<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Rumahku Surgaku</title>
	<atom:link href="http://baitijannati.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://baitijannati.wordpress.com</link>
	<description>Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah</description>
	<pubDate>Mon, 18 Aug 2008 06:04:43 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=MU</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ketika Salah Memaknai Cinta</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2008/08/18/ketika-salah-memaknai-cinta/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2008/08/18/ketika-salah-memaknai-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Aug 2008 06:04:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Keluarga Samara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Titi Qamariah

Baiti Jannati. SEKARANG kaum yang mengalami penyimpangan kecenderungan seksual, sudah tidak malu dan segan lagi untuk menunjukkan identitas mereka yang sebenarnya.
Apalagi ketika baru-baru ini, massa digemparkan dengan tertangkapnya Sang Penjagal dari Jombang Jatim, Feri Idham Henyansyah alias Ryan yang disinyalir memiliki kelainan orientasi seksual alias gay. Ryan tersangka mutilasi Heri Santoso 12 Juli [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><strong>Oleh: Titi Qamariah</strong></p>
<p style="text-align:left;"><strong><br />
<em>Baiti Jannati</em>. SEKARANG</strong> kaum yang mengalami penyimpangan kecenderungan seksual, sudah tidak malu dan segan lagi untuk menunjukkan identitas mereka yang sebenarnya.</p>
<p>Apalagi ketika baru-baru ini, massa digemparkan dengan tertangkapnya Sang Penjagal dari Jombang Jatim, Feri Idham Henyansyah alias Ryan yang disinyalir memiliki kelainan orientasi seksual alias gay. Ryan tersangka mutilasi Heri Santoso 12 Juli lalu dan terakhir ditemukan 10 kerangka korban lainnya yang ditanam di belakang rumahnya di Jombang. Motif pembunuhan di antaranya asmara dan harta.<span id="more-191"></span></p>
<p>Opini publik bermunculan dan tidak ketinggalan para selebritis di Tanah air. Termasuk seorang artis laki-laki yang pernah dengan terang-terangan mengaku gay, lewat sebuah acara infotainment beberapa waktu lalu, juga ikut berkomentar.</p>
<p>Ada kontroversi, sebagian mengutuk tapi tidak sedikit yang malah membela dan mengasihaninya. Bahwa kaum yang memiliki kelainan orientasi seksual memang cenderung posesif terhadap pasangannya.</p>
<p>Bahkan saking <em>error</em>nya ada sebuah ungkapan bahwa cinta nomor satu, jenis kelamin nomor dua, yang penting kasih sayang.</p>
<p>Mereka mengklaim perbuatan mereka dengan dalih Hak Asasi Manusia (HAM). Mereka mengatasnamakan HAM untuk melegalkan aktivitas menyimpang tersebut dalam memaknai cinta.</p>
<p>Apalagi sekarang juga marak para selebritis yang jelas-jelas laki-laki tapi senang berpenampilan perempuan. Mereka melakukannya dengan dalih tuntutan pekerjaan atau profesionalisme. Namun ternyata ini tidak sekedar masalah penampilan yang menyerupai perempuan saja, tapi juga bergeser sampai keraguan terhadap orientasi seksual mereka.</p>
<p>Anehnya, perilaku menyimpang tersebut malah dinikmati sebagai tontonan yang menarik dan menghibur bagi masyarakat kita. Kenapa fenomena rusak ini sampai terjadi? Bukankah ini sudah mengindikasikan bangkitnya kaum Luth di Indonesia?</p>
<p>Kalau fenomena ini terjadi di negara barat yang notabene menganut asas sekuler, hal ini sah-sah saja bahkan aktivitasnya dilindungi dan dijamin pelaksanaannya oleh negara dengan melegalkan perkawinan sesama jenis ini.</p>
<p>Tapi, ironisnya fakta ini juga marak di Indonesia yang merupakan negeri dengan mayoritas penduduknya adalah muslim.</p>
<p>Ternyata semakin maraknya praktik ‘Kaum Luth’ di Indonesia tidak terlepas dari adanya legitimasi dari sejumlah cendekiawan bidang agama yang secara terbuka menghalalkan perkawinan sesama jenis ini. Salah satunya Prof Dr Siti Musdah Mulia, dosen pascasarjana UIN Jakarta yang juga aktivis AKKBB.</p>
<p>Dalam salah satu wawancaranya dengan Jurnal Perempuan (Maret,2008), Musdah menyatakan: &#8220;Esensi ajaran agama adalah memanusiakan manusia, menghormati manusia dan memuliakannya. Tidak peduli apa pun ras, suku, warna kulit, jenis kelamin, status sosial dan orientasi seksualnya&#8230;&#8221;</p>
<p><strong>Pandangan Islam</strong></p>
<p>Islam adalah dien yang sempurna, karena bersumber dari Sang Maha Sempurna yaitu Allah SWT. Manusia diciptakan oleh Allah beserta segenap potensinya, termasuk naluri berkasih sayang <em>(gharizah nau’)</em>.</p>
<p>Seperti dalam sebuah lagu bahwa rasa cinta itu pasti ada pada makhluk yang bernyawa. Baik itu kepada sesama manusia, entah itu cinta kepada orang tua, saudara, lawan jenis bahkan dengan dirinya sendiri. Intinya, cinta adalah naluri fitrah yang sudah ada sepaket dengan penciptaan manusia.</p>
<p>Oleh karena itu, Islam tidak pernah melarang untuk mencintai, cuma yang selalu jadi catatan adalah apa dan bagaimana aktivitas pemenuhan/penyaluran rasa cinta itu.</p>
<p>Ya, inilah poin dari pembahasan tentang memaknai cinta ini. Manusia sering egois dengan membuat tafsir dan memaknai sendiri sesuai dengan hawa nafsunya terhadap hal yang menyangkut dirinya. Akhirnya cinta pun dimaknai dengan sebebas-bebasnya, diagung-agungkan sebagai sesuatu yang mutlak dipenuhi.</p>
<p>Hal ini sejalan dengan hasil pemikiran Sigmund Freud, seorang psikolog asal Austria yang akhirnya mengubah makna cinta yang mulia menjadi semata urusan seksual, cinta yang harus disalurkan dengan sebebas-bebasnya agar manusia merasa bahagia.</p>
<p>Pandangan Freud inipun berpengaruh pada masyarakat dunia dan dengan disokong oleh media yang ikut mempropagandakan budaya hidup hedonis dan permissive ini.</p>
<p>Dalam Islam <em>gharizah nau </em>adalah fitrah manusia. Secara alamiah ada dalam dirinya dan terdorong untuk memenuhi/menyalurkannya. Dalam hal inilah Islam mengatur bagaimana aktivitas pemenuhan GN yang benar sesuai syariat. Hal itu tidak lain hanyalah melalui sebuah ikatan suci pernikahan dan hanya berlaku kepada pasangan lawan jenis, laki-laki dengan perempuan bukan sesama jenis.</p>
<p>Sebelum adanya ijab kabul, maka syariat membatasi pergaulan antara lawan jenis ini. Islam juga menetapkan bahwa arah hubungan laki-laki dan perempuan dalam pernikahan adalah untuk melanjutkan keturunan.</p>
<p>Seperti firman Allah SWT, &#8220;Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah yang menciptakan kalian dari satu jiwa. Dari jiwa itu Allah menciptakan istrinya dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak&#8221; (Q.S An-nisa: 1).</p>
<p>Lalu pertanyaannya, bagaimana kalau cinta dengan sesama jenis? Bisa-bisa umat ini akan <em>lost generation </em>seperti yang terjadi di negara barat yang melegalkan perkawinan sesama jenis.</p>
<p>Akhirnya, hanya satu kesimpulan bahwa fenomena buruk ini bukti semakin jauhnya Islam dengan umatnya. Saatnya kita tinggalkan sistem kapitalis sekuler yang rusak dan kufur ini.</p>
<p>Bangsa kita sudah penuh himpitan masalah dan berbagai bencana tak henti menimpa. Jangan sampai Allah menimpakan hukuman sebagaimana yang terjadi pada kaum Luth.</p>
<p>Solusi komprehensifnya adalah dengan kembali ke penerapan sistem Islam menjadi pemecah semua masalah dan yang pasti membawa maslahat dan ridho Allah SWT. (www,baitijannati.wordpress.com)</p>
<p align="right"><em>Penulis: Pembina Integrasi Studi Islam (ISI)<br />
STIA Amuntai</em></p>
<p style="text-align:left;">Sumber : http://www.banjarmasinpost.co.id/content/view/44907/644/</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/191/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/191/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/191/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=191&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2008/08/18/ketika-salah-memaknai-cinta/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/faridmsn-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Miss Universe: Eksploitasi Kapatalisme Global Atas Wanita</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2008/08/16/miss-universe-eksploitasi-kapatalisme-global-atas-wanita/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2008/08/16/miss-universe-eksploitasi-kapatalisme-global-atas-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Aug 2008 04:56:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Muslimah Terkini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) berpendapat, Miss Universe (ratu sejagat) dan lomba kecantikan sejenisnya merupakan salah satu eksploitasi kapitalisme global terhadap kaum perempuan.
Karena itu, HTI menyatakan prihatin atas pengiriman wanita Indonesia ke ajang Miss Universe dan sejenisnya, ujar Humas Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I HTI Kalimantan Selatan (Kalsel), H. Hidayatullah Akbar yang akrab disapa Dayat, di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignright" src="http://baitijannati.files.wordpress.com/2008/08/neraka-ratu-kecantikan.jpg?w=200&#038;h=200" alt="" width="200" height="200" />Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) berpendapat, Miss Universe (ratu sejagat) dan lomba kecantikan sejenisnya merupakan salah satu eksploitasi kapitalisme global terhadap kaum perempuan.</p>
<p>Karena itu, HTI menyatakan prihatin atas pengiriman wanita Indonesia ke ajang Miss Universe dan sejenisnya, ujar Humas Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I HTI Kalimantan Selatan (Kalsel), H. Hidayatullah Akbar yang akrab disapa Dayat, di Banjarmasin, Rabu.</p>
<p>Pasalnya lomba Miss Universe tersebut menunjukkan upaya sistematis membuat perempuan Indonesia kehilangan jati diri sebagai bangsa yang menjunjung tinggi moral yang berdasarkan nilai-nilai agama, lanjutnya, di sela-sela kegiatan “Dialog Rajab” 1428 Hijriyah di Balai Kota Banjarmasin.<span id="more-188"></span></p>
<p>Oleh sebab itu, HTI melalui juru bicara Muslimahnya menyeru semua pihak menolak perempuan dijadikan komoditas berdasarkan ukuran primitif berupa kemolekan fisik, menghentikan eksploitasi perempuan dalam bentuk apapun, serta mengarahkan perempuan Indonesia kembali kepada kemuliaannya sebagai perempuan yang berpegang teguh pada nilai-nilai agama.</p>
<p>Karena itu, kaum Muslimin harus terus mewaspadai terhadap berbagai upaya eksploitasi kapitalisme global, baik terhadap perempuan dengan Miss Universe-nya maupun lainnya dalam bentuk berbeda tetapi pada hakekatnya sama, katanya. (ant)</p>
<p><a href="http://www.antara.co.id/arc/2008/7/31/miss-universe-eksploitasi-kapatalisme-global-atas-wanita/" target="_blank">Antara</a></p>
<p>Press Realease Muslimah HTI:</p>
<ul>
<li> <strong><a title="Permanent Link to Tanggapan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Tentang Miss Universe" rel="bookmark" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/15/2008/07/12/tanggapan-terhadap-keikutsertaan-perempuan-indonesia-dalam-ajang-miss-universe/">Tanggapan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Tentang Miss Universe</a></strong></li>
</ul>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/188/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/188/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/188/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=188&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2008/08/16/miss-universe-eksploitasi-kapatalisme-global-atas-wanita/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/faridmsn-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://baitijannati.files.wordpress.com/2008/08/neraka-ratu-kecantikan.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>HTI Jogja Promosikan Pendidikan Integral Anak Usia Dini Berbasis Aqidah Islam</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2008/08/05/hti-jogja-promosikan-pendidikan-integral-anak-usia-dini-berbasis-aqidah-islam/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2008/08/05/hti-jogja-promosikan-pendidikan-integral-anak-usia-dini-berbasis-aqidah-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Aug 2008 17:52:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dunia Jundiku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/?p=183</guid>
		<description><![CDATA[Baiti Jannati &#8212; Pada hari ahad tanggal 27 Juli 2008, bertempat di Aula Balai Kota Jogjakarta, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) DPC Kota Jogjakarta menggelar Workshop dengan tema “Pendidikan Integral Anak Usia Dini Berbasis Aqidah Islam“. 
 
Acara yang diselenggarakan sebagai rangkaian peringatan Hari Anak Nasional ini menampilkan pembicara Ibu Nur Habibah, S.Psi, M.Si (Konsultan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignright" src="http://hizbut-tahrir.or.id/wp-content/uploads/2008/08/training-padu02.jpg" alt="" width="231" height="179" /><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><em><strong>Baiti Jannati</strong></em> &#8212; Pada hari ahad tanggal 27 Juli 2008, bertempat di Aula Balai Kota Jogjakarta, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) DPC Kota Jogjakarta menggelar <em>Workshop</em> dengan tema “<em>Pendidikan Integral Anak Usia Dini Berbasis Aqidah Islam</em>“. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Acara yang diselenggarakan sebagai rangkaian peringatan Hari Anak Nasional ini menampilkan pembicara Ibu Nur Habibah, S.Psi, M.Si (Konsultan Masalah Anak dan Keluarga), Ibu Aini Qori’ah, A.Md (HTI Kota Jogjakarta), dan Ibu Shinta Asri Risnaeni, S.Psi (Home Schooling Group Karima Aqila).</span><span id="more-183"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dengan jumlah peserta kurang lebih 100 orang dari perwakilan pengurus PAUD mulai tingkat RW sampai tingkat kecamatan se-Kota Jogjakarta dan masyarakat umum.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Workshop</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> di buka dengan sambutan dari DPC HTI Kota Yogyakarta, Ustadzah Meti Astuti, SEI. Beliau memaparkan bahwa betapa pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini, karna pada usia 0 sampai 8 tahun terjadi pertumbuhan otak mencapai 80%, kemudian setelah itu hanya sisanya saja 20%. Pada Usia 0 sampai 8 tahun itulah terjadi proses pertumbuhan yang sangat cepat. Jadi kalau ada Ibu-ibu yang mengabaikan pendidikan anak usia dini, itu adalah tindakan yang keliru. apalagi pada usia 0 sampai 3 tahun yang merupakan masa emasnya/golden age.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Melalui <em>Workshop</em> ini, HTI ingin menjelaskan kepada para peserta, bahwa dengan Metode <em>Pendidikan Anak Usia Dini</em> Berbasis <em>Aqidah Islam</em> akan mencetak anak-anak yang sholeh, memiliki kepekaan sosial yang tinggi (tidak hanya memikirkan diri sendiri), dan berjiwa pemimpin (<em>problem solver</em>), artinya, tidak menjadi pembuat masalah tapi justru menjadi orang yang bisa memberi solusi atas berbagai masalah di masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Acara berlangsung interaktif, disertai peragaan langsung oleh pemateri dan memberi contoh bagaimana cara mengajari anak didik dengan sikap serta lagu-lagu Islami. Para peserta merespon positif atas terselenggaranya acara ini. (www.baitijannati.wordpress.com)<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">(<em>Lajnah I’lamiyah</em> HTI DPC Kota Jogjakarta)</span></strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/183/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/183/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/183/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=183&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2008/08/05/hti-jogja-promosikan-pendidikan-integral-anak-usia-dini-berbasis-aqidah-islam/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/faridmsn-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hizbut-tahrir.or.id/wp-content/uploads/2008/08/training-padu02.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Agar Anak Terbiasa Berdakwah</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2008/07/18/agar-anak-terbiasa-berdakwah-2/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2008/07/18/agar-anak-terbiasa-berdakwah-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 01:08:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dunia Jundiku]]></category>

		<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/?p=180</guid>
		<description><![CDATA[Diasuh oleh Dra. (Psi) Zulia Ilmawati
Assalaamu&#8217;alaikum Wr.Wb
Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga yang saya hormati, Saya ibu dari 3 orang anak.  Anak pertama saya, laki-laki berumur10 tahun, kedua perempuan 7 tahun dan yang ketiga perempuan juga masih 3 tahun. Alhamdulillah mereka tumbuh sehat dan menyenangkan. Kalau sedikit nakal, namanya juga anak-anak. Saya dan suami kebetulan cukup aktif [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="wp-caption alignright" style="width: 97px"><img src="http://baitijannati.files.wordpress.com/2008/07/ustdz-zulia.png?w=87&#038;h=115" alt="Zulia Ilmawati" width="87" height="115" /><p class="wp-caption-text">Zulia Ilmawati</p></div>
<p class="MsoNormal">Diasuh oleh Dra. (Psi) Zulia Ilmawati</p>
<p class="MsoNormal">Assalaamu&#8217;alaikum Wr.Wb</p>
<p class="MsoNormal">Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga yang saya hormati, Saya ibu dari 3 orang anak.  Anak pertama saya, laki-laki berumur10 tahun, kedua perempuan 7 tahun dan yang ketiga perempuan juga masih 3 tahun. Alhamdulillah mereka tumbuh sehat dan menyenangkan. Kalau sedikit nakal, namanya juga anak-anak. Saya dan suami kebetulan cukup aktif dalam kegiatan dakwah sejak kami masih sama-sama kuliah dulu. Setelah saya berkeluarga, saya ingin agar anak-anak kelak juga mengikuti jalan kehidupan seperti yang sudah kami pilih, yaitu kehiduppan dalam dakwah. Apa yang seharusnya saya lakukan, agar anak-anak kelak senang berada dalam kehidupan dakwah dan menjadi pengemban dakwah yang tangguh? Apakah mungkin saya bisa memulainya sejak dari sekarang. Terima kasih untuk saran-sarannya?</p>
<p class="MsoNormal">Wassalamu&#8217;alaikum Wr.Wb.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Rina</p>
<p class="MsoNormal">Bogor<span id="more-180"></span></p>
<p class="MsoNormal">Wa&#8217;alaikumsalam Wr.Wb.</p>
<p class="MsoNormal">Ibu Rina yang baik,</p>
<p class="MsoNormal">Alhamdulillah, saya senang membaca surat ibu yang menceritakan bagaimana ibu dan suami begitu menikmati kehidupan dakwah. Dan keinginannya untuk mengenalkan  kehidupan dakwah sejak dini kepada anak-anak, juga harapan-harapannya agar kelak  mereka menjadi pengemban dakwah yang tangguh. Dakwah Islam sesungguhnya memang membutuhkan para pengemban yang tangguh. Dan seorang pengemban  dakwah yang tangguh tidak akan lahir begitu saja. Tapi harus melalui proses dan upaya terus menerus, bahkan sejak dari masa kanak-kanak. Maka, mengajak anak “berdakwah” sedari dini sangatlah penting agar anak-anak sudah terbiasa dengan kegiatan dakwah agar akhirnya dia juga bercita-cita menjadi pengemban dakwah yang tangguh.</p>
<p class="MsoNormal">Ibu Rina yang baik,</p>
<p class="MsoNormal">Mengenalkan kehidupan dakwah pada anak-anak dapat dimulai dengan melibatkan anak dalam aktivitas dakwah. Hal ini penting untuk memberikan contoh dan lingkungan yang kondusif, sehingga suasana dakwah sudah bisa dirasakan anak sejak dini. Ajaklah anak turut serta  ketika ibu menjadi peserta atau pembicara dalam pengajian, diskusi, seminar  atau bahkan aksi-aksi protes di jalanan. Sesampai di rumah, anak bisa diminta pendapatnya tentang  kegiatan yang baru saja ia ikuti. Bisa juga ditanya tentang materi yang disampaikan ibu, respon atau tanggapan para peserta, bahkan mungkin tanpa kita duga ia juga mempunyai  kritik dan saran buat ibu. Sebelum memutuskan untuk mengajak anak pergi berdakwah tentu harus dipertimbangkan kondisi kesiapan anak. Maka, lakukan persiapan seperlunya  agar anak di sana bisa  merasa nyaman dan tidak malah  menimbulkan masalah.</p>
<p class="MsoNormal">Ibu Rina yang baik,</p>
<p class="MsoNormal">Mengajak anak terlibat dakwah bisa juga dilakukan secara tidak langsung. Misalnya dengan  membantu orang tua saat orang tua tidak di rumah. Ketika ibu harus bergegas pergi pagi-pagi untuk urusan dakwah, ajaklah anak yang besar  membantu adiknya menyiapkan keperluan sekolah, atau membantu membereskan rumah. Sehingga ketika ibu kembali rumah sudah rapi. Dengan cara itu, anak akan melihat langsung kesibukan orang tua dalam dakwah. Dan anak juga bisa merasakan langsung bagaimana ia ternyata bisa membantu mendukung dakwah meski hanya dengan melakukan sebagian kecil pekerjaan ibu di rumah. Cara lain yang juga penting untuk mengajak anak berdakwah adalah dengan menciptakan suasana dakwah di rumah. Misalnya dengan mengembangkan kebiasaan saling nasehat menasihati atau  seringnya rumah dijadikan sebagai tempat aktivitas dakwah.</p>
<p class="MsoNormal">Ibu Rina yang baik,</p>
<p class="MsoNormal">Untuk menumbuhkan semangat dan motivasi ibu bisa menceritakan kepada anak-anak bagaimana kehidupan Rasulullah dan para sahabat. Sampaikan kepada mereka bahwa kehidupan Rasulullah dan para sahabat tidak pernah lepas dari kehidupan dakwah. Ceritakan bagaimana perjuangan Rasulullah dan para sahabat menyebarkan Islam ke seluruh dunia. Sesekali, penting untuk disampaikan kepada anak janji-janji Allah untuk para pengemban dakwah.  Tidak ada salahnya  jika anak juga diberikan penjelasan yang benar tentang jihad misalnya. Ketika tengah melihat tivi atau membaca koran biasanya ada topik yang menarik. Bagus bila anak sudah langsung bisa berkomentar dan memberikan pendapat. Kita tinggal  menambahi atau memberikan arahan serta solusi menurut Islam. Kalau anak-anak belum memberikan respon, kita bisa memancingnya dengan bertanya kepada mereka, apa tanggapannya setelah melihat itu semua. Bukan hanya tanggapan, bila perlu ajaklah anak memberikan respon secara kongkrit.  Bisa juga dengan mengajak mereka berdoa bersama-sama setelah selesai shalat berjamaah agar  Allah memberikan pertolongan kepada mereka. Jangan lupa biasakan anak juga berdoa untuk keselamatan dan kejayaan umat Islam di seluruh dunia.  Demikian Ibu Rina, mudah-mudahan kelak anak-anak ibu benar-benar menjadi pengemban dakwah yang tangguh. Amiin. (<a href="http://www.baitijannati.wordpress.com/">www.baitijannati.wordpress.com</a>)</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Sumber : www.suara-islam.com</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/180/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/180/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/180/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=180&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2008/07/18/agar-anak-terbiasa-berdakwah-2/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/faridmsn-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://baitijannati.files.wordpress.com/2008/07/ustdz-zulia.png" medium="image">
			<media:title type="html">Zulia Ilmawati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Angka Cerai Tinggi, Beda Partai Jadi Salah Satu Penyebab</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2008/07/18/angka-cerai-tinggi-beda-partai-jadi-salah-satu-penyebab/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2008/07/18/angka-cerai-tinggi-beda-partai-jadi-salah-satu-penyebab/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 00:52:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Keluarga Samara]]></category>

		<category><![CDATA[Romantika Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/?p=178</guid>
		<description><![CDATA[Keluarga Samara. Kasus perceraian di Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Gejolak yang mengancam kehidupan struktur keluarga ini semakin bertambah jumlahnya terutama pada tiga tahun terakhir ini. Hal ini diungkap Dirjen Bimas Islam Nasaruddin Umar di Jakarta, Selasa (15/7).
&#8220;Setiap tahun ada dua juta perkawinan, tetapi yang memilukan perceraian bertambah menjadi dua kali lipat, setiap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><strong><em>Keluarga Samara</em></strong>. Kasus perceraian di Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Gejolak yang mengancam kehidupan struktur keluarga ini semakin bertambah jumlahnya terutama pada tiga tahun terakhir ini. Hal ini diungkap Dirjen Bimas Islam Nasaruddin Umar di Jakarta, Selasa (15/7).<br />
&#8220;Setiap tahun ada dua juta perkawinan, tetapi yang memilukan perceraian bertambah menjadi dua kali lipat, setiap 100 orang yang menikah, 10 pasangannya bercerai, dan umumnya mereka yang baru berumah tangga,&#8221; jelas Nazaruddin.<span id="more-178"></span></p>
<p>Terungkap pula bahwa salah satu sebab yang mendasari perceraian ini karena ada peningkatan perbedaan politik atau partai politik antara suami dan istri terkait Pemilihan Umum dan Pemilihan Kepala Daerah (Pemilu dan Pilkada).</p>
<p>Islam dengan tegas menyatakan dalam Al-Quran bahwa perceraian itu adalah suatu perbuatan yang halal, tetapi paling dibenci Allah, namun perceraian itu menjadi fenomena yang terjadi di masyarakat Indonesia.</p>
<p>&#8220;Dalam Al-Quran 80 persen ayat membicarakan tentang penguatan bangunan rumah tangga, hanya sebagian kecil yang membicarakan masalah penguatan negara, bangsa apalagi masyarakat, sebab keluarga adalah sendi dasar terciptanya masyarakat yang ideal, mana mungkin negara dibangun di atas bangunan keluarga yang berantakan,&#8221; ujar Nazaruddin.</p>
<p>Ia menegaskan, apabila angka perceraian di masyarakat terus mengalami peningkatan, itu menjadi bukti kegagalan dari kerja Badan Penasehat Pembinaan Pembinaan Pelestarian Perkawinan (BP4).</p>
<p>Terkait dengan perceraian akibat Pemilu yang disebabkan oleh perbedaan pandangan dan pilihan partai politik, harus dihindari. Karena itu ia mengimbau kepada umat Muslim agar menghindari adanya perbedaan yang dapat menjurus kepada perceraian.</p>
<p>&#8220;Urusan politik adalah urusan sesaat, sementara urusan keluarga adalah urusan seumur hidup. Bahkan sampai akhirat,&#8221; lanjutnya.</p>
<p>Ia juga menjelaskan, pada kasus perceraian suami-isteri ternyata jumlah isteri yang menggugat cerai suami makin meningkat. Hal ini merupakan fenomena baru di enam kota besar di Indonesia.</p>
<p>Tingginya permintaan gugat cerai isteri terhadap suami tersebut, diduga karena kaum perempuan merasa mempunyai hak yang sama dengan lelaki, atau akibat globalisasi sekarang ini, atau kaum perempuan sudah kebablasan.</p>
<p>&#8220;Kesadaran atau kebablasan, itulah antara lain yang menjadi perhatian kita semua sebagai umat beragama,&#8221; kata Nasaruddin.</p>
<p>Sementara itu, data dari Departemen Agama menyebutkan penyebab perceraian antara lain karena ketidakharmonisan rumah tangga (mencapai 46.723 kasus), faktor ekonomi (24.252 kasus), krisis keluarga (4. 916 kasus), cemburu (4.708 kasus), poligami (879 kasus), kawin paksa (1.692 kasus), kawin bawah umur (284 kasus), penganiayaan dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sebanyak 916 kasus. (<a href="http://www.baitijannati.wordpress.com/">www.baitijannati.wordpress.com</a>)</p>
<p class="MsoNormal">Sumber : <strong>www.suara-islam.com</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/178/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/178/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/178/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=178&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2008/07/18/angka-cerai-tinggi-beda-partai-jadi-salah-satu-penyebab/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/faridmsn-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jangan Ajari Anak Berdusta !!</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2008/07/12/jangan-ajari-anak-berdusta/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2008/07/12/jangan-ajari-anak-berdusta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Jul 2008 11:13:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dunia Jundiku]]></category>

		<category><![CDATA[Kiat Praktis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[

Baiti Jannati. “Ya, jangan pernah ajari anak berbohong”. Judul yang provokatif. Tak ada orang yang mau anaknya menjadi pembohong. Semua ingin punya anak jujur. Tahukah Anda, justru kitalah yang selama ini, sadar atau tidak, telah mengajari anak-anak berdusta?
Peristiwa ini sudah lebih dari setahun berlalu. Entah mengapa, sampai sekarang saya tak pernah benar-benar bisa melupakannya. Saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="entrytext">
<div class="snap_preview">
<p><img class="alignleft" src="http://images.mohammadihsan.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SGAveAoKCC4AAC@NQ9g1/Safira.jpg?et=My25qgLMA%2CxM5Hy9z93qdw&amp;nmid=0" alt="" width="180" height="135" /><em><strong>Baiti Jannati. </strong></em>“Ya, jangan pernah ajari anak berbohong”. Judul yang provokatif. Tak ada orang yang mau anaknya menjadi pembohong. Semua ingin punya anak jujur. Tahukah Anda, justru kitalah yang selama ini, sadar atau tidak, telah mengajari anak-anak berdusta?</p>
<p>Peristiwa ini sudah lebih dari setahun berlalu. Entah mengapa, sampai sekarang saya tak pernah benar-benar bisa melupakannya. Saya menyesal. Kesal. Oh, seandainya waktu bisa berputar, saya pasti akan memperbaikinya.<span id="more-176"></span></p>
<p>Hari itu seharusnya menjadi hari yang besar untuk “si sulung” Safira. Berkali-kali dia menyatakan keraguannya apakah dia berani atau tidak mengikuti lomba tartil. Dia dipilih ustadzahnya untuk mewakili TPA-nya dalam perlombaan itu. Tentu saja saya menyemangatinya.</p>
<p>“Hebat dong. Ikut saja, Mbak Safira pasti bisa”.<br />
“Nanti kalau kalah bagaimana ayah?”<br />
“Ini bukan soal menang kalah, anakku. Ini soal belajar tampil depan umum. Ini latihan keberanian. Mbak Safira hebat lho bisa terpilih?”. Saya terus memompa agar Safira lebih pede. Di mata saya dia sungguh luar biasa. Waktu itu, kelas 1 SD, sudah lancar baca Alqur’an. Suaranya pun merdu.</p>
<p>Sayang di hari H, kami berdua pas sama-sama sibuk. Istri ada jadwal pengajian, sudah sejak awal minta saya yang nemani lomba. Mendadak saya pun harus pergi untuk sebuah urusan yang sangat penting. Saya merasa aman karena Safira ditemani para ustadzahnya.</p>
<p>“Bagaimana tadi lombanya, Mbak?”<br />
Saya lupa jawaban pasti Safira siang itu. Kesan yang saya tangkap dia cuma tak yakin bisa menang. Saya pun tak berusaha mengejarnya karena bukan itu tujuan ikut perlombaan.</p>
<p>Seminggu berselang, ada tetangga yang cerita pada “staf ahli” kami kalau saat itu Safira tidak jadi tampil. Safira tentu saja grogi karena ketahuan selama ini membohongi kami soal lomba itu.</p>
<p>“Ibu, maaf ibu. Aku kemarin itu nggak jadi lomba”. Safira menangis keras-keras menunjukkan penyesalannya telah berbohong pada kami. Belakangan saya tahu, dia peserta nomor urut 30-an. Mungkin lelah menunggu, pas giliran tampil malah mogok.</p>
<p>Batal lomba bukan problem besar. Bohongnya itu yang serasa menampar keras pipi saya. Mengapa anakku tak jujur saja saat ditanya soal lomba? Mengapa tak bilang batal tampil karena capek? Alasan yang bagus. Kami pasti tak akan memarahinya. Duhh..</p>
<p>Saya berhari-hari mikir, mengapa anak berbohong pada orang tua. Itu bukan ajaran kami. Setahu saya, hanya sekali Safira berdusta. Mengaku sudah sholat subuh, tapi mukenanya masih terlihat rapi seperti malam sehabis Isya’. Ibunya menasehati, “Nggak boleh bohong lho”. Dia menangis, menyesal. Bagi saya itu cukup. Dan dia terlihat tak pernah mengulanginya lagi.</p>
<p>Beberapa hari kemudian saya tahu penyebabnya. Hari itu saya ingin pergi berduaan dengan Safira. Tak boleh ada yang ikut, termasuk istri. Saya sedang berusaha membangun hubungan satu persatu dengan masing-masing anak. Tapi rencana ini bocor, adiknya ingin ikut.</p>
<p>“Yah, dibohongin aja, bilang aku mau ke eyang. Nanti ayah jemput”<br />
“Nggak boleh bohong Safira”, saya tak setuju idenya.<br />
“Khan nggak apa-apa ayah. Biar adik nggak minta ikut”.</p>
<p>Safira rupanya meniru “trik” staf ahli kami di rumah saat menenangkan anak-anak yang rewel. Kalau saya dan istri mau keluar rumah dan mereka minta ikut, staf ahli bilang, “Ayah ibu khan mau kerja, biar dapat uang buat bayar sekolah”. Saat itu padahal saya tidak sedang hendak bekerja. Atau kalau anak-anak merengek minta dibelikan kue, staf ahli langsung menjawab, “Khan tokonya masih tutup”. Selalu saja ada jawaban spontanitas dari staf ahli untuk menenangkan anak-anak di rumah.</p>
<p>Awalnya saya cuek saja. Tapi setelah tahu dampaknya bahwa “boleh bohong asal”, maka saya melarang staf ahli bikin akal-akalan untuk membohongi anak. Dengan alasan apapun.</p>
<p>Kalau kami berdua ingin sekedar malam berdua di luar rumah dan anak-anak mau ikut, saya bilang, “Ayah ibu cuma mau berduaan malam ini”.</p>
<p>“Curang. Mengapa aku gak boleh ikut?”. “Mengapa sih ayah kok cuma mau ajak ibu?” satunya protes juga. Pokoknya rame.</p>
<p>“Nak, ayah ibu cuma ingin berdua”.<br />
“Mengapa sih cuma berdua?”<br />
“Ayah ibu mau omong-omong, jadi berdua”.<br />
“Memang ngomongin apa aja sih?” Tetap protes.<br />
“Ya banyaklah. Tentang sekolah kalian. Bagaimana anak-anak jadi tambah pinter. Itu urusan orang tua. Sudah, semua tinggal di rumah, nanti ayah belikan oleh-oleh”.</p>
<p>Kami pergi, anak-anak (mungkin) masih dongkol. Mungkin jadi nangis keras-keras setelah kami berangkat. Atau sebentar-sebentar HP berbunyi, “Kok lama sih nggak pulang-pulang?”. Huh, capek deh si anak ini.</p>
<p>Dulu, saya tak ingin “menyakiti” anak-anak. Maka saya pun membiarkan staf ahli “kreatif” menyelesaikan problem rumah tangga ini. Mungkin lebih enak kalau saya bilang, “Ayah lagi kerja”. Atau, “Ayah nganter ibu sebentar”. Cari-cari alasan khan gampang. Anak kecil mudah dibohongin.</p>
<p>Sekarang saya tegas menegakkan kejujuran. “Nggak boleh ikut, ini urusan orang tua”. Saya juga nggak bisa bohong toko tutup kalau anak merengek minta kue, karena mereka tahu beberapa puluh meter dari rumah kami ada swalayan yang buka 24 jam. Saya jadi lebih tegas, “Kemarin khan sudah beli kue. Sekarang uang ditabung. Kalau masih lapar, itu ada makanan di meja”. Atau ditunda dulu, “Nanti hari minggu jalan-jalan boleh ikut belanja. Sekarang nggak boleh beli kue”. Jujur, meski menyakitkan. Tapi ini jauh lebih baik ketimbang kita membohongi anak khan?</p>
<p>Saya terkesan dengan teman saya, Habe Arifin, seorang jurnalis di Jakarta. Saat itu kami berdua menjaga sepeda yang akan dibagikan ke siswa dari kalangan tak mampu (lihat program kami di www.sepedauntuksekolah.org).</p>
<p>Seorang anak merengek minta sepeda tersebut. Ibunya terlihat kewalahan dan mulai membujuknya.<br />
“Di rumah khan sudah ada!”<br />
“Pokoknya, aku mau yang ini”.<br />
“Nanti, pulang dari sini ibu belikan”.<br />
“Nggak. Aku maunya sekarang!”<br />
“Iiihh… anak, bandel banget. Nggak nurut kalau dikasih tahu”.</p>
<div style="text-align:center;"><span class="insertedphoto"><img class="alignmiddleb" src="http://images.mohammadihsan.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SGAu8QoKCC4AACIKCEw1/Nanang%20-%20Ihsan%20di%20SUS.jpg?et=4i898STRDSdLQsQlkmkbkA&amp;nmid=0" border="0" alt="" /></span><span style="font-style:italic;">Sepeda Polygon yang diminta seorang anak</span></div>
<p><span class="fullpost"><br />
Saya memperhatikan saja ibu dan anak yang berdebat hebat di depan saya. Ini pelajaran menarik pastinya. Si anak mulai mengamuk, tas ibunya ditarik-tarik. Teriak-teriak. Dalam hati saya mbatin, “Sangat liar anak ini”. Tas tangan Mas Toto Sugito (juga kolega saya, ketua umum Bike To Work) yang berada di meja diambil si anak dan kemudian dilemparkan ke lantai.</span></p>
<p>“Anak saya ya gini ini, Pak. Kalau rewel, HP saja dibanting”. Ibunya tidak mampu mengatasi “keberingasan” anak, dan mulai berbohong, “Heh.. Nak, ini sepeda rusak. Nggak bisa dipakai. Tanya saja sama bapaknya sana?”. Ibu itu berharap saya dan Mas Habe mendukung statemennya.</p>
<p>Tapi Mas Habe tidak sependapat. Dia ngomong keras. “Dik, ini sepeda masih baru. Jelas bisa dipakai. Namanya juga sepeda baru. Masih dibungkus tuh. Tapi adik harus tahu, ini bukan sepeda kamu. Ini sepeda baru, tapi ini bukan untuk kamu. Mengerti?” Tegas. Tanpa basa basi. Mas Habe lalu menasehati si ibu, tak kalah kerasnya, “Bu, anak itu nggak boleh dibohongi. Harus dikatakan apa adanya”.</p>
<p>Sejurus kemudian, si ibu mulai menyeret anaknya. Tak mau kalah, anak laki-laki itu meronta. Memukul. Teriak-teriak.</p>
<p>Saya sungguh kasihan. Shock melihat anak kecil bisa “ngamuk” seperti itu. Mungkin dia terbiasa dibohongin. Jadi rayuan ibunya sudah tak mempan. Pikirnya, kalau ibu janji nanti mau dibelikan toh paling juga bohong (lagi).</p>
<p>Saya salut dengan keberanian Mas Habe mengingatkan si ibu agar tak gampang membohongi anaknya. Kejadian inilah yang menginspirasi saya untuk menuliskan catatan elektronik ini. Karena saya pernah mengalaminya sendiri. Dibohongi anak sungguh tak enak. Jika Anda tak ingin mengalami nasib seperti saya, pliss… jangan jangan jangan dan jangan pernah berbohong pada anak. Katakan yang sebenarnnya meski menyakitkan. Kelak, anak juga akan makin mengerti alasan yang Anda kemukakan. (www.baitijannati.wordpress.com)</p>
<p>Surabaya, 24 Juni 2008.<br />
Ditulis untuk www.juarasatu.com</p>
<p>M. Ihsan Abdul Djalil</p></div>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/176/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/176/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/176/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=176&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2008/07/12/jangan-ajari-anak-berdusta/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/faridmsn-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.mohammadihsan.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SGAveAoKCC4AAC@NQ9g1/Safira.jpg?et=My25qgLMA%2CxM5Hy9z93qdw&#38;nmid=0" medium="image" />

		<media:content url="http://images.mohammadihsan.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SGAu8QoKCC4AACIKCEw1/Nanang%20-%20Ihsan%20di%20SUS.jpg?et=4i898STRDSdLQsQlkmkbkA&#38;nmid=0" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Agar Anak Terbiasa Berdakwah</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2008/07/10/agar-anak-terbiasa-berdakwah/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2008/07/10/agar-anak-terbiasa-berdakwah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jul 2008 23:31:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>

		<category><![CDATA[Dunia Jundiku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/?p=170</guid>
		<description><![CDATA[

Assalaamu’alaikum Wr.Wb
Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga yang saya hormati, Saya ibu dari 3 orang anak.  Anak pertama saya, laki-laki berumur10 tahun, kedua perempuan 7 tahun dan yang ketiga perempuan juga masih 3 tahun. Alhamdulillah mereka tumbuh sehat dan menyenangkan. Kalau sedikit nakal, namanya juga anak-anak. Saya dan suami kebetulan cukup aktif dalam kegiatan dakwah sejak kami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="entrytext">
<div class="snap_preview">
<p class="MsoNormal">Assalaamu’alaikum Wr.Wb</p>
<p class="MsoNormal">Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga yang saya hormati, Saya ibu dari 3 orang anak.  Anak pertama saya, laki-laki berumur10 tahun, kedua perempuan 7 tahun dan yang ketiga perempuan juga masih 3 tahun. Alhamdulillah mereka tumbuh sehat dan menyenangkan. Kalau sedikit nakal, namanya juga anak-anak. Saya dan suami kebetulan cukup aktif dalam kegiatan dakwah sejak kami masih sama-sama kuliah dulu. Setelah saya berkeluarga, saya ingin agar anak-anak kelak juga mengikuti jalan kehidupan seperti yang sudah kami pilih, yaitu kehiduppan dalam dakwah. <span id="more-170"></span>Apa yang seharusnya saya lakukan, agar anak-anak kelak senang berada dalam kehidupan dakwah dan menjadi pengemban dakwah yang tangguh? Apakah mungkin saya bisa memulainya sejak dari sekarang. Terima kasih untuk saran-sarannya?</p>
<p class="MsoNormal">Wassalamu’alaikum Wr.Wb.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Rina</p>
<p class="MsoNormal">Bogor</p>
<p class="MsoNormal">Wa’alaikumsalam Wr.Wb.</p>
<p class="MsoNormal">Ibu Rina yang baik,</p>
<p class="MsoNormal">Alhamdulillah, saya senang membaca surat ibu yang menceritakan bagaimana ibu dan suami begitu menikmati kehidupan dakwah. Dan keinginannya untuk mengenalkan  kehidupan dakwah sejak dini kepada anak-anak, juga harapan-harapannya agar kelak  mereka menjadi pengemban dakwah yang tangguh. Dakwah Islam sesungguhnya memang membutuhkan para pengemban yang tangguh. Dan seorang pengemban  dakwah yang tangguh tidak akan lahir begitu saja. Tapi harus melalui proses dan upaya terus menerus, bahkan sejak dari masa kanak-kanak. Maka, mengajak anak “berdakwah” sedari dini sangatlah penting agar anak-anak sudah terbiasa dengan kegiatan dakwah agar akhirnya dia juga bercita-cita menjadi pengemban dakwah yang tangguh.</p>
<p class="MsoNormal">Ibu Rina yang baik,</p>
<p class="MsoNormal">Mengenalkan kehidupan dakwah pada anak-anak dapat dimulai dengan melibatkan anak dalam aktivitas dakwah. Hal ini penting untuk memberikan contoh dan lingkungan yang kondusif, sehingga suasana dakwah sudah bisa dirasakan anak sejak dini. Ajaklah anak turut serta  ketika ibu menjadi peserta atau pembicara dalam pengajian, diskusi, seminar  atau bahkan aksi-aksi protes di jalanan. Sesampai di rumah, anak bisa diminta pendapatnya tentang  kegiatan yang baru saja ia ikuti. Bisa juga ditanya tentang materi yang disampaikan ibu, respon atau tanggapan para peserta, bahkan mungkin tanpa kita duga ia juga mempunyai  kritik dan saran buat ibu. Sebelum memutuskan untuk mengajak anak pergi berdakwah tentu harus dipertimbangkan kondisi kesiapan anak. Maka, lakukan persiapan seperlunya  agar anak di sana bisa  merasa nyaman dan tidak malah  menimbulkan masalah.</p>
<p class="MsoNormal">Ibu Rina yang baik,</p>
<p class="MsoNormal">Mengajak anak terlibat dakwah bisa juga dilakukan secara tidak langsung. Misalnya dengan  membantu orang tua saat orang tua tidak di rumah. Ketika ibu harus bergegas pergi pagi-pagi untuk urusan dakwah, ajaklah anak yang besar  membantu adiknya menyiapkan keperluan sekolah, atau membantu membereskan rumah. Sehingga ketika ibu kembali rumah sudah rapi. Dengan cara itu, anak akan melihat langsung kesibukan orang tua dalam dakwah. Dan anak juga bisa merasakan langsung bagaimana ia ternyata bisa membantu mendukung dakwah meski hanya dengan melakukan sebagian kecil pekerjaan ibu di rumah. Cara lain yang juga penting untuk mengajak anak berdakwah adalah dengan menciptakan suasana dakwah di rumah. Misalnya dengan mengembangkan kebiasaan saling nasehat menasihati atau  seringnya rumah dijadikan sebagai tempat aktivitas dakwah.</p>
<p class="MsoNormal">Ibu Rina yang baik,</p>
<p class="MsoNormal">Untuk menumbuhkan semangat dan motivasi ibu bisa menceritakan kepada anak-anak bagaimana kehidupan Rasulullah dan para sahabat. Sampaikan kepada mereka bahwa kehidupan Rasulullah dan para sahabat tidak pernah lepas dari kehidupan dakwah. Ceritakan bagaimana perjuangan Rasulullah dan para sahabat menyebarkan Islam ke seluruh dunia. Sesekali, penting untuk disampaikan kepada anak janji-janji Allah untuk para pengemban dakwah.  Tidak ada salahnya  jika anak juga diberikan penjelasan yang benar tentang jihad misalnya. Ketika tengah melihat tivi atau membaca koran biasanya ada topik yang menarik. Bagus bila anak sudah langsung bisa berkomentar dan memberikan pendapat. Kita tinggal  menambahi atau memberikan arahan serta solusi menurut Islam. Kalau anak-anak belum memberikan respon, kita bisa memancingnya dengan bertanya kepada mereka, apa tanggapannya setelah melihat itu semua. Bukan hanya tanggapan, bila perlu ajaklah anak memberikan respon secara kongkrit.  Bisa juga dengan mengajak mereka berdoa bersama-sama setelah selesai shalat berjamaah agar  Allah memberikan pertolongan kepada mereka. Jangan lupa biasakan anak juga berdoa untuk keselamatan dan kejayaan umat Islam di seluruh dunia.  Demikian Ibu Rina, mudah-mudahan kelak anak-anak ibu benar-benar menjadi pengemban dakwah yang tangguh. Amiin. (www.konsultasi-islam.com)</p>
<p class="MsoNormal"><strong>sumber : www.suara-islam.com</strong></p>
</div>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/170/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/170/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/170/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=170&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2008/07/10/agar-anak-terbiasa-berdakwah/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/faridmsn-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memilih Wanita</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2008/07/01/memilih-wanita/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2008/07/01/memilih-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 01:47:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pra Nikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[Suatu malam, khalifah Umar bin Khattab RA keliling keluar masuk lorong kampung mengontrol keadaan rakyatnya, suatu pekerjaan yang rutin dilakukan beliau dalam kapasitas sebagai kepala negara. Tiba-tiba beliau mendengar sebuah percakapan menarik dari rumah seorang wanita penjual susu:
“Ayo, bangunlah! Campurkan susu itu dengan air!”
“Apakah ibu belum mendengar larangan dari Amirul Mukminin”
“Apa larangannya, Nak?”
“Beliau melarang umat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Suatu malam, khalifah Umar bin Khattab RA keliling keluar masuk lorong kampung mengontrol keadaan rakyatnya, suatu pekerjaan yang rutin dilakukan beliau dalam kapasitas sebagai kepala negara. Tiba-tiba beliau mendengar sebuah percakapan menarik dari rumah seorang wanita penjual susu:<span id="more-168"></span></p>
<p>“Ayo, bangunlah! Campurkan susu itu dengan air!”<br />
“Apakah ibu belum mendengar larangan dari Amirul Mukminin”<br />
“Apa larangannya, Nak?”<br />
“Beliau melarang umat Islam menjual susu yang dicampur air”<br />
<span class="fullpost">“Ah, ayo bangun. Cepatlah kau campur susu ini dengan air. Janganlah engkau takut pada Umar, mana ada dia di sini!”<br />
“Memang Umar tidak melihat kita, Bu. Tapi Tuhannya Umar melihat kita. Maafkan ibu, saya tidak dapat memenuhi permintaanmu. Saya tidak ingin jadi orang munafik, mematuhi perintahnya di depan umum, tapi melanggar di belakangnya”.</p>
<p>Dialog ibu dan anak ini sungguh sangat menyentuh Umar. Khalifah yang terkenal keras itu pun luluh dan terharu hatinya. Beliau sangat kagum dengan ketakwaan gadis miskin anak penjual susu itu.</p>
<p>Paginya beliau memerintahkan salah seorang putranya (Ashim) untuk meminang gadis miskin tersebut, “Pergilah kau ke sebuah tempat, terletak di daerah itu. Di sana ada seorang gadis penjual susu, kalau ia masih sendiri, pinanglah dia. Mudah-mudahan Alloh akan mengaruniakanmu dengan seorang anak yang shalih yang penuh berkah”.</p>
<p>Firasat Umar benar. Ashim menikahi gadis mulia itu, dan dikaruniai putri bernama Ummu Ashim. Wanita ini lalu dinikahi Abdul Aziz bin Marwan, dan mereka mendapatkan seorang anak laki-laki yang kemudian menjadi seorang khalifah yang terkenal adil dan bijaksana, yaitu: Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Radhiyallohu Anhu.</p>
<p>Dalam memilih jodoh, tak jarang masyarakat kita masih mementingkan aspek-aspek lain sebagai kriteria: kecantikan, kekayaan, atau keturunan. Padahal seringkali semua itu justru bisa menjerumuskan kita ke lembah kenistaan.</p>
<p>Nabi sudah memberikan sebuah peringatan: “Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin kecantikannya itu bisa mencelakakan. Dan jangan kamu kawini wanita karena hartanya, mungkin hartanya itu bisa menyombongkannya. Akan tetapi kawinilah mereka karena agamanya, sesungguhnya seorang hamba sahaya yang hitam warna kulitnya tetapi beragama, itu jauh lebih utama”. (HR Ibnu Majah, Al-Bazar, dan Al-Baihaqi dari Abdullah bin Umar).</p>
<p>Surabaya, 13 Januari 2007</span></p>
<p>Sumber : www.juarasatu.com</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/168/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/168/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/168/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=168&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2008/07/01/memilih-wanita/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/faridmsn-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Haruskah Bergaji 2 Juta untuk Poligami?</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2008/07/01/haruskah-bergaji-2-juta-untuk-poligami/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2008/07/01/haruskah-bergaji-2-juta-untuk-poligami/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 01:41:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Keluarga Samara]]></category>

		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<category><![CDATA[poligami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/?p=166</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : M Ihsan
Keluarga Samara. Kalimat di atas saya kutip persis dengan judul asli tulisan di Jawa Pos (11/12/2006). Jika Anda berada di Kabupaten Kediri, standar gaji di ataslah yang akan diajukan pihak Pengadilan Agama sebagai salah satu rekomendasi agar permohonan poligami Anda bisa disetujui.
”Hanya gaji Rp 2 juta??? Ahh.. kecciiilll&#8230;..??? Gammpaangggg&#8230;”.
Eit, tunggu dulu. Ternyata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><strong>Oleh : M Ihsan</strong></p>
<p><em><strong>Keluarga Samara. </strong></em>Kalimat di atas saya kutip persis dengan judul asli tulisan di Jawa Pos (11/12/2006). Jika Anda berada di Kabupaten Kediri, standar gaji di ataslah yang akan diajukan pihak Pengadilan Agama sebagai salah satu rekomendasi agar permohonan poligami Anda bisa disetujui.</p>
<p>”Hanya gaji Rp 2 juta??? Ahh.. kecciiilll&#8230;..??? Gammpaangggg&#8230;”.<span id="more-166"></span></p>
<p><span class="fullpost">Eit, tunggu dulu. Ternyata masih banyak syarat-syarat lain yang ditetapkan oleh Pengadilan Agama (PA) Kediri sebagai pra syarat pengajuan poligami, antara lain:<br />
(1) Surat pernyataan siap dimadu dari istri pertama<br />
(2) Surat pernyataan berlaku adil<br />
(3) Surat keterangan penghasilan<br />
(4) Daftar kekayaan</p>
<p>Dua syarat terakhir (3 dan 4) katanya menjadi pertimbangan untuk melihat keadilan dari sisi materi. Tentang penghasilan, katanya, minimal gaji harus Rp 2 juta, dan sanggup menyediakan rumah dan kendaraan.</p>
<p>Di samping 4 item syarat di atas, sebagai pertimbangan, PA juga akan melihat:<br />
(5) istri minimal 10 tahun tidak memberikan anak<br />
(6) istri tidak bersedia atau tidak mampu melayani suami</p>
<p>Jika semua syarat di atas dipenuhi, maka ijin poligami diperkirakan sudah turun dalam waktu sekitar 1 bulan.</p>
<p>Kadang saya berpikir, mau poligami aja kok dipersulit seh? Alloh dan Rasul-Nya tidak membuat aturan njlimet kayak gini, lha manusia kok berani-beraninya membuat hukum di muka bumi.</p>
<p>”Afahukmal jahiliyyati yabghuun&#8230;”. Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? ”Wa man ahsanu minallohi hukman liqoumin yuqinun”. Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Alloh bagi orang-orang yang yaqin .<br />
Alloh dalam Alquran surat Al Maidah (5) ayat 50 di atas secara jelas menyebut hukum buatan manusia sebagai hukum jahiliyah, yang tentu saja tidak lebih baik dari hukum buatan Alloh SWT. Mengapa Pengadilan Agama justru mengedepankan aturan bikinan sendiri, yang sangat mempersulit pihak-pihak yang berniat melakukan poligami, sementara Alquran dan Hadits memberikan kemudahan regulasi? Memang sih PA tidak melarang poligami (Depag dan Presiden saya jamin tak akan berani melarang secara mutlak hukum kebolehan poligami yang sudah cukup jelas dalilnya), tapi dengan tingkat kesulitan syarat-syarat seperti di atas, maka itu tidak ubahnya (secara tidak langsung) sama dengan melarang praktek poligami itu sendiri.</p>
<p>Kalau sudah seperti ini, hukum siapakah yang kita jadikan pegangan? Apakah hukum jahiliyyah bikinan PA itu? Mengapa poligami yang mubah dan sesuai syariat Islam dipersulit, sementara prostitusi yang jelas-jelam haram malah difasilitasi dengan adanya lokalisasi dan proyek kondomisasi kepada para (maaf) pelacur? Teganya Pak SBY sampai berniat merevisi UU Perkawinan karena keprihatinan mendalam atas poligaminya AA Gym, sementara tehadap anggota DPR Yahya Zaini yang terbukti selingkuh tidak keluar sepatah katapun untuk mengutuknya?</p>
<p>Keberanian menentang hukum Alloh inilah yang saya kuatirkan memberikan andil cukup besar atas terjadinya musibah beruntun yang ditimpakan Alloh SWT kepada kita saat ini. Sayangnya pemerintah tak juga menyadari kekeliruannya, dan lalu mau kembali kepada syariat Islam yang sempurna. Apakah menunggu ”peringatan” lain dalam bentuk bencana yang lebih dahsyat? Naudzu billah min dzalik. (www.keluarga-samara.com)</p>
<p>Bumi Dharmawangsa, 6 Februari 2007</span></p>
<p>http://www.juarasatu.com/</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/166/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/166/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/166/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=166&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2008/07/01/haruskah-bergaji-2-juta-untuk-poligami/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/faridmsn-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyelamatkan Keluarga Diambang Perceraian</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2008/05/31/menyelamatkan-keluarga-diambang-perceraian/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2008/05/31/menyelamatkan-keluarga-diambang-perceraian/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 May 2008 11:19:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Keluarga Samara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Zulia Ilmawati 
(Psikolog, Pemerhati Masalah Anak dan Keluarga)
Keluarga Samara. Akhir-akhir ini banyak kita jumpai permasalahan mengenai disorgani-sasi keluarga, di antaranya adalah perceraian. Kasus perceraian pasangan suami-istri sudah mencapai angka yang sangat mengkhawatirkan. Perceraian senantiasa membawa dampak yang mendalam bagi anggota keluarga meskipun tidak semua perceraian berdampak negatif.

Faktor Penyebab
Ada beberapa sebab pemicu perceraian, di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="line-height:150%;" align="center"><em><strong><span style="font-style:normal;"><span lang="sv-SE"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;">Oleh : Zulia Ilmawati </span></span></span></span></strong></em></p>
<p style="line-height:150%;" align="center"><em><strong><span style="font-style:normal;"><span lang="sv-SE"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;">(Psikolog, Pemerhati Masalah Anak dan Keluarga</span></span></span></span></strong></em><strong><strong><span style="font-style:normal;"><span lang="sv-SE"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;">)</span></span></span></span></strong></strong></p>
<p style="line-height:150%;"><a name="more-492"></a><span lang="pt-BR"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;"><strong><em>Keluarga Samara. </em></strong>Akhir-akhir ini banyak kita jumpai permasalahan mengenai disorgani-sasi keluarga, di antaranya adalah perceraian. Kasus perceraian pasangan suami-istri sudah mencapai angka yang sangat mengkhawatirkan. Perceraian senantiasa membawa dampak yang mendalam bagi anggota keluarga meskipun tidak semua perceraian berdampak negatif.</span></span></span><span id="more-164"></span></p>
<p style="line-height:150%;"><span lang="pt-BR"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;"><br />
<strong>Faktor Penyebab</strong></span></span></span></p>
<p style="line-height:150%;" lang="pt-BR"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Ada beberapa sebab pemicu perceraian, di antaranya:</span></span></p>
<p style="margin-left:0.64cm;text-indent:-0.64cm;line-height:150%;"><em><span lang="pt-BR"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;">1. Tidak memahami tujuan mendasar pembentukan keluarga.</span></span></span></em></p>
<p style="margin-left:0.64cm;line-height:150%;"><span lang="pt-BR"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;">Sebagai sebuah ibadah, pernikahan memiliki sejumlah tujuan mulia. Memahami tujuan itu sangatlah penting guna menghindarkan pernikahan bergerak tak tentu arah yang akan membuatnya sia-sia tak bermakna. Tujuan-tujuan itu adalah untuk mewujudkan <em>mawaddah</em> dan <em>rahmah</em>, yakni terjalinnya cinta-kasih dan tergapainya ketenteraman hati (sakinah) (QS ar-Rum [30]: 21); melanjutkan keturunan dan menghindarkan dosa; mempererat tali silaturahmi; sebagai sarana dakwah; dan menggapai <em>mardhatillah</em>. Jika tujuan pernikahan yang sebenarnya dipahami dengan benar, insya Allah akan lebih mudah meraih keluarga sakinah, yang terhindar dari konflik-konflik yang berkepanjangan. Kesepahaman tentang tujuan pernikahan sesungguhnya akan menjadi perekat kokoh sebuah pernikahan.</span></span></span></p>
<p style="margin-left:0.64cm;text-indent:-0.64cm;line-height:150%;"><em><span lang="pt-BR"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;">2. Ketimpangan dalam persoalan hak dan kewajiban</span></span></span></em></p>
<p style="margin-left:0.64cm;line-height:150%;"><span lang="pt-BR"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;">Islam memandang pernikahan sebagai <em>perjanjian yang berat<strong> </strong></em>(<em>mitsaq[an] ghalidza</em>) (QS an-Nisa’ [4]: 21) yang menuntut setiap orang yang terikat di dalamnya untuk memenuhi hak dan kewajibannya. Islam mengatur dengan sangat jelas hak dan kewajiban suami-istri, orangtua dan anak-anak, serta hubungan dengan keluarga yang lain. Islam memandang setiap anggota keluarga sebagai pemimpin dalam kedudukannya masing-masing. Nabi saw. Bersabda:</span></span></span></p>
<p style="margin-left:1.27cm;line-height:150%;" dir="rtl" align="right"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:medium;"><span lang="ar-SA">كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ</span></span></span></p>
<p style="margin-left:1.27cm;line-height:150%;"><em><span lang="pt-BR"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;">Setiap kamu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah dipercayakan kepadanya…Seorang ayah bertanggung jawab atas kehidupan keluarganya. Seorang ibu bertanggung jawab atas rumah dan anak suaminya serta akan dimintai pertanggungjawaban atasnya.</span></span></span></em> <span lang="pt-BR"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;">(HR al-Bukhari dan Muslim).</span></span></span></p>
<p style="margin-left:0.64cm;line-height:150%;"><span lang="pt-BR"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;">Pernikahan dalam Islam bukan hanya berdimensi duniawi, tetapi juga <em>ukhrawi</em>. Dengan kata lain, pernikahan haruslah dipandang sebagai bagian dari amal salih untuk menciptakan pahala sebanyak-banyaknya, dalam kedudukan masing-masing, melalui pelaksanaan hak dan kewajiban dengan sebaik-baiknya. Terabaikannya hak dan kewajiban, misalnya soal nafkah, pendidikan atau perlindungan, tentu akan dengan sangat mudah menyulut perselisihan dalam keluarga yang bisa berujung pada perceraian.</span></span></span></p>
<p style="margin-left:0.64cm;text-indent:-0.64cm;line-height:150%;"><em><span lang="pt-BR"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;">3. Ketika fungsi keluarga sudah terabaikan.</span></span></span></em></p>
<p style="margin-left:0.64cm;line-height:150%;" lang="sv-SE"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Islam mengajarkan prinsip keadilan dalam membina keluarga. Dalam hal ini, adil berarti meletakkan fungsi-fungsi keluarga secara memadai. Islam meletakkan fungsi keagamaan (ibadah dan amal salih) sebagai fungsi paling utama dalam keluarga. Bersumber dari fungsi keagamaan inilah, keluarga menghidupkan fungsi reproduksi, edukasi, perlindungan dan kasih sayang. Fungsi ekonomi, sosial dan rekreatif akan tumbuh sendiri jika fungsi-fungsi yang disebut sebelumnya dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.</span></span></p>
<p style="margin-left:0.64cm;line-height:150%;"><span lang="sv-SE"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;">Setiap keluarga Muslim adalah ‘masjid’ yang memberikan pengalaman beragama bagi anggota-anggotanya, ‘madrasah’ yang mengajarkan norma-norma Islam, ‘benteng’ yang melindungi anggota keluarga dari berbagai gangguan (fisik dan non fisik), dan ‘rumah sakit’ yang memelihara dan merawat kesehatan fisik dan psikologis anggota keluarga. Keluarga juga bagaikan sebuah kompi dalam <em>hizbullah</em> yang turut serta dalam perjuangan menegakkan risalah Islam. Dari kompi ini pula dilahirkan kader-kader pejuang Islam. Ketika fungsi-fungsi ini tidak berjalan dengan baik atau tidak menyeluruh (misalnya hanya berjalan fungsi reproduksi, sedangkan fungsi edukasi tidak), cepat atau lambat keluarga itu akan menuju jurang perceraian.</span></span></span></p>
<p style="margin-left:0.64cm;text-indent:-0.64cm;line-height:150%;"><em><span lang="sv-SE"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;">4. Kebahagiaan yang tidak dirasakan.</span></span></span></em></p>
<p style="margin-left:0.64cm;line-height:150%;" lang="sv-SE"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Keluarga sakinah adalah keluarga dengan enam kebahagiaan yang lahir dari usaha keras pasangan suami-istri dalam memenuhi semua hak dan kewajiban, baik kewajiban perorangan maupun kewajiban bersama. Amat jelas bagaimana Allah dan Rasul-Nya menuntun kita untuk mencapai setiap kebahagiaan itu. Enam kebahagiaan yang dimaksud adalah kebahagiaan finansial, seksual, intelektual, moral, spiritual dan ideologis. </span></span></p>
<p style="margin-left:0.64cm;line-height:150%;"><span lang="sv-SE"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;">Mana dari enam kebahagiaan itu yang utama? Itu bergantung pada persepsi atau kerangka pandang dan pemahaman pasangan suami-istri. Keluarga Rasulullah dibangun dalam kerangka perjuangan. Inilah keluarga teladan dengan kebahagiaan ideologis. Namun, berdasarkan riwayat-riwayat yang sangat jelas, Rasul juga mampu menciptakan bagi keluarganya kebahagiaan intelektual, moral, spiritual, bahkan pula seksual. Secara finansial, Rasul memang hidup dalam kesahajaan. Namun, siapa sangka mereka juga ternyata merasakan kebahagiaan finansial. Sebabnya, kebahagiaan yang terakhir ini tidak ditentukan oleh jumlah harta yang dimiliki, tetapi oleh perasaan <em>qanaah</em> (perasaan cukup) atas rezeki yang Allah karuniakan. Ketika kebahagiaan itu tidak dirasakan akibat fungsi keluarga tidak berjalan utuh yang dipicu oleh ketimpangan dalam pemenuhan hak dan kewajiban, perceraian hanya menunggu waktu. </span></span></span></p>
<p style="line-height:150%;"><span lang="sv-SE"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;"><br />
<strong>Mempertahankan Keutuhan Keluarga</strong></span></span></span></p>
<p style="line-height:150%;" lang="sv-SE"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Sangatlah penting bagi para pasangan yang akan menikah untuk mempersiapkan pernikahannya dengan baik sehingga dapat mengantisipasi badai yang akan menerpa dan pada saat hal tersebut terjadi dapat diatasi dengan baik. </span></span></p>
<p style="line-height:150%;" lang="sv-SE"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Kesabaran merupakan langkah utama ketika mulai muncul perselisihan dalam keluarga. Islam memerintahkan kepada suami-istri agar bergaul dengan cara yang baik serta mendorong mereka untuk bersabar dengan keadaan masing-masing pasangan. Sebab, boleh jadi di dalamnya terdapat kebaikan-kebaikan.</span></span></p>
<p style="margin-left:1.27cm;line-height:150%;" dir="rtl" align="right"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:medium;"><span lang="ar-SA">وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا</span></span></span></span></p>
<p style="margin-left:0.64cm;line-height:150%;"><em><span lang="sv-SE"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;">Bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian, jika kalian tidak menyukai mereka (maka bersabarlah), karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak </span></span></span></em><span lang="sv-SE"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;">(QS an-Nisa’ [4]: 19).</span></span></span></p>
<p style="line-height:150%;" lang="sv-SE"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Selanjutnya, sangat penting menjaga pintu dialog. Dialog dimaksudkan untuk menghilangkan hambatan-hambatan psikis. Kadang masalah muncul bukan karena tidak ada kecocokan pada kedua belah pihak, melainkan karena sangat kurangnya kesempatan bagi keduanya untuk berbincang-bincang. Boleh jadi hanya dengan dialog persoalan yang kelihatannya sulit akan mampu dipecahkan. Di sinilah dibutuhkan komunikasi yang baik antar suami-istri.</span></span></p>
<p style="line-height:150%;" lang="sv-SE"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Untuk membangun komunikasi yang baik, pasangan harus menyadari bahwa mereka merupakan dua pribadi yang unik dan berbeda. Pasangan tidak akan pernah bisa membangun sebuah kesamaan tanpa menyadari atau mengenali perbedaan yang ada. Mereka mungkin menyadari bahwa mereka berbeda, namun tidak tahu bagaimana cara menjembatani perbedaan yang ada dengan bijaksana sehingga konflik pun tak bisa dihindarkan lagi. </span></span></p>
<p style="line-height:150%;" lang="sv-SE"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Jika konflik antara suami-istri memang sudah tidak mampu diatasi berdua, sementara keadaan semakin runcing, maka kehadiran pihak ketiga sebagai penengah sangat diperlukan.</span></span></p>
<p style="margin-left:1.27cm;line-height:150%;" dir="rtl" align="right"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:medium;"><span lang="ar-SA">وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا</span></span></span></span></p>
<p style="margin-left:0.64cm;line-height:150%;"><em><span lang="sv-SE"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;">Jika kalian khawatir ada persengketaan di antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Mahatahu lagi Maha Mengenal </span></span></span></em><span lang="sv-SE"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;">(QS an-Nisa’ [4]: 35).</span></span></span></p>
<p style="line-height:150%;"><span lang="sv-SE"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;"><br />
<strong>Ketika Perceraian Menjadi Pilihan</strong></span></span></span></p>
<p style="line-height:150%;" lang="sv-SE"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Jika memang perceraian merupakan pilihan satu-satunya maka beberapa hal penting mesti diperhatikan. Kehormatan masing-masing tetap harus terjaga. Hak-hak anak setelah orangtua berpisah tetap harus terpenuhi. Yang sering membawa kerusakan hubungan silaturahmi antara keluarga mantan suami atau istri bukanlah perceraian itu, tetapi sikap saling menyalahkan. Bahkan kadang keluar perkataan yang merusak kehormatan mantan istri atau suami. Sesungguhnya setelah perceraian terjadi, masing-masing sudah tidak ada ikatan apa-apa lagi. Jadi, mengapa juga mesti mengurusi orang yang sudah bukan suami atau istrinya lagi?</span></span></p>
<p style="line-height:150%;" lang="sv-SE"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Perceraian sering berakhir menyakitkan bagi pihak-pihak yang terlibat, termasuk di dalamnya anak-anak. Hak anak dalam persoalan nafkah dan kasih-sayang tetap harus terpenuhi walau kedua orangtuanya telah bercerai. Pada umumnya, orangtua yang bercerai akan lebih siap menghadapi perceraian itu daripada anak-anak mereka. Hal ini bisa terjadi karena biasanya perceraian sudah didahului dengan proses berpikir dan pertimbangan yang panjang sehingga ada persiapan mental dan fisik. Tidak demikian dengan anak-anak. Mereka tiba-tiba harus menerima keputusan tanpa sebelumnya memiliki ide dan bayangan bahwa hidup mereka akan berubah. Begitu perceraian terjadi, segeralah anak diberitahu bahwa akan terjadi perubahan dalam hidupnya. Misalnya tentang tidak akan tinggal lagi bersama, tetapi hanya dengan salah satu orangtua. Usahakan tetap menjadi tempat anak untuk mendapatkan kasih-sayang. Yakinkan anak bahwa sekalipun orangtuanya berpisah, mereka akan tetap mencintai anak. Jalin hubungan dengan anak melalui telepon atau saling berkunjung, karena sesungguhnya tidak ada yang namanya bekas anak atau bekas orangtua. </span></span></p>
<p style="line-height:150%;"><span lang="sv-SE"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;"><br />
<strong>Pandangan Islam tentang Perceraian</strong></span></span></span></p>
<p style="line-height:150%;" lang="sv-SE"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Sesungguhnya pernikahan diselenggarakan dalam rangka membentuk keluarga dan sekaligus mewujudkan ketenangan di dalamnya. Jika di dalam kehidupan pernikahan muncul persoalan yang dapat mengganggu keluarga hingga batas yang tidak memungkinkan dipertahankan keutuhannya, maka harus ada jalan keluar bagi kedua belah pihak untuk berpisah. Dalam kondisi seperti ini, masing-masing pihak tidak harus memaksakan diri untuk mempertahankan ikatan pernikahan yang sudah diliputi dengan perselisihan terus-menerus atau bahkan mungkin juga kebencian. Sebagaimana Allah Swt. telah mensyariatkan pernikahan, Dia juga telah mensyariatkan adanya perceraian (talak).</span></span></p>
<p style="margin-left:1.27cm;line-height:150%;" dir="rtl" align="right"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:medium;"><span lang="ar-SA">الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ</span></span></span></span></p>
<p style="margin-left:0.64cm;line-height:150%;"><em><span lang="sv-SE"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;">Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang makruf atau menceraikannya dengan cara yang baik.</span></span></span></em><strong> </strong><span lang="sv-SE"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;">(QS al-Baqarah [2]: 229).</span></span></span></p>
<p style="line-height:150%;"><span lang="sv-SE"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;">Di dalam as-Sunnah, ada riwayat yang bersumber dari Umar Ibn al-Khahthab yang menyatakan, “<em>Nabi saw. sesungguhnya pernah menceraikan Hafshah, kemudian rujuk kembali dengannya.”</em></span></span></span></p>
<p style="line-height:150%;" lang="sv-SE"><span style="font-family:Verdana;"><span style="font-size:x-small;">Sebagaimana pernikahan, perceraian adalah solusi bagi masalah dalam rumah tangga. Sebagai solusi, perceraian boleh dilakukan tetapi tentu saja dengan cara yang baik dan benar agar tidak justru menimbulkan persoalan baru. (<a href="http://www.keluarga-samara.com/">www.keluarga-samara.com</a>) </span></span></p>
<p style="line-height:150%;"><em><span lang="sv-SE"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;">Wallâhu a’lam bi ash-shawâb.</span></span></span></em><strong> </strong></p>
<p style="line-height:150%;"><strong><span lang="sv-SE"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Verdana;">Sumber : Majalah Al Waie edisi Juni 2008</span></span></span></strong></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/164/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/164/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/164/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=164&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2008/05/31/menyelamatkan-keluarga-diambang-perceraian/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/faridmsn-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>