Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Duh ….Cinta

Posted by Farid Ma'ruf pada Februari 2, 2007

Oleh: Ummu Hafizh

baitijannati – Cinta …kata-kata ini saat ini sangatlah mendominasi. Cinta bisa mengalahkan segalanya, cinta adalah sumber kehidupan, cinta adalah penerang…begitu katanya. Tapi apakah memang seperti itu kenyataannya.

Ketika membicarakan cinta, saat ini masyarakat diarahkan untuk menjadikan cinta yang lebih utama dibandingkan apapun. Kita lihat sinetron-sinetron saat ini, atas nama cinta, tidak lagi perduli apakah seseorang itu sudah ada yang memiliki atau tidak. Seperti dalam sinetron the bold and the beautiful, atas nama cinta seorang ibu tega terhadap anaknya sendiri, karena dia sudah terlanjur cinta sama suami anaknya dan bahkan bapak dari cucunya sendiri, masyaAllah…dan atas nama cinta juga seorang laki-laki menikah dengan laki-laki dan seorang perempuan menikah dengan perempuan, naudzubillahhimindhalik

Tapi disisi yang lain, film-film juga mengajarkan bahwa cinta itu adalah menerima orang apa adanya, dan mencintainya dengan sepenuh hati, kalau bisa sehidup semati. Seperti dalam film Romeo and Juliet, karena saling mencintai dan tidak ingin dipisahkan akhirnya mereka mati bersama. Mereka tidak lagi peduli apakah maninggalnya mereka dengan cara yang benar (Husnul khotimah) atau cara yang bathil, tapi atas nama cinta semuanya begitu terasa haru dan bahkan terkadang kita terhanyut dan akhirnya membenarkan saja apa yang mereka lakukan. Lain lagi dengan film Bridget Jone’s Diary, disitu digambarkan, seorang Mark Darcy yang begitu sempurna, dia seorang top lawyer di England karena begitu mencintai si Bridget (Renée Zellweger) dia menerima si Bridget dengan sepenuh hati, meskipun si Bridget orangnya gendut, suka berbuat yang memalukan dll. Bahkan Si Darcy rela melakukan apa saja untuk membuat Bridget senang. Duh begitu indahkan cinta….

Pada kenyataannya, cinta tidaklah seindah apa yang digembor-gemborkan. Pada faktanya si Renée Zellweger pada kehidupan nyatanya dia harus berpisah dengan suaminya, karena dia tidak mau menguruskan badan dia kembali seperti semula (itu kata suatu majalah, tidak tahu kepastian kebenarannya). Dan banyak sekali contoh kehidupan disekeliling kita, ketika girl friendnya bunuh diri apakah lantas boy friendnya ikut bunuh diri juga…ndak kan, bahkan kebanyakan mereka cari pasangan lain lagi, yang mati..ya mati sia-sia saja.

Begitu juga ketika kita menikah, apakah lantas cinta suami itu milik istri sepenuhnya atau cinta istri milik suami sepenuhnya, duh…tak tahu lah. Mungkin seorang pasangan pernah membicarakan tentang poligami (yang itu mubah dalam Islam, dan saat ini diopinikan seakan-akan hal yang merugikan wanita). Ketika berbicara poligami saat ini seakan-akan pihak perempuan adalah pihak yang merugi, dan pihak laki-laki digambarkan sebagai sosok yang serakah dan sebagainya. Jadi seakan-akan cinta itu haruslah mendominasi, seluruh kehidupan. Sampai-sampai hukum Allahpun kalau berdasarkan cinta merugikan, maka hukum Allah itu akan dianggap suatu hal jelek, masyaAllah…

Begitulah akibat dari sistem kapitalis saat ini, segala sesuatu diukur berdasarkan kenikmatan materi belaka. “Cinta” adalah salah satu ide yang dihembuskan kepada ummat Islam saat ini. Saat ini ide tersebut sangat berhasil mempengaruhi kaum muslimin, dan terutama kalangan pemudanya.

Islam datang seperangkat hukum yang lengkap dan jelas. Dalam permasalahan cinta inipun Islam punya aturannya. Nah coba mari kita membuka kembali al-Qur’an tentang pembahasan cinta ini.

 

Bagaimana Islam menempatkan cinta?

Dalam al-Qur’an Allah sudah jelas sekali mendudukkan cinta ini, bagaimana cinta seorang hamba terhadap Allah dan Rasulnya, cinta seorang orang tua terhadap anaknya, cinta seseorang terhadap harta dan perniagaannya, dan bagaimana cinta seseorang terhadap saudaranya dan bagiamana pula cinta seorang Islam terhadap orang kafir. Allah menjelaskan hal ini dengan gamblang dan terperinci.

 

Wujud cinta seorang hamba terhadap Allah dan Rasulnya, tiada lain hanya dengan cara mengikuti syari’at yang telah ditetapkan oleh Allah.

Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs. Ali Imran [3]: 31)

Cinta hama terhadap Allah dan Rasulnya, mengalahkan terhadap cintanya kepada yang lainnya, tak terkecuali anak dan istrinya bahkan jiwanya.

Katakanlah: ‘jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. (Qs. At Taubah [9]: 24)

Bagaimana ketika kita murtad (tidak lagi memeluk ajaran Allah), Allah tidaklah membutuhkan cinta kita, tapi kitalah yang membutuhkan cintaNya.

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui”. (Qs. Al Maidah [5]: 54)

 

Terhadap saudara kita seaqidah, haruslah kita mencintainya seperti kita mencintai diri kita sendiri, bahkan lebih dari cinta kita terhadap diri kita sendiri. Hal ini sudah dicontohkan oleh para sahabat, yaitu persahabat antara kaum Anshor dan Muhajirin. Betapa cinta mereka terhadap saudaranya, kaum Anshor rela memberikan apa saja yang mereka punyai meskipun diri mereka dalam keadaan susah.

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung”. (Qs. Al Hasyr [59]: 9)

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (Qs. Al Hasyr [59]: 10)

 

Islam juga menjelaskan bagaimana cinta kita terhadap orang kafir.  Terhadap sesama muslim kita saling berkasih sayang, namun keras terhadap orang kafir, apalagi terhadap orang kafir yang menyerang ummat Islam.

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka”. (Q.s Al Fath [48]: 29)

 

Selain itu juga Islam mengajarkan bagaimana cinta seorang anak terhadap bapak ibunya. Ibu yang telah melahirkan kita, dan bapak ibu yang telah merawat kita sejak kita tidak mampu berbuat apa-apa. Allah menyuruh seorang anak untuk berbakti kepada keduanya dan bersyukur kepada Allah.

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).” (Qs. Al Ahqâf [46]:15)

Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.” (Qs. Luqman [31]:14)

Dari Abu Hurairah r.a, katanya: “Seseorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya, Rasulullah, siapakah dari keluargaku yang paling berhak dengan kebaktianku yang terindah?” Jawab beliau, “Ibumu!, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian bapakmu, kemudian yang terdekat kepadamu, yang terdekat“.

 

Dan yang tidak kalah penting, didalam al-Qur’an dijelaskan juga bagaimana cinta Allah terhadap hamba-hambanya yang beriman dan bertaqwa.

(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa”. (Ali Imran [3]:76)

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (Qs. An-Nisâ’ [4]: 69)

Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (Qs. al-Mâ’idah [5]: 93)

 

Jadi penempatan cinta itu tidaklah membabibuta, sebagai orang muslim kita haruslah mengikuti perintah Allah, begitu juga ketika menempatkan cinta. Kita harus menempatkan cinta terhadap Allah diatas cinta yang lainnya, bahkah mengalahkan cinta seorang istri terhadap suaminya dan mengalahkan cinta seorang ibu terhadap anak-anaknya. Sebagai seorang istri, haruslah paham cinta suami tidaklah mutlaq untuk istri. Sebagaimana penjelasan ayat-ayat diatas, ketika ada panggilan jihad seorang suami haruslah rela meninggalkan istri dan anak-anaknya demi melaksanakan perintah Allah yang mulia. Bahkan seorang istri haruslah mengalah terhadap orang tua suami, karena orang tualah yang lebih punya haq terhadap suami kita.

Seorang pemuda Islam haruslah mengerti Islam, para pemuda inilah yang menjadi tumpuan kebangkitan Islam. Kalau sampai para pemuda Islam dibuai dengan “cinta” yang dihembuskan oleh musuh-musuh Islam, maka kita akan bisa menebak apa yang akan terjadi nantinya. Pemuda Islam harus menyingkirkan virus-virus “cinta” yang tidak jelas artinya itu. Pemuda Islam haruslah menjadikan cinta kepada Allah menjadi cinta yang utama, berbakti kepada bapak ibunya dan bersaudara terhadap sesama muslim. So jangan mau lagi dilenakan oleh sesuatu yang tidak jelas artinya dan tidak jelas balasannya. Kalau kita mencintai dan dicintai karena Allah, insyaAllah jannahlah balasannya.

Amat jelas dan terperinci sekali penjelasan Allah dalam ayat-ayatnya, masihkan kita mengikuti arus dimasyarakat yang menjadikan cinta sebagai tolak ukur kehidupan? Hanya al-Qur’an dan as-Sunnah sajalah yang pantas untuk kita jadikan tolak ukur dalam kehidupan kita. Semoga ummat Islam kembali menjadikan Islam sebagai bagian dari hidupnya kembali.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: