<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Rumahku Surgaku &#187; Ibu</title>
	<atom:link href="http://baitijannati.wordpress.com/category/ibu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://baitijannati.wordpress.com</link>
	<description>Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 08 Dec 2009 12:21:45 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='baitijannati.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/5fd910c911ccfc5fc04409c51d2e7ef5?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Rumahku Surgaku &#187; Ibu</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Ibu Teladan</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2008/02/29/ibu-teladan/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2008/02/29/ibu-teladan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Feb 2008 21:42:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/2008/02/29/ibu-teladan/</guid>
		<description><![CDATA[Keluarga Samara. Sosok ibu dalam pandangan masyarakat sekarang benar-benar dilematis. Masyarakat cenderung memandang miring para ibu yang tinggal di dalam rumah dan mencukupkan diri sebagai pengatur rumah tangga. Namun ketika pelbagai permasalahan anak-anak dan problema rumah tangga mulai bermunculan, ibu berkarir sering dijadikan kambing hitam, pangkal dari segala persoalan.
Upaya untuk mendudukkan ibu pada dua kutub [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=155&subd=baitijannati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-indent:30pt;margin:0 0 0.0001pt;"><b><i><span>Keluarga Samara. </span></i></b><span>Sosok ibu dalam pandangan masyarakat sekarang benar-benar dilematis. Masyarakat cenderung memandang miring para ibu yang tinggal di dalam rumah dan mencukupkan diri sebagai pengatur rumah tangga. Namun ketika pelbagai permasalahan anak-anak dan problema rumah tangga mulai bermunculan, ibu berkarir sering dijadikan kambing hitam, pangkal dari segala persoalan.</span><span id="more-155"></span><span></span></p>
<p style="text-indent:30pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Upaya untuk mendudukkan ibu pada dua kutub yang saling bertolak belakang tentulah kurang bijaksana. Permasalahan yang dialami ibu tak sesederhana pertanyaan yang terlontar. Di area manakah sebaiknya para ibu mengambil pe-ranan? Di dalam rumah ataukah ikut terjun pula dalam dunia pu-blik? Mungkinkah seorang ibu berperan optimal di kedua area tersebut?</span></p>
<p style="text-indent:30pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Menjalani profesi seorang ibu tak perlu memandang apakah ia berada di dalam atau di luar rumah. Karena memang dua area ini tak dapat dipisahkan secara mutlak. Islam menggariskan bahwa tugas seorang wanita adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.<br />
Sekalipun seorang ibu memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, bukan berarti tugasnya lebih ringan dibandingkan ibu yang berkarier. Menjadi seorang ibu rumah tangga juga membutuhkan profesionalitas. Apalagi tuntutan kemajuan jaman, membutuhkan sosok ibu yang cerdas dan berwawasan. Dalam rangka memenuhi kriteria tersebut, mau tak mau seorang ibu harus berhubungan dengan dunia luar. I</span></p>
<p style="text-indent:30pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Ibu berkarir dalam rangka mencari tambahan nafkah tak dilarang oleh Allah. Sepanjang interaksinya di dunia luar tidak bertentangan dengan garis-garis hukum yang telah ditetapkan. Bahkan jika seorang ibu berkarir dalam rangka mendedikasikan ilmunya demi kemaslahatan umat, mendapatkan imbalan pahala yang tiada terputus dari Allah. Ibu berada di dunia publik dalam rangka menegakkan kalimat Allah, ber-amar ma’ruf nahi munkar justru diwajibkan oleh Allah.</span></p>
<p style="text-indent:30pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Kita hanya boleh mempermasalahkan ibu-ibu yang lalai de-ngan tugasnya, sosok ibu rumah tangga yang hanya bisa menonton sinetron, arisan, ngerumpi dan pergi ke salon. Atau sosok ibu berkarier yang tega menelantarkan anak-anaknya, tidak memenuhi haknya hanya demi segepok rupiah.<br />
Sekali lagi, permasalahan tak terletak pada keberadaan sang ibu. Tak menjadi masalah seorang ibu berada di dalam rumah ataupun di luar rumah. Berkaitan dengan amanah dan tugas besar, seorang ibu dituntut untuk mampu melahir-kan dan mencetak generasi-gene-rasi berkualitas. Generasi yang menjadi aset umat dan mampu membawa umat Islam kepada kemenangan. </span></p>
<p style="text-indent:30pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Sejarah Islampun tak menoreh-kan catatan tentang pembagian wilayah kerja tersebut secara mu-tlak. Teramat banyak para shahabi-yah yang mencontohkan kiprahnya di dunia publik kepada kita, misalnya ikut serta dalam peperangan. Khaulah binti Azur dan beberapa wanita lain ikut berperang mela-wan Romawi. Ummi Haram binti Malhan ikut dalam peperangan menyerbu Eropa pada masa pemerintahan Usman bin Affan.<br />
Aktivitas perempuan dalam menuntut ilmu dan mengajarkan ilmu dalam kehidupan publikpun banyak kita temukan dalam buku-buku sejarah. Namun apakah kemudian kita beranggapan bahwa mereka bukanlah ibu yang ideal karena berada di luaran? Tentu tidak. (S. Syam)</span></p>
<p style="text-indent:30pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span> </span></p>
<p style="text-indent:30pt;margin:0 0 0.0001pt;"><b><span>Agar OK Mendidik Anak</span></b><span></span></p>
<p><span>o Perlakuan atau metode pendekatan yang dipakai untuk mendidik anak-anak berbeda-beda sesuai karakteristik masing-masing anak. Bisa jadi, seorang ibu perlu 3 alternatif model pendekatan untuk tiga anaknya. Hasil konsultasi untuk salah seorang anak belum tentu cocok untuk diterapkan kepada anak lain.</span></p>
<p style="text-indent:30pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span> </span></p>
<p style="margin:0 0 0.0001pt;"><span>o Anak-anak berubah dan berkembang secara bertahap. Perkembangan yang terjadi pada masing-masing anak tidak sama sehingga diperlukan kesabaran. Bukan sebuah tindakan yang bijaksana jika kita membanding-bandingkan kemampuan anak dengan kemampuan anak lain.</span></p>
<p style="margin:0 0 0.0001pt;"><span> </span></p>
<p style="margin:0 0 0.0001pt;"><span>o Ibu selalu berusaha untuk memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan. Menurut penelitian, ibu yang berpendidikan tinggi cenderung bersifat lebih terbuka terhadap hal-hal baru karena lebih sering membaca dan menambah pengetahuannya. Hal ini berbeda dengan ibu yang berpendidikan rendah dengan pengetahuan dan pengertian yang terbatas mengenai kebutuhan dan perkembangan anak sehingga kurang menunjukkan pengertian dan cenderung mendominasi anak. Maka tak heran jika keluhan ibu kuno, kolot, kuper dan yang sejenisnya sering terlontar.  (<a href="http://www.keluarga-samara.com/">www.keluarga-samara.com</a>) </span></p>
<p style="margin:0 0 0.0001pt;"><span> </span></p>
<p><span>Sumber : Majalah Female Readers Vol. I/I</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/155/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/155/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/155/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=155&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2008/02/29/ibu-teladan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db4c5e4e99c900e96651e7e7268e5a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengoptimalkan Peran Ibu Rumah Tangga</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2007/12/09/mengoptimalkan-peran-ibu-rumah-tangga/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2007/12/09/mengoptimalkan-peran-ibu-rumah-tangga/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Dec 2007 23:22:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Istri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/2007/12/09/mengoptimalkan-peran-ibu-rumah-tangga/</guid>
		<description><![CDATA[ 
&#160;
Oleh : Reta Fajriah
(Pemerhati Masalah Keluarga)


 
&#160;
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، اْلإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا
&#160;
Masing-masing kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.  Seorang imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya.  Seorang suami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=129&subd=baitijannati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span> </span></p>
<p class="post-content">&nbsp;</p>
<p align="center"><b>Oleh : Reta Fajriah</b></p>
<p align="center">(Pemerhati Masalah Keluarga)</p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-left:18pt;text-align:right;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" align="center"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;"><b><br />
</b></span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-left:18pt;text-align:right;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span> </span></p>
<p class="post-content">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-left:18pt;text-align:right;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Arial;">كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، اْلإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-left:18pt;text-align:right;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;line-height:150%;"><i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Masing-masing kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.<span>  </span>Seorang imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya.<span>  </span>Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.<span>  </span>Seorang istri pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya…</span></i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">(HR al-Bukhari dan Muslim)</span><span id="more-129"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Rasulullah saw. telah menetapkan tanggung jawab terhadap laki-laki (suami) dan perempuan (istri) dalam kapasitas sebagai pemimpin yang berbeda di dalam sebuah keluarga. Suami sebagai pemimpin bertugas mengendalikan arah rumah tangga serta penjamin kebutuhan hidup sehari-hari—seperti makanan, minuman dan pakaian—serta bertanggung jawab penuh atas berjalannya seluruh fungsi-fungsi keluarga. Adapun istri berperan sebagai pelaksana teknis<span>  </span>tersedianya kebutuhan hidup keluarga serta penanggung jawab harian atas terselenggaranya segala sesuatu yang memungkinkan fungsi-fungsi keluarga tersebut dapat dicapai. Berjalan-tidaknya fungsi-fungsi keluarga secara adil dan memadai merupakan indikasi tercapai-tidaknya keharmonisan dalam<span>  </span>keluarga. Namun, ibarat mengayuh perahu,<span>  </span>keduanya harus saling kompak dan bekerjasama agar biduk rumah tangga tidak terbalik. Fungsi-fungsi keluarga yang dimaksud adalah fungsi reproduksi (berketurunan), proteksi (perlindungan), ekonomi, sosial, edukasi (pendidikan), afektif (kehangatan dan kasih sayang), rekreasi, dan fungsi reliji (keagamaan).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Tugas utama serang istri secara umum ada dua: (1) sebagai Ibu, yang berkaitan langsung dengan pemenuhan fungsi reproduksi serta fungsi edukasi; (2) sebagai pengatur rumah tangga, yang berkaitan dengan pemenuhan fungsi-fungsi keluarga yang lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;"><br />
<b>Beberapa Tuntunan</b></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Pertama</span></i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">: Dalam pandangan Islam, tujuan dari pernikahan tidak hanya sekadar memiliki keturunan, tetapi juga bagaimana menjadikan keturunan kelak menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa (Lihat: QS al-Furqan [25]: 74).<i> </i>Agar terwujud, sudah pasti sang pemimpin terlebih dulu harus menjadi orang yang bertakwa. Untuk itulah, Islam telah memberi tuntunan<span>  </span>agar mendapat keturunan yang baik dengan cara mempersiapkannya seawal mungkin, yaitu sejak sang ayah dan ibu berikhtiar untuk mendapatkan keturunan.<span>  </span>Allah Swt. telah mensyariatkan adanya doa sebelum berhubungan intim, selanjutnya melakukan pendidikan terhadap anak mulai dari masa kandungan hingga<span>  </span>anak mencapai usia balig. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Pendidikan adalah sebuah proses yang berkesinambungan hingga dapat mengantarkan anak memasuki usia balig dalam kondisi siap untuk menerima segala bentuk pembebanan hukum syariah saat dewasa. Di samping itu, anak perlu dibekali dengan keterampilan hidup yang memungkinkan baginya untuk bisa eksis dalam mengarungi kehidupan ini. Untuk itulah seorang Ibu dituntut agar memiliki kemampuan mendidik anak, baik dari sisi konsep maupun teknis pelaksanaan berikut pembiasaan dalam keseharian anak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Kedua</span></i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">: Seorang istri berperan mengelola rumah tangganya agar tercapai keharmonisan di dalam keluarga. Dalam hal keuangan, istri diharapkan dapat mengatur sedemikian rupa nafkah yang<span>  </span>diberikan oleh suami agar mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, apalagi jika penghasilan suami tidak seberapa besar. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menyusun daftar<span>  </span>rencana pemasukan dan pengeluaran dalam satu bulan, dengan prioritas pengeluaran yang dianggap paling penting. Jika kebutuhan hidup masih belum mencukupi, dengan izin<span>  </span>suami seorang istri bisa saja membantu suami dalam menambah ekonomi keluarga. Jika memungkinkan carilah peluang pemasukan yang tidak banyak menyita waktu ke luar rumah, misalnya dengan menulis artikel dan buku; atau yang dapat membuka kesempatan untuk<span>  </span>berinteraksi lebih banyak dengan masyarakat, seperti menjual busana Muslimah atau kebutuhan hidup sehari-hari di rumah; atau yang dapat menambah wawasan dan pengalaman<span>  </span>dalam mendidik anak, misalnya dengan menggeluti bidang pendidikan anak. Yang jelas, semua itu tidak boleh melalaikan kewajibannya yang lainnya seperti mendidik anak ataupun berdakwah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Ketiga</span></i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">: Dalam hal pemenuhan fungsi proteksi keluarga, seorang istri dapat mengkondisikan suasana rumah yang tenang, bersih dan tertata rapi agar<span>  </span>menjadi tempat berlindung yang nyaman dan membuat betah para penghuninya. Rasulullah saw. memuji seorang istri yang pandai merapikan rumah dengan mengatakan, “<i>Ia tidak memenuhi rumah kita dengan sarang burung.”</i> (Muttafaqun ‘alaihi). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Kepedulian dan kesabaran istri dalam menyikapi persoalan yang dihadapi anggota keluarga dapat menjadikan suami dan anak-anak ingin segera kembali ke rumah untuk menyampaikan setiap suka dan duka yang dihadapinya di luar rumah. Keluarga<span>  </span>menjadi tempat yang paling aman dan menyenangkan secara fisik dan psikis bagi anggotanya untuk saling berbagi. Apalagi bagi anak-anak, sebab sangat riskan jika mereka mencari kenyamanan di tempat lain yang bisa jadi berbahaya bagi pergaulannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Keempat</span></i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">: Fungsi sosial keluarga ditandai dengan adanya interaksi keluarga dengan masyarakat. Keharmonisan dengan anggota masyarakat harus terus dijalin, sebagaimana keharmonisan antar anggota keluarga. Apalagi Allah Swt. telah menetapkan akhlak bertetangga, sebagaimana sabda Nabi saw. (yang artinya):</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;line-height:150%;"><i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Hak tetangga adalah jika dia sakit, engkau mengunjunginya; jika dia wafat, engkau mengantarkan jenazahnya; jika dia membutuhkan uang, engkau meminjaminya; jika dia mengalami kemiskinan (kesukaran), engkau rahasiakan; jika dia memperoleh kebaikan, engkau ucapkan selamat kepadanya; dan jika<span>  </span>dia mengalami musibah, engkau mendatanginya untuk menyampaikan rasa duka.<span>  </span>Janganlah meninggikan bangunan rumahmu melebihi bangunan rumahnya sehingga menutup kelancaran angin baginya. Jangan kamu mengganggunya dengan bau periuk masakan kecuali kamu menciduk sebagian untuk diberikan kepadanya. </span></i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">(HR ath-Thabrani).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Alangkah mulia tuntunan ini jika diamalkan dalam keseharian, khususnya oleh seorang istri yang relatif lebih banyak<span>  </span>waktu di rumah. Hubungan yang baik dengan tetangga juga sangat membantu untuk mewujudkan kepemimpinan dan lingkungan yang islami.<span>  </span>Berbagai hal bisa dilakukan dalam menumbuhkan kegiatan-kegiatan<span>  </span>yang kondusif bagi syiar Islam dan pendidikan anak, misalnya dengan mengadakan pengajian rutin di kalangan ibu-ibu, sanlat dan kajian keislaman untuk anak dan remaja, serta pengajian umum untuk keluarga pada momen-momen tertentu. Sebuah keluarga yang bisa diterima dalam masyarakat, secara tidak langsung akan memperkuat pula dorongan bagi anggotanya untuk melaksanakan amar makruf nahi mungkar<span>  </span>terhadap lingkungan yang juga merupakan kewajiban bagi setiap Muslim.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Kelima</span></i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">: Adanya kasih sayang dan kehangatan di dalam keluarga merupakan hal yang sangat berpengaruh dalam menciptakan keharmonisan di dalam rumah tangga. Rasulullah mengajarkan hal yang demikian. Beliau bersabda, sebagaimana penuturan Anas ra., <i>“Wahai anakku, jika kalian masuk menemui istrimu, ucapkanlah salam.<span>  </span>Salammu itu menjadi berkah bagimu dan bagi penghuni rumahmu.”</i> (HR at-Tirmidzi).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Dalam hadis lain, Ummul Mukminin Aisyah ra. Berkata, <i>“Rasulullah adalah orang yang paling lunak hatinya, mudah tersenyum dan tertawa.</i>” (HR Ibnu Saad).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Sebaliknya, seorang istri juga perlu selalu menyambut suami dengan menampakkan wajah berseri-seri dan memakai wewangian. Ketika bercakap-cakap, buatlah suasana<span>  </span>santai dengan mendahulukan kabar yang menyenangkan<span>  </span>dan disertai senda gurau.<span>  </span>Sikap demikian akan membawa kesegaran bagi keduanya setelah seharian bergelut dengan kegiatan masing-masing. Ketika ada hal yang kurang berkenan, carilah waktu, tempat dan cara yang tepat untuk menyampaikannya. Tunjukkan bahwa penegur tidak berarti lebih baik dari yang ditegur. Adapun caranya sangat bergantung pada sifat suami, apakah lebih tepat disampaikan dalam bahasa yang jelas dan lugas atau dengan bahasa sindiran.<span>  </span>Yang jelas semua dimaksudkan untuk kebaikan, tidak untuk menjatuhkan dan menunjukkan kekurangannya. Kalaupun ada kelemahan suami yang agak sulit<span>  </span>diubah, hiburlah diri, dengan mengingat kebaikannya yang banyak, sebagaimana sabda Nabi saw., “<i>Janganlah seorang Mukmin (suami) membenci Mukminah (istri).<span>  </span>Jika ia membenci satu bagian, pasti ada bagian lain yang menyenangkannya</i>.” (HR Muslim).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Tentu hadis ini berlaku sebaliknya. Kehangatan dan kasih sayang dalam keluarga juga meliputi hubungan antara orangtua dan anak. Biasakanlah memanggil anak dengan nama kesayangannya ataupun harapan yang baik, seperti <i>anak salih</i>, <i>pintar</i>, <i>berani </i>dan lain-lain. Ketika anak dikondisikan demikian, maka akan terbentuk konsep diri yang positif pada dirinya, sehingga anak termotivasi<span>  </span>menjadi seperti yang diharapkan.<span>  </span>Anak yang tumbuh dalam suasana keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang akan lebih percaya diri dalam menghadapi kehidupan di kemudian hari.<i></i></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Keenam</span></i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">: Di tengah<span>  </span>kesibukan anggota keluarga sehari-hari, penting untuk menyempatkan rekreasi bersama. Rekreasi tidak identik dengan wisata yang mengeluarkan biaya mahal, tetapi cukup dengan berkumpul di tempat yang<span>  </span>santai, bersenda gurau bersama dan melepaskan segala rutinitas yang melelahkan.<span>  </span>Kegiatan ini juga bisa dilakukan di rumah, misal dengan berkebun, olahraga,<span>  </span>menonton tayangan, bermain air, bahkan sambil mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci atau mengepel.<span>  </span>Intinya kegiatan ini dilakukan oleh seluruh anggota keluarga dalam suasana yang santai dan menyenangkan. Sesekali bisa saja diselipkan cerita lucu dan bermain tebak-tebakan. Seorang istri harus pandai memanfaatkan waktu, meskipun singkat, guna mengkondisikan kegiatan seperti ini.<span>  </span>Kesegaran yang didapatkan, sangat membantu semuanya untuk kembali beraktivitas rutin di hari berikutnya.<i></i></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Ketujuh</span></i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">: Hal yang tidak kalah pentingnya dalam keluarga adalah fungsi religius. Jika fungsi ini tidak terlaksana dengan baik, sebuah keluarga akan merasakan kegersangan batin, seberapapun tercukupi kebutuhan materi. Suasana ibadah dapat ditumbuhkan di tengah keluarga dengan terbiasa melakukan shalat berjamaah, tadarus bersama, shaum sunnah dan qiyamullail.<span>  </span>Rasulullah saw. memuliakan suami istri yang terbiasa melakukan qiyamullail bersama, <i>“Semoga Allah merahmati lelaki yang bangun malam, mengerjakan shalat dan membangunkan istrinya. Jika istrinya enggan bangun, ia memercikkan air di wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang istri yang bangun malam, mengerjakan shalat dan membangunkan suaminya.<span>  </span>Jika suaminya enggan, ia memercikkan air di wajahnya</i>. (HR Abu Dawud dan Ibn Majah).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Subhânallâh</span></i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">! Betapa indahnya kebersamaan seperti ini, apalagi jika dilakukan<span>  </span>oleh seluruh anggota keluarga.<span>  </span>Seorang istri dapat membiasakan hal seperti ini di tengah keluarganya agar keluarga tersebut menjadi keluarga yang selalu dekat dan bertakwa kepada Allah Swt. Dengan demikian, setiap cobaan dan ujian yang menimpa keluarga akan dapat dihadapi dengan sikap sabar dan tawakal kepada Allah Swt.<i></i></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;"><br />
<b>Khatimah</b></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Demikian tuntunan yang dapat dilakukan seorang perempuan dengan perannya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga untuk membawa keluarganya menjadi keluarga yang harmonis; <i>sakînah mawaddah wa rahmah</i>.<span>  </span>Adanya kerjasama dengan suami akan sangat membantu tugas yang sangat berat ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">Semoga Allah Swt. memberikan balasan atas setiap upaya yang kita lakukan dengan pahala yang berlipat ganda di sisi-Nya. Amin<i>. (www.baitijannati.wordpress.com)</i></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;">Sumber : Majalah Al Waie edisi Desember 2007</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/129/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/129/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/129/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=129&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2007/12/09/mengoptimalkan-peran-ibu-rumah-tangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db4c5e4e99c900e96651e7e7268e5a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ibu Pencetak Generasi Unggul</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2007/06/28/ibu-pencetak-generasi-unggul/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2007/06/28/ibu-pencetak-generasi-unggul/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jun 2007 06:24:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/2007/06/28/ibu-pencetak-generasi-unggul/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh  Ir. Arini Retnaningsih
 baitijannati. Ibu adalah  sekolah yang jika engkau telah mempersiapkannya berarti engkau telah  mempersiapkan suatu bangsa yang mempunyai akar-akar yang baik (M.  Nashih Ulwan) 
Belakangan ini  kita sering dikejutkan dengan berbagai fenomena yang terjadi di kalangan  anak-anak.  Bukan hanya remaja, tetapi anak-anak SD bahkan TK [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=98&subd=baitijannati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Oleh  <strong>Ir. Arini Retnaningsih</strong></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"> </span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><em><strong>baitijannati. </strong>Ibu adalah  sekolah yang jika engkau telah mempersiapkannya berarti engkau telah  mempersiapkan suatu bangsa yang mempunyai akar-akar yang baik</em> (<strong>M.  Nashih Ulwan</strong>)</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"> </span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Belakangan ini  kita sering dikejutkan dengan berbagai fenomena yang terjadi di kalangan  anak-anak.  Bukan hanya remaja, tetapi anak-anak SD bahkan TK yang masih  ‘hijau”.  Berjatuhannya korban-korban <em>smackdown</em>, dua di antaranya  meninggal.  Kebanyakan korban adalah anak SD dan TK.  Ada pula anak-anak yang  melakukan perbuatan nekat, mengakhiri hidupnya di usia yang begitu muda hanya  karena masalah sepele.  Belum masalah tawuran pelajar yang terus marak, dan  narkoba yang menghantui anak-anak, bahkan anak SD sekalipun.  Terakhir kasus  Irfan, anak berusia 10 tahun yang tega mencekik dan mengiris-iris anak  tetangganya yang masih TK.  Penyebabnya hanya karena sakit hati sering diledek,  sesuatu yang biasa terjadi di kalangan anak-anak.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"> </span></span></span><span id="more-98"></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Banyak di antara  kita yang lantas bertanya-tanya, ada apakah dengan anak-anak kita?  Bila kita  kaji dengan cermat, pertanyaan ini sebenarnya salah alamat.  Anak-anak kita  adalah anak-anak yang sama dengan kita sewaktu masih anak-anak.  Sama-sama  memiliki rasa ingin tahu yang  tinggi, sama-sama selalu ingin meniru, dan  sama-sama belum mampu membedakan mana realita, mana  rekayasa.</span></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Yang membedakan  antara kita dan anak-anak kita sekarang adalah lingkungan yang tidak sama.  Dulu  di zaman kita tidak ada smackdown.  Tidak ada sinetron cengeng yang mengajarkan  bunuh diri sebagai solusi, tidak ada pula tayangan film sadis yang penuh dengan  kekerasan.  Dan terutama lagi, dulu kebanyakan kita masih didampingi oleh  ibu.</span></span></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Apa hubungannya  dengan ibu?  Ya, dulu ibu kita masih banyak punya waktu untuk mendidik kita,  mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan menunjukkan mana yang salah.  Ibaratnya  kita masih memiliki perisai yang melindungi kita dari berbagai hal buruk yang  terjadi di sekitar kita.</span></span></span></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Sekarang,  anak-anak kita tidak memiliki perisai itu.  Ibu-ibu saat ini lebih banyak yang  menghabiskan waktu di luar rumah mencari uang.  Atau kalaupun di rumah, ibu-ibu  tersibukkan dengan berbagai tayangan televisi seperti sinetron, telenovela dan  infotainment.  Alih-alih anak dilindungi dari tayangan yang tidak mendidik,  malahan anak-anak diajak ikut nonton, menghabiskan sebagian besar waktunya di  depan televisi.</span></span></span></span></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><strong>Peran  Ibu</strong></span></span></span></span></span></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Berkembangnya ide  feminisme yang begitu pesat beberapa waktu terakhir ini, terasa pengaruhnya  terhadap cara pandang masyarakat terhadap peran ibu.  Peran ibu dianggap tidak  produktif karena tidak menghasilkan materi.  Bahkan beberapa pihak cenderung  menganggap peran ibu mendomestikasi perempuan dan menempatkan perempuan dalam  posisi inferior, tersubordinasi peran suami.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">  </span></span></span></span></span></span></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Padahal, fakta  membuktikan bahwa peran ibu dalam pendidikan anak tidaklah tergantikan.    Masa-masa 0 – 6 tahun bagi anak adalah masa keemasan pertumbuhan dan  perkembangannya.  Pada usia ini,  otak anak terbentuk sampai 80 %, kecerdasan  dan dasar-dasar kepribadiannya mulai terbentuk.  Karena itu, masa ini  membutuhkan pendampingan dari sosok yang intens mengikuti pertumbuhan dan  perkembangannya, yang mampu memberikan stimulasi optimal dengan penuh kasih  sayang. </span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Pembantu atau  pengasuh bayi tentu jauh dari kriteria itu.  Tempat Penitipan  Anak atau  kelompok bermain yang diikuti anak juga tidak dapat memberikan stimulasi  optimal.  Tempat ini dirancang untuk menangani banyak anak, sehingga kebutuhan  individu anak akan kasih sayang tidak terpenuhi seperti bila ibu yang intens  mengasuhnya.  Kasih sayang adalah salah satu makanan otak, yang membuat otak  berkembang optimal selain gizi dan  stimulasi. </span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Pengasuhan dengan  kasih sayang yang tulus juga dibutuhkan anak dalam perkembangan kecerdasan  emosionalnya.  Ketika anak merasa disayang, ia belajar untuk menghargai dirinya,  menumbuhkan rasa percaya diri, kemampuan untuk berempati dan berbagi kasih  sayang kepada orang  lain. </span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Berbeda dengan  anak yang kekurangan kasih sayang.  Mereka cenderung mengembangkan perasaan  negatif, merasa tidak diterima sehingga penghargaan terhadap dirinya sendiri  rendah.  Anak seperti ini akan cenderung menjadi anak tertutup, rendah diri dan  menyimpan potensi gagal dalam kehidupannya.</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">  </span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Kasih sayang yang  tulus dan berlimpah tentulah datang dari seorang ibu.  Pemahaman yang utuh  terhadap anak juga tentu datang dari ibu.  Bila fungsi ibu terabaikan karena ibu  harus keluar rumah, maka adakah fungsi ini akan  tergantikan?</span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><strong>Mengambil  Pelajaran dari Ibu Para  Tokoh</strong></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Thomas Alva  Edison, tentu kita semua mengenal nama ini.  Dia adalah penemu besar yang  memiliki ribuan hak paten.  Namun tahukah anda bahwa dia hanya mengenyam dunia  pendidikan formal hanya 3 bulan  ?</span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Thomas Alva Edison  dikeluarkan dari sekolahnya karena gurunya beranggapan ia terlalu bodoh untuk  bersekolah.  Ibu Edison tidak mempercayai hal tersebut.  Dengan gigih ia didik  sendiri Edison di rumah.  Apa yang dilakukannya tidak sis-sia.  Edison menemukan  potensi terpendamnya sebagai seorang peneliti.  Usia 10 tahun, ia telah memiliki  laboratorium  pribadi. </span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Lebih dari apa  yang didapat Edison bila bersekolah, ibu Edison mengajarkan juga keuletan  berjuang dan kemandirian.  Di usia begitu muda, Edison berjualan koran untuk  membiayai sendiri penelitian-penelitiannya.  Bayangkan apa yang terjadi bila ibu  Edison bersikap sama dengan gurunya.  Mungkin listrik akan terlambat ditemukan.   Dan itu berarti penemuan-penemuan yang terkait listrik juga akan  terhambat.</span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Ibu  <strong><em>Imam Syafi’i</em></strong> mewakili perjuangan ibu dari tokoh-tokoh  agama.  Suaminya meninggal sebelum Imam Syafi’i lahir.  Ia membesarkan Syafi’i  sendirian.  Memotivasinya untuk belajar.  Usia 7 tahun Syafi’i sudah hafal  Alquran.  Guru-guru ia datangkan untuk mengajar Syafi’i, biarpun untuk itu ia  harus bekerja keras untuk biaya belajar  anaknya..</span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Tidak sedikit  tokoh yang sukses karena peran seorang ibu di belakangnya.  Mungkin nama para  ibu ini tidak pernah tercatat dalam sejarah.  Namun anak-anak mereka tercatat  dengan tinta emas.  Dan itu cukup menjadi bukti eksistensi  ibu.</span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><strong>Dilema  Ibu</strong></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Berperan sebagai  ibu ideal tentu adalah cita-cita seorang ibu.  Mendampingi anak, mendidik mereka  dengan baik dan mencetak mereka menjadi generasi unggul yang akan mewarisi  negeri ini.  Namun, ibu dihadapkan pada banyak  tantangan.</span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Tantangan terbesar  tentu faktor <em>ekonomi</em>.  Banyak ibu yang terpaksa meninggalkan rumah  untuk ikut menopang ekonomi keluarga.  Gaji suami yang tidak memadai, sementara  harga-harga kebutuhan yang makin melambung tinggi, membuat para ibu turun tangan  ikut  bekerja. </span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Kondisi ini  membuat anak-anak tumbuh tanpa kontrol dan pendidikan yang tepat.  Tidak ada  yang peduli apa yang ditonton anak dan  apa yang dilakukan anak bersama  teman-temannya. Orangtua hanya bisa terkejut saat anak ketahuan terlibat masalah  serius atau menjadi korban. Tawuran, narkoba, pergaulan bebas, atau kasus  kriminal.</span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Tantangan  <em>kedua</em> adalah pengetahuan ibu terhadap pendidikan anak.  Berapa banyak  ibu yang hanya tinggal di rumah namun tidak mampu mendidik anak dengan baik.  Ia  tidak mengenal potensi yang dapat dikembangkan pada anak dan bagaimana  mengembangkannya.</span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Lebih parah adalah  ibu yang bekerja dan sekaligus tidak mampu mendidik anak.  Ibu-ibu semacam ini  tidak memiliki target dalam mendidik anak.  Anak dibiarkan seperti air mengalir  terserah mau jadi apa  nantinya.</span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Kondisi ibu  semacam ini tentu tidak bisa diharapkan dapat melahirkan generasi unggul.   Pemerintah seharusnya memiliki kepedulian yang besar dalam masalah ini.   Bukankah generasi unggul yang dapat melepaskan bangsa ini dari krisis yang terus  membelit?  Apakah kita akan bertahan dengan berbagai kerusakan yang melanda  bangsa ini ?  Pepatah bahkan mengatakan bahwa pemimpin yang sukses adalah  pemimpin yang berhasil mencetak pemimpin yang lebih  baik.</span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Selama ibu masih  harus disibukkan dengan mencari nafkah, selama ibu masih tidak memahami  pendidikan anak, selama itu pula generasi unggul tidak akan lahir. Bangsa kita  akan terus terpuruk tidak mampu  bangkit.</span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Tugas pemerintah  adalah menjamin agar ibu bisa menjalankan peran keibuannya dengan sempurna.   Bukan malah mendorong ibu untuk bekerja keluar rumah, bahkan keluar negeri  dengan memberikan julukan pahlawan devisa.  Itu sama artinya negara ini tengah  menjual masa  depannya.</span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Tugas negara pula  untuk menjamin pendidikan para ibu. Pendidikan dengan kurikulum yang tepat.   Agar para ibu tidak hanya menjadikan materi sebagai orientasi hidupnya.  Namun  sesungguhnya, ibu punya tanggungjawab besar di pundaknya untuk masa depan  bangsa.  Maka, tidak salah kalau dikatakan perempuan adalah tiang negara.  Bila  tiang itu roboh, maka tunggulah waktu keruntuhan negara. (www.baitijannati.wordpress.com)<br />
<span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><em>Dosen di  beberapa PGTK di Bogor, trainer dan konsultan pendidikan  anak.</em></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></span></p>
<p>Sumber : HTI Online</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/98/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/98/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/98/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=98&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2007/06/28/ibu-pencetak-generasi-unggul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db4c5e4e99c900e96651e7e7268e5a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Saatnya Peduli Ibu dan Generasi</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2007/06/28/saatnya-peduli-ibu-dan-generasi/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2007/06/28/saatnya-peduli-ibu-dan-generasi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jun 2007 06:22:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Pribadi Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/2007/06/28/saatnya-peduli-ibu-dan-generasi/</guid>
		<description><![CDATA[ 			 			 		
Oleh : Kholda Naajiyah
&#160;
baitijannati. Kesadaran  akan pentingnya tugas-tugas ibu yang tak tergantikan oleh siapapun ini, bahkan  sudah menjadi trend di negara maju sejak lama. Di Amerika (yang sering menjadi  barometer penggiat Feminisme), gerakan keluar rumah mulai ditinggalkan oleh kaum  perempuan. Mereka berbondong-bondong memutuskan back to family. Berawal  [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=97&subd=baitijannati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><form name="spamform" method="post" action="/ym/blocksender2?box=Inbox&amp;MsgId=8573_6139043_11500_1675_19628_0_1487_72464_1192212081&amp;inc=&amp;Search=&amp;YY=37281&amp;y5beta=yes&amp;y5beta=yes&amp;order=down&amp;sort=date&amp;pos=0&amp;view=a&amp;head=b"> 			 			 		</form>
<p align="center"><strong>Oleh : Kholda Naajiyah</strong></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><em><strong>baitijannati. </strong></em>Kesadaran  akan pentingnya tugas-tugas ibu yang tak tergantikan oleh siapapun ini, bahkan  sudah menjadi trend di negara maju sejak lama. Di Amerika (yang sering menjadi  barometer penggiat Feminisme), gerakan keluar rumah mulai ditinggalkan oleh kaum  perempuan. Mereka berbondong-bondong memutuskan <em>back to family</em>. Berawal  dari meluasnya sindrom <em>Cinderella Complex</em>, yakni perasaan akan  kegamangan sebagai “<em>public woman</em>”, bermunculanlah organisasi-organisasi  yang mendukung kembalinya kaum ibu kepada tugas domestik, sebagai pengatur rumah  tangga dan pendidik utama anak-anak.</span><span id="more-97"></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Mula-mula muncul  <em>Moms Offering Mom Support Club</em> yang berdiri sejak 1983. Lalu Yayasan  <em>Mothers at Home</em> yang berdiri 1984, Mothers &amp; More tahun 1987 dan  masih banyak lagi. Tak heran jika angka statistic partisipasi perempuan dalam  karier di ranah public terus menurun (<em>USA Today</em>,  10/05/1991).</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Di negeri  ini, Majelis Ulama Indonesia pernah mengkampanyekan <em>Gerakan Kembali ke  Rumah</em> pada tahun 2004 (<em>Republika</em>, 16/12/04). Sayang, gaungnya  ditenggelamkan oleh jargon yang didengungkan oleh para aktivis perempuan. Entah  tidak mengapa, adanya titik balik perjuangan kaum Feminis internasional yang  terbukti telah gagal mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan tidak  dijadikan pelajaran bagi Feminis di tanah air untuk merevisi  gerakannya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Akibatnya, Feminis  di tanah air masih juga dengan lantang mengajak kaum ibu untuk  berbondong-bondong keluar rumah dan mencari eksistensi diri di ruang publik.  Dengan dalih kemandirian, khususnya kemandirian ekonomi, kaum perempuan dipaksa  meninggalkan tugas dan kewajibannya sebagai ibu, pengatur rumah tangga sekaligus  pendidik anak-anak.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Betapa  tidak, kini lebih banyak anak-anak yang dibesarkan di <em>Tempat Penitipan  Anak</em> (TPA), <em>play group</em>, <em>kindergarten</em> dan sejenisnya.  Anak-anak tumbuh berkat sentuhan baby sitter dengan imbalan rupiah yang  menggiurkan, bukan di tangan ibunya dengan penuh kasih sayang dan keikhlasan  serta gratis. Maklum, ibu yang semakin sibuk hanya punya waktu akhir pekan saja  untuk memperhatikan buah hatinya. Itupun kalau tidak ada PR dari kantor atau  tidak dinas ke luar kota.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Ibu-ibu  juga semakin merasa benar dan tenang keluar rumah karena diperkuat oleh apologi  yang salah kaprah, seperti “saya bekerja kan juga demi anak” atau “yang penting  kan kualitas, bukan kuantitas.”Ah, benarkah anak-anak yang masih kecil-kecil itu  mereka tanya dan memang menghendaki ditinggal ibunya? Juga, benarkah kualitas  dapat dicapai tanpa memperhatikan kuantitas? Sebuah asumsi yang layak  diperdebatkan kebenarannya.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><strong>Potret  Buram Anak</strong></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Terabaikannya  peran ibu sebagai pelahir generasi dan pendidik utama anak-anak, telah  melahirkan sisi-sisi kelam dunia anak. Memang, terabaikannya peran ibu bukanlah  “penyebab” tunggal, karena ada faktor sistemik seperti lingkungan dan negara  yang berpengaruh. Namun fakta membuktikan, banyak anak-anak “gagal” lahir dari  sebuah rumah tangga dimana tidak ada figur sentral sebagai pendidik.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Ketika  kedua orang tua sama-sama sibuk mencari nafkah, ketika seorang ibu mengalihkan  tugas pengasuhan dan pendidikan anak-anaknya kepada pihak lain, lahirlah  generasi-generasi bermasalah yang haus akan kasih sayang. Ya, kepribadian  anak-anak dewasa ini cenderung labil, semakin tidak cerdas dan bahkan cenderung  liar.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Kasus  bunuh diri pada anak-anak, bahkan balita adalah contohnya. Selanjutnya anak-anak  banyak yang terlibat seks bebas, narkoba, hamil di luar nikah, aborsi, hingga  tindak kriminalitas. Bayangkan, di Kediri anak usia 12 tahun membunuh balita  berusia 4 tahun. Dari mana inspirasi membunuh itu ia peroleh? Apakah orang  tuanya mengajarkan? Tentu tidak.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Semua itu  terjadi karena anak-anak kurang mendapatkan pelajaran dari orang tuanya,  khususnya ibu. Sementara banyak sekali “pelajaran” yang ia serap dari mana saja,  khususnya di luar rumah. Anak yang belum sempurna akalnya itu, sejatinya  membutuhkan bimbingan untuk memilih mana yang benar dan mana yang salah.  Ironisnya, ”bimbingan” itu mereka serap dari sumber yang salah. Entah dari  teman-teman, artis idolanya, majalah, buku atau bahkan televisi.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><strong>Kembalikan  Fungsi  Keluarga dan Ibu</strong></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Ketika  lahir, seorang anak merupakan makhluk yang tidak berdaya dan amat tergantung  pada orang yang terdekat dengan dirinya. Dan, idealnya orang terdekat itu adalah  ibunya. Menurut Neuman (1990)  usia 20-22 bulan merupakan masa penting hubungan  ibu-anak dan pembentukan diri individu, yang disebut Neuman <em>primal  relationship</em>. Dalam pandangan ahli social learning maka apa yang dilakukan  oleh ibu terhadap anaknya merupakan proses yang diadopsi oleh si anak melalui  proses <em>social-modelling</em>. Bagaimana cara ibu mengasuh, apakah dengan  penuh kelembutan dan kasih sayang atau apakah dengan kasar dan amarah serta  penolakan akan membentuk perilaku manusia muda tersebut.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Begitu  penting peran keluarga khususnya ibu dalam membentuk karakter anak sejak dini  bahkan sejak ia di dalam kandungan. Keluarga memiliki peran yang besar disamping  sekolah dalam memberikan pengetahuan tentang nilai baik dan buruk kepada  anak-anaknya. Keluarga pulalah wadah dimana anak dapat menerapkan nilai-nilai  yang diajarkan di sekolah, maupun di institusi keagamaan. Mengentaskan anak-anak  bermasalah harus dimulai dengan mengembalikan fungsi keluarga sesuai nilai-nilai  ajaran moral dan agama.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Fungsi  keluarga akan berjalan dengan baik dimulai dari pembenahan kualitas calon  pasangan suami istri, calon ayah dan ibu dan suami istri. Mereka  hendaklah  diberikan pembinaan dan pembekalan memadai supaya paham betul hak dan kewajiban  sebagai seorang ayah dan ibu terhadap anak. Disamping memahami tangggung jawab  mereka dalam melindungi hak-hak anak-anak mereka. Negara memfasilitasi segala  upaya pengembalian fungsi keluarga terutama ibu pada posisinya   semula.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><strong>Penutup</strong></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';">Bangsa  ini sedang mengalami krisis rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM). Semua menyadari  itu. Bahkan semua sepakat –termasuk negara— akan pentingnya melahirkan  generasi-generasi yang berkualitas, baik dari sisi pendidikan, sain maupun  moral. Generasi seperti itu hanya bisa terwujud dengan memberikan ruang yang  nyaman bagi kaum ibu untuk mendidik anak-anaknya, khususnya pada usia dini.  Sebab pada usia kritis inilah masa depan anak ditentukan. Untuk itu negara harus  memberikan support demi keberlangsungan peran dan tugas kaum ibu. Inilah saatnya  untuk peduli ibu dan generasi!(*) (www.baitijannati.wordpress.com)<br />
</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:'Verdana';"><em>Peminat  masalah anak-anak, remaja dan wanita, Aktivis Hizbut Tahrir  Indonesia</em></span></p>
<p>Sumber : HTI Online</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/97/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/97/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=97&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2007/06/28/saatnya-peduli-ibu-dan-generasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db4c5e4e99c900e96651e7e7268e5a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kalau Suamiku Sih&#8230;</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2007/06/01/kalau-suamiku-sih/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2007/06/01/kalau-suamiku-sih/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jun 2007 02:19:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga Samara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/2007/06/01/kalau-suamiku-sih/</guid>
		<description><![CDATA[Baitijannati. Suamiku ke luar kota lagi. Terpaksa deh nggak belanja ke pasar, nunggu tukang sayur aja yang biasa beredar di komplek. Waduh! Ibu-ibu, para tetanggaku udah pada ngumpul. Bakalan seru nih. Mereka tengah mengelilingi gerobak sayur yang berhenti tak jauh dari rumahku. Percakapan nggak penting pun meramaikan suasana pagi. Biasalah ibu-ibu&#8230;

&#8220;Mbak, suaminya ke luar kota [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=86&subd=baitijannati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="domon" style="margin:0 0 0.0001pt;"><strong><em><span>Baitijannati. </span></em></strong><span>Suamiku ke luar kota lagi. Terpaksa deh nggak belanja ke pasar, nunggu tukang sayur aja yang biasa beredar di komplek. Waduh! Ibu-ibu, para tetanggaku udah pada ngumpul. Bakalan seru nih. Mereka tengah mengelilingi gerobak sayur yang berhenti tak jauh dari rumahku. Percakapan nggak penting pun meramaikan suasana pagi. Biasalah ibu-ibu&#8230;</span><span id="more-86"></span><br />
<span><br />
<em>&#8220;Mbak, suaminya ke luar kota lagi ya?”</em> tanya seorang tetanggaku padaku saat<br />
aku baru saja mengucapkan salam pada mereka.</p>
<p>Rata-rata tetanggaku masih muda juga, nggak jauh usianya dariku.</p>
<p><em>&#8220;Kalau saya sih, kalau suami saya lagi keluar kota, bawaannya tuh pingin<br />
tau aja dia lagi di mana, lagi ngapain.&#8221;</em> Sahut seorang tetanggaku tiba-<br />
tiba.</p>
<p><em>&#8220;Suami mbak suka nelfon nggak?&#8221;</em> tanya seorang tetanggaku yang lain padaku.</p>
<p>Duh, ibu-ibu sukanya ngurusin orang lain aja deh, gumamku dalam hati. Aku<br />
sih hanya bisa tersenyum.</p>
<p><em>&#8220;Kalau suami saya nih ya&#8230; &#8220;</em> kata tetangga depan rumahku, &#8220;<em>mesti diingetin<br />
dulu sebelum berangkat ’ntar kalo udah nyampe telfon’. Gitu&#8230; Kalo nggak<br />
diingetin bisa nggak ada kabar sampe pulang lagi ke rumah.&#8221;<br />
</em><br />
<em>&#8220;Iya memang&#8230; mereka nyantai aja, tapi kita yang khawatir di rumah.&#8221;<br />
sambung yang lain.<br />
</em><br />
Dalam hati, kalau suamiku sih&#8230; tiap ke luar kota tujuannya jelas, bagian<br />
dari pekerjaannya. Jadi gimana mau khawatir?! Emang sih dia nggak pernah<br />
nelfon aku untuk ngasih tau dia sedang apa. Tapi cukup hanya dengan miscal<br />
aku, aku tahu kok dia ngapain aja.</p>
<p>Tiap pagi jam 3 dia miscal, tanda dia udah bangun, mau sholat malem. Jam 5<br />
miscal lagi tanda dia udah sholat subuh, mau ngaji. Miscal Jam 7 tandanya<br />
dia udah makan, udah siap mau beraktivitas. Miscal jam 12 tandanya dia mau<br />
sholat zhuhur trus makan siang. Miscal jam 3 sore tandanya dia mau sholat<br />
ashar. Miscal jam 6 tandanya dia mau sholat maghrib dan diam di masjid<br />
sampe isya. Jam 8 malam dia miscal lagi tanda dia udah makan malam. Kalau<br />
deringnya lama tandanya dia mau ngobrol sama aku atau anak-anak. Kalau<br />
nggak, ya berarti dia capek banget, mau langsung tidur.</p>
<p><em>&#8220;Kalo jeng ini mana khawatir, ibu-ibu.&#8221;</em> bela tetangga sebelah<br />
rumahku, <em>&#8220;Lihat dong jilbabnya. Tinggal berserah diri sama Tuhan, ya<br />
sudah.&#8221;</em> diikuti dengan anggukan ibu-ibu yang lain.</p>
<p><em>&#8220;Kalau suami saya itu ada lucunya juga&#8230; &#8220;</em> kata tetanggaku yang sedang<br />
memilih2 sayur bayam, <em>&#8220;kadang-kadang tengah malem dia nelfon ke rumah cuma<br />
mo bilang selamat tidur aja. Hi hi&#8230;&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Wah, Kalo suami saya sih, suka nggak sensi. Kalo saya nelfon bilang lagi<br />
kangen sama dia, dia cuma bilang ’besok juga aku pulang’&#8230; Mbok ya bilang<br />
kangen juga gitu lho. Nggak sensi deh, nggak romantis!&#8221;</em> gerutu seorang<br />
tetanggaku. <em>&#8220;Kalau suami mbak? Romantis nggak?&#8221;</em> tanyanya padaku.</p>
<p>Walah?! Aku hanya tertawa kecil, lebih sibuk memilih ikan daripada ikut<br />
nimbrung percakapan mereka.</p>
<p><em>&#8220;Eh jangan salah. Jeng ini suaminya romantis buanget.&#8221;</em> bela tetangga<br />
sebelah rumahku lagi.</p>
<p>Lha?! Aku jadi bingung. Kok malah dia yang lebih tahu.</p>
<p><em>&#8220;Pernah nih&#8230;&#8221;</em> lanjutnya, <em>&#8220;pagi-pagi Jeng ini bikin kopi anget. Suaminya<br />
lagi duduk2 di depan rumah. Saya lagi nyapu halaman. Abis diminum sedikit<br />
sama suaminya, dia minta Jeng ini nyicipin. Ternyata kopinya itu pahit,<br />
lupa dikasih gula. Tapi gelasnya langsung ditarik sama suaminya. Tau nggak<br />
kata suaminya? Katanya gini&#8230; ’udah nggak pa pa, abis dicicipin dinda<br />
tadi, langsung manis tuh’. Gituuu&#8230;&#8221;<br />
</em><br />
<em>Waaa?!</em> Semua orang memandangku&#8230; rasanya wajah ini sudah memerah jambu.<br />
Tapi aku jadi inget kejadian sore itu. Hi hi hi. Lucu juga.</p>
<p><em>&#8220;Waduh waduh&#8230; nggak nyangka lho mbak.&#8221;</em> komentar tetanggaku, <em>&#8220;Ternyata di<br />
balik itu&#8230;&#8221;<br />
</em><br />
<em>&#8220;Makanya jangan kayak nuduh suami orang nggak romantis gitu dong.&#8221;</em> sahut<br />
tetanggaku yang lain.</p>
<p><em>&#8220;Kalo suami saya mah jauh dari romantis. Kalo saya lagi pusing, pinginnya<br />
kan dimanja, dipijetin. Eee ini malah disuruh minum obat. Kalo nggak ada,<br />
beli sendiri ke warung.&#8221;</em> gerutu seorang tetanggaku.</p>
<p><em>&#8220;yah betul atuh. Kalo pusing mah minum obat, masa minum racun.&#8221;</em> sahut si<br />
akang tukang sayur yang ternyata mengikuti perbincangan pagi itu. Tawa ibu-<br />
ibu pun menyambut ceplosannya. Aku jadi ikut ketawa juga. Tukang sayurnya<br />
ikut-ikutan aja deh.</p>
<p>Pikir-pikir, Kalo suamiku sih&#8230; kalo nemenin belanja, selalu ngangkatin<br />
barang2 belanjaan. Kalo aku masak pagi2 untuk sarapan, dia pasti nemenin<br />
aku duduk di ruang makan walaupun sebenernya dia masih ngantuk, nggak tega<br />
katanya kalo aku sendirian di dapur. Kalo aku lagi males nyetrika, dia<br />
bilang ’udah besok aja’, padahal baju itu mo dipake besok itu juga. Emang<br />
sih dia nggak bantuin nyetrika. Tapi aku kan jadi nggak beban.</p>
<p>Tapi apakah suamiku romantis, aku masih ragu&#8230; Pernah suatu kali saat<br />
suamiku berada dalam perjalanan ke luar kota. Aku lagi iseng nih ceritanya.<br />
Aku sms dia, <em>&#8220;abang, malam ini gelap ya? oh iya, kan bulannya lagi ke luar<br />
kota.&#8221;</em> Dan tak berapa lama dia membalas, <em>&#8220;nggak ada bulan tuh disini, nda.<br />
gelap juga, sama.&#8221;</em> He he he&#8230; ternyata dia nggak ngerti maksudku.</p>
<p>Tapi ah, ngapain aku pikirin. Romantis gak romantis, tetep cinta kok.</p>
<p>Tiba-tiba hp-ku berbunyi di kantong gamisku.</p>
<p><em>&#8220;Wah, ada sms ya, Jeng. Pasti dari suaminya.&#8221;</em> goda tetangga sebelah rumahku.</p>
<p><em>&#8220;Iya&#8230; tadi pagi saya sms nanyain gimana pagi di sana. Ini pertama kalinya<br />
dia datang ke kota itu.&#8221;</em> jawabku sambil membaca apa yang tertulis di layar<br />
hp-ku itu.</p>
<p><em>&#8220;Apa jeng katanya?&#8221;</em> usik tetanggaku yang penasaran melihat aku tersenyum<br />
geli.</p>
<p><em>&#8220;Nggak penting kok.&#8221;</em> jawabku sambil memasukkan semua belanjaanku ke dalam<br />
plastik dan membayarnya. <em>&#8220;Yuk, ibu-ibu&#8230; assalaamu’alaykum.&#8221;</em> Aku pun pamit<br />
pulang ke rumah.</p>
<p>Hmmm, masih dengan senyuman ini&#8230; tak bisa hilang kata-kata yang terbaca<br />
di layar hp itu dari benakku, jawaban saat kutanya keadaan pagi di kota<br />
tempat ia sedang berada.</p>
<p><em>&#8220;Dinda sayang&#8230; bagaimana hari bisa pagi di sini, sementara matahari<br />
terbit di mata dinda&#8221;<br />
</em><br />
Princess LL<br />
wife_wannabe@eramuslim.com</p>
<p><em>untuk pangeranku&#8230; tak perlu kau bacakan puisi dari bawah jendelaku,<br />
jangan pula kau culik aku dengan kudamu, ataupun kau taburkan mawar di<br />
sepanjang jalanku. Ketuk saja pintu itu, maka aku akan menerima apa adanya<br />
dirimu.</em><span> (<a href="http://www.baitijannati.wordpress.com/">www.baitijannati.wordpress.com</a>)</span></span></p>
<p class="domon" style="margin:0 0 0.0001pt;"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="domon" style="margin:0 0 0.0001pt;"><span>Sumber : prayoga.net</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/86/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/86/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=86&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2007/06/01/kalau-suamiku-sih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db4c5e4e99c900e96651e7e7268e5a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hamil Tanpa Masalah</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2007/05/28/hamil-tanpa-masalah/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2007/05/28/hamil-tanpa-masalah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 May 2007 11:54:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Info Sehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/2007/05/28/duka-istri-programer/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Doktor Muhammad Al-&#8217;atiq
  
Baitijannati. Kehamilan yang pertama adalah sesuatu yang sangat penting bagi perempuan daripada kehamilan yang ke dua atau ketiga dan seterusnya. Kehamilan pertama, biasanya perempuan banyak mengalami kekhawatiran; takut bercampur was-was, juga bahagia. Kecemasan ibu yang sedang hamil biasanya sekitar hamilnya, masa kelahiran, capeknya. Juga bahagia ketika para tetangga dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=83&subd=baitijannati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="fuko" style="text-align:center;margin:0 0 0.0001pt;" align="center"><strong><span style="color:black;">Oleh : Doktor Muhammad Al-&#8217;atiq</span></strong><strong><span></span></strong></p>
<p class="domon" style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>  </span><br />
<strong><em><span>Baitijannati. </span></em></strong><span>Kehamilan yang pertama adalah sesuatu yang sangat penting bagi perempuan daripada kehamilan yang ke dua atau ketiga dan seterusnya. Kehamilan pertama, biasanya perempuan banyak mengalami kekhawatiran; takut bercampur was-was, juga bahagia. Kecemasan ibu yang sedang hamil biasanya sekitar hamilnya, masa kelahiran, capeknya. Juga bahagia ketika para tetangga dan kawan memberikan ucapan selamat dan do&#8217;a atas kehamilannya itu.</span><span id="more-83"></span><span> </span></p>
<p class="domon" style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Oleh karena itu, yang terpenting bagi ibu hamil adalah ada orang yang memotivasinya, membesarkan hatinya, orang yang selalu bersamanya, membantunya. Untuk semua ini yang paling berpengaruh baginya adalah suaminya. Kehamilan pertama kali juga urgen bagi para dokter. Sebab banyak dari kasus naiknya kadar gula, tekanan darah dan yang lainnya, terjadi pada kehamilan pertama lebih banyak daripada pada kehamilan kedua, ketiga, dan seterusnya. Oleh karena itu, untuk mendapatkan kesehatan yang terbaik, ibu yang hamil mesti rutin datang ke dokter sehingga mereka bisa melakukan monitoring, evaluasi, dan mengantisipasi serta menyelesaikan permasalahan kesehatan yang dialami ibu hamil tersebut. Disamping jika ia rutin konsultasi dengan dokter, bisa menenteramkan jiwanya, membesarkan jiwanya untuk siap melakukan persalinan secara normal.</span></p>
<p><strong>Perubahan Fisiologis selama Hamil </strong><br />
Kenyataan menegaskan bahwa kehamilan tidak bisa diketahui kecuali setelah berjalan beberapa pekan sejak pembuahan. Akan tetapi ada sejumlah gejala yang muncul pada perempuan yang menunjukkan ia hamil pada masa dini sekali. Danmasing-masing perempuan berbeda dalam mengenali apakah ia sudah hamil ataukah belum, dimana hal itu bisa diketahui bisa karena ia pernah mengalami sekali atau dua kali atau lebih. Dan tanda-tanda yang sangat kentara adalah terhentinya haidh, kemudian ada perubahan fisik seperti kedua payudara terasa penuh dan nyeri, mual-mual, muncul garis hitam di perut, sering ABK (buang air kecil) karena adanya tekanan dari rahim terhadap kantung kemih, berlebihnya cairan farj (vagina -pent), merasa cepat lelah/capek, ingin tidur, ada perubahannafsu makan, tidak suka terhadap makanan dan aroma tertentu, serta merasa ada rasa tertentu di mulut.</p>
<p class="domon" style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Diantara perubahan fisik yang menyertai orang hamil adalah sering meludah. Dan tidak diketahui secara pasti sebab keterkaitan hal ini dengan kehamilan, kecuali karena sistem kontrol besarnya produksi air liur adalah kontrol syaraf pusat pada tekanan tertinggi. Dan dengan penambahan ini, maka orang yang hamil merasa sumpeg, akan tetapi hal ini tidak berarti ia sedang sakit. </span></p>
<p class="domon" style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Sesungguhnya penambahan kadar hormon ketika hamil itulah yang bertanggung jawab atas perubahan besar pada fisik. Diantara perubahan itu adalah perubahan pada kulit. Akan tetapi perubahan kulit ini tidak terjadi pada setiap orang yang hamil, akan tetapi mayoritasnya mengalami hal ini. Perubahan ini adalah perubahan yang tergolong alami, seperti perubahan warna pada sejumlah daerah, seperti diantara kedua mata, hidung, kedua pipi. Hal ini disebut dengan bintik-bintik. (lebih jelas lihat dalam info kesehatan di www.alsofwah.or.id dalam materi &#8220;kulit tetap indah selama hamil&#8221; -pent). </span></p>
<p class="domon" style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Dan termasuk penambahan berat badan adalah diantara ciri-ciri kehamilan yang alami. Penambahan yang alami adalahantara 10 &#8211; 12 kg selama masa kehamilan. Dan sejak bulan ke-4, penambahan sebanyak 1,5 kg per bulan. Adapun penambahan yang melebihi 15 kg maka hal ini bisa disebabkan oleh hal lain semacam diabets, atau penambahan cair anaminoni, ataupun yang lainnya.</span></p>
<p><strong>Kapan Lahir?</strong></p>
<p class="domon" style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Ada banyak ibu-ibu yang tidak melahirkan tepat pada waktu yang sudah diperkirakan oleh sang dokter; sehingga waktunya mundur atau terkadang malah lebih cepat sepekan atau lebih. Oleh karena itu, kapan sesungguhnya bayi lahir? 80 % kehamilan lahir pada usia 38 &#8211; 43 minggu usia kehamilan. Akan tetapi 10 %-nya melahirkan pada usia kehamilan di atas 42 minggu dan hal itu punmasih dianggap normal. </span></p>
<p class="domon" style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Melihat kepada penentuan perkiraan usia janin tidak mungkin bisa tepat 100 % pada usia-usia akhir dari kehamilannya, maka berkunjung (berkonsultasi/memeriksakan diri) ke dokter pada usia kehamilan 1 bulan hingga bisa mengikuti perkembangan kehamilannya, akan bermanfaat dalam perkiraan secara detail saat kelahiran. </span></p>
<p class="domon" style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Melihat karena mayoritas kehamilan yang persalinannya terlambat (mundur) lebih dari 42 minggu disebabkan karena sang ibu merasakan kesehatan yang amat baik dan tidak merasakan satu masalah kesehatan pun, akan tetapi dalam hal ini bisa berakibat bahaya bagi janin, sehingga perlu diwaspadai. Sebab plasenta adalah satu-satunya sumber pernafasan dannutrisi makanan bagi janin. Plasenta ini akan berkurang kadar dan kandungan makanannya jika usianya sampai di atas 42 minggu. Sehingga pada gilirannya, sang janin tidak tercukupi kebutuhan makanannya. Hal ini bisa menyebabkan terhambatnya perkembangan atau bahkan kekurangan cairan amnioni, bertambahnya sisa kotoran janin, bahkan bisa saja sampai menyebabkan sang janin mengalami sufokasi (mati lemas) karena banyaknya kotoran tersebut.<br />
Dan di saat kelahiran mundur dari waktu yang diperkirakan, para dokter menganjurkan ibu hamil untuk mengikuti perkembangan janin secara dekat melalui:<br />
* Banyaknya gerakan janin, yaitu sang ibu mencatat jumlah berapa kali sang janin bergerak di dalam rahim. Normalnya, janin akan bergerak sekitar 15 kali setiap harinya. Dan setiap perubahan hentakan dalam jumlah gerakan, maka itu menunjukkan bahwa janin merasa nyaman di dalam rahim;<br />
* Merubah posisi janin;<br />
* Dilihat melalui alat monitoring janin. Dengan alat ini bisa dilihat gerakan janin apakah alami (normal) ataukah tidak, jumlah kandungan cairan amnioni, dan kesimpulan atas berbagai perubahan terhadapplasenta.</span></p>
<p class="domon" style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Apabila ketiga cara di atas memberikan data bahwa janin alam keadaan tidak normal, maka mesti dilakukan persalinan buatan (operasi caesar) untuk menyelamatkan sang janin.</span></p>
<p><strong>Apa Yang Dikonsumsi Ibu Hamil </strong></p>
<p class="domon" style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span>Masa kehamilan adalah masa yang demikian urgen pada kehidupan perempuan. Oleh karena itu, harus memperhatian menu makanan khusus untuknya. Sebab ia membutuhkan lebih dari 15 % kalori setiap harinya, yaitu sekitar 300 kalori. Yang terpenting, penambahan makanan pada ibu hamil bukan pada jumlahnya, akan tetapi variasi nutrisi yang dibutuhkan tubuh adn janinnya sehingga terpenuhi kebutuhan nutrisi keduanya. Diantara kesalahan yang sering dijadikan pegangan adalah seorang ibuhamil mesti makan banyak sebab ia makan untuk dua orang. Perilaku yang salah inilah yang akhirnya menimbulkan kegemukan tanpa ada manfaat bagi kesehatan sedikitpun. Nutrisi yang dibutuhkan ibu hamil tidak berbeda dengan kebutuhan nutrisi secara umum, yaitu menu yang seimbang, yaitu yang mengandung seluruh unsur nutrisi yang dibutuhkan tubuh (untuk rincian nutrisi makanan ibu hamil, baca pada info kesehatan di www.alsofwah.or.id dengan judul &#8220;Bagaimana Wanita Hamil Ketika Makan&#8221; -pent). (Abm/dwh) <a href="http://www.baitijannati.wordpress.com/">www.baitijannati.wordpress.com</a></span></p>
<p class="domon" style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="color:black;">Sumber: Majalah Al-Usrah (Eindhoven-Belanda) /No. 56/041418H/071997M</span></p>
<p class="domon" style="text-indent:27pt;margin:0 0 0.0001pt;">diambil dari : www.prayoga.net</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/83/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/83/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=83&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2007/05/28/hamil-tanpa-masalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db4c5e4e99c900e96651e7e7268e5a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjadi “Ibu Tangguh”, Langka &amp; Berharga</title>
		<link>http://baitijannati.wordpress.com/2007/04/09/menjadi-%e2%80%9cibu-tangguh%e2%80%9d-langka-berharga/</link>
		<comments>http://baitijannati.wordpress.com/2007/04/09/menjadi-%e2%80%9cibu-tangguh%e2%80%9d-langka-berharga/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2007 03:42:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Farid Ma'ruf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://baitijannati.wordpress.com/2007/04/09/menjadi-%e2%80%9cibu-tangguh%e2%80%9d-langka-berharga/</guid>
		<description><![CDATA[Baitijannati. Bila ditanyakan kepada sejuta wanita “Apakah Anda ingin menjadi seorang Ibu?” Maka bisa dipastikan mereka semua akan menjawab “Ya!” Tapi bila ditanyakan “Kapan Anda siap menjadi Ibu?” Maka bisa jadi jawabannya akan beragam. “Wah nanti dulu deh&#8230;” “Belum siap mental nih&#8230;” “Nabung dulu deh biar bisa beliin susu anak&#8230;” “Punya mobil dulu aja ya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=69&subd=baitijannati&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;" class="MsoNormal" align="left"><em><span><strong>Baitijannati. </strong>Bila ditanyakan kepada sejuta wanita “Apakah Anda ingin menjadi seorang Ibu?” Maka bisa dipastikan mereka semua akan menjawab “Ya!” Tapi bila ditanyakan “Kapan Anda siap menjadi Ibu?” Maka bisa jadi jawabannya akan beragam. “Wah nanti dulu deh&#8230;” “Belum siap mental nih&#8230;” “Nabung dulu deh biar bisa beliin susu anak&#8230;” </span></em><em><span>“Punya mobil dulu aja ya, kasihan nanti kalau anak-anak pengen jalan-jalan jadi repot&#8230;” dan lain-lain</span></em><span>.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span id="more-69"></span><strong><span style="font-size:12pt;">Jadi Ibu? Nanti Dulu ah.. </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Semua wanita normal bisa dipastikan ingin menjadi seorang “Ibu”. Artinya, hanya komunitas perempuan abnormal saja yang dalam hidupnya tak ingin menjadi “Ibu”. Namun, tidak semua wanita siap dan ikhlas menjadi seorang “Fullday Moom” alias ibu rumah tangga. Buktinya, banyak ibu-ibu yang lebih banyak stressnya (baca: mengeluh) daripada cerianya tatkala mengasuh anak-anaknya. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Seorang ibu yang fokus berprofesi sebagai ibu rumah tangga saja misalnya, tak jarang berkomentar: “Aduh, jenuh nih ngurus anak dan rumah terus. Rasanya, jadi kuper dan kurang wawasan nih! Beda dengan waktu saya kerja dulu, kayaknya hidup ini bergairah dan dinamis. Tapi gimana ya.., mau ninggalin anak-anak kerja rasanya nggak tega.” </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Sebaliknya, ada juga sebagian wanita yang menganggap anak bisa meng-hambat karir. Bahkan ada yang mati-matian menunda hamil atau membatasi jumlah anak. Sikap para wanita ini sungguh ironis! Terkesan seolah memiliki anak adalah beban berat! Dengan kata lain, maunya jadi “Ibu” tapi giliran repot menjalankan fungsinya sebagai ibu, nanti dulu ah.. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:12pt;">Semakin Pintar, Semakin Repot?</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Anehnya, cerita tentang kerepotan seorang “Ibu” di zaman serba modern ini semakin bertambah. Terutama di daerah perkotaan, apalagi di kalangan menengah ke atas. Padahal, rata-rata sebuah keluarga hanya memiliki sedikit anak (1- 3 anak). Sementara, aneka perabotan dapur dan peralatan rumah tangga yang serba listrik sudah banyak membantu tugas-tugas rumah tangganya. Belum lagi ditambah pembantu, tukang kebun dan sopir yang selalu siap melayani tuannya.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Bandingkan dengan ibu-ibu dua atau tiga generasi yang lalu. Mereka rata-rata memiliki anak cukup banyak (4-12 anak). Perabot rumah tangga mayoritas masih manual. Bahkan, tak jarang yang masih memasak menggunakan kayu bakar dan setrika arang. Sekalipun jelas menyita tenaga, waktu dan pikiran, namun mereka tetap bisa menikmati perannya sebagai “Ibu” tanpa banyak mengeluh apalagi menghujat keadilan Tuhan. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Para ibu itu ada yang masih buta huruf, lulusan SD, SMP dan SMU, namun ada juga yang sarjana. Tapi, soal peran Ibu, mereka sepakat: mengasuh dan mendidik anak agar menjadi manusia yang berguna. Tak peduli mereka harus mengorbankan karir, asal anak-anak mereka kelak menjadi orang yang sukses, mereka rela. Sebab, dalam pandangan mereka, anak adalah penerus cita-cita orang tuanya. Kasih sayang yang dirasakan anak selama dalam pengasuhan ibunya menjadi modal perjuangan anak-anaknya untuk membahagiakan orang tuanya. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:12pt;">Terkikisnya Fungsi Ibu</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Bisa jadi, ketidaksiapan wanita dewasa ini menjadi “Ibu” dipengaruhi banyak faktor. Di antaranya: pendidikan, karir, ekonomi dan paradigma hidup yang materialistik. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Kini, banyak wanita yang memiliki kesempatan untuk mengenyam pendi-dikan setinggi-tingginya. Bila ada kesempatan dan dana, para orang tua pasti mengusahakan putrinya untuk bisa meraih gelar sarjana. Sedikit sekali orang tua yang merestui putrinya menikah sementara kuliah belum rampung. Artinya, belum layak menikah sebelum selesai kuliah. Padahal dari sisi usia, mereka sudah cukup dewasa dan mampu untuk menikah.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Belum lagi bila wanita harus meng-hadapi tuntutan kerja dari keluarganya. Tidak cukup syarat lulus jadi sarjana saja, mereka juga dituntut untuk mapan kerja dulu sebelum boleh menikah. Maka, semakin fokus pada karir dan sekolah, bisa jadi mereka menjadi semakin merasa belum siap menjadi “Ibu”.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Atmosfer kehidupan yang serba materialis, menyebabkan banyak wanita yang turut berkompetisi mengejar karir dan kemapanan ekonomi. Tidak salah memang orang berusaha untuk meraih kehidupan yang lebih baik, bahkan harus! Namun, bila konsekuensinya mengorbankan cita-cita berumah tang-ga, menelantarkan pengasuhan dan pendampingan anak-anak, jelas akan berbahaya!</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Maka, menjadi PR besar bagi para wanita untuk menyelaraskan tugas utamanya menjadi “Ibu” dengan aktivitas publik, di mana wanita juga dibutuhkan perannya dalam memba-ngun masyarakat. Baik aktivitas publik dalam arti bekerja secara formal maupun aktivitas publik yang bersifat sosial kemasyarakatan dan politis. Jangan sampai fungsi wanita sebagai “Ibu” menjadi terkikis dan hanya menyisakan fungsi “Ibu” secara biologis saja.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:12pt;">Generasi Tangguh, Aset Islam</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Saat seorang ibu hanya berpikir bahwa anak-anak yang dilahirkannya adalah aset orang tua dan keluarga saja, sesungguhnya dia berpikiran sangat sempit. Harapan-harapan yang diba-ngun kepada anak-anaknya pastilah hanya bersandar pada kepentingan individu dan keluarga saja. </span><span>Misalnya, “Kamu harus jadi sarjana dan mene-ruskan usaha keluarga, ya Nak&#8230; Selama kesempatan berkarir masih terbuka lebar, jangan pernah berhenti kerja.”</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Si Ibu tak akan pernah berpikir apalagi mendorong dan merelakan anak-anaknya memenuhi panggilan Islam dan berjuang untuk Islam. Misalnya, dia menggembleng anak-anaknya agar menjadi aktivis dakwah Islam. Dengan harapan, kelak anak-anaknya dapat menjadi permata-permata Islam yang akan berjuang untuk membangkitkan kembali kejayaan Islam.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Sebaliknya, berbeda dengan seorang ibu yang sadar bahwa semua anak yang terlahir dari rahimnya adalah titipan Allah SWT. Mereka paham bahwa pada hakikatnya anak-anak mereka adalah generasi pewaris risalah Islam. Maka, orientasi pengasuhan dan pendidikan untuk anak mereka tidak berhenti hanya pada kesuksesan diri dan keluarganya, tapi juga bagi keberhasilan dakwah dan perjuangan Islam.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Ibu-ibu Muslimah yang bercita-cita seperti inilah yang sangat berharga bagi umat Islam saat ini. Karena, kondisi umat Islam yang semakin terpuruk dalam kehidupan sekuler membutuhkan generasi muda yang tak hanya cerdas dan mumpuni dalam soal ilmu dan keahlian, namun juga yang memiliki idealisme Islam. Generasi yang mempunyai keberanian dan ghiroh yang tinggi dalam memperjuangkan tegaknya Syari&#8217;ah Islam. Generasi yang tak mudah dibeli dengan uang, kekuasaan dan jabatan. </span><span>Mereka akan menjadi aset besar bagi umat Islam.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:12pt;">Dicari: Ibu Tangguh!</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Tentu tak mudah menjadi seorang ibu yang mampu melahirkan generasi Islam yang tangguh dan handal. Namun, prinsipnya adalah, dia paham bahwa tugas utama seorang ibu adalah mengasuh dan mendidik anak-anaknya menjadi pejuang Islam. Dengan begitu, dia tak pernah berpikir untuk meng-alihkan pengasuhan anak-anaknya seratus persen pada orang lain. Dia juga tidak mempercayakan sepenuhnya pendidikan anaknya hanya pada sekolah yang dipilihnya. Sebaliknya, dia selalu berusaha untuk menjadi pendamping utama dan nara sumber pertama bagi anak-anaknya.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Sama saja apakah dia seorang ibu rumah tangga saja atau juga seorang ibu yang bekerja. Baginya, tugas-tugas yang dijalankan dalam rumah tangga adalah sebuah ibadah yang mulia. Dia tidak memandang pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan hina yang hanya pantas dikerjakan oleh pembantu. Maka, memasak, mencuci, memandikan anak dan lain-lain tidak akan menjadi beban berat, karena dia lakukan dalam rangka ibadah.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Bukan berarti seorang ibu tangguh hanya berkutat pada kesibukan peker-jaan rumah yang tak pernah ada habisnya. Tapi, ibu tangguh adalah ibu yang juga aktif berkontribusi dalam perjuangan Islam. Sama saja apakah aktifitas yang dilakukannya adalah membuat perubahan dalam keluarga dan lingkungan terdekat sehingga lebih Islami, atau aktifitas yang lebih luas. Misalnya, aktif dalam berbagai sektor publik seperti ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, hukum dan politik, serta mengarahkannya dalam kerangka sistem yang Islami. Siapa berminat mendaftar? (www.baitijannati.wordpress.com)<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Ummu Azkiya</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">sumber : Tabloid Suara Islam edisi 14</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/baitijannati.wordpress.com/69/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/baitijannati.wordpress.com/69/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/baitijannati.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/baitijannati.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/baitijannati.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/baitijannati.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/baitijannati.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/baitijannati.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/baitijannati.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/baitijannati.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/baitijannati.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/baitijannati.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=baitijannati.wordpress.com&blog=719720&post=69&subd=baitijannati&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://baitijannati.wordpress.com/2007/04/09/menjadi-%e2%80%9cibu-tangguh%e2%80%9d-langka-berharga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5db4c5e4e99c900e96651e7e7268e5a2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">faridm</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>