Baiti Jannati — Pada hari ahad tanggal 27 Juli 2008, bertempat di Aula Balai Kota Jogjakarta, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) DPC Kota Jogjakarta menggelar Workshop dengan tema “Pendidikan Integral Anak Usia Dini Berbasis Aqidah Islam“.
Acara yang diselenggarakan sebagai rangkaian peringatan Hari Anak Nasional ini menampilkan pembicara Ibu Nur Habibah, S.Psi, M.Si (Konsultan Masalah Anak dan Keluarga), Ibu Aini Qori’ah, A.Md (HTI Kota Jogjakarta), dan Ibu Shinta Asri Risnaeni, S.Psi (Home Schooling Group Karima Aqila).Baca entri selengkapnya »
Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga yang saya hormati, Saya ibu dari 3 orang anak. Anak pertama saya, laki-laki berumur10 tahun, kedua perempuan 7 tahun dan yang ketiga perempuan juga masih 3 tahun. Alhamdulillah mereka tumbuh sehat dan menyenangkan. Kalau sedikit nakal, namanya juga anak-anak. Saya dan suami kebetulan cukup aktif dalam kegiatan dakwah sejak kami masih sama-sama kuliah dulu. Setelah saya berkeluarga, saya ingin agar anak-anak kelak juga mengikuti jalan kehidupan seperti yang sudah kami pilih, yaitu kehiduppan dalam dakwah. Apa yang seharusnya saya lakukan, agar anak-anak kelak senang berada dalam kehidupan dakwah dan menjadi pengemban dakwah yang tangguh? Apakah mungkin saya bisa memulainya sejak dari sekarang. Terima kasih untuk saran-sarannya?
Baiti Jannati. “Ya, jangan pernah ajari anak berbohong”. Judul yang provokatif. Tak ada orang yang mau anaknya menjadi pembohong. Semua ingin punya anak jujur. Tahukah Anda, justru kitalah yang selama ini, sadar atau tidak, telah mengajari anak-anak berdusta?
Peristiwa ini sudah lebih dari setahun berlalu. Entah mengapa, sampai sekarang saya tak pernah benar-benar bisa melupakannya. Saya menyesal. Kesal. Oh, seandainya waktu bisa berputar, saya pasti akan memperbaikinya. Baca entri selengkapnya »
Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga yang saya hormati, Saya ibu dari 3 orang anak. Anak pertama saya, laki-laki berumur10 tahun, kedua perempuan 7 tahun dan yang ketiga perempuan juga masih 3 tahun. Alhamdulillah mereka tumbuh sehat dan menyenangkan. Kalau sedikit nakal, namanya juga anak-anak. Saya dan suami kebetulan cukup aktif dalam kegiatan dakwah sejak kami masih sama-sama kuliah dulu. Setelah saya berkeluarga, saya ingin agar anak-anak kelak juga mengikuti jalan kehidupan seperti yang sudah kami pilih, yaitu kehiduppan dalam dakwah. Baca entri selengkapnya »
Ditulis oleh Farid Ma'ruf di/pada Februari 15, 2008
Keluarga Samara. Dalam perkembangannya, seorang anak akan mengalami perubahan secara fisik maupun psikis dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Di antara dua masa tersebut, ada masa peralihan, yang biasanya dikenal dengan istilah remaja atau masa puber. Namun, dalam pandangan Islam status seorang hamba di hadapan syariah hanyalah diakui dalam dua fase, yaitu fase kanak-kanak dan fase dewasa atau balig. Adanya perbedaan di antara dua fase ini disebabkan perbedaan dalam hal terbebani hukum syariah (mukallaf) dan tidak terbebani hukum syariah (ghayru mukallaf). Seorang yang telah dewasa (balig) dan memiliki akal yang sehat secara otomatis terkena segala konsekuensi dan bertanggung jawab penuh terhadap seluruh perbuatan yang dilakukannya. Dia mendapat pahala dengan melakukan perbuatan wajib dan sunnah dan berdosa ketika meninggalkan perbuatan wajib atau melakukan perbuatan haram. Adapun anak kecil atau orang dewasa yang tidak sempurna akalnya, tidaklah terbebani. Inilah makna balig yang sesungguhnya menurut Islam.Baca entri selengkapnya »
Ditulis oleh Farid Ma'ruf di/pada Januari 13, 2008
Oleh : Zulia Ilmawati
(Psikolog, Pemerhati Masalah Anak dan Keluarga)
baitijannati. Libur akhir semester bersamaan dengan liburan akhir tahun telah tiba. Anak-anak tentu sangat antusias menghadapinya, demikian juga orangtua. Banyak keinginan yang ingin dilakukan oleh anak. Mereka tentu ingin merasakan suatu pengalaman baru yang menarik dan menyenangkan. Tidak sedikit orangtua bahkan dengan sengaja menjadwalkan cuti untuk menemani anaknya berlibur. Liburan sekolah memang kesempatan yang sangat baik untuk ajang kebersamaan keluarga. Orangtua yang selama ini sibuk bekerja sehingga interaksi dengan anak-anak sangat terbatas melihat peluang bagus untuk melakukan kegiatan bersama seluruh keluarga.Baca entri selengkapnya »
Lazimnya, anak-anak bersifat posesif. Tapi, bukan berarti karakternya tidak bisa dibentuk agar menjadi orang yang peduli.
”Bu, aku ingin berkorban seperti Extra Joss,” kata si bocah, lantas berlari hendak menyerahkan daging kambing yang diperolehnya kepada yang lebih membutuhkan.
Benar, adegan indah itu hanya iklan. Seindah budi pekerti Lala dalam sinetron Bidadari, yang pemerannya yakni Marshanda kini mulai main drama cinta-cintaan anak SMP. Tapi, bukan berarti keluhuran berkorban seperti itu tidak ada sama sekali dalam kenyataan sehari-hari.Baca entri selengkapnya »
Ditulis oleh Farid Ma'ruf di/pada September 15, 2007
Keluarga Samara.Shaum (puasa) Ramadhan adalah salah satu pilar dari Rukun Islam. Maka mendidik anak untuk berpuasa Ramadhan menjadi kewajiban keislaman yang integral bagi para orang tua. Para sahabat Rasul telah mendidik putra-putri mereka yang masih kecil untuk berpuasa. Seperti yang dituturkan shahabiyah Rubayyi’ binti Mu’awwiz tentang bagaimana cara mereka mendidik anak-anak mereka berpuasa Asyura (sebelum diwajibkan puasa Romadhon): “…dan kami melatih anak-anak kami yang masih kecil untuk berpuasa. Kami bawa mereka ke masjid dan kami buatkan mereka mainan dari bulu. Apabila diantara mereka ada yang merengek minta makan, maka kami bujuk dengan mainan itu terus hingga tiba waktu berbuka.” (HR. Bukhari Muslim).Baca entri selengkapnya »
Oleh: Mia Endriza Y, S.P.
Ketua AlPen ProSa Kalsel
Syariah Publications. Homeschooling atau sekolah rumah, masih saja menjadi bahan perbincangan yang menarik. Penerapan homeschooling pun tak sepi dari pro dan kontra. Memang, homeschooling sendiri sebenarnya bukan barang baru di dunia pendidikan. Pemerintah sendiri mengamini keberadaan homeschooling melalui UU Sisdiknas, Pasal 27 mengenai pendidikan informal. Baca entri selengkapnya »
”Barangsiapa mempunyai anak perempuan, tidak dikuburkannya anak itu hidup-hidup, tidak dihinakannya, dan tidak dilebihkannya anaknya laki-laki dari perempuan itu, maka Allah memasukannya ke dalam surga dengan sebab dia.” (HR Abu Dawud). Di masa Rasulullah, ada seorang ibu miskin membawa kedua putrinya ke hadapan Aisyah. Aisyah kemudian memberinya tiga kurma. Ibu miskin ini membagikan masing-masing satu kurma untuk anaknya dan sisanya untuk dirinya. Baca entri selengkapnya »