Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Menjadi Ibu yang “Ibu”

Posted by Farid Ma'ruf pada Februari 2, 2007

baitijannati – Umiiii….abi kerja lagii sekalii” (red: Abi kok kerja terus sih) dengan penuh penekanan anak pertamaku mengatakan itu padaku saat aku pakaikan baju kedia setelah memandikannya. Umur jagoan kecilku ini memang masih belum 3 tahun, tapi bagiku dia sudah memahami banyak hal tentang kehidupan orang-orang sekelilingnya. Memang kata-kata yang dia keluarkan kadang hanya aku yang mengerti bahkan kalau aku tidak mendengarkannya dari awal, aku hanya bisa bengong dengan ucapan-ucapan yang dia kelurkan, karena tatabahasa yang tidak bagus dan kadang-kadang bercampur dengan bahasa Inggris (yang pengucapannyapun tidak begitu jelas). Mendengar jundiku berbicara seperti itu, aku jadi terharu, dan kemudian aku peluk dia dan berkata “Abi kerja, kan untuk kita semua, Alhamdulillah masih punya umi di rumah kan?”. Entah dia mengerti atau tidak, yang pasti dia sudah tertawa dan melupakan ketidak hadiran abinya dirumah saat itu.

Kalau kita amati anak-anak, mereka senang sekali kalau orang-orang yang mereka cintai selalu ada didekat mereka. Mereka akan kesepian ketika kita tinggalkan. Jangankan untuk kita tinggalkan secara fisik, kita berada disamping mereka saja tapi kita mengerjakan hal yang lain, anak-anak sudah merasa tidak senang, dan mulai mencari-mencari perhatian kita dengan berbagai cara, salah satunya yang sering dilakukan anakku adalah merebut mainan dari adeknya. Saat itupun aku membayangkan diriku sebagaimana anak kecil, aku tidak bisa bayangin kalau aku diasuh oleh orang yang tidak aku kenal. Bagaimana perasaan anak-anak yang pengasuhan dan perawatan mereka ada ditangan baby sitter?

Disini saya ambil judul ibu yang “ibu”, karena sering kali sebagian besar muslimah yang sudah menjadi ibu tapi tidak mengerti dan bahkan tidak melakukan perannya sebagai seorang “ibu”. Banyak sekali para ibu karena tidak menginginkan kehadiran anaknya didunia ini, anaknya dibuang kesungai. Banyak ibu yang karena enggan merasa capek dan menderita dalam melahirkan dan merawat anaknya, diserahkan perawatan dan pencurahan kasih sayang kepada pembantunya. Banyak para ibu yang karena takut menghambat karirnya dan merusak tubuhnya, tidak merasa perlu memberika ASI bagi anaknya. MasyaAllah….

Anak-anak itu adalah titipan Allah, dan kita harus mempertanggungjawabkannya nanti dihadapanNya.

Rasulullah SAW bersabda:

kalian semua adalah pemimpin. Dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin dirumahtangganya dan dia bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang wanita (ibu) adalah pemimpin dirumah suaminya dan anak-anaknya, dan dia bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya” (Muttafaq Alaih)

Hadits tersebut mengatur peran ayah dan ibu dalam keluarga. Ayah sebagai pemimpin keluarga dan ibu juga memiliki peran yang penting dan strategis dalam pendidikan anak dirumah.

Banyak penelitian yang menyebutkan, betapa pentingnya pendidikan usia dini, usia yang disebut sebagai periode emas (1-3 tahun) dalam tumbuh kembang anak. Oleh karena itu pembelajaran dirumah (home schooling) bukanlah suatu pilihan, tetapi suatu kewajiban. Disinilah peran orang tua khususnya seorang ibu, dalam mendidik anak-anaknya diusia dini.

 

Mulianya peran “ibu”

Pada anak-anak usia dini, ibu memegang peran dan tanggung jawab yang terpenting. Pada usia dini, keterikatan anak dan ibu terjalin kuat. Bahkan secara khusus Al Qur’an menyebutkan adanya bakti kepada ibu, lebih dari ayah. Inilah pesan Islam yang terdalam mengenai keutamaan dan kemuliaan peran ibu pada anak-anak usia dini.

Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (Qs. Luqman [31]: 14)

Dari Abu Hurairah r.a, meriwayatkan bahwa seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata: “Ya, Rasulullah, siapakah dari keluargaku yang paling berhak saya perlakukan dengan baik?” Jawab beliau, “Ibumu”. Dia bertanya, “Setelah itu siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya lagi, “Setelah itu siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya lagi, “Setelah itu siapa?” Beliau menjawab,”Bapakmu”. (HR. Bukhari Muslim)

Penghormatan Islam yang tertinggi kepada para ibu, antara lain tergambar dalam sabda Nabi SAW:

Syurga itu berada di bawah telapak kaki ibu” . (HR. Ahmad)

 

Jannah; Bagi sang “Ibu”

Bila seorang muslimah menyadari betapa tinggi dan mulia peran ibu, niscaya ia tidak akan menukarnya dengan aktivitas-aktivitas yang hukumnya mubah. Sekiranya ia harus bekerja untuk membantu mencukupi nafkah keluarganya, maka ia akan mencari cara pelaksanaan aktivitas tersebut tanpa mengurangi keoptimalan peran keibuannya. Ia akan menjadi orang yang ingin melalui tahap demi tahap pertumbuhan anaknya diusia dini, sejak merawat kandungan, melahirkan, menyusui, mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Islam memberikan balasan atas aktivitas-aktivitas tersebut setara dengan pahala pejuang fisabilillah digaris depan medan pertempuran. Sementara ganjaran syahid adalah syurga. Siapa yang tak inginkan hal ini?

Rasulullah bersabda:

Wanita yang sedang hamil dan menyusui sampai habis masa menyusuinya seperti pejuang digaris depan fisabilillah. Dan jika ia meninggal diantara waktu tersebut, maka sesungguhnya baginya adalah mati syahid”. (HR. Thabrani)

Sungguh, motivasi meraih kemuliaan inilah yang mendorong para ibu untuk mencurahkan kesungguhannya menjalankan peranannya. Itulah sebabnya, tidak ada yang bisa menggantikan nilai strategis peran ibu dalam pendidikan anak usia dini. Ibu adalah pendidik anak yang pertama dan utama. Ibu adalah figur terdekat bagi anak. Kasih sayang sang ibu menjadi jaminan awal bagi tumbuh kembang anak secara baik dan aman. Para pakar berpendapat bahwa kedekatan fisik dan emosional merupakan aspek penting keberhasilan pendidikan.

Kita tentunya mendambakan lahirnya generasi-generasi unggulan berkualitas pemimpin. Sudah saatnya harapan ini ditanamkan pada anak sejak usia dini. Ibulah harapan utama dalam mencetak generasi dambaan ini.

Jika sebagian ibu masih mengesampingkan peranan “ibu” ini, bahkan melalaikan dengan berbagai alasan yang tidak dibenarkan dalam Islam, maka masihkah layak dikatakan syurga ditelapak kakinya? Wallahua’lam bisshowab.[RN]

 

*anakku sayang, umi akan berusaha keras untuk menjadi guru terbaik bagimu, maafkan umi jika masih banyak kesalahan yang umi lakukan terhadapmu. Semoga Allah menjadikan kalian anak shaleh dan generasi pilihan*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: