<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Rumahku Surgaku &#187; Kisah Pilihan</title>
	<atom:link href="http://baitijannati.wordpress.com/category/kisah-pilihan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://baitijannati.wordpress.com</link>
	<description>Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 08 Dec 2009 12:21:45 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='baitijannati.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/5fd910c911ccfc5fc04409c51d2e7ef5?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Rumahku Surgaku &#187; Kisah Pilihan</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Bercermin Pada Kepahlawanan Shahabiyat</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2009/11/24/bercermin-pada-kepahlawanan-shahabiyat/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2009/11/24/bercermin-pada-kepahlawanan-shahabiyat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 02:30:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Aisyah]]></category>
		<category><![CDATA[kepahlawanan]]></category>
		<category><![CDATA[shahabiyat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/?p=371</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Najmah Saiidah
(Anggota Lajnah Tsaqofiyah, Anggota DPP Muslimah HTI)
Kita semua sudah mengenal nama-nama seperti Abubakar Ash-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khoththob, Utsman bin ‘Affan, Saad bin Abi Waqosh, Muadz bin Jabal, Salman Al-Farisi dan sebagainya.  Mereka adalah para pahlawan muslim yang telah mengorbankan waktu, harta, jiwa dan raganya untuk menegakkan kalimat Allah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=371&subd=baitijannati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><strong>Oleh : Najmah Saiidah</strong><br />
(Anggota Lajnah Tsaqofiyah, Anggota DPP Muslimah HTI)</p>
<p>Kita semua sudah mengenal nama-nama seperti Abubakar Ash-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khoththob, Utsman bin ‘Affan, Saad bin Abi Waqosh, Muadz bin Jabal, Salman Al-Farisi dan sebagainya.  Mereka adalah para pahlawan muslim yang telah mengorbankan waktu, harta, jiwa dan raganya untuk menegakkan kalimat Allah dan RasulNya dan memperjuangkan Islam ke seluruh penjuru dunia.  Akan tetapi sebagian umat Islam kurang mengenal para`perempuan yang mereka juga hidup di masa Rasulullah (shahabiyat) yang telah mengorbankan waktu, harta, jiwa dan raganya untuk menegakkan kalimat  Allah dan RasulNya dan memiliki andil besar`dalam memperjuangkan Islam dan kaum muslimin.   Di antaranya Khadijah binti Khuwailid, Asma’ binti Abu Bakar, Aisyah binti Abu Bakar, Ummu Sulaim, dan banyak lagi yang lainnya.<span id="more-371"></span></p>
<p>Dalam Islam, perempuan diposisikan sebagai perhiasan berharga yang wajib dijaga dan dipelihara. Ini tidak berarti mengekang perempuan dalam wilayah tertentu.  <strong>Islam memberi peran bagi perempuan dalam ranah domestik dan juga publik sekaligus</strong>.  Sehingga dimasa peradaban Islam tidaklah mengherankan jika kita mendapati banyak figur waita terbaik dan termulia sepanjang zaman. Mereka bersungguh-sungguh mengerahkan segenap kemampuan dalam menjunjung tinggi syiar Islam, membela agama Allah dengan ketulusan yang tidak diragukan, mencintai Allah dan Rasulullah dengan kecintaan yang mendalam –yang direfleksikan dengan ketaatan kepada risalah yang dibawanya–, bersabar dengan segala kesulitan hidupnya, patuh dan menghargai suami dengan kepatuhan dan penghormatan yang patut diteladani, mendidik anak-anak mereka dengan pendidikan yang baik hingga melahirkan pahlawan-pahlawan sejati yang dijamin masuk syurga, merelakan buah hati mereka terbunuh sebagai syahid membela agamaNya, bahkan tidak sedikit dari mereka yang terjun langsung dalam jihad fii sabilillaah demi meraih mardhatillah dan jannhaNya.</p>
<p>Sejarah telah mencatat bagaimana kaum perempuan pada masa Rasulullah saw (para shahabiyah) melakukan aktivitas politik dan perjuangan politik tanpa meninggalkan tugas utamanya sebagai ibu dan pengelola rumah tangga.  Mereka berjuang bersama-sama Rasulullah saw dan shahabat lainnya tanpa memisahkan barisan mereka dari barisan Rasul dan shahabatnya.  Mereka bersama dengan para istri Rasul saw berada dalam perjuangan menegakkan Islam di muka bumi ini serta mendukung perjuangan beliau.</p>
<p><strong>Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq</strong></p>
<p>Aisyah r.a adalah anak Abu Bakar dari pernikahannya dengan Ummu Ruman binti Amir bin Uwaymir al Kinaniyah. Di rumah yang dinaungi dengan kebenaran, kejujuran dan keimanan inilah Aisyah dilahirkan, 7 tahun sebelum hijrah.  Aisyah diberi julukan Ash-Shiddiqah binti Ash-Shiddiq (perempuan yang sangat  jujur dari orang yang sangat jujur).  Terkumpul dalam dirinya ketinggian ilmu dan keutamaan, ia menjadi tempat bertanya para shahabat dan shahabiyat.  Ia juga merupakan perowi hadits yang handal, termasuk satu dari tujuh orang yang paling banyak meriwayatkan hadits, bahkan  menerima langsung dari Rasulullah saw.  Ia tidak pernah membiarkan orang yang salah dalam memahami Al-Qur’an dan Hadits atau melanggar syariat.</p>
<p>Ummul Mukminin Aisyah menjadi teladan dalam kezuhudan, kemurahan hati dan kedermawanan.  Ia mencapai derajat zuhud yang tinggi karena lebih sering berpaling dari duniadan menghadap kepada Allah untuk melaksanakan ibadah.  Harta yang ada padanya, segera disalurkan untuk orang-orang miskin, di antara   gambaran kedermawanannya adalah ia pernah membagi-bagikan seratus ribu dirham hanya dlam satu hari sementara pada hari itu ia tengah berpuasa tanpa menyisakan satu dirham pun di rumahnya.  Dalam hal ibadah, tidak ada yang meragukannya, Aisyah adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah saw.  Banyak mendirikan sholat Sunnah, terutama sholat malam, senantiasa berpuasa ad dahr (sehari puasa sehari tidak).</p>
<p>Tidak diragukan lagi bahwa Aisyah adalah seorang perempuan yang tangguh dalam berjihad. Ketika perang Uhud ia ikut mengangkut air di pundaknya bagi para mujahiddin.  Anas bin Malik meriwayatkan : “ Aku melihat Aisyah binti Abi Bakar dan Ummu Sulaim, keduanya menyingsingkan ujung pakainnya, keduanya mengangkut gerabah air di atas pundaknya lalu memberi minum orang-orang terluka.  Kemudian keduanya kembali memenuhi gerabah itu, lalu memberi minum mereka ( HR Muttafaq Alaih)  Demikian pula ketika perang khandak ‘Aisyah terjun langsung dalam perang tersebut bergabung dengan para shahabat.  Pada waktu itu ia maju mendekati front mujahiddin paling depan.</p>
<p>Aisyah telah memberikan teladan yang sangat banyak, ia merupakan cermin bagi para muslimah yang dari perjalanan hidupnya mereka dapat mengetahui bagaimana ia memiliki kepribadian yang kuat tanpa harus merendahkan diri, bagaimana ia menjaga kebagusan lahiriah tetapi penuh ketundukan dan kesederhanaan, bagaimana ia mendalami agama sehingga menjadi sumber argumentasi; bagaimana ia memahami hukum-hukum agama dan mempraktekkannya  dalam amalan-amalan nyata; bagaimana ia memberikan buah pikirnya dan materi yang dimilikinya untuk menegakkan agama Allah; bagaiamana ia menata kehidupan suami istrinya hingga dapat membangkitkan semangat suaminya yang dengan semangat ilmunya berupaya meraih kejayaan.</p>
<p><strong>Asma binti Yazid bin As-Sakan</strong></p>
<p>Dia adalah Asma binti Yazid bin As-Sakan bin Rafi’ bin Umru’ul Qais bin Abdul Asyhal bin Harits. Seorang wanita ahli hadits, mujahidah yang agung, cerdas, taat beragama, dan ahli pidato, sehingga ia digelari orator wanita. Sesuatu yang spesial dalam diri Asma adalah kehalusan perasaannya dan kehalusan budi bahasanya –sebagaimana remaja muslimah lainnya yang lahir dari madrasah  kenabian–, namun dalam satu hal, ia tidak malu untuk mengeluarkan . Dia adalah wanita  teguh pendirian dan pejuang yang gagah berani.  Dia adalah contoh wanita pelopor dalam berbagai bidang.  Asma datang dalam serombongan kaum  wanita  kepada Nabi untuk berbai’at pada tahun pertama Hijriyah, berjanji untuk taat kepada Islam.  Asma berbai’at kepada Nabi saw dengan penuh kejujuran dan keikhlasan. Dalam kita-kitab sirah (sejarah) disebutkan bahwa ketika mau melakukan bai’at, Asma memakai dua gelang emas yang besar di kedua tangannya, maka Nabi saw bersabda kepadanya:“Lemparkanlah kedua gelang itu, wahai Asma! Apakah engkau tidak takut jika engkau kelak memakaikan gelang dari api neraka kepadamu?” Tanpa membantah atau berbicara sedikit pun, dia langsung melaksanakan perintah Rasul saw. Kedua gelang itu dilepaskannya dan diletakkannya di hadapan Nabi saw.</p>
<p>Asma pernah diutus oleh kaum wanita untuk membicarakan masalah mereka kepada Rasul saw. Suatu ketika dia datang kepada Rasul saw dan berkata:”Wahai Rasul saw, aku adalah  utusan dari sekelompok wanita kepadamu. Apa yang akan kutanyakan sama dengan pertanyaan mereka dan pendapat mereka sama dengan pendapatku…..Sesungguhnya Allah ta’aala telah mengutusmu kepada seluruh kaum laki-laki dan kaum wanita, maka kami beriman dan mengikutimu. Akan tetapi, kami kaum wanita, terbatas gerak-geriknya. Kami hanyalah sebagai  tiang penyangga (pengurus) rumah tangga, tempat penyaluran syahwat para laki-laki, dan yang mengandung anak-anak mereka, sedang kaum laki-laki memperoleh keutamaan, dengan diperintahkannya melakukan shalat berjamaah, mengantar jenazah, dan berjihad di medan perang. Jika kaum laki-laki keluar untuk berperang, kamilah yang menjaga harta-harta mereka dan mengasuh anak-anak mereka. Oleh karena itu, apakah kami bisa mengimbangi pahala mereka, wahai Rasulullah?”</p>
<p>Mendengar pertanyaan seperti itu, Rasul saw lalu menoleh kepada para shahabat yang ada di dekatnya dan bertanya:”Pernahkah kalian mendengar pertanyaan wanita lain tentang urusan agamanya yang lebih baik daripada pertanyaan wanita ini?” Mereka menjawab:”Belum pernah, wahai Rasul saw.” Selanjutnya, beliau bersabda:”Kembalilah engkau, wahai Asma, dan beri tahukan kepada wanita-wanita yang mengutusmu bahwa perlakuan baik salah seorang dari kalian kepada suaminya, usahanya mencari keridhaan suaminya, dan ketaatannya kepada suaminya, dapat menyamai pahala dari amal laki-laki yang engkau sebutkan tadi.” Asma pulang sambil bertahlil dan bertakbir karena saking gembiranya dengan apa yang disampaikan Rasul saw.</p>
<p>Hati Asma sebenarnya sangat ingin ikut serta untuk berjihad. Akan tetapi, keadaan waktu tidak memungkinkan dia menyampaikan tuntutan tersebut. Keinginannya untuk terjun ke medan jihad baru terwujud setelah Rasul saw wafat, yaitu ketika terjadi perang Yarmuk pada tahun ke-13 Hijriyyah. Dalam perang besar (Yarmuk) itu Asma binti Yazid bersama kaum mukminah lainnya berada di barisan belakang laki-laki. Semuanya berusaha mengerahkan segenap kekuatannya untuk mensuplai persenjataan pasukan laki-laki. Memberi minum kepada mereka, mengurus mereka yang terluka, dan mengobarkan semangat jihad mereka.  Ketika peperangan berkecamuk dengan begitu serunya, ia  berjuang sekuat tenaganya. Akan tetapi, dia tidak menemukan senjata apapun, selain tiang penyangga tendanya. Dengan bersenjatakan tiang itulah, dia menyusup ke tengah-tengah medan tempur dan menyerang musuh yang ada di kanan dan kirinya, sampai akhirnya dia berhasil membunuh sembilan orang tentara Romawi. Hal ini sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar,”Dia adalah asma binti Yazid bin As-Sakan yang ikut terjun dalam perang Yarmuk. Pada hari itu dia berhasil membunuh sembilan orang tentara Romawi dengan menggunakan tiang tendanya. Setelah perang Yarmuk ia masih hidup dalam waktu yang cukup lama.  Asma keluar dari medan pertempuran dengan luka parah sebagaimana juga banyak dialami pasukan kaum muslimin. Akan tetapi, Allah berkehendak ia tetap hidup dalam waktu yang cukup lama.  Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada Asma binti Yazidd bin As-Sakan dan memuliakan tempatnya di sisi-Nya atas berbagai Hadits yang diriwayatkannya dan atas segala pengorbanannya. Dia telah berbuat sesuatu agar dijadikannya contoh bagi wanita muslimah lainnya, yaitu kerelaan dan tekadnya yang kuat untuk membela dan mempertahankan agama Allah dan mengangkat panji Islam sampai agama Allah tegak di muka bumi.</p>
<p><strong>Kabsyah bintu Rafi’ bin Muawiyah bin Ubaid bin Al-Abjar Al-Ansyariyah Al-Khudriyah</strong></p>
<p>Ia termasuk salah seorang wanita yang memberikan kesaksian kebenaran bagi Rasulullah saw. Rasul turut menjanjikan imbalan kebaikan dan mendoakan barakah baginya. Ketika suasana  iman menggantikan kegelapan jahiliyyah dan mentari hidayah mulai terpancar di tanah Madinah, ia mencurahkan segala yang dimiliki dan menjadi ibu kepada dua orang anaknya yang gugur sebagai syuhada’; dua pahlawan Islam yang segar di dalam medan sejarah. Berbagai kitab sejarah  telah menyajikan peribadi mulia dan keutamaan-keutamaan yang dimiliki oleh Kabsyah bintu Rafi’, seperti keberanian, kebaikan dan keprihatinan beliau kepada tetangga. Beliau juga memberikan contoh terbaik yang mencerminkan kedudukannya yang sangat istimewa di sisi Rasulullah saw.  Beliau terkenal karena keberanian dan kesabarannya dalam membela  Rasulullah. dan mendorong anak-anaknya untuk terjun ke medan jihad .Di dalam Perang Badar, beliau meniupkan semangat kepada kedua anak beliau, Saad bin Muadz dan Amru bin Muadz, agar  berjihad karena Allah dengan sebenar-benar jihad, sehingga keduanya mendapat cobaan yang berakhir dengan kabar kemenangan.</p>
<p>Di dalam Perang Uhud, Ummu Saad turut terlibat secara langsung bersama beberapa wanita Muslimah lainnya. Berita kekalahan tentara kaum Muslimin dan gugur syahidnya anak beliau, Amru bin Muadz sampai pada beliau. Namun, hal ini tidak menjadikan beliau patah arang, justru ia sangat mengkhawatirkan   keselamatan Rasulullah. Beliau lantas bersegera ke medan peperangan dan melihat dengan mata kepala sendiri keadaan dan keselamatan Rasulullah saw.  Saat itu juga, beliau memanjatkan puji dan syukur kepada Allah seraya berkata: ”<em>Selagi aku melihat engkau dalam keadaan yang selamat, maka musibah ini (kematian Amru bin Muadz) adalah terasa sangat ringan</em>”</p>
<p>Di saat Perang Khandaq meletus, Rasulullah saw mengarahkan para wanita muslimat dan anak-anak yang turut serta untuk berlindung di dalam benteng Bani Haritsah. Turut bersama mereka ialah Aisyah Ummul Mukminin Radiallahu Anha dan Ummu Saad. Aisyah menuturkan bahawa Saad bin Muadz berlalu untuk menyertai pasukan perang dengan mengenakan baju besi yang pendek.  Beliau juga menyandang tombak yang dibanggakannya sambil melantunkan bait syair Hamal bin Sa’danah Al-Kalby: Teguhkan hatimu barang sejenak dalam gejolak medan laga; Jangan pedulikan kematian jika sudah tiba saatnya. Mendengar  perkataan anaknya, Ummu Saad lantas menasihatkan anaknya agar bersegera supaya tidak ketinggalan walau sesaatpun tanpa bersama-sama Rasulullah. Beliaulah yang tidak henti-henti menasihati dan meniupkan semangat jihad di dalam dada anak-anaknya. Beliau berkata:<br />
<em>”Wahai anakku, cepatlah berangkat karena demi Allah, engkau sudah terlambat!”</em><br />
Di dalam peperangan tersebut, Saad terkena anak panah lemparan Hibban Al-Urqah yang memutuskan urat di dekat mata kakinya. Saat itu, Saad sempat berdoa kepada Allah dengan doanya yang sangat masyur,  ”<em>Ya Allah, jika Engkau masih menyisakan peperangan melawan Quraisy, maka berikanlah aku sisa umur untuk aku menyertainya. Tidak ada kaum yang lebih aku sukai untuk memeranginya kerana Engkau, selain dari kaum yang telah menyakiti Nabi-Mu, mendustakannya dan mengusirnya. Ya Allah, jika Engkau menjadikan peperangan antara kami dengan mereka, maka jadikanlah mati syahid bagiku dan janganlah Engkau uji aku sehingga aku merasakan senang kerana dapat mengalahkan bani Quraizhah</em>”<br />
Tenyata Allah mengabulkan doa Saad bin Muadz.</p>
<p>Sekali lagi, Ummu Saad diuji dengan kehilangan anak beliau. Sungguh kesabaran dan kekuatannya menerima ujian merupakan teladan yang sangat baik. Jasad Saad diusung dan dikebumikan di Baqi’. Kesedihan Ummu Saad  terpancar jelas di wajahnya. Lalu Rasulullah  menghibur beliau dengan bersabda,<br />
” <em>Adakah air matamu tidak dapat dibendung dan apakah kesedihanmu tidak dapat dihilangkan? Sesungguhnya anakmu adalah orang pertama, Allah tersenyum kepadanya dan Arasy bergoncang karena kematiannya</em>“. Hatinya lantas gembira dengan doa yang dipanjatkan Rasulullah. Ia hanya mengharapkan pahala kebaikan di sisi Allah dan RasulNya di atas kematian kedua anaknya  syuhada’.  Beliau mendahulukan kecintaan kepada Allah dan RasulNya di atas segala sesuatu yang di mata manusia lainnya sangat berharga, termasuk harta dan anak-anak.   Beliau layak mendapatkan kabar gembira dari Allah dan RasulNya sebagai penghuni syurga. Sabda Rasulullah :  ” <em>Wahai Ummu Saad, terimalah khabar gembira dan sampaikanlah khabar gembira kepada keluarga mereka, bahawa orang-orang yang terbunuh di antara mereka saling berteman di dalam syurga, semuanya dan mereka diberi syafaat untuk keluarganya</em>”</p>
<p>Memang benar, bahwa fakta saat ini sulit untuk menentukan sosok figur shahabiyah dan keteladanannya, sesulit mencari permata ditengah-tengah hamparan pasir. Namun, bukan berarti fakta ini dijadikan permakluman untuk membenarkan fakta yang salah. Yang salah akan tetap salah, dan yang haq akan selamanya haq, tidak akan kemudian tertukar. Buktinya, kita tidak pernah menyalahkan segala kebaikan yang dilakukan oleh para shahabiyah tadi, justru sebaliknya, kita senantiasa mengenang dan mengaguminya, bahkan tertarik untuk menteladaninya, walaupun bukan suatu hal mudah bagi kebanyakan kaum wanita yang hidup pada masa sekarang ini.</p>
<p>Munculnya shahabiyah-shahabiyah yang menjadi figur wanita yang mengagumkan tadi bukanlah suatu kebetulan, bukan karena sarana kebutuhan yang masih sederhana, bukan pula karena kebutuhan mereka berbeda dengan kaum wanita saat ini, melainkan karena <strong>dilandasi oleh suatu pemahaman Islam ideologis yang tegak di atas keyakinan yang kokoh, yakni aqidah Islamiyah</strong>. Mereka sangat menyadari bahwa konsekuensi dari pemelukan aqidah islamiyah adalah terikat dengan semua aturan-aturan yang terpancar dari aqidah tersebut, mereka belajar untuk memahami aturan-aturan Islam, tidak memilih sebagian aturan saja dan mencampakkan sebagian aturan yang lain. Mereka belum merasa sebagai orang yang memeluk aqidah Islam, kalau mereka tidak siap untuk menanggung resiko keterikatannya dengan hukum Allah, sekalipun mereka harus mengorbankan harta tertingginya, yaitu nyawa. Mereka lebih mencintai Allah dan Rasulnya dibandingkan dengan keluarganya, bukan karena suatu tradisi yang kebetulan pada saat itu, tapi dilandasi oleh suatu pemahaman bahwa mencintai Allah dan Rasul-Nya  adalah suatu kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap muslim dan muslimah. Ummu Sulaim tidak akan mampu menghadapi kemarahan suaminya ‘Malik’ karena keislaman dirinya dan anaknya ‘Anas’, kalau Ummu Sulaim tidak meyakini secara kuat akan aqidah Islam dan menyadari bahwa mendidik anak dengan Islam adalah kewajibannya. Ummu Sulaim tidak tertarik dengan limpahan kekayaan Abu Thalhah sebelum masuk Islam, bukan karena beliau anti kekayaan. Tapi, lebih didasari oleh suatu pemahaman bahwa seorang muslimah diharamkan untuk dinikahi oleh seorang laki-laki kafir, dan beliau sangat menyadari bahwa kekayaan bukanlah segala-galanya. Begitu pula halnya dengan Kabsyah, beliau tidak mungkin bisa mendorong anak-anaknyanya, Saad dan Amru bin Muadz untuk tetap berada di medan perang, kalau ia tidak memahami bahwa aktifitas jihad adalah suatu kewajiban setiap muslim, mundur dari medan perang adalah haram, dan syahid adalah sebaik-baiknya pahala.  Demikian pula ketika mereka ikut bersama-sama barisan Rasulullah dan para shahabat di medan pertempuran, baik di garis belakang dengan menyediakan air dan makanan, merawat yang terluka ataupun menyemangati  kaum lelaki yang perperang,  beberapa di antara mereka pun megirim makanan ke medan pertempuran bahkan ikut berhadapan dengan musuh bersama Rasulullah dan  sahabatnya, seluruhnya dilakukan semata-mata karena kecintaannya kepada Allah dan RasulNya.</p>
<p>Salah satu teladan penting lainnya yang dapat kita ambil dari mereka adalah, kemampuan mereka <strong>mensinergiskan keseluruhan peran dan fungsi yang telah Allah bebankan atas mereka, baik dia sebagai seorang hamba Allah, sebagai istri dan ibu, maupun sebagai anggota masyarakat.</strong> Seluruh kewajiban yang terkait dengan peran-peran dan fungsi itu mampu mereka tunaikan tanpa mengabaikan yang satu dari yang lainnya.  Kesibukan dan beratnya beban mereka dalam mengurus kehidupan rumahtangganya tidak lantas membuat mereka abai terhadap tugas dan kewajibannya sebagai hamba Allah, dan terlebih-lebih lagi sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki tanggungjawab besar untuk bersama-sama kaum Muslimin yang lain membangun kehidupan yang mulia. Demikian pula sebaliknya, kepeduliannya yang besar terhadap persoalan-persoalan masyarakat, yang terwujud dalam keterlibatannya dalam aktivitas politik, tidak lantas pula membuat mereka lalai terhadap kewajibannya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.  Semua, mereka lakukan dengan kesadaran penuh bahwa pelaksanaan atas seluruh peran-peran dan fungsi itu, adalah dalam rangka melaksanakan  kewajiban yang telah Allah bebankan kepada mereka yang suatu saat akan mereka pertanggungjawabkan di akhirat kelak.  <em>Wallahu a’lam bishshawwab.</em><br />
(disarikan dari berbagai sumber).</p>
<p>Sumber : www.hizbut-tahrir.or.id</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/371/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=371&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2009/11/24/bercermin-pada-kepahlawanan-shahabiyat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db4c5e4e99c900e96651e7e7268e5a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mahar</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2008/02/29/mahar/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2008/02/29/mahar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Feb 2008 21:40:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[Pra Nikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/2008/02/29/mahar/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Helvy Tiana Rosa
Keluarga Samara. “Apa yang kamu minta sebagai mahar pernikahan kita?” Itulah pertanyaan Mas Tomi 13 tahun lalu, saat kami tengah mempersiapkan pernikahan. “Apa ya?” Saya balas bertanya. Tapi hati dan pikiran saya seolah bersepakat, bahwa tak ada mahar yang lebih baik selain yang memudahkan sang pelamar.“Seperti kebanyakan orang saja, Mas. Seperangkat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=153&subd=baitijannati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:normal;" align="center"><b>Oleh : Helvy Tiana Rosa</b></p>
<p><img src="http://keluarga-samara.com/wp-content/uploads/2008/02/tulisan-habib.thumbnail.jpg" alt="tulisan-habib.jpg" align="left" border="2" height="150" hspace="3" vspace="3" width="100" /><b><i>Keluarga Samara. </i></b>“Apa yang kamu minta sebagai mahar pernikahan kita?” Itulah pertanyaan Mas Tomi 13 tahun lalu, saat kami tengah mempersiapkan pernikahan. “Apa ya?” Saya balas bertanya. Tapi hati dan pikiran saya seolah bersepakat, bahwa tak ada mahar yang lebih baik selain yang memudahkan sang pelamar.“Seperti kebanyakan orang saja, Mas. Seperangkat alat sholat dan cincin kawin.” “O ya? Itu sajakah?” tanyanya. Saya mengangguk. “Alhamdulillah semoga berkah selalu bagi saya dan kehidupan rumah tangga kita kelak. Amiiin,” kata saya dengan wajah cerah. Itulah mahar yang saya dapat dari pernikahan kami. Sebuah mahar yang bagi mas “melapangkan” dan bagi saya juga demikian.<span id="more-153"></span><span></span></p>
<p>Waktu memutuskan menikah, Mas baru saja lulus kuliah dan saya duduk di tingkat akhir di Fakultas Sastra UI. Kami berdua memang sangat bersemangat belajar dan mengamalkan ajaran Islam. Apa saja yang kami tahu, yang baru sedikit itu, kami coba jalankan. Kami pun memutuskan ke pelaminan tanpa proses pacaran. Setelah tiga bulan taaruf kami langsung menikah.</p>
<p>“Hah?” Jerit teman kuliah saya. “Lo gila ya? Lo kan ga tahu dia siapa? Trus lo mau nikah ama dia?</p>
<p>Saya mesem. “ Ya memang begitu. Tapi aku kan nggak bodoh. Aku juga sudah cari tahu tentang dia sebanyak-banyaknya. Dari keluarga, teman dekat, bahkan teman jauhnya,” kata saya nggak mau kalah. Saya geli sendiri mengenang ragam “inspeksi” yang saya lakukan untuk bisa tahu banyak hal mengenai Mas.</p>
<p>“Ya Allah, Vy, yang pacaran 5 tahun aja kadang belum berani nikah…?”</p>
<p>“Nah ntar takutnya giliran nikah, dah langsung bosen tuh…,” canda saya. “Kalau ini, aku suka…penuh misteri dan petualangan!”</p>
<p>“Vyyyyy. Gila bener deh Lo. Lo harus menyelami pribadi dia dulu biar nggak nyesel nanti.”</p>
<p>“Temanku pacaran tujuh tahun kurang “menyelam” apa ya?” canda saya, tapi serius. “Terus mereka nikah. Eh baru enam bulan malah cerai,” saya meringis.</p>
<p>O…o!</p>
<p>Bismillah. Kami akhirnya menikah. Dengan mahar yang orang bilang sederhana, murah. Seperangkat alat sholat dan cincin emas lima gram. Tapi makna di balik mahar itu buat saya luar biasa. Seperangkat peralatan sholat yang ia berikan, misalnya menunjukkan bahwa ia mengajak saya untuk benar-benar meniti jalan Illahi. Ia akan menuntun saya agar selalu dekat dengan Allah. Untuk mencintai apa yang Allah cintai dan menjauhi apa yang Allah murkai. Itu bermakna, ia menginginkan saya menjadi muslimah yang taat, yang mengerjakan, mendirikan, menegakkan sholat saya dalam diri, dalam keluarga, dan pada skala yang lebih besar, seperti masyarakat sekitar, bahkan mungkin ummat. Ya, sholat saya harus memiliki dampak dalam diri, keluarga dan masyarakat. Subhanallah. Dan cincin itu? Pengikat berkilau yang bisa dilihat banyak orang melingkar di jari saya, yang menandakan saya adalah pasangan seseorang. Di batin, cincin itu juga akan mengikat cinta kami.</p>
<p>Makanya ketika mendengar ada teman yang sudah mau menikah tapi “keberatan” mahal (alias maharnya mahal), kami cukup merasa prihatin.</p>
<p>“Calon istri saya bilang, yang bener aja masak lo ngargain gue segitu doang?” curhat seorang teman kami bingung. “Padahal saya sudah kasih dia cincin berlian yang mahal. Masak sih cuma cincin? Begitu dia bilang….”</p>
<p>Saya jadi ikut menarik napas panjang. Ini nih yang salah kaprah, mengaitkan harga diri perempuan dengan mahar. Padahal ya itu tadi, Rasulullah pernah berkata, bahwa sebaik-baik perempuan salah satunya adalah yang maharnya mudah.</p>
<p>Bicara soal mahar, saya jadi ingat salah satu adinda fillah saya. Suatu hari, ia mengirimkan naskah novel yang katanya akan diterbitkan. “Mbak, tolong ya beri endorsment. Ini novel perdana dan sangat berarti buat saya.”</p>
<p>Mengapa?</p>
<p>“Saya akan menikah, Mbak. Saya tidak punya sesuatu yang berharga maka saya berikan novel ini sebagai mahar bagi calon istri saya.”</p>
<p>“O ya? Subhanallah.”</p>
<p>Indah. Saya suka mendengarnya. Sebuah buku yang lahir dari pergulatan pemikiran dan perasaan, ditulis dari hati dan jiwa, sebagai sebuah mahar. Buku yang akan mempererat ikatan di antara diri, pikiran, hati dan jiwa mereka pula.<br />
Menakjubkan.</p>
<p>Saya tulis sebuah endorsment tanda penghargaan saya untuk novel itu.<br />
Mungkin sang penulis tak berpikir bahwa buku itu akan menjadi fenomenal dan meledak di pasaran, hingga dibuat soundtrack, bahkan filmnya. Begitu berminatnya masyarakat terhadap novel tersebut hingga banyak di antara mereka yang memutuskan pergi bersama sang penulis, mengunjungi tempat-tempat yang menjadi latar ceritanya.</p>
<p>Ya, saya rasa sang penulis mungkin tak pernah berpikir bahwa buku itu membawa rezeki dari Allah dan banyak keberkahan. Berkah sebuah mahar yang dulu diberikan dari hati<br />
Habiburrahman El Shirazi, bagi Muyasarotun Sa’idah yang menerimanya dengan penuh ketulusan. Kini berkah itu bahkan berimbas pada sekitar mereka dan masyarakat Indonesia.<br />
Lepas dari begitu banyak tanggapan atas novel tersebut, bagi saya, kisah Habib dan Sa’idah bahkan menandingi keindahan novelnya, mahar itu: Ayat-Ayat Cinta.</p>
<p>“Jadiiii, maksudnya, kamu juga ingin aku menulis buku untukmu?” Tanya Mas suatu ketika iseng, saat saya ceritakan kisah Habib dan istrinya.</p>
<p>Hmmmm…saya cubit lengannya manja. Yaaaaaa, mana ada istri yang nolak.dong. Kalau mahar sudah lewat, mungkin kado milad pernikahan? Batin say ge er. Kita lihat saja nanti. Tapi kalau buku itu betul-betul jadi, kira-kira buku apa ya? Saya pikir bukan novel. Mungkin buku tentang televisi hehehe atau novel tentang para jurnalis televisi? Dengan nama saya di halaman persembahan, tentunya…..Piiiiiiisss, Mas <img src="http://keluarga-samara.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif" alt=";)" class="wp-smiley" /> (<a href="http://www.keluarga-samara.com/">www.keluarga-samara.com</a>)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;line-height:150%;" align="left">Sumber : http://helvytr.multiply.com/journal/item/228/Mahar_</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/153/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/153/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/153/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=153&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2008/02/29/mahar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db4c5e4e99c900e96651e7e7268e5a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://keluarga-samara.com/wp-content/uploads/2008/02/tulisan-habib.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tulisan-habib.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://keluarga-samara.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif" medium="image">
			<media:title type="html">;)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jantung Balita Bocor karena Bapak Merokok</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2008/02/29/jantung-balita-bocor-karena-bapak-merokok/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2008/02/29/jantung-balita-bocor-karena-bapak-merokok/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Feb 2008 21:37:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Pilihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/2008/02/29/jantung-balita-bocor-karena-bapak-merokok/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : M Ihsan Abdul Jalil
Keluarga Samara. Dua hari lalu saya ke kantor klien, kami ada janji ketemu. Tak lama kemudian datang tamu lain, kami sama-sama menunggu di ruang tamu. Kenalan singkat terjadi. “Bapak punya korek”, tanyany. Saya jawab, “Maaf, saya tidak merokok”. Sopan.
Dia mulai mengeluarkan rokok dari saku. Maaf pak, bisakah bapak tidak merokok [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=150&subd=baitijannati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><b>Oleh : M Ihsan Abdul Jalil</b></p>
<p><i><b>Keluarga Samara</b></i>. Dua hari lalu saya ke kantor klien, kami ada janji ketemu. Tak lama kemudian datang tamu lain, kami sama-sama menunggu di ruang tamu. Kenalan singkat terjadi. “Bapak punya korek”, tanyany. Saya jawab, “Maaf, saya tidak merokok”. Sopan.<br />
Dia mulai mengeluarkan rokok dari saku. Maaf pak, bisakah bapak tidak merokok di ruangan seperti ini?”<span id="more-150"></span><span></span><br />
Keberanian saya menegur, membuat nyalinya ciut. Batal merokok..</p>
<p>“Sejak kapan merokok?” tanya saya…<br />
“Sejak sekolah”<br />
Saya nanya lagi, “Apakah bapak tidak tahu bahaya rokok?”<br />
“Ya tahu, tapi lebih bahaya lagi yang tidak merokok. Teman-teman saya merokok, makanya saya merokok juga. Perokok pasif lebih bahaya”<br />
“Lha kalau bapak tahu seperti itu, mengapa bapak merokok di samping saya yang tidak merokok? khan sama saja bapak membahayakan saya?”. <span style="font-weight:bold;">SKAK MAT…</span></p>
<p><a href="http://mohammadihsan.multiply.com/photos/hi-res/upload/R79IjQoKCC4AACGeKFE1"><span class="insertedphoto"></span></a>Saya sebenarnya tak peduli orang merokok..<br />
itu pilihan mereka sendiri khan?<br />
sudah jelas ditulis merokok dapat menyebabkan penyakit jantung, kanker, impotensi… ehh maksa nekat saja, ya udah ambil itu semua penyakit, hehehe…</p>
<p>Pernah di bus umum, 2 anak muda (sangar pisan) merokok di kursi belakang saya persis. Saya langsung noleh, “Mas, maaf, saya kalau ada yang merokok langsung pusing. Bisakah sampeyan tidak merokok di kendaraan umum seperti ini?”. Ehh… dia nurut juga sama penumpang yang punya nyali.. padahal kalau mereka tersingggung terus nantang saya, jelas saya kalah karena gak bisa bela diri, wakakak…</p>
<p>Buat para perokok, pikirkan dampaknya seperti case di bawah ini…<br />
Jangan demi kesenangan pribadi lalu anda menyakiti anak istri….<br />
Buat para istri, apa enaknya punya suami merokok?<br />
Minta mereka berhenti sekarang juga…<br />
Bau napasnya itu lho…  hehehe…</p>
<p><a href="http://www.keluarga-samara.com/" target="_blank">(www.keluarga-samara.com</a>)</p>
<p><b>Berita Terkait :</b></p>
<p>Rabu, 20 Feb 2008,<br />
<font size="3"><span style="font-weight:bold;color:#3333ff;">Jantung Abel Bocor karena Bapak Merokok</span></font><br />
<span style="font-weight:bold;">SURABAYA, JAWA POS</span> &#8211; Shalsabella Aurellia, balita 3,8 tahun yang menderita kebocoran jantung, mulai kemarin (19/2) dirawat di bagian anak RSU dr Soetomo, Surabaya. Selama pemeriksaan, balita asal Solo itu sama sekali tidak menangis.</p>
<p>Rona mata Abel (panggilan akrab Shalsabella) justru tampak cerah, menyiratkan harapan. Anak pertama pasangan Hari Susianto, 30, dan Wahyuni, 28, itu tiba di RSU dr Soetomo sekitar pukul 10.00.</p>
<p>“Abel seharian tidak bisa tidur. Dia terus berceloteh semalaman (Senin malam lalu, Red),” cerita Wahyuni kepada Jawa Pos ketika menunggu giliran diperiksa. Di sampingnya, Abel tampak cuek. Matanya sibuk melihat seluruh isi ruang tunggu.</p>
<p>Di RSU dr Soetomo Abel diperiksa di ruang echocardiography (khusus pemeriksaan jantung). Di ruang itu sudah menunggu beberapa dokter. Mereka antara lain Prof Dr dr Teddy Ontoseno SpA(K) Sp JP dan dr Mahrus Rahman SpA(K).</p>
<p>Teddy mengatakan, pihaknya menyambut positif upaya pengobatan Abel. Menurut dia, penanganan terhadap kebocoran jantung pada balita seperti itu sangat tepat. Sebab, penderita masih memiliki masa depan yang panjang. “Kemungkinan penderita sembuh seperti anak-anak normal cukup besar,” katanya.</p>
<p>Mengapa jantung bayi bisa bocor? Teddy menjelaskan, hal itu sangat dipengaruhi perilaku ibu ketika hamil. Kata dia, fase yang menentukan adalah pada trimester pertama pembentukan janin. Pada fase inilah, jantung bayi terbentuk.</p>
<p>Teddy menambahkan, ibu hamil yang perokok pasif berisiko pada janin yang dikandungnya. Di antaranya jantung janin tak terbentuk sempurna. Dalam kasus Abel, suami Wahyuni memang perokok berat. “Ketika mengandung Abel, saya sering menghirup asap rokok suami saya,” cerita Wahyuni. “Saya sudah mengingatkan berulang-ulang, tapi dia (suaminya, Red) tidak menghiraukan,” keluhnya.</p>
<p>Senada dengan Teddy, dokter spesialis bedah toraks kardiovaskuler Prof Dr dr Paul Tahalele FCTS mengatakan, fase kehamilan tersebut penting untuk dijaga. Selain ibu yang perokok pasif, penyebab kebocoran pada jantung pada bayi, antara lain, obat-obatan. “Bisa jadi ibu sempat minum obat antihamil ketika mengandung. Biasanya mereka hendak menggugurkan kandungannya, tapi tidak jadi,” terangnya.Pemeriksaan Abel dilanjutkan hari ini.</p>
<p>Seperti diberitakan, Abel yang berasal dari keluarga miskin itu bisa dirujuk ke Surabaya berkat kepedulian beberapa pengusaha yang dikoordinatori Ny Shinta Agus Wibisono. (aga/kum)</p>
<p><span style="font-weight:bold;background-color:#ffffff;color:#ff0000;">Sumber:</span><span style="background-color:#ffffff;color:#ff0000;"> </span><br /><a href="http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&amp;id=327001">Jawa Pos, 20 Februari 2008</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/150/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/150/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/150/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=150&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2008/02/29/jantung-balita-bocor-karena-bapak-merokok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db4c5e4e99c900e96651e7e7268e5a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Salma Nur Azkiya An Nisa, Guru Besarku</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2008/02/22/salma-nur-azkiya-an-nisa-guru-besarku/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2008/02/22/salma-nur-azkiya-an-nisa-guru-besarku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Feb 2008 09:42:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Pilihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/2008/02/22/salma-nur-azkiya-an-nisa-guru-besarku/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh  :  Desi Yunise*
Keluarga-Samara. Setiap orang belajar dari setiap episode kehidupan yang dilaluinya.  Itu benar.  Itulah yang saya alami.   Jika anda bertanya pada saya , “Siapa yang paling berpengaruh dalam hidup anda?”.   Saya akan menjawab tanpa ragu-ragu,  “Salma!”.  Dialah  yang  menjadi guru besar dalam sejarah hidup saya.  Selanjutnya anda mungkin  akan bertanya, “Siapa Salma? Sehebat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=147&subd=baitijannati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2"><b>Oleh  :  Desi Yunise*</b></font></font></font></p>
<p style="text-indent:1.27cm;" align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2"><b><i>Keluarga-Samara. </i></b>Setiap orang belajar dari setiap episode kehidupan yang dilaluinya.  Itu benar.  Itulah yang saya alami.   Jika anda bertanya pada saya , “Siapa yang paling berpengaruh dalam hidup anda?”.   Saya akan menjawab tanpa ragu-ragu,  “Salma!”.  Dialah  yang  menjadi guru besar dalam sejarah hidup saya.  Selanjutnya anda mungkin  akan bertanya, “Siapa Salma? Sehebat apa dia? Apa gelar akademisnya?”</font></font></font><span id="more-147"></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;" align="justify"><a name="more-56"></a><font color="#000000">           <font size="2"><font face="Arial">Dia masih kecil, tepatnya 7 tahun.  Dia “hebat” meski diciptakan dengan segala  kelemahan dan keterbatasan.  Salma terkena <i>cerebral palsy</i>, gangguan pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan ia tak sanggup berkata-kata dan berjalan, meski ia sudah ‘mahir’ duduk sendiri.  Tapi begitulah Salma, ia banyak mengajari saya, makna sabar, tawakkal, cinta sejati, makna berjuang, makna ambisi, seni berkomunikasi dan banyak lagi yang ia ajarkan pada saya. Benarlah Firman Allah SWT:  “<i>Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.  Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka</i>” (QS Ali Imran 191).  </font></font></font></p>
<p style="text-indent:1.27cm;" align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Pernah suatu ketika saya mengisi kajian umum di suatu mesjid yang dihadiri ratusan orang.  Seusai acara ada yang menyampaikan keingintahuannya tentang saya dan keluarga pada melalui sahabat saya.  Sampai pada akhirnya ia berkunjung ke rumah saya dikarenakan ia terkesan dengan kemampuan saya dalam mensikapi keadaan anak saya Salma yang nyaris tak berpengaruh dalam kegiatan dakwah saya saat itu.  Bahkan ia sempat menangis di hadapan sahabat saya.  “Mbak! Dia kagum dengan mbak, kok bisa setegar itu!”.  Saya menjawab, “ ia terlalu berlebihan, semuanya karena Allah, alasan apa yang membuat saya tak bisa tegar, ini qadha dan jalan yang ditetapkan Allah, kewajiban kita menjalani sesuai tuntunannya, pasti ada rahasia Ilahi di balik semua ini!”.  Bahkan ada lagi yang menampakkan tangisannya di hadapan saya,  saat saya pun terlibat dalam kegiatan dakwah, saat itu memang saya membawa anak saya, Salma.  Memang begitulah hubungan saya,  Salma dan dakwah,  sangat erat sekali.   Salma banyak berdakwah tanpa kata-kata khususnya tentang ridho terhadap qadho, tawakkal dan sabar pada saya dan orang-orang sekitar.</font></font></font></p>
<p style="text-indent:1.27cm;" align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Sejujurnya, hati saya  senantiasa diliputi dengan harap-harap cemas kepada Yang Kuasa akan keadaannya.  Hampir di setiap tengah malam, Salma lah yang membangunkan tidur saya,   seolah-olah ia berkata “Umi bangunlah! Lakukanlah Sholat malam dan panjatkan doa untukku  !”.   Bahkan, ia lah yang banyak membangunkan tidur saya untuk mempersiapkan materi dakwah yang harus disampaikan keesokan harinya.  Dia telah menjadi ‘malikat’  yang dikirimkan Yang Maha Penyayang untuk saya.  Karena Salma hari-hari saya selalu dilalui dengan arti.  Saya selalu mencari makna dalam peristiwa, dan meneliti kegiatan saya.  Adakah ini ada artinya bagi Sang Pencipta? Bagi umat? Bagi orang lain?   Karena dari Salma saya belajar untuk tidak mau kehilangan waktu.  Seolah olah ia berkata “ Ayo kejarlah!  Kerjakan apa yang umi harus kerjakan, Jangan sampai ketinggalan!”  ,  </font></font></font></p>
<p style="text-indent:1.27cm;" align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Saat inilah saya merasakan dahsyatnya pengaruh doa di malam hari.    Setiap selesai  sholat wajib, selalu saja  ada doa khususnya untuk Salma, karena keadaannya menuntut untuk didoakan.   Dengan begitu, saya  pun belajar  mendoakan orang lain tanpa ia minta untuk didoakan, karena masih banyak hal yang senantiasa harus kita perbaiki, adakalanya antar sesama muslim kita masih individualis dan egois.  ,Semoga dalam jamaah juga ada saling membantu, saling pengertian, saling memberi dan menerima, amiin!  Sampai pada akhirnya  persaudaraan pun jadi terasa indahnya  meski saat ini saya begitu indah.  Tak dipungkiri kadang-kadang terjadi benturan antara merawat Salma yang tak bisa digantikan orang lain dengan dakwah.  Setiap terjadi benturan, Saya selalu membayangkan datang mememui baginda Nabi saw dan membuat perkiraan  ucapan apa yang beliau sampaikan untuk saya.  Seolah-olah beliau mengatakan “pulanglah temui anakkmu, bukankah <i>ummu warobbatul bait</i> tanggung jawab utamamu?”  Jiwa saya pun tentram, tapa saya khawatir apa komentar teman-teman , karena saya berbuat dengan tuntunan syara. Semangat dakwah saat-saat ini rasanya memang tak terbendung, meski dalam jamaah tetap saja saya ingin yang menjadi pelakunya.  Salma mengajarkan saya untuk ikhlas. </font></font></font></p>
<p style="text-indent:1.27cm;" align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Kepada Salma saya belajar  memahami orang lain tanpa  harus ada kata-kata, memahami apa yang dibutuhkannya tanpa ia harus meminta.  Bagaimana tidak?  Saya selalu  datang untuk Salma  di saat ia haus dan lapar, tanpa ia harus berkata “ umi, aku haus dan lapar?”.  Di saat haus, pikiran saya  pasti tertuju bahwa Salma  juga sedang haus, begitu seterusnya yang saya alami.   Perhatian adalah kebutuhan pokok baginya.  Sedikit saja kurang dalam kebutuhan ini, mulailah ia  berperilaku sulit, maksudnya sulit diajak kompromi, rewel dan emosinya tidak stabil.  Sungguh  saya telah belajar banyak tentang kebutuhan orang lain termasuk kasih sayang dan perhatian.  Memang cinta murni adalah perhatian tanpa minta imbalan apapun dan memberi kasih sayang tanpa alasan apapun.  Begitulah mestinya kita.</font></font></font></p>
<p style="text-indent:1.27cm;" align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Salma juga telah mengajarkan saya makna sabar.  Saya “wajib” menunggu sampai 4 tahun untuk  melihat Salma bisa duduk sendiri.  Bayangkan! Selama 4 x 365 hari menunggu, itupun harus saya lalui dengan berjuang dan terus berdoa melatihnya setiap hari.  Disinilah indah dan nikmatnya sabar.  Sabar memang menentramkan.  <i>Innallaha ma’ashoobiriin!, </i>Allah senantiasa menyertai orang yang sabar.  Disela-sela melatihnya berdiri, saya selalu ingin bernyanyi lagunya Crisye alm yang syairnya “<i>Aku tahu kau tak kan bisa, menjadi seperti yang aku minta, namun selama nafasmu ada, kau harus mencoba menjadi seperti yang aku minta</i>” .  Ini bait lagu tentang harapan  dan ambisi untuknya, bukankah Allah berfirman <i>Innallaha ‘ala kulli syai’in qadiir</i>?(Sesunggunhnya Allah Maha berkuasa atas tiap tiap sesuatu).   Kadang-kadang yang  menjadi pertanyaan bagi saya,  dapatkah saya menerapkan tekad seperti  ini bagi anak saya yang kedua, Hanif? Tentunya saya jauh lebih bisa karena Hanif sangat jauh lebih cerdas dibandingkan Salma.  Begitu juga anda  terhadap buah hati anda, bukan?</font></font></font></p>
<p style="text-indent:1.27cm;" align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Salma membuat saya sadar bahwa saya harus dapat mengandalkan diri saya sendiri.  menjadi sang penasehat, sang penghibur bagi diri saya sendiri.   Saya tak punya pilihan untuk mencari orang lain di luar diri saya sendiri untuk itu.  Di saat  sedih, saya  mengingat apa yang paling membuat Salma senang?Diperdengarkan ayat-ayat suci! Ternyara  suara Salma  adalah’ bisikan ilahi’ bagi saya, “<i>La hawla walaa quwwata illa billah</i>!”  (Tiada daya dan kekuatan kecuali punya Allah).  </font></font></font></p>
<p style="text-indent:1.27cm;" align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Sebagai seorang guru besar, ia pun sangat ‘ mahir’  untuk menilai prestasi saya.  Salah mengatur menu, tak seimbang mengatur waktu,  salah bersikap , secara otomatis saya akan mendapat ‘hukuman’ secara langsung.  Apakah ia menjadi konstipasi, sulit tidur atau respon-respon lain sebagai bentuk hukuman karena nilai saya yang jelek dalam tugas, Saya pun jadi wajib untuk disiplin.    Semoga saya bisa menerapkannya dalam tugas-tugas lain di luar tanggung jawab saya yang satu ini, amin!   </font></font></font></p>
<p style="text-indent:1.27cm;" align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Bahkan Saya pun belajar seni berkomunikasi dengan Salma.  Saya memiliki cukup banyak teman di sekitar.  Sapaan dari teman-teman saya bermacam-macam responnya  .  Sapaan yang hanya basa-basi, ia respon dengan cuek.  Sapaan dengan tulus dan kasih sayang, biasanya ia respon dengan tawa senang .  Sapaan dengan sekedarnya, Salma mengernyitkan dahi.  Begitulah Dia bisa menilai ketulusan hati seseorang   Salma mengajari saya ilmu komunikasi dengan bahasa tubuh dan bahasa hati.  </font></font></font></p>
<p style="text-indent:1.27cm;" align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Salma bukan saja menjadi guru bagi saya tapi juga bagi   ibu saya, yaitu neneknya.  Sampai pada akhirnya beliau disadarkan bahwa seorang wanita tidak wajib bekerja di luar rumah seperti harapan besarnya terhadap saya.  Keadaan Salma yang butuh perhatian lebih, penuh ketergantungan dengan sendirinya menyadarkan saya dan neneknya bahwa keadaan yang sangat tidak memungkinkan bekerja di luar rumah dengan meninggalkan  cucu kesayangannya, Salma yang wajahnya begitu mirip denan adik saya yan almarhumah..    Bahkan beliaulah yang sering menasehati saya untuk tidak  menyerahkan pengasuhan cucunya pada pembantu.</font></font></font></p>
<p style="text-indent:1.27cm;" align="justify"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Saya masih menunggu materi apa lagi yang akan diajarkan oleh anakku- Salma pada saya- ibunya.  Yang jelas Salma benar –benar telah menjadi pancaran cahaya yang mencerdaskan saya dan orang  lainnya, sesuai nama yang saya berikan padanya <b>Salma Nur Azkiya An Nisa.  “</b>Salma kaulah buah hatiku sekaligus guruku, terma kasih Ya Allah!” (<a href="http://www.keluarga-samara.com/">www.keluarga-samara.com</a>) </font></font></font></p>
<p align="justify"><font color="#000000"><i><font size="2"><font face="Arial">*Penulis adalah anggota AlPen Prosa Gresik</font></font></i></font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/147/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/147/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/147/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=147&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2008/02/22/salma-nur-azkiya-an-nisa-guru-besarku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db4c5e4e99c900e96651e7e7268e5a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Al-Khansa&#8217; (Ibu Para Syuhada&#8217;)</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2008/01/12/al-khansa-ibu-para-syuhada/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2008/01/12/al-khansa-ibu-para-syuhada/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Jan 2008 10:20:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Pilihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/2008/01/12/al-khansa-ibu-para-syuhada/</guid>
		<description><![CDATA[ Oleh : Nafiisah 
Baitijannati. Namanya adalah Tamadhar binti Amru bin al-Haris bin asy-Syarid, seorang wanita penyair yang tersohor. Karena kemampuannya sebagai penyair, dikatakan, “Telah dikumpulkan para penyair dan ternyata tidak didapatkan seorang wanita yang lebih ahli tentang syair daripada Khansa”. 
Khansa’ mendatangi Rasulullah saw bersama kaumnya dari Bani Salim, kemudian mengumumkan ke-Islamannya dan menganut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=134&subd=baitijannati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-indent:0.08cm;margin-bottom:0.5cm;font-style:normal;" align="center"> <font color="#000000"><b><span><font size="2"><font face="Arial">Oleh : </font></font></span>Nafiisah </b></font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;margin-bottom:0.5cm;" lang="id-ID"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2"><b><i>Baitijannati. </i></b>Namanya adalah Tamadhar binti Amru bin al-Haris bin asy-Syarid, seorang wanita penyair yang tersohor. Karena kemampuannya sebagai penyair, dikatakan, “Telah dikumpulkan para penyair dan ternyata tidak didapatkan seorang wanita yang lebih ahli tentang syair daripada Khansa”. </font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;" lang="id-ID"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Khansa’ mendatangi Rasulullah saw bersama kaumnya dari Bani Salim, kemudian mengumumkan ke-Islamannya dan menganut aqidah Islam. Dialah wanita yang amat baik keislamannya sehingga menjadi lambang yang cemerlang dalam keberanian, kebesaran jiwa dan merupakan perlambang kemuliaan bagi sosok wanita muslimah.</font></font></font><span id="more-134"></span></p>
<p style="text-indent:0.93cm;" lang="id-ID"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Khansa’ juga memiliki kedudukan dan prestasi jihad yang mengagumkan dalam berpartisipasi bagi Islam dan membela kebenaran. Khansa’ turut menyertai peperangan-peperangan bersama kaum muslimin dan menyertai pasukan mereka yang memperoleh kemenangan.</font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;" lang="id-ID"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Ketika Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani berangkat ke Qadisiyah di masa Amirul Mukminin Umar bin Khaththab ra, Khansa&#8217; berangkat bersama keempat putranya untuk menyertai pasukan tersebut. </font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;" lang="id-ID"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Di medan peperangan, di saat malam ketika para pasukan sedang siap berperang satu sama lain, Khansa&#8217; mengumpulkan keempat putranya untuk memberikan petuah dan bimbingan kepada mereka dan mengobarkan semangat kepada mereka untuk berperang dan agar mereka tidak lari dari peperangan serta agar mereka mengharapkan syahid di jalan Allah SWT.  Dengarkanlah wasiat al-Khansa&#8217; yang mulia tersebut:</font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;"><font color="#000000"><br />
<span><font size="2"><font face="Arial">&#8220;Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian telah masuk Islam dengan ketaatan, kalian telah berhijrah dengan sukarela dan Demi Allah, tiada iIlah selain Dia.  Sesungguhnya kalian adalah putra-putra dari seorang wanita yang tidak pernah berkhianat kepada ayah kalian, kalian juga tidak pernah memerlukan paman kalian, tidak pernah merusak kehormatan kalian dan tidak pula berubah nasab kalian. Kalian mengetahui apa yang telah Allah janjikan bagi kaum muslimin berupa pahala yang agung bagi yang memerangi orang-orang kafir, dan ketahuilah bahwa negeri yang kekal lebih baik dari negeri yang fana (binasa). Allah Azza wa Jalla befirman, <i>&#8220;Wahai orang-orang yang berfirman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.&#8221;</i> (Ali Imran: 20). Maka, ketika datang waktu esok, jika Allah menghendaki kalian masih selamat, persiapkanlah diri kalian untuk memerangi musuh dengan penuh semangat dan mohonlah kepada Allah untuk kemenangan kaum muslimin. Jika kalian melihat perang telah berkecamuk, ketika api telah berkobar, maka terjunlah kalian di medan laga, bersabarlah kalian menghadapi panasnya perjuangan, niscaya kalian akan berjaya dengan ghanimah (rampasan perang) dan kemuliaan atau syahid di negeri yang kekal.</font></font></span></font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;"><font color="#000000"> </font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;" lang="id-ID"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Keempat putra Khansa mendengarkan wejangan tersebut dengan penuh seksama. Mereka keluar dari kamar ibu mereka dengan tekad membara untuk menunaikan amanah jihad, perjuangan. Ketika datang waktu pagi, mereka segera bergabung bersama pasukan dan bertolak untuk menghadapi musuh. Syair mereka lantunkan.</font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;" lang="id-ID"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Anak yang tertua bersenandung:</font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;" align="center" lang="id-ID"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Wahai saudaraku, sesungguhnya ibunda sang penasehat<br />
Telah berwasiat kepada kita kemarin malam<br />
Dengan penjelasan yang tenang dan gamblang<br />
Maka bersegeralah menuju medan tempur yang penuh bahaya<br />
Yang kalian hadapi hanyalah<br />
kawanan anjing yang sedang menggonggong<br />
Sedang mereka yakin bahwa dirinya akan binasa oleh kalian<br />
Adapun kalian telah dinanti oleh kehidupan yang lebih baik<br />
Ataukah syahid untuk mendapatkan ghanimah yang menguntungkan</font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;"><font color="#000000"> </font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;" lang="id-ID"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Kemudian dia maju untuk berperang hingga terbunuh.</font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;" align="center"><font color="#000000"> <span><font size="2"><font face="Arial"><br />
Lalu yang kedua bersenandung:</font></font></span></font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;" align="center" lang="id-ID"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Sesungguhnya ibunda yang tegas dan lugas<br />
Yang memiliki wawasan yang luas dan pikiran yang lurus<br />
Suatu nasihat darinya sebagai tanda berbuat baik terhadap anak<br />
Maka bersegeralah terjun di medan perang dengan jantan<br />
Hingga mendapatkan kemenangan penyejuk hati<br />
Ataukah syahid sebagai kemuliaan abadi<br />
Di Jannah Firdaus dan hidup penuh bahagia</font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;"><font color="#000000"> </font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;" lang="id-ID"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Kemudian dia maju dan berperang hingga menemui syahid.</font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;"><font color="#000000"> </font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;" lang="id-ID"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Lalu giliran putra al-Khansa&#8217; yang ketiga bersenandung:</font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;" align="center" lang="id-ID"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Demi Allah, aku tak akan mendurhakai ibuku walau satu huruf pun<br />
Beliau telah perintahkan aku untuk berperang<br />
Sebuah nasihat, perlakuan baik, tulus dan penuh kasih sayang<br />
Maka, bersegeralah terjun ke medan perang yang dahsyat<br />
Hingga kalian dapatkan keluarga Kisra (kaisar) dalam kekalahan<br />
Jika tidak, maka mereka akan membobol perlindungan kalian<br />
Kami melihat bahwa kemalasan kalian adalah suatu kelemahan<br />
Adapun yang terbunuh di antara kalian adalah kemenangan dan pendekatan diri kepada-Nya</font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;"><font color="#000000"> </font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;" lang="id-ID"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Kemudian, dia maju dan bertempur hingga mendapatkan syahid. </font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;"><font color="#000000"> </font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;" lang="id-ID"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Lalu giliran putra al-Khansa&#8217; yang terakhir bersenandung:</font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;" align="center" lang="id-ID"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Bukanlah aku putra al-Khansa, bukan pula milik al-akhram<br />
Bukan pula Amru yang memiliki keagungan<br />
Jika aku tidak bergabung dengan pasukan yang memerangi Persia<br />
Maju dalam kancah yang menakutkan<br />
Hingga berjaya di dunia dan mendapat ghanimah<br />
Ataukah mati di jalan yang paling mulia</font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;"><font color="#000000"> </font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;" lang="id-ID"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Kemudian, dia maju untuk bertempur hingga terbunuh.</font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;"><font color="#000000"> </font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;" lang="id-ID"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Ketika berita syahidnya empat bersaudara itu sampai kepada ibunya yang mukminah dan sabar. Al Khansa, Sang Bunda, tidak menjadi goncang ataupun meratap, bahkan dia mengatakan suatu perkataan yang masyhur yang dicatat oleh sejarah dan akan senantiasa diulang-ulang oleh sejarah sampai waktu yang dikehendaki Allah. Ucap Al Khansa: </font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;"><font color="#000000"> <span><font size="2"><font face="Arial">&#8220;Segala puji bagi Allah yang memuliakan diriku dengan syahidnya mereka, dan aku berharap kepada Rabb-ku agar Dia mengumpulkan diriku dengan mereka dalam rahmat-Nya&#8221;.</font></font></span></font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;"><font color="#000000"> </font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;" lang="id-ID"><font color="#000000"><font face="Arial"><font size="2">Umar bin Khaththab mengetahui betul tentang keutamaan al-Khansa&#8217; dan putra-putranya sehingga beliau senantiasa memberikan bantuan yang merupakan jatah keempat anaknya kepada beliau hingga beliau wafat.</font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.93cm;"><font color="#000000"><span><font size="2"><font face="Arial">Kemudian, wafatlah al-Khansa&#8217; di Badiyah pada awal kekhalifahan Utsman bin Affan ra pada tahun 24 Hijriyah. (<a href="http://www.baitijannati.wordpress.com/">www.baitijannati.wordpress.com</a>)</p>
<p>(dari: berbagai sumber)</font></font></span> </font></p>
<p><font color="#000000">diambil dari : http://nafiisahfb.multiply.com/journal/item/47/Al-Khansa_Ibu_Para_Syuhada</font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/134/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/134/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/134/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=134&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2008/01/12/al-khansa-ibu-para-syuhada/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db4c5e4e99c900e96651e7e7268e5a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sayang, Jangan Bunuh Diri&#8230;</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2007/12/09/sayang-jangan-bunuh-diri/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2007/12/09/sayang-jangan-bunuh-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Dec 2007 16:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Pilihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/2007/12/09/sayang-jangan-bunuh-diri/</guid>
		<description><![CDATA[

&#160;





 Oleh : Helvy Tiana Rosa
&#160;
baitijannati. &#8220;Ibu, saya mau bunuh diri. Tolong saya&#8230;..&#8221;
Saya terkejut sekali. Pertama, oleh kehadirannya yang mendadak di depan saya. Lalu oleh pernyataannya itu. Siapa? Apa? Bunuh diri?
&#8220;Ini sudah percobaan yang entah keberapa kalinya, Bu,&#8221; katanya dingin. Ia buka sebagian lengan bajunya. Ia perlihatkan belasan sayatan di pergelangan tanganya.
Saya terperangah.

Gadis di hadapan saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=128&subd=baitijannati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><table align="center" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%">
<tr>
<td class="cattitle">&nbsp;</td>
<td class="itemsubsub"></td>
</tr>
</table>
<p class="itemshadow">
<p class="itembox">
<p align="center"><strong> Oleh : Helvy Tiana Rosa</strong></p>
<p class="bodytext">&nbsp;</p>
<p class="bodytext"><em><strong>baitijannati. </strong></em>&#8220;Ibu, saya mau bunuh diri. Tolong saya&#8230;..&#8221;</p>
<p>Saya terkejut sekali. Pertama, oleh kehadirannya yang mendadak di depan saya. Lalu oleh pernyataannya itu. Siapa? Apa? Bunuh diri?</p>
<p>&#8220;Ini sudah percobaan yang entah keberapa kalinya, Bu,&#8221; katanya dingin. Ia buka sebagian lengan bajunya. Ia perlihatkan belasan sayatan di pergelangan tanganya.</p>
<p>Saya terperangah.<span id="more-128"></span><br />
<a href="http://helvytr.multiply.com/photos/hi-res/upload/R1UZ7woKCoUAADhsVqM1?xurl=http%3A%2F%2Fhelvytr.multiply.com%2Fjournal%2Fitem%2F221%2FSayang_Jangan_Bunuh_Diri..."><img src="http://images.helvytr.multiply.com/image/8/photos/upload/300x300/R1UZ7woKCoUAADhsVqM1/pesantren%20%2826%29.JPG?et=aXkOrwux3bEoHTf3NNQzxg&amp;nmid=70966167" style="position:relative;float:right;margin-left:5px;" border="0" height="225" width="300" /></a><br />
Gadis di hadapan saya itu terus menunduk sambil memainkan jemarinya sendiri. Tak sedikit pun ia melihat ke arah saya.</p>
<p>&#8220;Teman-teman bilang ibu dosen yang sangat baik. Meski ibu belum pernah mengajar saya, saya tahu ibu mau menerima curhat saya&#8230;.&#8221;</p>
<p>Saya pandang ia lekat. Ia membuang muka.</p>
<p>Perlu waktu lebih dari satu jam, untuk membawanya ke tempat lain yang nyaman, di luar ruang dosen, dan membuatnya bercerita. Ia masih menunduk, bahkan ketika saya berulangkali mencari matanya. Duka dan misteri itu seolah melingkupi tubuhnya. Ketika ia bilang ia lelah dan sangat sakit, saya peluk dia. &#8220;Kita coba hadapi bersama ya, Nak. Kamu bisa, insya Allah.&#8221;</p>
<p>Bukan perkara mudah bicara padanya. Kadang saya tanya apa, ia entah menjawab apa.<br />
Sebut saja ia X. Mahasiswa semester tiga dengan IPK paling kritis yang pernah saya jumpai. Ia jarang masuk kelas, apalagi mengerjakan tugas. Alasannya?</p>
<p>&#8220;Saya selalu takut dan tidak nyaman. Terlalu banyak orang dari planet mars di sekitar saya. Hanya ibu yang sama manusia dengan saya. Tidak yang lain. Tidak juga keluarga saya di rumah,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Dari ceritanya yang bagai puzzle, kemudian saya tahu, ia pernah mengalami penculikan saat usia SD, juga pelecehan seksual dari pamannya sendiri. Sejak dahulu kemana pun ia selalu tanpa teman.</p>
<p>&#8220;Hanya Ibu yang pernah memeluk saya. Hanya ibu yang pernah bilang sayang dan peduli pada saya. Saya rindu sekali dipeluk oleh orangtua saya. Saya rindu mendengar mereka bilang cinta pada saya&#8230;. Tapi di rumah kami tak pernah ada yang seperti itu. Bahkan salaman pun hanya hari raya,&#8221; tuturnya lain waktu.</p>
<p>&#8220;Mengapa tak kamu yang memulai, say?&#8221;</p>
<p>Seperti biasa, X hanya memain-mainkan tangannya. &#8220;Untuk apa, Ibu? Nanti saya ditertawakan&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ditertawakan untuk sebuah pernyataan cinta? Mengapa tidak?&#8221; ujar saya. &#8220;Cobalah. Ibu ingin ketika kamu pulang nanti, kamu peluk ayah ibumu. Katakan kamu sangat mencintai mereka&#8230;..&#8221;</p>
<p>X terdiam.</p>
<p>Pada pertemuan kami berikutnya, dengan binar mata yang belum pernah saya lihat sebelumnya, ia berkata: &#8220;Ibu, saya sudah sampaikan. Ayah Ibu saya kaget sekali. Mereka bengong, mereka nangis, mereka peluk saya kuat-kuat, seperti ibu memeluk saya. Saya bahagia&#8230;.&#8221;</p>
<p>Saya tersenyum.</p>
<p>Sebenarnya beberapa kali saya mencoba mempertemukan X dengan pembimbing akademiknya. Apalagi menurut saya X punya masalah yang cukup berat.</p>
<p>&#8220;P.A saya sibuk, Bu. Cuek. Katanya saya harusnya bukan cerita ke dia tapi ke psikiater. Memangnya saya gila, Bu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sayang, setiap orang mempunyai sisi gila sendiri, juga ibu,&#8221; kata saya menunjuk diri sendiri.</p>
<p>Dia cemberut sebentar, lalu tersenyum.</p>
<p>&#8220;Jadi pergi ke psikiater juga hal yang menarik&#8230;,hmmmm tentu si psikiater tersebut punya sisi gila sendirinya pula&#8230;.&#8221;</p>
<p>X tertawa.</p>
<p>Jadilah saya semangati dia untuk pergi ke konseling di universitas kami. Alhamdulillah ia mau datang rutin ke sana. Tetapi untuk masuk ke dalam kelas, ia masih minta ditemani saya atau M satu-satunya temannya, anak Rohis yang dulu ternyata menyarankan X datang pada saya.</p>
<p>&#8220;Mengapa belum bisa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Orang-orang mars&#8230;tembok&#8230;tembok&#8230;,&#8221; kata X berkali-kali.</p>
<p>Ia juga belum bisa mengerjakan tugas kelompok. Atau maju berbicara ke depan kelas. Saya terus mendorongnya.</p>
<p>&#8220;Kamu juga harus merangkul Allah dalam dirimu. Jangan berhenti sholat,&#8221; nasihat saya.<br />
Saya berikan ia buku-buku bacaan.</p>
<p>&#8220;Ibu, saya tidak suka membaca,&#8221; katanya.</p>
<p>&#8220;Cobalah, kamu akan suka. Huruf-huruf itu akan memelukmu dan mengajakmu bertualang, jauh dari para mahluk mars,&#8221; jawab saya.</p>
<p>Saya pilihkan buku-buku menarik untuknya. Tak lama, saya terkejut ketika ia kemudian keranjingan buku-buku yang menurut teman-temannya &#8220;berat&#8221;: sastra serius dan filsafat!</p>
<p>Hm.</p>
<p>&#8220;Ibu, saya sekarang tak bisa tak membaca. Saya pinjam buku lagi!&#8221; katanya.</p>
<p>&#8220;Tidakkah kamu ingin menuliskan perasaanmu dalam bentuk buku? Atau apa saja yang kau baca dari semesta?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya tidak suka, tidak bisa menulis,&#8221; ujar Y.</p>
<p>&#8220;Hmmmm, menulis salah satu bentuk terapi. Menulis itu membahagiakan&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;O ya? Saya tidak tahu. Saya merasa tidak ingin dan tidak mampu,&#8221; katanya lagi.</p>
<p>Saya ceritakan tentang beberapa teman saya yang akhirnya menemukan jalan, menemukan harta, bahkan bahagia dengan menulis.</p>
<p>&#8220;Apa saya bisa, Ibu? Di kepala saya terlalu berjejalan semua&#8230;.begitu kusut untuk diuraikan dalam bentuk tulisan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah kekusutan dalam benakmu perlu diuraikan, sayang? Mengapa tak kamu coba membingkai saja kekusutan itu dalam tulisanmu. Ibu akan membaca dan memberi banyak masukan&#8230;.&#8221;</p>
<p>Suatu malam ia sms saya lagi: Ibu, saya sayang ibu. saya tidak mau bunuh diri, tapi &#8220;perempuan&#8221; jahat itu memaksa saya menyilet diri saya lagi dan membenturkan kepala ini ke tembok berkali-kali. Saya ingin berwudhu dan sholat. Dia menghalangi saya ibu. Dia datang lagi&#8230;tolong saya ibu&#8230;.</p>
<p>Saya panik dan coba menghubunginya. Tapi tak jua diangkat. Akhirnya saya sms dia berkali-kali. X benar-benar seperti fiksi bagi saya! Tapi saya tak ingin menyerah, seperti saya tak pernah menyerah untuk menyelesaikan setiap langkah yang saya mulai.</p>
<p>&#8220;Maafkan saya, Ibu,&#8221; kata X sambil memperlihatkan lebam di tubuh dan kepalanya. &#8220;Orangtua saya mendobrak kamar, baru perempuan itu pergi. Ya &#8220;perempuan gila&#8221; dalam diri saya&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa perlu ibu bertemu orangtuamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan. Mereka sedang sulit, Ibu. saya tak mau cerita di kampus menjadi beban bagi mereka,&#8221; katanya pelan. &#8220;Mereka bahkan tak tahu saya terancam drop out.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kamu masih ke konseling?&#8221;</p>
<p>Ia mengangguk. &#8220;Orangtua saya memaksa saya ke psikiater&#8230;, saya tidak gila, Ibu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hmmm, ibu orang yang paling kepingin ke psikiater. Apa mereka bisa tahu sisi gila Ibu? Sayang belum pernah ada yang mengajak ibu. Padahal itu sebuah petualangan baru&#8230;.</p>
<p>Kami tertawa. Kering, seperti hari yang berlintasan.</p>
<p>X akhirnya dibawa orangtuanya ke psikolog tambahan selain tetap konseling di kampus. Ia juga mengikuti terapi akupuntur.</p>
<p>&#8220;Sudahkah kamu tulis keresahan dan berbagai keanehan serta mimpi-mimpi itu?&#8221; tanya saya setiap kali kami bertemu.</p>
<p>Saya takjub. Ia sodorkan pada saya setumpuk kertas, dengan tulisan tangan miring ke kanan. &#8220;Saya menulis karena ibu. Ini, Bu&#8230;,apa ibu mau membacanya? Maafkan saya kalau jelek, Ibu&#8230;.&#8221;</p>
<p>Saya peluk dia. &#8220;Ibu akan dengan senang hati membacanya!&#8221;</p>
<p>Di rumah, baru satu halaman saya baca, saya bergetar.  X&#8230;ia jenius!<br />
Tulisannya bagus! Ia akan menjadi saingan berat para sastrawan di usianya yang belum kepala dua! Sungguh, ia lebih dari bagus! Subhanallah&#8230;mata saya berkaca-kaca&#8230;saya sungguh tak menyangka! Ini jauh melebihi harapan saya!</p>
<p>&#8220;Tuliskan semua! Tumpahkan semua kalimatmu yang berkilauan itu. Jangan pernah berhenti!&#8221; kata saya padanya.</p>
<p>Setiap kali bertemu saya, ia berikan setumpuk kertas, dengan tulisan tangan yang miring ke kanan. &#8220;Saya tidak punya mesin tik atau komputer&#8230;,&#8221; katanya.</p>
<p>&#8220;Menulis terus. Yang kau perlukan adalah kertas, pena, wawasan dan jiwamu. Jangan berhenti. Jangan pernah berhenti!&#8221; Saya minta sekretaris saya mulai mengetik naskah X. Sebuah penerbitan sudah siap menampung naskahnya. X terbelalak tak percaya&#8230;.</p>
<p>X masih terus berproses. Tetapi dengan menulis, ia mulai bisa mengendalikan &#8220;perempuan&#8221; dalam dirinya yang terus mengharapkan ia bunuh diri. &#8220;Dalam ceritaku, bahkan kamu tak akan kubiarkan bunuh diri,&#8221; katanya pada &#8220;perempuan&#8221; itu.</p>
<p>Ada haru yang menyergap saya setiap mengingat X. &#8220;Dia termasuk anak autis,&#8221; kata salah satu psikolog yang menanganinya. &#8220;Mungkin schizoprenic,&#8221; tutur yang lain. Tapi soal kecerdasan sungguh bisa diadu.&#8221;</p>
<p>Kini X sudah sudah berani masuk kelas sendiri. Apalagi ketika saya mencarikannya beberapa teman baru dari kalangan adik kelas yang kini menjadi teman sekelasnya.</p>
<p>&#8220;Saya sedih. Orangtua meminta saya berhenti kuliah. Begitu juga ahli jiwa yang menangani saya. Mereka bilang saya tidak akan mampu&#8230;,&#8221;cerita X suatu saat.</p>
<p>Saya bilang, saya tahu ia cerdas. Saya juga meyakinkannya bahwa kuliah bukan jalan satu-satunya menuju kesuksesan. Apalagi kini ia menemukan jalan baru itu: menulis. Dan tulisannya? Bukan tulisan biasa!</p>
<p>Setiap saat, entah di mana, X masih terus &#8220;bertempur&#8221; dengan &#8220;perempuan&#8221;, sosok lain dalam dirinya yang terus menerus menyuruhnya bunuh diri. Dan setiap ada kesempatan ia coba halau bayangan itu dengan menulis. Sering kali ia sms saya, atau kami bertemu secara rutin di suatu tempat. Membahas hidup, juga tulisan-tulisannya. Kini ia bahkan mulai<br />
membahas hidup dan tulisan-tulisan saya. Yaaaa, begitulah teman, bukan?</p>
<p>Mungkin tak lama lagi bukunya akan terbit dan sampai di tangan saya dan Anda. Tapi yang tak akan pernah saya lupakan adalah apa yang ia ucapkan pada saya. Ini seperti harta karun bagi saya</p>
<p>&#8220;Saya mencintai Ibu. Terimakasih Ibu telah menjadikan saya, bukan meninggalkan saya&#8230;.&#8221; (www.baitijannati.wordpress.com)</p>
<p class="bodytext">&nbsp;</p>
<p class="bodytext">Sumber : http://helvytr.multiply.com/journal/item/221/Sayang_Jangan_Bunuh_Diri&#8230;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/128/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/128/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=128&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2007/12/09/sayang-jangan-bunuh-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db4c5e4e99c900e96651e7e7268e5a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.helvytr.multiply.com/image/8/photos/upload/300x300/R1UZ7woKCoUAADhsVqM1/pesantren%20%2826%29.JPG?et=aXkOrwux3bEoHTf3NNQzxg&#38;nmid=70966167" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Mama Defacto</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2007/06/26/mama-defacto/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2007/06/26/mama-defacto/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jun 2007 14:36:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Pilihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/2007/06/26/mama-defacto/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Jamil Azzaini 
baitijannati. Berita Pembantu Rumah Tangga (PRT) selalu menyedihkan. Seperti Ceriyati (34) PRT yang melarikan diri dengan bergelantungan dari lantai 15 hingga lantai 12 di apartemen majikannya di Malaysia. Ceriyati dan PRT di bebagai negara disiksa, disia-sia, ditelantarkan. Derita mereka (terutama yang di Hongkong, Makao, Malaysia) bisa saya rasakan, karena mereka sering curhat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=95&subd=baitijannati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><strong>Oleh : Jamil Azzaini </strong></p>
<p><font><font><em><strong>baitijannati. </strong></em>Berita Pembantu Rumah Tangga (PRT) selalu menyedihkan. Seperti Ceriyati (34) PRT yang melarikan diri dengan bergelantungan dari lantai 15 hingga lantai 12 di apartemen majikannya di Malaysia. Ceriyati dan PRT di bebagai negara disiksa, disia-sia, ditelantarkan. Derita mereka (terutama yang di Hongkong, Makao, Malaysia) bisa saya rasakan, karena mereka sering <em>curhat</em> dengan saya. </font></font><span id="more-95"></span><br />
<font><font><br />
Sesungguhnya, mereka tidak layak mendapat perlakukan seperti itu. Peran mereka di rumah tangga majikannya sangatlah bermakna. Mereka menjadi ibu yang <em>defacto </em>(ada di hati dan pikiran) putera-puteri majikannya. Sementara sang majikan justru hanya menjadi orang tua <em>dejure </em>(orang tua biologis semata).</p>
<p>Simaklah kisah Asih yang menjadi PRT di Malaysia. Kisah ini saya peroleh dari teman yang tinggal di Malaysia. Asih berasal dari Jawa Tengah. Majikannya (suami-istri) bekerja. Sepasang suami-istri yang super sibuk itu memiliki satu orang anak yang sangat cantik, Nurbaiti namanya.</p>
<p>Asihlah yang mengajarkan Nurbaiti baca Al Qur’an, mengajarkan sholat, menemani belajar, memberikan apresiasi bila gadis mungil itu meraih prestasi. Sementara kedua orang tua Nurbaiti sibuk mengejar harta dan tahta. Secara batin, Nurbaiti lebih dekat dengan Asih ketimbang kedua orang tuanya.</p>
<p>Suatu ketika kedua orang tua Nurbaiti mampu membeli mobil kelas menengah. Nurbaitipun ikut senang. ”Malaikat” kecil itu menuangkannya dalam bentuk mengambar mobil baru itu dalam secarik kertas. Nurbaiti memberikan warna-warni yang indah. Ia ingin memberikan gambar mobil itu kepada mamanya. Ia ingin mamanya bahagia. Ia ingin mamanya tahu bahwa ia mampu menggambar mobil barunya.</p>
<p>Nurbaiti menanti mamanya pulang kerja. Begitu terdengar suara mobil di depan rumah, Nurbaiti bersiap-siap di depan pintu ruang tamu dengan mendekap gambar mobil itu. Ia ingin membuat kejutan buat mamanya. Tatkala pintu rumah terbuka, langsung Nurbaiti berkata ”Mama, aku ingin menunjukkan sesuatu kepada mama”</p>
<p>Tanpa peduli dengan perasaan darah dagingnya, wanita karir itu menjawab, ”jangan sekarang ya, mama lagi capek.” Mendengar jawaban itu, hati Nurbaiti terluka. Ia sedih. Gadis kecil itu berlari menuju kamar Asih, ia menangis dalam pelukan sang pembantu. Nurbaitipun akhirnya tertidur dalam pelukan Asih.</p>
<p>Keesokan harinya, Nurbaiti bangun lebih pagi. Dengan hati yang masih terluka ia pergi ke taman, mencabut bunga-bunga berduri. Dengan dua genggam bunga berduri di tangan, ia goreskan bunga itu ke mobil baru orang tuanya. Nurbaiti tak peduli tangannya berdarah, dia terus menggoreskan bunga itu, hingga sebagian besar badan mobil tergores.<br />
Ketika orang tuanya hendak berangkat kerja, terkejutlah mereka. Ibunda Nurbaiti tak bisa menahan emosi. Ia cari Nurbaiti dan ia pukul tangan Nurbaiti berulang kali. Darah segar mengalir kembali di tangan Nurbaiti. Dengan hati kesal, mereka berangkat kerja meninggalkan Nurbaiti yang menangis dalam pelukan Asih.</p>
<p>Hari berganti hari, ternyata luka di tangan Nurbaiti tak kunjung sembuh bahkan semakin parah. Nurbaitipun akhirnya dirawat di rumah sakit. Karena luka tangan itu semakin membusuk dan meluas, dokter memutuskan, tangan kanan Nurbaiti harus diamputasi. Kedua orang tuanya, sedih, menyesal dan tak bisa berbuat apapun. Mereka pasrah.</p>
<p>Setelah 22 hari di rawat di rumah sakit, perban di tangan Nurbaiti dibuka. Terkejutlah anak semata wayang itu ketika ia tahu bahwa tangan kanannya telah tiada. Dia menangis tiada henti. Dia selalu bertanya, kenapa tangannya hilang?</p>
<p>Karena tangisnya tak kunjung reda, Asih menelpon kedua orangtuanya agar segera datang ke rumah sakit. Melihat mamanya datang, Nurbaiti justeru ketakutan. Nurbaiti berlindung di pelukan Asih. Nurbaiti terus menangis sambil berteriak ”Mama, kembalikan tanganku, aku janji tidak akan memperlihatkan gambar mobilku kepada mama. Biar mbak Asih saja yang melihat. Tapi mama, kembalikan tanganku&#8230; kembalikan tanganku mama&#8230;”</p>
<p>Ibu yang melahirkan Nurbaiti itu menarik napas panjang. Bercampur antara penyesalan dan kesedihan. Dengan terbata wanita itu berkata “Maafkan mama sayang, maafkan mama.” Butiran bening terus mengalir deras di pipi. Ia iri dengan Asih, seorang pembantu, namun telah menjadi Mama <em>defacto </em>bagi Nurbaiti. (www.baitijannati.wordpress.com)</font></font></p>
<p>Sumber : HU Republika, 22 Juni 2007</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/95/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/95/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/95/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=95&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2007/06/26/mama-defacto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db4c5e4e99c900e96651e7e7268e5a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pelajaran dari Ukhtiku, Hajar</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2007/06/07/pelajaran-dari-ukhtiku-hajar/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2007/06/07/pelajaran-dari-ukhtiku-hajar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jun 2007 10:16:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Pilihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/2007/06/07/pelajaran-dari-ukhtiku-hajar/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Yumna 
Keluarga Samara. Sebut saja namanya Hajar. dia adalah seorang gadis afro karibia yang baru beberapa bulan memeluk Islam. saya mengenalnya sebagai gadis yang mengagumka, bukan hanya karena akhlaqnya yang bagus tetapi juga karena semangatnya yang membara untuk belajar Islam sekaligus mengambil Islam sebagai standar kehidupannya.Hajar yang berperawakan tinggi besar dengan senyum manis yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=90&subd=baitijannati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><font size="2"><strong>Oleh : Yumna</strong> </font></p>
<p><font size="2"><strong><em>Keluarga Samara. </em></strong>Sebut saja namanya Hajar. dia adalah seorang gadis afro karibia yang baru beberapa bulan memeluk Islam. saya mengenalnya sebagai gadis yang mengagumka, bukan hanya karena akhlaqnya yang bagus tetapi juga karena semangatnya yang membara untuk belajar Islam sekaligus mengambil Islam sebagai standar kehidupannya.<span id="more-90"></span><a id="more-44"></a></font><font size="2">Hajar yang berperawakan tinggi besar dengan senyum manis yang menjadi ciri khasnya sangat membuat siapapun yang berada disekitarnya menjadi bahagia dan juga ceria. Di tengah sosoknya yang periang ternyata hajar juga menyimpan kekuatan besar dan tidak pernah main main dengan Diin yang dipilihnya 7 bulan yang lalu.</p>
<p></font><font size="2">Kami dipertemukan oleh Allah di sebuah forum kajian khusus wanita muallaf. saat itu juga kami bertukar nomer telfon dan beberapa hari kemudian hajar menelepon saya dan menanyakan apakah saya bersedia mengajarninya baca Quran. dengan senang hati saya iyakan. setiap hari setiap waktu ilmu bacaan Qurannya bertambah, dalam hati saya semakin menyimpan kekaguman terhadapnya, lafadz bahasa arab yang sangat asing dengan begitu mudah dia lafadzkan dan tanpa terasa dalam waktu kurang dari 6 bulan dia sudah hampir menyelesaikan separuh dari jatah paket yang harus dia selesaikan.</font><font size="2">Disela sela belajar itu, kami sempatkan diskusi dan hari itu saya ingat sekali kami sedang diskusi tentang masalah pakaian wanita muslimah. Hajar sendiri sudah menutup auratnya namun dia masih mencari pemahaman mendalam tentang pakaian muslimah. Malam itu saya jelaskan ayat tentang QS an Nuur: 31 yang mewajibkan wanita berkerudung (khimar) &#8211; <span style="font-size:10pt;">“<em>Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya,</em>” </span><span>(<strong>Qs. an-Nûr [24]: 31</strong>).- </span>dan QS Al Ahzab: 59 yang mewajibkan wanita muslimah memakai Jilbab saat mereka keluar rumah- <span style="font-size:10pt;">“<em>Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu.</em>” (<strong>Qs. al-Azhab [33]: 59</strong>)-</span></p>
<p></font><br />
<font size="2">Yang mengherankan saya, hanya satu pertanyaan yang muncul darinya yakni :Apa yang menjadi indikasi kewajibannya? saya jelaskan bahwa ada hadis Rosulullah Muhammad SAW yang berbunyi demikian:<br />
<span style="font-size:10pt;">Dari Ummu ‘Athiyah ra: “<em>Rasulullah Saw memerintahkan kami untuk keluar pada Hari Fitri dan Adha, baik gadis yang menginjak akil balig, wanita-wanita yang sedang haid, maupun wanita-wanita pingitan. Wanita yang sedang haid tetap meninggalkan shalat, namun mereka dapat menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Muslim. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, salah seorang di antara kami ada yang tidak memiliki jilbab?</em></span><span>” Rasulullah Saw menjawab, “<em>Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya.</em>” [</span><strong>HR. Muslim</strong>].</font><font size="2">Dari stu hadis ini saja ternyata hajar bisa meyakini dan menerima kewajiban berjilbab dan subhanAllah, ke-esokan harinya tanpa mencari cari alasan dan juga keberatan dia memulai kehidupan barunya dengan memakai jilbab saat dia keluar rumah.</p>
<p>Inilah pribadi yang sebenarnya kaum muslimin butuhkan di masa sekarang. Pribadi pribadi yang bangga akan identitas kemuslimannya dan bukannya mempertanyakan Allah akan keadlian-Nya dengan mengatakan bahwa wanita teraniaya karena mereka harus memakai kerudung dan Jilbab. astaghfirullah!</p>
<p>secara hukum jilbab dan kerudung memang bisa dibuktikan kewajibannya, namun jika kita mau membuat sebuah logika sederhana maka aqal kita pun sebenarnya bisa menerimanya.</p>
<p>satu contoh,Bandingkan jika kita pergi ke warung, dan disana kita temukan dan ada sebuah makanan yang tertutup rapi dengan sebuah plastik, dan makanan yang hanya dibiarkan terbuka, dengan harga yang sama manakah yang akan kita ambil? jelas makanan yang terbungkus rapi karena kita yakin makanan itu belum tercemar dengan udara kotor, makan itu masih belum tersentuh manusia lain dan bungkus itulah yang membuat harga makanan itu lebih dari yang dibiarkan terbuka. demikianlah cara Allah menghargai wanita muslimah.</p>
<p>sudah semestinya mentalitas seorang muslim jika ada hukum syara’ yang baru dan wajib maka serta merta kita mengambilnya sebagai sebuah hukum. Satu hal yang perlu kita pertanyakan, adakah dalil yang menjadi landasannya? entah itu Al Quran, hadis atau mungkin ijma’ shahabat atau Qiyas? jika ada maka sesegera itu <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;height:1em;"><font size="2">pula</font></span><font size="2"> kita layaknya mengambil dan melaksanakannya.</font></p>
<p></font></p>
<pre style="font-family:comic sans ms;"><font size="2">Dalam QS Ali Imran [3] ayat 133-134, Allah SWT berfirman, <span style="font-weight:bold;font-style:italic;">Dan</span><span style="font-weight:bold;font-style:italic;">bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang</span><span style="font-weight:bold;font-style:italic;">luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang</span><span style="font-weight:bold;font-style:italic;">bertakwa; (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik</span><span style="font-weight:bold;font-style:italic;">diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya</span><span style="font-weight:bold;font-style:italic;">dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang</span><span style="font-weight:bold;font-style:italic;">berbuat kebajikan</span></font></pre>
<p><font size="2"><br />
Sebagian orang akan berusaha mencari cari hikmahya terlebih dahulu baru kemudian kita taat dan mengambil aturan Allah tadi. tapi apakah memang demikian pribadi yang diajarkan oleh Rosulllah Muhammad SAW? tentu tidak. jika iya? kenapa saat ayat tetang jilbab diturunkan, kaum wanita muslimah saat itu serta merta menarik kain kelambu untuk menutupi tubuh mereka? sungguh jika kita menunggu mengerti hikmah dari semua hukum Allah maka itu tidak sama saja dengan memilih dan memilih hukum Allah, mengambil hukum Allah dengan alasan manfaat. sikap ini bisa mendorong kita ke arah yang keliru, saat kita melihat ada manfaatnya kita ambil sedang saat kita tidak mampu menemukannya kita tinggalkan.</font><font size="2">Aqal yang diberikan oleh Allah bukan untuk mencari cari manfaat, tetapi untuk membuat kita mengerti apa saja firman Allah dan apa saja kewajiban kita sebagai Hamba-Nya. awal bukan untuk memilah dan memilih mana hukum yang bisa kita ambil dan mana yang tidak. karena konsekuensi shahadat kita sesungguhnya sudah merupakan verifikasi bahwa kita mau myakini bahwa Allah adalah Tuhan sekaligus pembuat Hukum. Allah adalah Sang Maha Pencipta, sangat bisa diteirma oleh aqal kita bahwa hanya Dialah Satu satunya yang faham akan fakta dan hukum terbaik buat hamba-Nya?</p>
<p></font></p>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;"><font size="2"><br />
</font><font size="2" color="#004400"><strong><em>“Maka demi Tuhanmu mereka pada hakekatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS An-Nisa’: 65). (<a href="http://www.keluarga-samara.com/"><font color="#333399">www.keluarga-samara.com</font></a>) </em></strong></font><font size="2"><br />
</font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/90/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/90/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/90/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=90&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2007/06/07/pelajaran-dari-ukhtiku-hajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db4c5e4e99c900e96651e7e7268e5a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar Dari Ummu Sulaim</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2007/02/02/belajar-dari-ummu-sulaim/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2007/02/02/belajar-dari-ummu-sulaim/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Feb 2007 10:33:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Pilihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/2007/02/02/belajar-dari-ummu-sulaim/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Robi’ah al-Adawiyah
baitijannati – Sudah jama&#8217; bila orang mengagumi Aisyah  karena kecerdasannya, sudah jama&#8217; mereka mengagumi Khadijah, Fatimah dan  serentet yang lain. Tapi jiwa perempuanku terusik dengan sosok lain, sebuah  sosok yang ehm.. romantis,cerdas dan teguh, setidaknya menurutku.
Nama aslinya dalam sejarah tak  banyak terungkap. Ada yang mengatakan al-Ghuamayda binti Milhan. Ummu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=14&subd=baitijannati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Oleh: Robi’ah al-Adawiyah</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="letter-spacing:-0.1pt;">baitijannati</span></strong><span style="letter-spacing:-0.1pt;"> </span>– Sudah jama&#8217; bila orang mengagumi Aisyah  karena kecerdasannya, sudah jama&#8217; mereka mengagumi Khadijah, Fatimah dan  serentet yang lain. Tapi jiwa perempuanku terusik dengan sosok lain, sebuah  sosok yang ehm.. romantis,cerdas dan teguh, setidaknya menurutku.<span id="more-14"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Nama aslinya dalam sejarah tak  banyak terungkap. Ada yang mengatakan al-Ghuamayda binti Milhan. Ummu Sulaim  begitu saja kita sebut beliau.</p>
<p><strong>1. Perempuan Teguh</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Coba simak bagaimana perempuan  ini meyakini kebenaran yang datang padanya. Dia ikuti dengan penuh kemantapan,  meninggalkan suaminya yang saat itu kafir, Malik. Dibawanya serta anaknya anas  bin Malik mengikuti manusia Agung bernama Muhammad, berhijrah. tidak mungkin  bila dia seorang permpuan yang labil, penuh keraguan, diletakkannya kecintaannya  pada manusia yang bersamanya dia mereguk cinta kemanusiaannya. Ditukarnya dengan  cinta hakiki yang lebih membuatnya bergairah. Tidak mungkin bila dia sorang yang  penuh dengan ketergantungan pada manusia. Ah, ummu sulaim. Bukan itu saja. Simak  bagaimana dia masih tetap bertahan dengan keteguhannya tatkala seorang saudagar  kaya namun kafir di Madinah, abu Thalhah melamarnya. Bukankah dia lagi-lagi tak  hendak menukar syahadatnya dengan tujuh kebun kurma milik Abu Thalhah? bukankah  dia hanya berucap; cukuplah keislamanmu sebagai maharku, wahai Abu thalhah! ah,  Ummu sulaim&#8230;&#8230;.mungkinkah itu diucapkan seorang perempuan yang cinta dunia?  padahal ummu sulaim seorang &#8220;<em>single mother</em>&#8221; saat itu. Bagaimana itu tak  menggetarkan seorang laki-laki ?dan keteguhan itulah yang menjadi perantara  hidayah bagi Abu Thalhah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p><strong>2. Perempuan  Pendidik</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Saat hijrah bersama putranya,  diserahkannya Anas bin Malik pada Rasulullah, dididik oleh seorang yang dicintai  Allah. Disuruhnya sang putra belajar dari manusia agung itu.dan setiap pulang  ditanyainya putranya tentang &#8220;pelajaran&#8221; yang didapatnya dari Rasulullah hari  itu.</p>
<p>Diajarkannya pula pada Anas untuk menjaga rahasia Rasulullah  sebaik-baiknya termasuk pada dirinya. Jadilah Anas bin Malik seorang yang paling  banyak meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah. Bagaimana itu dapat dilakukan  kecuali oleh perempuan-perempuan yang berjiwa pendidik?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bukan itu saja. Simak, kira-kira  ketika Abu Thalhah masuk Islam, bukankahUmmu Sulaim pasti &#8220;lebihfaham&#8221; tentang  dien? mungkin dalam konteks sekarang Abu Thalhah saat adalah seorang Mu&#8217;allaf.  Dibimbingnya suaminya dengan keteguhan yang ia miliki. Dengan kehendak Allah,  jadilah Abu Thalhah satu dari 10 orang yang dijamin masuk sorga, menjadi  saudagar yang dermawan. Bagaimana hal itu dapat dilakukan kecuali oleh  istri-istri yang teguh, cerdas,tidak materialis, dan penuh kesabaran? jadi,  bukankah baik untuk belajar bahwa setiap perempuan muslim harus siap menjadi  ummu sulaim-ummu sulaim yang menjadi pendukung kebaikan dunia-akhirat  keluarganya? Ah, Ummu sulaim&#8230;.</p>
<p><strong>3. Perempuan Cerdik Nan  Romantis</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam bayanganku, Ummu sulaim  pastilah seorang yang faham betul terhadap posisinya sebagai perempuan. Dia  pendidik, dia seorang istri dan ibu yang pendidik. Pasti semua muslim pun tahu  bagaimana kisahnya saat mengabarkan kematian putranya pada suaminya (Abu  Thalhah). Lagi-lagi, pastilah Ummu Sulaim bukan seorang istri (perempuan) yang  reaktif, mudah gugup, cengeng dan penakut. Ummu Sulaim (dalam konteks sekarang)  memiliki kecerdasan emosional yang tinggi, psikologisnya matang dan dia faham  pula psikologis orang lain. Beliau mampu mengendalikan rasa sedih, mengendalikan  ucapannya, tenang, mengambil keputusan yang tidak gegabah, dan beliau siap  dengan resiko dari keputusan yang diambilnya (wajar bukan bila Abu Thalhah marah  yang menganggap istrinya “terlambat” memberi tahu bahwa putranya meninggal?)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Lihat bagaimana Ummu Sulaim  melaksanakan kewajibannya terlebih dahulu, memanage perasaannya dengan melayani  suaminya dihari pertama pulang perang, melepaskan kepenatan suaminya. Ah, Ummu  Sulaim yang romantis dan tenang&#8230;! Tidak mungkin perilaku-perilaku terpuji itu  dilakukan oleh perempuan-perempuan yang kurang “mengenal” Tuhannya, yang  memaknai cobaan dari Tuhannya sebagai cinta!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dia tidak langsung mengabarkan  hal-hal buruk yang terjadi dirumah begitu suaminya pulang “kerja”, seperti yang  sering dilakukan kebanyakan istri saat ini, mendamprat dan meraung-raung karena  marah pada suaminya ,bahkan sebelum suaminya sempat melepas sepatu! Waduh!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dan Rasulullah membenarkan apa  yang dilakukan Ummu Sulaim serta mendo&#8217;akan beliau dan suaminya agar mendapat  keturunan yang banyak dan sholeh setelah hari itu. Dan ? keturunan mereka  selanjutnya adalah pejuang-pejuang Sholeh dijalan Allah. Subhanallah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ah!!! seandainya aku dan  perempuan-perempuan Muslim bisa meneladaninya. Betapa rumah tangga-rumahtangga  kami adalah surga. Betapa kami (jika mau belajar darinya) adalah  perempuan-perempuan yang pendidik, pendidik yang teguh dan romantis. Perempuan  yang paham betul perannya sebagai pribadi, istri, ibu.Dari rahim  perempuan-perempuan seperti itulah lahir benih-benih peradaban. Ummu Sulaim  perempuan yang hanif dan menghanifkan, teguh dan meneguhkan, cerdas dan  mencerdaskan. Karakternya jelas, memiliki visi dan misi hidup yang jelas  sehingga hidupnya teratur dan yakin terhadap pertolongan Rabbnya Ini dia profil  idola perempuan. Semoga ada Ummu Sulaim-Ummu Sulaim hari ini. Mari menjadikan  kita salah satunya!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
Wallahu a&#8217;lam bishshawwab  [diambil dari http://www.kafemuslimah.com]</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=14&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2007/02/02/belajar-dari-ummu-sulaim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db4c5e4e99c900e96651e7e7268e5a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>