepada perempuan-perempuan berjilbab untuk berekspresi secara kompetitif bagi mereka yang mengenakan busana muslim. Sekarang ini, katanya, masih saja dalam sebuah ajang serupa, ada pihak yang seringkali memandang kerudung sebagai sesuatu yang eksklusif. “Biar tidak ada lagi komentar macam-macam bagi mereka yang berjilbab di ajang-ajang seperti ini,” kata Ratih (Suara Karya On Line).

Pada saat bersamaan, mencuat isu kesehatan reproduksi perempuan. Berawal dari upaya amandemen UU Kesehatan No 23 Tahun 1992, ada sinyalemen bahwa revisi UU tersebut memberi peluang terjadinya legalisasi aborsi dengan kedok kesehatan reproduksi perempuan. Jelas, langkah tersebut dikuatirkan sebagai upaya liberisme. Mensikapi hal itu, pada Minggu 18 September 2005, ratusan anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) melakukan aksi damai menentang pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Kesehatan di depan Istana Merdeka Jakarta (Pikiran Rakyat, 19/9/05).

HTI menilai, RUU Kesehatan itu bertentangan dengan ajaran agama karena memperbolehkan pengguguran kandungan atau aborsi. Sambil membentangkan poster bertuliskan “Selamatkan Perempuan dari Kejahatan Aborsi“, anggota HTI melakukan orasi dan mengacung-acungkan spanduk penolakan terhadap pelaksanaan aborsi. Menurut HTI, aborsi baru diperbolehkan bila kandungan tersebut berisiko terhadap kesehatan si ibu.

Bulan OKTOBER isu Kesehatan Reproduksi semakin santer dan menjadi perbincangan nasional. Wacana tersebut dikecam berbagai kalangan Islam. Salah satunya dengan digelarnya sebuah diskusi oleh aktivis Hizbut Tahrir Indonesia bersama Lembaga Advokasi Wanita dan Konsumen Indonesia (LAWKI) di Jalan Ismailiyah Medan belum lama ini.

Hadir sejumlah tokoh perempuan di antaranya Hj. Naya Miraza. Pembicara Ir. Hj. Yulienni dan aktivis dari Jaringan Kesehatan Masyarakat (JKM). Saat yang sama diputar VCD yang mempertontonkan bagaimana janin yang diaborsi luluh lantak sampai keluar dari rahim sang ibu.

Dalam paparannya, Yulienni menyebutkan, isu tentang reproduksi menjadi faktor utama dalam upaya mengamandemen Undang-undang No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Hal ini terlihat jelas dari upaya beberapa kelompok perempuan yang menuntut pemerintahan untuk segera menerbitkan amanat presiden yang menindaklanjuti perubahan terhadap UU tentang kesehatan tersebut. Perubahan itu khususnya mengenai kesehatan reproduksi perempuan yang dibahas dalam bab tersendiri (Waspada Online, 24 Oktober 2005).

Aborsi merupakan salah satu program kerja ICPD (lnternational Conference on Population and Development) sebuah forum yang dianggap membawa angin segar untuk mengubah wajah dunia agar terlihat lebih sejahtera, berkeadilan dan indah. Program kerja ICPD menjelaskan kerangka bagi empat tujuan dari status kesehatan reproduksi yang lebih baik. Terkait dengan isu legalisasi aborsi tertulis dalam tujuan ketiga dari keempat dari rencana kerja ICPD yang berbunyi, setiap kehamilan dan persalinan harus diinginkan. Tujuan ini diwujudkan antara lain dengan program kerja yang mengupayakan agar semua ‘wanita aktif secara seksual’ memiliki akses pelayanan aborsi secara legal, sesuai dan aman dalam trimester pertama.

Masalahnya, siapa yang dimaksud dengan wanita yang aktif secara seksual? Tentu wanita yang aktif secara seksual adalah remaja yang belum menikah namun sudah pernah melakukan hubungan seks, wanita yang sudah menikah, wanita yang berprofesi sebagai pekerja seks komersial. lni artinya program aksi yang ditujukan bagi wanita yang aktif secara seksual secara tidak langsung mengakui perzinaan.

Dana untuk mensukseskan target ICPD adalah 15 milyar dollar AS. Dana yang sudah disetujui untuk mencapai target ICPD tahun 2005 adalah sekitar 18,5 milyar dolar AS yang sebagian ditujukan untuk pelayanan di negara-negara miskin. Sebagaimana kita maklumi pula, tidak ada dana yang diberikan secara cuma-cuma sekalipun untuk tujuan kemanusiaan.
Isu lain dalam kesehatan reproduksi adalah Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR), di antaranya perkembangan seksual dan seksualitas (termasuk pubertas), penyakit menular seksual (PMS) dan HIV/AIDS, serta kehamilan yang tidak diharapkan (KTD) dan kehamilan berisiko tinggi.

Dari isu tersebut kita pahami adanya kebebasan remaja untuk memenuhi hak reproduksinya tanpa tekanan pihak lain dan berada dalam pilihannya, asalkan disertai dengan sikap bertanggung jawab. Dengan diajarkannya materi kesehatan reproduksi remaja, mereka akan bertanggung jawab menetukan pilihannya. Mulai dari kebebasan berhubungan seks sampai kebebasan untuk aborsi. Benar-benar merupakan upaya liberalisme secara sistematis.

NOVEMBER, Komisi Hak Asasi Manusia memutuskan bahwa Turki melarang penggunaan jilbab di universitas di seluruh negeri. Pengadilan yang bersidang di Kota Prancis Strasboud, menolak banding seorang perempuan Turki yang mengatakan bahwa larangan dari negara tersebut bertentangan dengan haknya untuk mendapatkan pendidikan dan merupakan tindakan diskriminasi. Leyla Sahin dikeluarkan dari ruang kuliah Universitas Istambul dan mengajukan kasus ini tahun 1998. Namun para hakim melarangnya berjilbab dengan dalih menjaga ketertiban dan menghindari kemungkinan memberi perilaku berbeda terhadap agama (BBC, 05/11/05). Ironis, negeri seribu satu malam yang menjadi cikal bakal Daulah Khilafah itu kini menunjukkan wajah sekulerisme yang sangat kental. Dan kaum muslimah menjadi bulan-bulanan atas diberlakukannya sistem yang diskriminatif dan memojokkan Islam.

Bulan DESEMBER dunia muslimah kembali dihadang ajang ekploitasi wanita. Kali ini kontes Miss World yang digelar di Sanya Cina, 10 Desember 2005. Berbeda dengan ajang Miss Universe yang menuai kecaman keras, Lindi Cistia Praba, runner up I Putri Indonesia 2005 melenggang ke ajang Miss World 2005 nyaris tanpa halangan. Bahkan masyarakat Indonesia seperti sudah merestui ‘perjuangan’ Lindi.

Protes-protes kecil hanya terdengar sayup-sayup. Maklum, media massa tidak terlalu memblow up acara ini dibanding ajang Miss Universe yang lebih dulu digelar. Dan meski tidak mengantungi kemenangan, toh Lindi sudah ‘berhasil’ menampilkan kesan kepada dunia, betapa negeri muslim terbesar di dunia ini, kini telah menerima keterbukaan, yakni terbukanya aurat muslimah. Ironis. Bisa dipastikan, tahun-tahun mendatang pengiriman putri-putri ke kontes kecantikan tidak akan menemukan kendala lagi. Bahkan bisa jadi bakal dilegalkan. Dan Indonesia dipastikan segera menjadi tuan rumahnya.

Pada akhir Desember, muncul pula wacana pendidikan feminis bagi kaum perempuan (Jurnal Perempuan, 28/12/05). Prinsip pendidikan feminis adalah perjuangan perempuan untuk meminta kembali pikiran mereka yang dan mematahkan kediaman yang dipaksakan oleh struktur-struktur patriarkhat dan lembaga-lembaga yang membatasinya. Pendidikan feminis ini berakar pada paham dan politik feminis yang mendasarkan diri pada pengenalan sebab-sebab struktural dari sub-ordinasi, penaklukan, perbudakan dan pemerasan tenaga perempuan dengan menamakannya sistem patriarkhi. Demikian pandangan Yanti Muchtar, dari Kapal Perempuan yang disampaikan pada diskusi publik “Pendidikan Alternatif Untuk Perempuan” di diselenggarakan oleh Yayasan Jurnal Perempuan di Jakarta, (21/12/05).

Menurut Yanti, pada umumnya perempuan terperangkap dalam sebuah situasi keragu-raguan antara kepatuhan dan pemberontakan. Situasi ini membuat perempuan menjadi bimbang dan akhirnya tidak mampu melakukan tindakan-tindakan yang mendobrak dominasi. Melalui pendidikan feminis akan mendorong perempuan untuk melihat dirinya sebagai pembuat sejarah dan tidak hanya sebagai objek pasif dari proses bersejarah.

Berdasar berbagai rekaman peristiwa di atas, tarik-menarik antara liberalisme dan Islam sedemikian kuat. Di satu sisi ada upaya menjadikan liberalisme sebagai pijakan bagi perjuangan wanita, di sisi lain kaum muslimah berusaha sekuat tenaga bangkit menunjukkan eksistensinya.

Agenda ke Depan

Tahun 2006 dipastikan arus liberalisasi akan kian tak terbendung. Tantangan perjuangan muslimah tentu jauh lebih berat lagi. Apalagi, kian nyata permusuhan para pengusung ide liberalisme terhadap Islam ideologi. Karenanya, dibutuhkan usaha lebih besar dalam mengibarkan panji-panji Ilahi. Apa saja yang harus dilakukan kaum muslimah?

Pertama, membekali diri dengan pemahaman yang kokoh terhadap al-Qur’an dan Hadits, khususnya nash-nash yang terkait dengan keperempuanan. Ajaran liberalisme seringkali ‘merasuk’ melalui pintu reinterpretasi, redefinisi dan rekonstruksi ayat-ayat al-Qur’an yang terkait dengan keperempuanan. Misalnya nash-nash yang mereka sebut bernuansa diskriminasi terhadap perempuan, berbau patriarki, dan bias kelaki-lakian. Untuk melawannya, perlu pengentalan pemahaman atas nash-nash yang terkait dengan hukum-hukum perempuan yang sering dijadikan kaum liberal untuk mendiskreditkan Islam.

Diantaranya adalah nash tentang kepemimpinan laki-laki atas wanita (dalam rumah tangga) yang terus digugat, hukum pembagian waris dalam islam, hukum poligami, hukum ketaatan istri kepada suami, hukum jilbab, dan sebagainya. Harus terus diwaspadai adanya upaya-upaya penodaan nash-nash Alquran dengan kedok kesetaraan gender.

Kedua, mewaspadai ide-ide liberalisme yang merusak kaum muslimah dan membongkar kebrobrokannya. Ke depan, arus westernisasi akan semakin tertancap kuat di negeri ini. Isu keperempuanan sebagai senjata utama. Muslimah akan terus menrus dibujuk dan dirayu, dijadikan alat dan komoditi demi kelanggengan kapitalisme-liberal. Inilah tantangan yang harus dihadapi.

Bisa diprediksi, di masa mendatang isu legalisasi aborsi yang tahun 2005 belum goal masih akan menjadi titik poin perjuangan kaum liberal. Juga akan segera diperjuangkan legalisasi pernikahan muslimah dengan non-muslim, wacana yang mulai sayup-sayup disuarakan seiring dengan banyaknya realitas di masyarakat akan kawin campuran ini. Untuk itu akan ada rencana mengutak-atik undang-undang perkawinan, dengan tujuan akhir penghancuran institusi pernikahan dan keluarga muslim. Dari sini juga akan muncul upaya legalisasi hubungan sejenis (lesbianisme), menguatnya opini single parent, dan pembatasan kelahiran (melalui isu kesehatan reproduksi perempuan). Seks bebas, ekploitasi perempuan, pornografi dan pornoaksi juga masih menjadi musuh bagi perjuangan kaum muslimah.

Ketiga, lebih lantang menyuarakan ide-ide Islam, baik melalui aksi nyata maupun opini di media massa. Dewasa ini pengusung liberalisme demikian getol mengopinikan ide-ide nyelenehnya yang membahayakan kaum muslimin, terutama melalui media massa sebagai corongnya. Ini harus dilawan dengan hal yang sama. Karena itu, muslimah harus lebih berperan dalam menggemakan opini Islam kepada publik.

Keempat, memperkokoh kerja sama dan Ukhuwah Islamiyah antar-muslimah dan gerakan muslimah. Ikatan persatuan kaum muslimah penting untuk melawan kekuatan para pengemban liberalisme. Terlebih dengan semakin nyatanya musuh bersama umat Islam, sudah selayaknya jika seluruh muslimah yang berpegang teguh kepada ajaran Islam bersatu padu melawannya.
Akhirnya, dengan tetap berharap akan pertolongan Allah, kita optimis perjuangan muslimah akan menuai kemenangan.

Wallahu’alam bishawab.(*)

Iklan

11 Tanggapan to “Perjuangan Muslimah di Persimpangan: Antara Liberalisme dan Islam”

  1. Saleh Aziz said

    Poligami atas nama Alloh dan nafsu, membuat para kyai, ulama dan tokoh muslim lainnya menjadi cabul. Padahal jelas sekali poligami merendahkan derajat wanita. Membunuh juga atas nama agama. Kekerasan atas nama agama. Kenapa menjadi begini?

    Waktu jaman Majapahit, orang Jawa (Gajah Mada, dll) membuat nusantara makmur dan jaya. Orang jawa berkebudayaan tinggi, kreatif dan toleran.

    Setelah Islam masuk di Jawa, negara kita hancur korban dari penajahan Belanda, Jepang, dsb. Korban dari korupsi, kekerasan/teror, malapetaka. Dan korban dari imperialisme Arab (Indonesia adalah negara pemasok jemaah haji yang terbesar di dunia). Bangsa Arab ini memang hebat sekali karena telah berhasil menemukan cara untuk memasukkan devisa untuk mereka sendiri. Sedangkan situasi ekonomi negara kita dalam keadaan yang sangat parah. Imperialisme Arab ini memang sangat kejam. Turun-temurun sampai anak-cucu, tidak tahu sampai kapan, nusantara diharuskan membayar “pajak” kepada Imperialisme Arab ini dengan alasan: kewajiban menjalankan rukun Islam.

    Padahal, sebelum Islam masuk ke Jawa, orang Jawa sudah menganut agama universal yaitu agama Kejawen.

    Bagaimana caranya supaya orang Jawa kembali bisa memakmurkan negara kita yang tercinta ini?

  2. Prihatin atas pemikiran Saleh Aziz. Semoga antum segera menemukan jalan kebenaran yaitu Islam.

  3. ahmadsarwat said

    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    untuk informasi mengenai informasi mengenai keimanan dan Syariat Islam

    http://ahmadsarwat.wordpress.com

    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

  4. Zorion Annas said

    PERLAKUAN KASAR DIBENARKAN OLEH AL-QUR’AN

    Kang Sufehmi, bacalah kutipan surah an-Nisa ayat 34: “…Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur dan pukullah mereka…”

    Ini jelas sekali bahwa, di lingkungan muslim, wanita adalah korban dari kekerasan fisik, penghinaan, pelecehan seksual. Semuanya itu dihalalkan oleh Al-Qur’an.

  5. Saleh Aziz said

    Saya menemukan suatu hal yang sangat mengejutkan hati saya. Ini website-nya: http://agamarasional234.blogsource.com/

    Dalam artikel tsb, di bawah ini adalah salah satu kontradiksi yang dipaparkan:

    “Bila melihat latar belakang kehidupan Muhammad, adalah sulit sekali untuk dapat menerima bahwa ia adalah seorang yang suci. Peri kehidupan sexnya dengan banyak pelayan wanitanya/harem dan terlebih lagi dengan Aisha, gadis yang baru 9 tahun umurnya, sangat mengherankan dan mengerikan. Hubungan sex antara pria umur 54 th (Muhammad) dan Aisha (9 th) bila terjadi saat ini akan disebut kasus pedophili, dan pelakunya (yang dewasa) dapat dituntut hukuman penjara. Hal ini juga merupakan kontradiksi logika yang luar biasa (seorang nabi melakukan pedophili).”

  6. sholehah said

    untk saleh aziz: tolong jangan hanya membaca sejarah lokal (majapahiit) aja. tapi anda juga perlu tau bagaimana islam membebaskn bangsa arab dan bangsa2 lain di dunia dari kegelapan, keterbelakangan, menuju cahaya terang.kalau anda adalah orang kafir..ya pantes aja. karna sifat orang kafir emang selalu memerangi islam termasuk dengan opini.
    untuk zorion anas: dan juga saleh aziz, anda pasangan sekomplot ya…kok kompak amat menjelekkan islam. saya pikir pasti anda orang kafir, karna yang dipersoalkan syariat melulu. padahal hal pertama yang harus diluruskan dalam kehidupan manusia adalah ideologi, agama, atau keimanannya. tanyakan dulu masalah itu pada diri anda sendiri!!

  7. Zorion Annas said

    @ sholehah,

    Banyak orang Hindu Bali yang menjadi korban bom yang diledakkan oleh teroris muslim.

    Apakah benar, menurut Al-Qur’an, bahwa para teroris muslim itu nanti masuk surga?

    Terima kasih atas jawabannya.

  8. AISYAH said

    yakinlah kalo islam adalah agama yang benar . islam melarang keras kekerasan dan perzinaan . bukti akurat adalah kitab alQuran,,jangan hanya baca terjemahannya dunk,,tapi baca tafsirannya,,,,ato tanya pada ulama,,ustad dan petinggi agama islam,,coz mereka lebih tw dan lebih memahami kebenaran islam,,,,,ALLAHU AKBAR

  9. Solihin said

    Assalaamu’alaikum.
    Saya sangat setuju dengan poligami.
    Saya mempunyai seorang teman yang sudah mempunyai seorang istri + 2 anak. Dia mau tidur seranjang dengan gadis yang berumur 9 tahun. Gadis ini adalah anak dari seorang teman akrabnya. Teman saya ini mau mencontohi Nabi Muhammad SAW.
    Teman saya ini mengetahui bahwa gadis tsb bukan milik ayahnya, melainkan milik Alloh.
    Pertanyaan saya: Berhakkah si Ayah menolak permintaan teman saya ini? Apakah si ayah akan masuk neraka karena menolak ajaran Rasulullah?
    Terima kasih atas pertolongannya untuk menjawab pertanyaan ini.

  10. Hamba Allah Yang Hina said

    Assallamu Allaikum WR WB
    Bismillahi Rohmani Rohim
    Sesungguhnya umat Islam adalah umat yang satu, karena Islam adalah Rahmatan Lil Alamin. Sangat jelas dan gamblang ajaran Islam tersebut di Al Qur’an, jadi sekiranya ada umat yang mengaku Islam tetapi pernyataan-2nya bertentangan dengan Al Qur’an dan sunah Rasul, jelas mereka bukan umat Islam. Sejarah telah membuktikan bahwa banyak teladan-2 yang dapat kita ikuti melalui diri rasulullah dan para sahabat-2nya. Dengan demikian sebagai Umat Islam marilah kita bersatu, memperdalami keimanan kita untuk selalu mengharapkan tolong dan karunia Allah SWT agar kita tetap berpegang teguh kepada kitab Allah dan Sunnah Rasul, karena dengan tolong dan karunia-Nyalah kita sebagai makhluk yang lemah dan bodoh ini memperoleh kekuatan/persatuan untuk berjuang di jalan Allah SWT. Demikian sedikit komentar dari saya yang hina ini, haq adalah milik Allah SWT sedang khilaf dan bodoh adalah milik hamba-Nya yang lemah ini. Terima kasih, mohon ma’af atas segala kesalahan dan kepada Allah SWT saya mohon ampunan yang sebesar-besarnya.
    Alhamdulillahi Robbil Alamin
    Wassallamu Allaikum WR WB

  11. muhammad muslim said

    sudah saatnya Imam Mahdi dan Nabi Isa turun………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: