<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Rumahku Surgaku &#187; Pendidikan</title>
	<atom:link href="http://baitijannati.wordpress.com/category/pendidikan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://baitijannati.wordpress.com</link>
	<description>Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 08 Dec 2009 12:21:45 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='baitijannati.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/5fd910c911ccfc5fc04409c51d2e7ef5?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Rumahku Surgaku &#187; Pendidikan</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Keluarga Sakinah, Keluarga Dambaan</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2008/02/29/keluarga-sakinah-keluarga-dambaan/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2008/02/29/keluarga-sakinah-keluarga-dambaan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Feb 2008 21:41:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga Samara]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/2008/02/29/keluarga-sakinah-keluarga-dambaan/</guid>
		<description><![CDATA[Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Ungkapan ini sering terdengar seiring dengan musim orang menikah. Seakan sudah menjadi kalimat pakem yang harus diucapkan saat menghadiri kondangan dan menyalami sang mempelai. Lantas apa maksud dari ungkapan tersebut ? 
  Keluarga Samara. Sebagai sebuah ibadah, tentu saja pernikahan memiliki sejumlah tujuan yang mulia. Memahami tujuan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=154&subd=baitijannati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:normal;" align="center"><i><span>Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Ungkapan ini sering terdengar seiring dengan musim orang menikah. Seakan sudah menjadi kalimat pakem yang harus diucapkan saat menghadiri kondangan dan menyalami sang mempelai. Lantas apa maksud dari ungkapan tersebut</span></i><span> ? </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:normal;"><span>  </span><b><i><span>Keluarga Samara. </span></i></b><span>Sebagai sebuah ibadah, tentu saja pernikahan memiliki sejumlah tujuan yang mulia. Memahami tujuan itu akan menghindarkan pernikahan hanya sekedar ajang pelampiasan nafsu seksual belaka. Tujuan-tujuan itu adalah <i>pertama</i> mewujudkan mawaddah dan rahmat, yakni terjalinnya cinta kasih dan tergapainya ketentraman hati (ar-Rum : 21). <i>Kedua</i>, sebagai upaya mengikuti sunnah Rasulullah. <i>Ketiga,</i> melanjutkan keturunan dan menghindari dosa. <i>Keempat</i>, untuk mempererat tali silaturahim. <i>Kelima</i>, pernikahan sebagai sarana dakwah. <i>Keenam</i>, dalam rangka menggapai mardhatillah.</span><span id="more-154"></span><span></span><span> </span><b><span style="font-size:18pt;"></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:normal;"><span>Jika demikian tujuan pernikahan yang sebenarnya, maka dapat dipastikan bahwa suatu pernikahan yang tidak diarahkan untuk mewujudkan keluarga sakinah, berarti jauh dari apa yang diajarkan oleh Islam itu sendiri. Lalu, apa ukuran sebuah keluarga disebut keluarga sakinah? </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><b><span>Keluarga Sakinah: Keluarga dengan Enam Kebahagiaan </span></b><b><span style="font-size:13.5pt;"></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:normal;" align="left"><span>            Keluarga sakinah adalah keluarga dengan enam kebahagiaan yang terlahir dari usaha keras pasangan suami istri dalam memenuhi semua  kewajiban, baik  kewajiban perorangan maupun kewajiban bersama. Teramat jelas bagaimana Allah dan Rasul-Nya menuntun kita untuk mencapai tiap kebahagiaan itu. Enam kebahagiaan yang dimaksud adalah:</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:normal;"><i><span>Pertama</span></i><span>, kebahagiaan finansial. Kepala keluarga wajib mencukupi kebutuhan nafkah istri dan anak-anaknya dengan berbagai usaha yang halal. Kebahagiaan finansial adalah ketika kebutuhan <i>asasi </i>seperti sandang, papan dan pangan, serta kebutuhan <i>dharuri</i> seperti pendidikan, kesehatan, keamanan, terlebih bila kebutuhan <i>kamali</i> dapat dipenuhi. Sehingga keluarga itu dapat hidup normal, mandiri, bahkan bisa memberi. </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span>            <i>Kedua</i>, kebahagiaan seksual. Sudah menjadi fitrahnya, dalam kehidupan rumah tangga suami istri ingin meraih kepuasan seksual. Islam menuntunkan agar istri senantiasa bersiap memenuhi panggilan suami, tapi juga diajarkan agar suami selalu memperhatikan kebutuhan seksual istri. Ketika sepasang suami istri secara bersama dapat mencapai kepuasan seksual, maka mereka akan merasakan kebahagiaan seksual. Terlebih bila dari aktifitas seksual itu kemudian terlahir anak. Dengan pendidikan yang baik tumbuh menjadi anak yang shalih dan shalihah,  kebahagiaan akan semakin memuncak. </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:normal;"><i><span>Ketiga</span></i><span>, kebahagiaan spiritual. Salah satu kewajiban bersama suami istri adalah melaksanakan ibadah-ibadah <i>mahdah</i> seperti shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya. Ketika sebuah keluarga terdiri dari pasangan suami istri yang rajin beribadah, dan dalam moment-moment tertentu memenuhi anjuran Allah dan Rasul-Nya untuk melaksanakannya secara bersama, seperti shalat berjamaah, membaca al-Qur’an, puasa sunnah dan sebagainya, maka kehidupan rumah tangga itu akan dihiasi oleh suasana religius dengan aura spiritual yang kental. Mereka merasakan secara bersama nikmatnya beribadah kepada Allah. Inilah yang disebut kebahagiaan spiritual. </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:normal;"><span> <i>Keempat</i>, kebahagiaan moral. Suami wajib menggauli istri dengan ma’ruf. Istri juga wajib bersikap sopan dan patuh kepada suami. Suami istri bersikap sayang kepada anak-anak, sementara anak wajib bersikap hormat kepada kedua orang tuanya. Ketika pergaulan antar anggota keluarga, juga dengan karib kerabat dan tetangga, senantiasa dihiasi dengan akhlaq mulia, akan terciptalah kebahagiaan moral. </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:normal;"><span>Masing-masing akan merasa nyaman dan tenteram tinggal di rumah itu. Rumah akan benar-benar dirasakan sebagai tempat yang memberikan ketenangan, bukan sebaliknya. Keresahan yang membuat para penghuninya tidak betah tinggal di sana.  </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:normal;"><i><span>Kelima</span></i><span>, kebahagian intelektual. Untuk menjalani hidup dengan sebaik-baiknya menurut tolok ukur Islam, juga untuk mampu mengatasi secara cepat dan tepat setiap problematika keluarga yang timbul, diperlukan pengetahuan akan <i>ara’</i> (pendapat), <i>afkar</i> (pemikiran) dan <i>ahkam</i> (hukum-hukum) Islam pada pasangan suami istri. Maka menuntut ilmu (<i>tsaqofah Islam</i>) adalah wajib. </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:normal;"><span>Ketika, sepasang suami istri memiliki pemahaman dan ilmu Islam yang cukup sedemikian kebutuhan untuk hidup secara Islami dan menjawab setiap masalah  tercukupi, mereka akan merasakan suatu kebahagiaan karena hidup akan dirasakan terkendali, terang dan mantap. Pengetahuan memang akan mendatangkan kebahagiaan. Sebagaimana kebodohan mendatangkan kesedihan. Inilah yang disebut kebahagiaan intelektual.    </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:normal;"><i><span>Keenam</span></i><span>, kebahagiaan ideologis.  Keluarga dalam Islam bukan hanya dibentuk untuk memenuhi kebutuhan individu, tapi juga memuat misi keumatan. Yakni sebagai basis para pejuang Islam dalam usahanya menegakkan risalah Islam. Dengan misi itu, berarti masing-masing anggota keluarga diarahkan untuk memiliki peran yang nyata dalam dakwah. Termasuk  anak-anak yang terlahir dididik untuk menjadi kader dakwah yang tangguh di masa mendatang. </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:normal;"><span>Nah, keluarga yang mampu merealisasikan misi Islam yang amat mulia inilah keluarga muslim yang sebenarnya. Ketika suami istri merasa mampu mengayuh biduk rumah tangganya dalam kerangka misi tersebut, pasti mereka akan merasakan suatu  kebahagiaan tersendiri. Kebahagiaan itu kita sebut kebahagiaan ideologis.  </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:normal;"><span>Manakah diantara keenam kebahagiaan itu yang utama? Tergantung pada persepsi atau pemahaman pasangan suami istri. Keluarga Rasulullah dibangun dengan meletakkannya pada kerangka perjuangan. Inilah keluarga teladan dengan kebahagiaan ideologis. Tapi berdasarkan riwayat-riwayat yang sangat jelas, Rasul juga mampu menciptakan kebahagiaan intelektual, kebahagiaan moral, spiritual, termasuk seksual bagi keluarganya. </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:normal;"><span>Secara finansial, Rasul memang hidup dalam kesahajaan. Tapi siapa sangka mereka juga ternyata merasakan kebahagiaan finansial. Karena kebahagiaan yang terakhir ini tidak ditentukan oleh jumlah harta yang dimiliki, tapi oleh perasaan <i>qanaah </i>(cukup) atas rizki yang Allah karuniakan. </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span>  </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><b><span>Kesiapan Mental Spiritual </span></b><b><span style="font-size:18pt;"></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:normal;" align="left"><span>  </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:normal;"><span>Paling sedikit ada empat persiapan yang harus dilakukan untuk membentuk keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Yakni persiapan ilmu menyangkut tentang bagaimana hidup sebagai istri/ibu atau sebagai suami/bapak dan bagaimana menjalani hidup bersama dalam sebuah keluarga dengan segala hak dan kewajibannya. Berikutnya adalah persiapan mental, finansial dan fisikal (kesehatan).  </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:normal;"><span>Empat persiapan itu  perlu dilakukan oleh calon pengantin, mengingat bahwa pernikahan berarti mempertautkan dua pribadi  dari dua keluarga yang sama sekali berbeda. Hidup dalam satu atap dengan pasangan barunya  jelas akan membawa perubahan-perubahan yang drastis. Yang semula sendiri, kini berdua. Yang semula bebas kini terikat dengan hak dan tanggungjawab dan sebagainya. </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:normal;"><span>Untuk menghadapi semua itu, diperlukan kesiapan mental. Yakni bagaimana menghadapi tekanan hidup dengan berbagai macam problematika kehidupan, kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan pasangan dan  sebagainya. Pasangan yang memiliki kesiapan mental akan dapat menjalani semua tekanan itu dengan jiwa yang tegar, sabar dan optimis. </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:normal;"><span> Sebaliknya yang tidak memiliki kesiapan mental akan banyak sekali menghadapi tekanan mental. Mungkin persoalan yang dihadapi sebenarnnya biasa-biasa saja, tapi karena memang dasarnya miskin ketahanan mental, akibatnya  menjadi sangat serius. </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span>            Keluarga yang normal dalam ukuran Islam adalah keluarga yang mampu mewujudkan sejumlah fungsi pokoknya, yaknsi fungsi ekonomi, fungsi sosial, fungsi edukatif, fungsi protektif, fungsi religius, fungsi rekreatif, fungsi dakwah dan fungsi afektif. Terpenuhinya seluruh hak dan kewajiban anggota keluarga (suami, istri dan anak-anak) akan membuat semua fungsi tersebut berjalan. </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:normal;"><span>Sehingga peluang tercapainya enam kebahagiaan dalam keluarga sakinah terbuka lebar. Sebaliknya, pengabaian sebagian apalagi seluruh hak dan kewajiban anggota keluarga jelas akan menimbulkan disfungsi keluarga. Ujungnya, tak satu pun kebahagiaan bisa diraih. </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span>            Buruknya relasi suami istri acap dipicu tidak didapatkannya salah satu atau lebih dari enam kebahagiaan tersebut di atas. Seorang suami yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan finansial keluarga akan memancing reaksi negatif dari sang istri. Terlebih bila tolok ukur kebahagiaan istri pada tercapainya perolehan materi. </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:normal;"><span> Begitu juga pasangan suami istri yang gagal mencapai kepuasan seksual, bergaul secara kasar, miskin pemahaman Islam, kering nuansa ibadah dan tak secuilpun terpikir perjuangan Islam, jelas akan memurukkan keluarga itu ke jurang disfungsi yang teramat fatal. Bila tidak segera teratasi, keutuhan keluarga itu akan terancam. Paling tidak kehidupan keluarga itu tidak harmonis, kering dan menggelisahkan. (<a href="http://www.keluarga-samara.com/">www.keluarga-samara.com</a>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p><span>Sumber : Majalah Female Readers (Zulia)</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/154/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/154/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/154/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=154&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2008/02/29/keluarga-sakinah-keluarga-dambaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db4c5e4e99c900e96651e7e7268e5a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sekolah Rumah, Mengapa tidak?</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2008/01/28/sekolah-rumah-mengapa-tidak/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2008/01/28/sekolah-rumah-mengapa-tidak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jan 2008 01:25:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/2008/01/28/sekolah-rumah-mengapa-tidak/</guid>
		<description><![CDATA[Baiti Jannati. Ada tren baru di dunia pendidikan. Anak tak lagi disekolahkan di sekolah formal, tapi hanya belajar di rumah. Model pendidikan ini mulai tumbuh di Indonesia. Itulah homeschooling alias sekolah rumah. Salah satu tokoh yang menerapkan model pendidikan ini kepada anaknya adalah Kak Seto. 
Dengan model seperti ini anak hanya belajar di bawah kendali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=140&subd=baitijannati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><i><b>Baiti Jannati. </b></i>Ada tren baru di dunia pendidikan. Anak tak lagi disekolahkan di sekolah formal, tapi hanya belajar di rumah. Model pendidikan ini mulai tumbuh di Indonesia. Itulah homeschooling alias sekolah rumah. Salah satu tokoh yang menerapkan model pendidikan ini kepada anaknya adalah Kak Seto. </span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dengan model seperti ini anak hanya belajar di bawah kendali orang tuanya. Gurunya adalah orang tuanya. Walaupun orang tua menjadi penanggung jawab utama homeschooling, tetapi pendidikan homeschooling tidak hanya dan tidak harus dilakukan oleh orang tua. Selain mengajar sendiri, orang tua dapat mengundang guru privat, mendaftarkan anak pada kursus, melibatkan anak-anak pada proses magang dan sebagainya.</span><span id="more-140"></span></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sesuai namanya, proses homeschooling memang berpusat di rumah. Tetapi, proses homeschooling umumnya tidak hanya mengambil lokasi di rumah, tapi juga di mana saja yang memungkinkan anak belajar.</span></p>
<div align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></div>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Banyak alasan orang tua memilih homeschooling. Di antaranya, ingin meningkatkan kualitas pendidikan anak,<span>  </span>tidak puas dengan kualitas pendidikan di sekolah regular, orang tua sering berpindah-pindah atau melakukan perjalanan,<span>  </span>keamanan dan pergaulan sekolah tidak kondusif bagi perkembangan anak, menginginkan hubungan keluarga yang lebih dekat dengan anak. Selain itu, sekolah yang baik semakin mahal dan tidak terjangkau, anak-anak memiliki kebutuhan khusus yang tidak dapat dipenuhi di sekolah umum, ada keyakinan bahwa sistem yang ada tidak mendukung nilai-nilai keluarga yang dipegangnya, dan orang tua merasa terpanggil untuk mendidik sendiri anak-anaknya.</span></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Metode pendidikan ini sangat tergantung pada orang tua. Di luar negeri, berdasarkan sebuah riset, mayoritas homeschoolers (71 persen) memilih sendiri materi pengajaran dan kurikulum dari yang tersedia, kemudian melakukan penyesuaian agar sesuai dengan kebutuhan anak-anak, keadaan keluarga, dan prasyarat dari pemerintah.<span>  </span>Selain itu, 24 persen di antaranya menggunakan paket kurikulum lengkap yang dibeli dari lembaga penyedia kurikulum dan materi ajar. Sekitar 3 persen menggunakan materi dari sekolah satelit (partner homeschooling) atau program khusus yang dijalankan oleh sekolah swasta setempat.</span></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Makanya, semuanya tergantung pada orang tua. Berbeda dengan sekolah, di mana orang tua harus mengeluarkan sebuah biaya tetap yang telah ditetapkan (biaya gedung, seragam, buku, iuran bulanan, dsb), para praktisi homeschooling memiliki fleksibilitas untuk menentukan jumlah biaya yang harus dikeluarkan untuk anak-anak. Tapi yang perlu diingat, homeschooling tidak gratis karena orang tua tetap membutuhkan materi-materi untuk pendidikan anak-anak dan memperkaya pengetahuan orang tua. Homeschooling dapat menjadi murah kalau orang tua dapat memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya, misalkan barang-barang yang di rumah, keluarga, teman, tetangga, dan fasilitas-fasilitas umum. Orang tua juga tidak harus membeli, tetapi dapat meminjam, membeli barang bekas, melakukan daur-ulang (recycle), dan sebagainya.</span></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pertanyaan berikutnya, bagaimana nanti untuk mendapatkan legalitas/-mendapatkan ijazahnya? Jika ijazah untuk Perguruan Tinggi yang menjadi kebutuhan, praktisi homeschooling dapat mengikuti ujian kesetaraan (Paket A, B, C) dan melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi seperti pendikan reguler pada umumnya. Tapi jika sertifikat yang menjadi pintu profesi, praktisi homeschooling dapat mengikuti kursus dan program sertifikasi yang banyak diselenggarakan oleh asosiasi profesi atau perusahaan swasta tertentu. </span></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span> </span>Profesi-profesi berorientasi output semakin luas dan memiliki masa depan yang cerah misalnya: bisnis, komputer, marketing, fotografi, entertainment, tulis-menulis, desain, dan sebagainya. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Karenanyanya, homeschooling memiliki potensi besar untuk mengembangkan kemampuan dan keahlian anak-anak.[Mujiyanto/www.sekolahrumah.com/www.suara-islam.com]</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/140/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/140/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/140/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=140&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2008/01/28/sekolah-rumah-mengapa-tidak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db4c5e4e99c900e96651e7e7268e5a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Awal Pendidikan Anak</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2008/01/12/pendidikan-awal-pendidikan-anak/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2008/01/12/pendidikan-awal-pendidikan-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Jan 2008 10:10:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/2008/01/12/pendidikan-awal-pendidikan-anak/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh  : Mbak Rini
&#160;
baitijannati. Allah telah menciptakan manusia, baik pria maupun wanita dengan sifat fitrah yang khas. Manusia memiliki naluri,  perasaan, kecenderungan dan akal.  Hubungan khusus antara pria dan wanita terjadi secara alami karena adanya ghorizatun nau&#8217; (naluri seksual).  
Islam tidak melepaskan kendali naluri ini secara bebas yang dapat membahayakan diri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=133&subd=baitijannati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="margin-bottom:0;" align="center"><font color="#000000"><b>Oleh  : Mbak Rini</b></font></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">&nbsp;</p>
<p align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2"><b><i>baitijannati. </i></b>Allah telah menciptakan manusia, baik pria maupun wanita dengan sifat fitrah yang khas. Manusia memiliki naluri,  perasaan, kecenderungan dan akal.  Hubungan khusus antara pria dan wanita terjadi secara alami karena adanya ghorizatun nau&#8217; (naluri seksual).  </font></font></font></p>
<p align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Islam tidak melepaskan kendali naluri ini secara bebas yang dapat membahayakan diri manusia dan kehidupan bermasyarkat. Islam telah membatasi hubungan khusus antara pria dan wanita hanya dengan jalan pernikahan.  Sehingga terciptalah kondisi masyarakat yang penuh kesucian, kemuliaan, yang sangat menjaga kehormatan setiap anggotanya masing-masing, dan dapat mewujudkan ketenangan hidup dan kelestarian keturunan manusia.  </font></font></font><span id="more-133"></span></p>
<p align="justify"><font color="#000000"> <font size="2"><font face="Arial">Jika kita telaah lebih jauh, ternyata bagaimana proses dan bentuk pernikahan yang dilakukan oleh kaum muslimin merupakan titik awal dalam proses pendidikan anak.</font></font></font></p>
<p align="justify"><b><font size="2"><font face="Arial"><font color="#000000">Tujuan Pernikahan</font></font></font></b><font color="#000000"> </font></p>
<p align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Adanya rasa cinta kasih antar jenis kelamin merupakan fitrah manusia.     Dalam surat Ar Rum (30): 21) Allah sengaja menciptakan kekasih pasangan hidup sebagai sesuatu tanda-tanda kebesaran Allah.  Allah Maha Tahu bahwa manusia butuh pasangan hidup untuk melampiaskan rasa kasih sayang  dan menimbulkan ketentraman hidup.  </font></font></font></p>
<p align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Pernikahan dalam Islam tidak membatasi hubungan antara pria dan wanita yang hanya bertumpu pada kenikmatan dan kelezatan seksual semata.  Ayat-ayat Al Qur&#8217;an sangat memperhatikan hubungan suami isteri pada tujuan penciptaan naluri untuk melanjutkan keturunan.  </font></font></font></p>
<p align="justify"><b><font size="2"><font face="Arial"><font color="#000000">Sunnah yang Melahirkan Kewajiban-Kewajiban</font></font></font></b></p>
<p align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Rasul bersabda: ”Nikah itu sunnahku.  Siapa saja yang membenci sunnahku, dia bukanlah golonganku”.  Nikah adalah perbuatan yang disunnahkan Rasul, yang kemudian melahirkan kewajiban-kewajiban baru sebagai suami/isteri, ibu/bapak, dll yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.</font></font></font></p>
<p align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Nabi bersabda: ”Laki-laki/suami adalah pemimpin di tengah-tengah keluarganya; ia harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya. Wanita/istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan anak-anak suaminya; ia harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya&#8230;&#8230;..” (HR Bukhori Muslim)</font></font></font></p>
<p align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Seorang  suami wajib memberi nafkah kepada istri dana anak-anaknya.  Seorang Bapak wajib memelihara keluarganya dari siksa api neraka.  Seorang istri wajib taat kepada suaminya selama tidak memerintahkan untuk berbuat maksiyat.  Seorang ibu wajib mendidik anak-anaknya agar menjadi anak-anak yang shaleh dan shalehah.</font></font></font></p>
<p align="justify"><font color="#000000"> <font size="2"><font face="Arial"><br />
</font></font></font><font size="2"><font face="Arial"><b><font color="#000000">Memilih Pasangan Hidup</font></b></font></font></p>
<p align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Syariat Islam tidak cukup mendorong kaum muslim untuk melangsungkan pernikahan.  Islam juga menjelaskan siapa saja yang boleh dikawini oleh seorang muslim, siapa saja yang boleh dikawini oleh wanita muslimah, dan siapa pula yang haram dinikahi.</font></font></font></p>
<p align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Nabi bersabda: ”Wanita itu dinikahi karena 4 aspek; karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, karena agamanya.  Oleh karena itu, pilihlahwanita karena agamanya, niscaya engkau akan beruntung”.  Nabi juga bersabda: ”Kawinilah oeh kalian wanita penyayang dan subur keturunannya, karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan para nabi yang lain pada hari kiamat nanti”.</font></font></font></p>
<p align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Seorang pria disunnahkan untuk memilih wanita-wanita yang subur, dan agamanya baik, sehingga ia dapat memelihara dari diri dari dosa dan berketurunan baik, karena memiliki pangkal keutamaan, ketakwaan, dan kemuliaan.  Jadi, agama adalah alasan paling utama yang harus diperhatikan untuk memilih pasangan hidup.  </font></font></font></p>
<p align="justify"><font color="#000000"> <font size="2"><font face="Arial"><br />
</font></font></font><font size="2"><font face="Arial"><b><font color="#000000">Perkawinan Beda Agama Kaitannya dengan Pendidikan Anak</font></b></font></font></p>
<p align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Bagaimana Islam memandang tentang perkawinan beda agama?  Wanita muslim haram hukumnya untuk menikah dengan orang kafir, baik ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) maupun kafir musyrik. Allah berfirman: ”Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan ahlul kitab dan orang-orang musyrik akan berada dalam neraka jahannam.  Mereka kekal di dalamnya.” (QS Al Bayyinah (98): 6) </font></font></font></p>
<p align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Keharaman ini sangat berkaitan dengan fungsi kepemimpinan seorang pria.  Jika pemimpinnya orang kafir yang jelas masuk neraka, maka bagaimana mungkin dapat menolong istrinya yang muslimah untuk masuk surga?  </font></font></font></p>
<p align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Keharaman ini juga sangat berkaitan dengan pendidikan anak.  Seorang bapak wajib menjaga keluarganya dari siksa api neraka.  Jika bapaknya saja ahli neraka, maka bagaimana mungkin dapat memelihara keluarganya dari siksa api nereka.  Allah berfirman: ”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka &#8230;” (QS. At Tahrim 6)..</font></font></font></p>
<p align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Lelaki muslim diharamkan untuk menikahi wanita musyrik.  Allah berfirman: ”Janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik sampai mereka beriman.  Sesungguhnya seorang budak wanita mukmin lebih baik daripada seorang wanita musyrik, walaupun dia menarik hati kalian.”  (QS Al Baqoroh (2): 221).</font></font></font></p>
<p align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Allah SWT telah membolehkan pria muslim untuk menikahi ahlul kitab (Yahudi atau Nasrani).  Allah berfirman: ”Pada hari ini telah dihalalkan bagi kalian perkara yang baik-baik.  Makanan sembelihan orang-orang ahlul kitab adalah halal bagi kalian.  Makanan kalian adalah halal pula bagi mereka.  Demikian pula wanita-wanita mukminyang selalu menjaga kehormatan dan wanita-wanita yang senantiasa menjaga kehormatan dari kalangan yang diberi kitab sebelum kalian, jika kalian telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahi mereka; tidak dengan maksud untuk menzinai mereka dan menjadikan mereka sebagai gundik”. (QS Al Maidah (5): 5)</font></font></font></p>
<p align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Ayat ini dengan jelas memaparkan bahwa wanita-wanita ahlul kitab yang senantiasa menjaga kehormatannya boleh dinikahi.</font></font></font></p>
<p align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Kebolehan menikahi wanita ahlul kitab berkaitan pula dengan pendidikan anak.  Dari segi ketuhanan, sebenarnya ahlul kitab merupakan ajaran agama tauhid yang berasal Allah SWT pada masa sebelum kenabian Muhammad SAW  Hanya saja mereka mengingkari salah satu ajarannya yang menyatakan tentang adanya kenabian akhir zaman.  </font></font></font></p>
<p align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Kebolehan ini telah dipraktekkan semasa kehidupan Nabi Muhammad SAW setelah peristiwa hijrah dari Mekah ke Madinah.  </font></font></font></p>
<p align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Dengan demikian, kebolehan lelaki muslim menikahi wanita ahlul kitab adalah secara umum tidak ada persoalan mendasar dalam masalah tauhid.  Lebih jauh lagi, harus dipastikan bahwa wanita ahlul kitab yang boleh dinikahi ini hanya menjalankan ajaran agamanya untuk dirinya sendiri.  Sedangkan bagi anak-anak yang akan mereka lahirkan harus dididik dengan cara Islam.  Jika tidak ada kepastian tentang masalah pendidikan anak ini maka kebolehan tersebut tidak berlaku.  Rasul bersabda:  ”Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah.  Maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan mereka nasrani, yahudi atau majusi”.</font></font></font></p>
<p align="justify"><b><font color="#000000"> <font size="2"><font face="Arial"><br />
Khatimah</font></font></font></b></p>
<p align="justify"><font face="Arial"><font size="2"><font color="#000000">Pernikahan adalah masa penentuan pasangan hidup yang akan melanjutkan keturunan kita.  Pemilihan pasang hidup yang tepat akan mempengaruhi tugas kita  berikutnya dalam lembaga perkawinan ini, yaitu mendidik anak-anak yang terlahir.  Tugas mendidik anak adalah mengawal tumbuh kembang mereka hingga menjadi manusia dewasa yang tetap terjaga fitrah tauhidnya.  Maka seorang wanita muslimah harus memastikan awal, mulai dari pernikahan, bahwa pasangan hidupnya adalah seorang muslim yang akan mampu bekerja sama dalam tugas mulia melahirkan generasi umat manusia yang akan menerukan perjuangan orangtuanya untuk mewujudkan kejayaan Islam dan umat Islam. (</font><a href="http://www.baitijannati.wordpress.com/"><font color="#000000">www.baitijannati.wordpress.com</font></a><font color="#000000">)</font></font></font></p>
<p align="justify">Sumber : Tabloid Suara Islam edisi 23</p>
<p align="justify"><font color="#000000"> </font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/133/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/133/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/133/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=133&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2008/01/12/pendidikan-awal-pendidikan-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db4c5e4e99c900e96651e7e7268e5a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keluarga,Teladan Pertama Anak</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2008/01/05/keluargateladan-pertama-anak/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2008/01/05/keluargateladan-pertama-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jan 2008 23:36:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/2008/01/05/keluargateladan-pertama-anak/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Lathifah Musa
 
baitijannati. Fathimah, balita kecil usia 2,5 tahun menggendong boneka pandanya. Sembari menggoyang-goyang si Panda seolah meninabobokannya, sesekali ia mengecup kepala bonekanya. Tampak betapa sayangnya ia pada boneka itu. Tak jauh darinya, ibunda Fathimah juga sedang menggendong bayinya, adik Fathimah yang berusia 4 bulan. Ternyata apa yang dilakukan Fathimah persis meniru ibundanya. 
Dengan mengamati [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=132&subd=baitijannati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;margin:0 0 0.0001pt;" align="center"><b><span>Oleh : Lathifah Musa<span></span></span></b></p>
<p style="margin:0 0 0.0001pt;"><b><span> </span></b></p>
<p style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;"><b><i><span>baitijannati</span></i></b><span>. Fathimah, balita kecil usia 2,5 tahun menggendong boneka pandanya. Sembari menggoyang-goyang si Panda seolah meninabobokannya, sesekali ia mengecup kepala bonekanya. Tampak betapa sayangnya ia pada boneka itu. Tak jauh darinya, ibunda Fathimah juga sedang menggendong bayinya, adik Fathimah yang berusia 4 bulan. Ternyata apa yang dilakukan Fathimah persis meniru ibundanya. </span><span></span></p>
<p style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Dengan mengamati dan meniru, Fathimah telah belajar mencurahkan kasih sayang dari sang bunda. Tak heran, walaupun masih balita, naluri keibuannya mulai bertunas. </span><span id="more-132"></span><br />
<span>        Tidak semua anak perempuan balita seperti Fathimah. Ada yang suka mencopoti tangan dan kaki bonekanya. Ada yang menggendongnya sekedar menggantung di leher, sehingga leher boneka tercekik. Ada lagi yang gemar melempar bonekanya ke luar melalui jendela kamar. Sebagai manusia dewasa, barangkali kita hanya mengatakan: &#8220;Ah biasa, perilaku anak-anak&#8221;. Tanpa kita menyadari, bahwa sesungguhnya balita-balita kecil itu sedang tumbuh, berkembang dan juga belajar.</span></p>
<p style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Anak belajar dengan melihat, mendengar, mengamati kemudian meniru. Jangan dikira, makhluk kecil mungil itu tidak peduli pada lingkung-annya. Sesungguhnya mereka memiliki daya rekam yang luar biasa. Tanpa kita sadar, mereka bisa menjadi peniru-peniru ulung. Tak heran ketika kita meminta Mikko (3,5 th) untuk menyanyi, dengan fasihnya ia melantunkan &#8220;Mbah Dukun&#8221;-nya Alam, dengan lenggak-lenggoknya yang tak kalah dengan aslinya. Atau Rara (3 th) yang masih cedal menyanyi lagu &#8220;cucakrowo&#8221;. Kontan membuat jengah dan merah telinga orang dewasa, karena baitnya yang cukup &#8220;ngeres&#8221; dan &#8220;saru&#8221;. </span></p>
<p style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Tapi siapa yang bisa disalahkan? Balita-balita ini sudah terbiasa dengan lantunan lagu-lagu itu di rumahnya. Bahkan orang tua mereka sendiri sering melagukannya. Lebih parah lagi mereka justru tertawa, bertepuk dan bersorak melihat balitanya yang mungil bisa menirukannya dengan lancar dan fasih.</p>
<p><b>Sumber Informasi Pertama</b></span></p>
<p style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Keluarga adalah lingkungan pertama yang dikenal oleh anak. Ibu dan ayah adalah manusia-manusia dewasa kepada siapa anak belajar kata-kata yang pertama. Khususnya kepada Ibu, anak belajar kasih sayang. Kepada ayah, anak belajar tanggung jawab dan kepemimpinan. Bagaimana sikap ibu dan ayah kepada anak, sikap ayah kepada ibu dan sebaliknya ibu kepada ayah, adalah pola interaksi yang pertama dipelajari anak. </span></p>
<p style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Dengan telinga dan matanya, anak belajar menyerap fakta dan informasi. Semakin banyak yang terekam, itulah yang paling mudah ditirunya. Bagaikan kertas putih bersih, orang tuanya yang akan memberinya coretan dan warna yang pertama. </span></p>
<p style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Betapapun sederhananya pola pendidikan dalam sebuah keluarga, tetap-lah sangat berpengaruh pada pembentukan kepribadian anak. Keluarga merupakan awal bagi pertumbuhan pola pikir dan perasaan anak. Di dalam Islam, sistem pendidikan dalam keluarga menjadi penentu masa depan anak. Apakah anak akan menjadi shaleh, baik, santun, penyayang atau kurang ajar, kasar, bengis, semuanya tergantung pada tangan-tangan pertama yang mendidiknya, yakni orang tuanya. </span></p>
<p style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Dalam sebuah hadits, menurut kesaksian Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: &#8220;<i>Setiap bayi dilahirkan di atas fitrah (mentauhidkan Allah), kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, atau seorang Nasrani atau seorang Majusi.&#8221; </i>(HR. Muslim).<br />
Hadits ini menunjukkan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Yang dimaksud adalah anak-anak yang baru dilahirkan memiliki fitrah yang bersih dan suci, yaitu beriman kepada Allah SWT. Orang tua memiliki peran dalam mengarahkan fitrah anak. Apakah akan tetap bersih, murni dan bersinar? Ataukah cahayanya akan memudar, bahkan hilang.<br />
<b><br />
Ibu Pendidik Utama</b></span></p>
<p style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Pendidik yang paling berkompeten dalam keluarga tentunya adalah orang tua (ayah dan ibu). Secara khusus, dalam sebuah keluarga, ibu adalah sosok yang memiliki peran yang sangat besar dan penting dalam proses tumbuh kembang anak. Kepada ibu, anak pertama kali berinteraksi. Ibulah yang paling dekat dengan anaknya. Dalam kandungan ibu, anak mendapatkan kasih sayang sehingga ia dapat tumbuh dan berkembang selama kurang lebih 9 bulan, bukan waktu yang singkat. Kesadaran, kerelaan, ketelatenan dan pengorbanan seorang ibu pada masa ini sangat diperlukan. Keikhlasan seorang ibu menjalani peran ini sangat menentukan lestarinya generasi manusia.</span></p>
<p style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Sangatlah tepat kiranya bila Islam menempatkan &#8220;peran ibu&#8221; sebagai tugas pokok kaum perempuan. Untuk menjamin pelaksanaan ini, Islam menetapkan beberapa hukum khusus bagi perempuan, baik berupa hak ataupun kewajiban. Dengan pengaturan ini, ada jaminan bagi proses tumbuh kembang anak, sehingga menjadi manusia dewasa yang terarah. </span></p>
<p style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Kemuliaan dan keagungan peran ini tergambar dalam sabda Nabi SAW: &#8220;Surga berada di bawah telapak kaki ibu&#8221; (THR Ahmad). Hadits ini mengambarkan betapa saleh dan tidaknya seorang anak tergantung bagaimana sang ibu mendidiknya. Kalau ibu memberikan pendidikan dasar yang baik, maka kemungkinan besar anak akan tumbuh menjadi manusia yang shaleh. Sebaliknya bila ibu sampai keliru dalam mendidiknya, maka bisa jadi dia tumbuh dewasa jauh dari arahan Islam.</p>
<p><b>Figur Ibu</b></span></p>
<p style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Pentingnya figur seorang ibu atau orang tua yang baik, menunjukkan pentingnya sebuah keluarga sebagai lembaga pendidikan. Untuk itu ayah sebagai kepala keluarga berperan besar dalam mewujudkan figur ibu yang baik di lingkungan keluarganya.<br />
Sejak awal, seorang calon ayah dianjurkan memilih calon ibu bagi anak-anaknya dari kalangan perempuan yang penyayang. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: &#8220;Hendaknya kamu menikahi perempuan yang subur dan penyayang, sebab denganmu umatku menjadi lebih banyak daripada umat para nabi yang lain di Hari Kiamat.&#8221; (THR. Ahmad dan Abu Hakim). </span></p>
<p style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Seorang ibu yang penyayang tidak akan pernah rela untuk menelantarkan anaknya yang masih kecil demi karir. Ibu yang penyayang juga tidak akan mengorbankan hak anaknya mendapatkan ASI (Air Susu Ibu). Ibu yang penyayang ini tidak akan mengorbankan hak anaknya mendapatkan pengasuhan dan pendidikan yang terbaik.<br />
Ketika seorang anak usia TK kecil ditanya oleh gurunya, &#8220;Apakah kamu punya kaset lagu untuk menari?&#8221; Ia menjawab:&#8221;Di rumah ada kaset lagu Goyang Dombret&#8221;. Sang guru terperanjat,&#8221;Itu bukan lagu yang bagus.&#8221; Tak kalah cepat si anak menukas: &#8220;Ibuku suka lagu itu, katanya itu lagu bagus.&#8221; Bisa dibayangkan betapa mengejutkan bila ternyata anak-anak kecil itu pun bisa mengatakan &#8220;goyang ngebor si Inul juga bagus&#8221;. </span></p>
<p style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Kenyataannya tak sedikit orang tua yang tidak peduli sama sekali dengan perkembangan pola pikir dan kejiwaan anaknya. Keluarga yang seharusnya menjadi pelindung tumbuh kembang anak, justru menjadi tempat yang merusaknya. Padahal ibarat radar, anak akan menangkap setiap obyek yang ada di sekitarnya. Perilaku orang tua adalah hal yang pertama ditangkapnya. </span></p>
<p style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Bagi seorang anak, ibu memiliki kesan pertama yang begitu besar. Untuk itu seorang ibu memang harus berperilaku dan berkepribadian tinggi. Supaya kesan pertama yang tertangkap anak adalah kesan yang baik. Kesan yang baik ini akan menjadi landasan yang kokoh bagi perkembangan kepribadian anak. Kekuatan figur ibu ini akan membuat anak mampu menyaring, apa yang boleh diambil dan apa yang tidak boleh dari lingkungannya. Anak akan menjadikan apa yang diterimanya dari sang ibu sebagai standar nilai. Anak akan lebih percaya kepada ibunya daripada orang lain, apalagi terhadap orang-orang yang kepribadiannya berlawanan dengan sang ibu. Dengan begitu anak akan menjadi milik ibunya. Ia tidak akan patuh begitu saja pada figur-figur di layar kaca yang gaya hidup dan perilakunya berlawanan dengan Islam.</p>
<p><b>Keteladanan</b></span></p>
<p style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Karena anak banyak belajar dari contoh-contoh yang ada, maka anak membutuhkan figur-figur yang dapat dilihatnya secara langsung. Akal seorang anak belum sempurna untuk melakukan sebuah proses berpikir. Ia belum mampu menerjemahkan nilai-nilai kehidupan yang diajarkan kepadanya. Tepatlah kiranya seorang pakar ilmu pendidikan yang mengatakan bahwa keteladanan adalah media pendidikan yang paling efektif dan berpengaruh dalam menyampaikan tata nilai kehidupan. Dan karena keluarga adalah tempat pertama kali anak belajar hidup dan mengerti nilai-nilai kehidupan, maka orang tualah yang harus menjadi figur pertama keteladanan anak. (</span><a href="http://www.baitijannati.wordpress.com/">www.baitijannati.wordpress.com</a><span>)</span></p>
<p style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Sumber : Majalah Female Readers</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/132/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/132/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=132&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2008/01/05/keluargateladan-pertama-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db4c5e4e99c900e96651e7e7268e5a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Agar Anak Cinta Berkorban</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2007/10/02/agar-anak-cinta-berkorban/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2007/10/02/agar-anak-cinta-berkorban/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Oct 2007 04:04:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Jundiku]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/2007/10/02/agar-anak-cinta-berkorban/</guid>
		<description><![CDATA[


Lazimnya, anak-anak bersifat posesif. Tapi,   bukan berarti karakternya tidak bisa dibentuk agar menjadi orang yang peduli.
”Bu, aku ingin berkorban seperti Extra   Joss,” kata si bocah, lantas berlari hendak menyerahkan daging kambing yang   diperolehnya kepada yang lebih membutuhkan.
Benar, adegan indah itu hanya iklan.   Seindah budi pekerti Lala dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=109&subd=baitijannati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><table class="MsoNormalTable" border="0" cellpadding="0">
<tr>
<td style="padding:0.75pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;">Lazimnya, anak-anak bersifat posesif. Tapi,   bukan berarti karakternya tidak bisa dibentuk agar menjadi orang yang peduli.</span></strong><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;">”Bu, aku ingin berkorban seperti Extra   Joss,” kata si bocah, lantas berlari hendak menyerahkan daging kambing yang   diperolehnya kepada yang lebih membutuhkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;">Benar, adegan indah itu hanya iklan.   Seindah budi pekerti Lala dalam sinetron Bidadari, yang pemerannya yakni   Marshanda kini mulai main drama cinta-cintaan anak SMP. Tapi, bukan berarti   keluhuran berkorban seperti itu tidak ada sama sekali dalam kenyataan   sehari-hari.</span><span id="more-109"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;">Faktor Eksternal</span></strong><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;">Hasil penelitian para psikolog perkembangan   seperti Jean Piaget, Erik Erikson, Jerome Bruner, dan lain-lain, membenarkan,   anak-anak mengalami internalisasi nilai-nilai dengan pertama-tama mengalami   struktur eksternal. Ringkasnya, bocah cilik lebih mudah meniru. Sehingga   kalau Anda ingin agar dia berbuat baik, maka berilah contoh. Teladan. Bukan   cuma teori.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;">Dalam iklan tadi misalnya, keinginan   berkorban menggelegak dalam jiwa si anak setelah menyaksikan imbauan yang   menggugah di layer teve, diikuti teladan berkorban (Rp 2 Milyar). Jadi, klop   antara teori dan praktik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;">Yang tidak dijelaskan dalam iklan tadi   adalah, proses panjang yang membuat seorang anak memiliki empati sosial   sedemikian tinggi. Proses ini terutama sekali tergantung pada pendidikan yang   diperolehnya dari orangtua si anak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;">Anak yang dilahirkan dalam keluarga miskin,   seperti yang tampak dari tayangan iklan berkorban Extra Joss, memang lebih   mudah berempati pada penderitaan orang lain. Sama halnya orangtua yang   melarat, tidak ingin anak-anaknya mengikuti jejak kemelaratannya. &#8221;Jika kita   sendiri mengalami masa-masa sulit, kita ingin memastikan anak-anak kita tidak   mengalaminya pula,&#8221; tutur John dan Linda Friel dalam <em>The 7 Worst Things   Good Parents Do</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;">Tapi, pengalaman pribadi itu hanya salah   satu faktor penumbuh empati anak. Bocah-bocah dari keluarga dengan strata   sosial-ekonomi lebih tinggi pun, memiliki kesempatan untuk menjadi anak yang   peduli sesama. Meskipun memang lebih berat mendidiknya, karena Anda harus   bersaing keras misalnya dengan televisi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;">Kartun Anti-sosial</span></strong><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;">Semua orang tahu, nyaris tidak ada tayangan   teve yang tidak mengajarkan sikap anti-sosial. Menertawakan orang gendut atau   cacat, meledek penderitaan orang, obral umpatan, dan sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;">Menurut penelitian Sri Andayani (1997)   terhadap beberapa film kartun Jepang, seperti Sailor Moon, Dragon Ball, dan   Magic Knight Ray Earth, muatan cerita kepahlawanan dalam film-film ini justru   lebih banyak mengandung adegan anti-sosial (58,4%) daripada adegan pro-sosial   (41,6%). Studi ini menemukan bahwa katagori perlakuan antisosial yang paling   sering muncul berturut-turut adalah berkata kasar (38,56%), mencelakakan   (28,46%), dan pengejekan (11,44%). Sementara itu katagori prososial, perilaku   yang kerapkali muncul adalah kehangatan (17,16%), kesopanan (16,05%), empati   (13,43%), dan nasihat 13,06%).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;">Temuan tersebut sejalan dengan temuan YLKI,   yang juga mencatat bahwa film kartun bertemakan kepahlawanan lebih banyak   menampilkan adegan anti-sosial (63,51%) dari pada adegan pro-sosial (36,49%).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;">Dongeng</span></strong><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;">Tolong dicatat, dongeng dan puisi adalah   salah satu sarana baik dalam mengasah pertumbuhan kecerdasan emosi atau   empati anak. &#8221;Saya sering mendongeng dan membaca puisi di depan anak-anak.   Dengan cara itu, saya ingin melatih kepekaan mereka,&#8221; ungkap Ratih   Sanggarwati sebuah seminar pendidikan anak di YPM Salman ITB.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;">Dongeng terbaik bagi perkembangan empati   anak-anak, menurut Ratih Sang, adalah kisah-kisah kehidupan Rasulullaah saw   dan para sahabatnya. Misalnya, perilaku Rasulullaah saw. yang rendah hati,   pemaaf, sopan santun, adil, pemurah, bijaksana, penyabar, penolong, dan   sifat-sifat baik lainnya, itu layak didongengkan kepada anak agar dicontoh.   Dengan begitu, informasi perilaku positif itu akan tertanam pada benak anak   sehingga pada gilirannya kelak membentuk karakter.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;">&#8221;Tentunya dalam tataran ini, orangtua   harus pula memberi keteladanan. Jangan sampai kita mendongeng perlunya   bersikap jujur, tetapi orang tua mengajarkan ketidakjujuran,&#8221; tandas Ratih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;">Ya, sejak kecil bangsa ini sudah menelan   ajaran rela berkorban melalui penataran P-4 dan Pramuka. Tapi karena miskin   teladan, Harry Roesli pun bersenandung: &#8221;Garuda Pancasila, aku lelah   mendukungmu. Sejak proklamasi, selalu berkorban untukmu….&#8217;’</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;"> </span></strong><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;">Tips Menumbuhkan Empati Anak</span></strong><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;"></span></p>
<ul>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';">Perhatikan dan Ekspresikan        Perasaan Anak Lain. Ajak anak-anak jalan-jalan ke alam nyata seperti        pasar, sawah, dan pinggiran kota. Tunjukkan perjuangan bocah-bocah yang        harus berkelahi dengan waktu, seperti penjaja koran, penyemir sepatu,        peminta-minta. Katakan pada buah hati Anda, &#8221;Masya Allah, lihat anak        yang sedang mendorong gerobak sampah itu. Ia tentu lelah sekali.        Wajahnya sampai memerah terpanggang matahari. Kalau mampu, dia pasti        ingin sekolah seperti kamu.&#8221;</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';">Ungkapkan Perasaan Empati        Anda pada Orang Lain. Kalau perlu menagislah di depan anak-anak, lalu        ceritakan bahwa Anda sedang sedih karena teman Anda kehilangan salah        satu anaknya. Selain untuk mengajarkan simpati, cara ini juga mengajak        anak mengenali ekspresi kehidupan.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';">Seandainya Aku Jadi Dia. Ini        lebih dari sekadar mengungkapkan perasaan orang lain. Anda memposisikan        buah hati Anda sebagai anak lain yang sedang menderita. Katakan misalnya,        &#8221;Coba lihat betapa sedihnya anak itu kehilangan mainan, seperti kamu        kemarin menangis karena bonekamu terselip di lemari.&#8221;</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';">Praktik Ringan Tangan.        Berikan receh pada anak untuk dimasukkan ke kotak amal di masjid, atau        diberikan pada pengamen atau pengemis. Namun ingat, bila Anda membantu        tetangga atau saudara, jangan sampai anak-anak Anda dan anak-anak dia        menyaksikannya. Ini untuk mencegah anak-anak Anda meledek atau        merendehkan anak-anak orang tersebut.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';">Ceritakan kisah teladan.        Antarkan tidur anak dengan kisah-kisah teladan Rasulullah Saw, sahabat,        dan orang-orang saleh dalam berkorban dan peduli. Mudah-mudahan kisah        ini membekas dalam memorinya, hingga terbawa mimpi. (<a href="http://www.baitijannati.wordpress.com/">www.baitijannati.wordpress.com</a>)        </span></li>
</ul>
</td>
</tr>
</table>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;">Sumber : </span><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;">Tabloid Suara Islam, Edisi 12   </span><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:'Times New Roman','serif';color:black;"></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/109/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/109/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=109&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2007/10/02/agar-anak-cinta-berkorban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db4c5e4e99c900e96651e7e7268e5a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>10 Langkah Mengisi Ramadhan Bersama Anak</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2007/09/15/10-langkah-mengisi-ramadhan-bersama-anak/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2007/09/15/10-langkah-mengisi-ramadhan-bersama-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Sep 2007 04:51:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Jundiku]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/2007/09/15/10-langkah-mengisi-ramadhan-bersama-anak/</guid>
		<description><![CDATA[Keluarga Samara.  Shaum (puasa) Ramadhan adalah salah satu pilar dari Rukun Islam. Maka mendidik anak untuk berpuasa Ramadhan menjadi kewajiban keislaman yang integral bagi para orang tua. Para sahabat Rasul telah mendidik putra-putri mereka yang masih kecil untuk berpuasa. Seperti yang dituturkan shahabiyah Rubayyi’ binti Mu’awwiz tentang bagaimana cara mereka mendidik anak-anak mereka berpuasa Asyura [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=106&subd=baitijannati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><strong><em>Keluarga Samara.</em></strong><span>  </span><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:'Times New Roman','serif';">Shaum (puasa) Ramadhan adalah salah satu pilar dari Rukun Islam. Maka mendidik anak untuk berpuasa Ramadhan menjadi kewajiban keislaman yang integral bagi para orang tua. Para sahabat Rasul telah mendidik putra-putri mereka yang masih kecil untuk berpuasa. Seperti yang dituturkan shahabiyah Rubayyi’ binti Mu’awwiz tentang bagaimana cara mereka mendidik anak-anak mereka berpuasa Asyura (sebelum diwajibkan puasa Romadhon): <em>“…dan kami melatih anak-anak kami yang masih kecil untuk berpuasa. Kami bawa mereka ke masjid dan kami buatkan mereka mainan dari bulu. Apabila diantara mereka ada yang merengek minta makan, maka kami bujuk dengan mainan itu terus hingga tiba waktu berbuka.”</em> (HR. Bukhari Muslim).</span><span id="more-106"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';">Dari riwayat diatas, kita dapat mengetahui bahwa para sahabat memberikan perhatian yang serius dalam melatih putra-putri mereka untuk membiasakan berpuasa. Lantas apa yang dapat kita lakukan saat ini untuk meneladani tradisi sahabat tadi? Ada 10 panduan yang perlu kita perhatikan : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';">1. Melakukan pengkondisian menyambut Ramadhan dengan memberi bekalan pemahaman yang memadai tentang keutamaan Ramadhan. Jika pengkondisian ini dilakukan berulang-ulang sejak sebelum Ramadhan tiba, sangat mungkin akan tumbuh niat yang kuat pada anak untuk berpuasa Ramadhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';">2. Menyambut Ramadhan dengan keriangan dan keceriaan. Rasulullah telah menasehati Abdullah bin Mas’ud untuk menyambut Ramadhan dengan wajah yang berseri tidak cemberut. Jika kita perluas keceriaan tadi, dapat juga dengan cara memberi dekorasi yang khas pada kondisi rumah, sehingga anak semakin menyadari akan keistimewaan Ramadhan dibandingkan bulan lainnya. Hal ini akan menstimulus mereka untuk berpuasa. Dibuat sedemikian rupa sehingga bulan Ramadhan adalah hari-hari yang paling indah untuk dikenang sang anak hingga mereka remaja dan dewasa. Ini tentu akan lebih mudah tercapai jika ada peran serta masyarakat umum dan pemerintah dengan menghidupkan syiar-syiar Ramadhan di jalan raya, perkantoran, pabrik, media masa dan lain-lain. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';">3. Menata jam tidur anak-anak sehingga akan mudah bergairah saat bangun sahur. Waktu sahur sebaiknya diakhirkan (kira-kira satu atau setengah jam menjelang salat subuh) sebagaimana anjuran Rasulullah. Hikmahnya antara lain agar setelah sahur tidak terlalu lama menunggu waktu subuh. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';">4. Tidak meletakkan makanan, minuman dan buah-buahan secara terbuka, sehingga akan menggoda mereka untuk segera membatalkan puasanya. Makanan diletakkan pada tempat yang jauh dari perhatian mereka. Hal ini juga sepatutnya diperhatikan oleh restoran dan penjaja makanan dipinggir jalan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';">5. Terhadap anak yang baru berlatih puasa (belum kuat dan gampang terpengaruh), sebaiknya mereka dijauhkan bermain dari anak-anak yang malas berpuasa. Dan didekatkan dengan anak-anak lainanya yang juga tekun berlatih. Ini perlu dilakukan agar mereka memperoleh rasa kebersamaan, bukan keterasingan karena puasanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';">6. Melatih berpuasa dengan bertahap dan menjanjikan hadiah sebagai rangsangan. Misalnya di awali dengan izin berbuka sampai jam 10, lalu jam 12 dan seterusnya sampai akhirnya penuh sampai waktu berbuka. Hadiahnya disamping penghargaan dan pujian sebagai anak yang sabar, juga dapat diberikan hadian lain yang beraspek mendidik berupa alat-alat belajar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';">7. Stimulus dengan pahala dan surga dari Allah. Jadi hadiah materi diatas tak menutupi stimulus ganjaran Allah. “Jika kamu berpuasa, maka kamu ikut membuka pintu pahala dari Allah bagi orangtuamu yang telah mendidikmu untuk berpuasa”. Anak akan senang karena sekaligus dapat berbuat sesuatu kebaikan untuk orangtuanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';">8. Memberi alternatif pengisian waktu yang tepat dan positif. Baik dengan istirahat tidur di siang panas, maupun dengan alternatif permainan yang mendidik untuk melupakan mereka dengan rasa haus dan lapar yang menyengat. Sebagaimana yang telah dilakukan shahabiyah di masa Rasul. Saat ini sudah ada pesantren Ramadhan untuk anak-anak dan remaja, ini juga alternatif kegiatan yang menyenangkan bagi mereka. Atau orangtua dapat juga bersepakat dengan anak-anaknya untuk memasang target, bahwa seusai bulan Ramadhan kemampuan mereka mengaji Al Quran harus lancar dan lebih baik. Perhatian kepada Al Quran memang harus lebih besar di bulan Ramadhan, karena Al Quran diturunkan pertama kali pada bulan ini. Dapat pula orang tua membacakan kisah-kisah keteladanan Islami, atau mendengarkan kaset-kaset cerita Islami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';">9. Mengajak anak-anak untuk meramaikan syiar Ramadhan, seperti sholat tarawih berjamaah di masjid, mengaji dan mengkaji Quran, menyimak ceramah-ceramah agama, menyuruh mereka mengantar makanan ke masjid untuk orang yang berbuka puasa, lebih menggemarkan berinfak, shadaqah dan lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';">10. Khusus untuk para orang tua, jika mereka menyepelekan pendidikan puasa Ramadhan bagi anak-anaknya, maka mereka harus siap bertanggung jawab kepada Allah kelak di akhirat, jika putra-putrinya kemudian melalaikan kewajiban puasa Ramadhan. Oleh karena itu mereka harus memanfaatkan semaksimal mungkin pembiasaan puasa Ramadhan bagi anak-anaknya sejak dini. Dengan perhatian yang intens dan cara-cara yang bijak, niscaya dapat menggugah kesadaran anak-anak untuk berpuasa. Kesadaran itu tentu akan merupakan tabungan ibadah bagi para orang tua yang telah mendidik mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';">Jika hal-hal di atas kita lakukan, maka Insya Allah keberkahan Romadhon akan turun ke setiap keluarga muslim.[] (<a href="http://www.keluarga-samara.com/">www.keluarga-samara.com</a>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman','serif';">Sumber : http://bisnispolitik.wordpress.com/2007/09/13/10-langkah-mengisi-ramadhan-bersama-anak/</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/106/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/106/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/106/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=106&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2007/09/15/10-langkah-mengisi-ramadhan-bersama-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db4c5e4e99c900e96651e7e7268e5a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Homeschooling Histeria</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2007/07/18/homeschooling-histeria/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2007/07/18/homeschooling-histeria/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jul 2007 07:10:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Jundiku]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/2007/07/18/homeschooling-histeria/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Mia Endriza Y, S.P.
Ketua AlPen ProSa Kalsel 
Syariah Publications. Homeschooling atau sekolah rumah, masih saja menjadi bahan perbincangan yang menarik. Penerapan homeschooling pun tak sepi dari pro dan kontra. Memang, homeschooling sendiri sebenarnya bukan barang baru di dunia pendidikan. Pemerintah sendiri mengamini keberadaan homeschooling melalui UU Sisdiknas, Pasal 27 mengenai pendidikan informal. 
Apakah diamininya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=104&subd=baitijannati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><strong>Oleh: Mia Endriza Y, S.P.<br />
Ketua AlPen ProSa Kalsel </strong></p>
<p align="left"><em><strong>Syariah Publications</strong></em>. Homeschooling atau sekolah rumah, masih saja menjadi bahan perbincangan yang menarik. Penerapan homeschooling pun tak sepi dari pro dan kontra. Memang, homeschooling sendiri sebenarnya bukan barang baru di dunia pendidikan. Pemerintah sendiri mengamini keberadaan homeschooling melalui UU Sisdiknas, Pasal 27 mengenai pendidikan informal. <span id="more-104"></span><br />
Apakah diamininya homeschooling oleh pemerintah dikarenakan ingin berlepas tangan dari tanggung jawabnya sebagai penyelenggara pendidikan? Wallahu’alam. Karena, homeschooling sendiri mulai pembiayaan, fasilitas belajar mengajar sampai tenaga pengajar diselenggarakan oleh masyarakat. Memang pemerintah menyediakan kurikulum sebagai tuntunan bahan ajar, namun masyarakat cenderung memilih kurikulum luar yang rata-rata berasal dari luar Indonesia. Contohnya, kurikulum Franklin Classical School dari Amerika Serikat.<br />
Homeschooling Indonesia dinaungi Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif (Asah-Pena). Juga ada Morning Star Academy, Komunitas Homeschooling Berkemas, Homeschooling Kak Seto, dan KerLip.<br />
Tampaknya, gelombang ketertarikan masyarakat terhadap homeschooling dipacu oleh banyak sebab. Di antaranya, biaya pendidikan formal yang kian membumbung tinggi, terjadinya bullying action pada lingkungan sekolah, rutinitas belajar mengajar yang terasa berat dan membosankan, peserta didik telah fokus dalam kesibukan tertentu (bekerja) serta lebih mudah menanamkan nilai agamis dalam berbagai mata pelajaran yang disajikan.<br />
Pendek kata, apakah homeschooling adalah buah dari ketidakpercayaan masyarakat terhadap mutu sekolah formal dalam mendidik dan membentuk pribadi benih insan bangsa. Ditambah beban biaya pendidikan formal yang kian mahal, serta penerapan kurikulum yang cenderung gonta-ganti dan membuat peserta didik merasa seperti animal test? Lagi-lagi, wallahu’alam.<br />
Pasal 7 UU Sisdiknas mengenai Hak dan Kewajiban Orangtua. Ayat 1. Orangtua berhak berperanserta dalam memilih satuan pendidikan dan memperoleh informasi tentang perkembangan pendidikan anak. Ayat 2. Orangtua dari anak usia wajib belajar berkewajiban memberikan pendidikan dasar kepada anaknya.<br />
Mengaitkan antara homeschooling dan Pasal 7 tersebut, saya menyimpulkan, homeschooling sebenarnya bagus kalau diposisikan sebagai wahana pembentuk karakter dan kepribadian anak.<br />
Orangtua justru akan ikut terlibat dan mewarnai pembentukan karakter dan kepribadian anak mereka melalui homeschooling, dengan bahan ajar yang lebih menitikberatkan pada penanaman nilai keimanan serta akhlak yang terpuji. Hasilnya adalah tidak saja terbentuk karakter yang khas, namun anak nantinya memiliki pendewasaan berpikir dan tidak bermental tempe.<br />
Namun, yang menjadi polemik adalah tidak semua orangtua siap dan mumpuni menjadi guru bagi anaknya. Kapasitas ilmu yang dikuasai serta waktu yang tersita untuk mencari nafkah, membuat realita homeschooling sebagai pembentuk kepribadian masih sulit diwujudkan secara merata demi perbaikan iman dan mental insan bangsa ini. Akhirnya, homeschooling tetap menjadi alternatif bagi sebagian orangtua. Padahal, yang pertama kali mewarnai tingkah polah dan pemikiran anak sejak lahir adalah orangtua. Artinya, orangtua adalah guru pertama bagi anak-anaknya.<br />
Homeschooling seharusnya bukan sebagai wahana belajar mengajar yang menolak sekolah formal, namun sebagai wahana belajar mengajar yang melibatkan orangtua dalam penanaman nilai iman dan akhlak terpuji bagi anak mereka.<br />
Inilah saatnya untuk memperbaiki mutu sekolah formal agar menjadi sekolah yang ramah biaya, juga pada aspek fisik dan psikologis peserta didik sehingga mampu mewujudkan cita-cita pendidikan yang sebenarnya dan menjadikan homeschooling sebagai wahana pembentuk iman dan kepribadian insan bangsa.<br />
Bukan justru mengadu domba antara homeschooling dan sekolah formal. Bukankah tujuan pendidikan membentuk insan yang bertakwa serta berakhlak baik dan berguna bagi sesama, bangsa dan agama? Pemerintah pun tetap nomor satu sebagai penyelenggara pendidikan, dan orangtua pun tidak meninggalkan kewajibannya sebagai sekolah pertama bagi anaknya. Gejolak homeschooling histeria yang menolak sekolah formal pun dapat diredam. Bagaimana menurut Anda? (www.syariahpublications.com)</p>
<p align="left">(dimuat di Banjarmasin Post, 10 Juli 2007)<br />
e_mail: thefaith_78@yahoo.com<br />
web-blog: miamey.multiply.com</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/104/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/104/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/104/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=104&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2007/07/18/homeschooling-histeria/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db4c5e4e99c900e96651e7e7268e5a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>