Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Hukum Pernikahan Dini (Kasus Syekh Puji)

Posted by Farid Ma'ruf pada November 17, 2008

Tanya :

Ustadz, bolehkah seorang laki-laki dewasa menikahi seorang anak perempuan yang masih kecil dan belum haidh (seperti kasus Syekh Puji)?

Jawab :

Hukumnya boleh (mubah) secara syar’i dan sah seorang laki-laki dewasa menikahi anak perempuan yang masih kecil (belum haid). Dalil kebolehannya adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. Dalil Al-Qur`an adalah firman Allah SWT (artinya) :

“Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (menopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid.” (QS Ath-Thalaq [65] : 4).

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menyatakan bahwa yang dimaksud “perempuan-perempuan yang tidak haid” (lam yahidhna), adalah anak-anak perempuan kecil yang belum mencapai usia haid (ash-shighaar al-la`iy lam yablughna sinna al-haidh). Ini sesuai dengan sababun nuzul ayat tersebut, ketika sebagian shahahat bertanya kepada Nabi SAW mengenai masa iddah untuk 3 (tiga) kelompok perempuan, yaitu : perempuan yang sudah menopause (kibaar), perempuan yang masih kecil (shighar), dan perempuan yang hamil (uulatul ahmaal). Jadi, ayat di atas secara manthuq (makna eksplisit) menunjukkan masa iddah bagi anak perempuan kecil yang belum haid dalam cerai hidup, yaitu selama tiga bulan.

Imam Suyuthi dalam kitabnya Al-Iklil fi Istinbath At-Tanzil hal. 212 mengutip Ibnul Arabi, yang mengatakan,”Diambil pengertian dari ayat itu, bahwa seorang [wali] boleh menikahkan anak-anak perempuannya yang masih kecil, sebab iddah adalah cabang daripada nikah.”

Jadi, secara tidak langsung, ayat di atas menunjukkan bolehnya menikahi anak perempuan yang masih kecil yang belum haid. Penunjukan makna (dalalah) yang demikian ini dalam ushul fiqih disebut dengan istilah dalalah iqtidha`, yaitu pengambilan makna yang mau tak mau harus ada atau merupakan keharusan (iqtidha`) dari makna manthuq (eksplisit), agar makna manthuq tadi bernilai benar, baik benar secara syar’i (dalam tinjauan hukum) maupun secara akli (dalam tinjauan akal). Jadi, ketika Allah SWT mengatur masa iddah untuk anak perempuan yang belum haid, berarti secara tidak langsung Allah SWT telah membolehkan menikahi anak perempuan yang belum haid itu, meski kebolehan ini memang tidak disebut secara manthuq (eksplisit) dalam ayat di atas.

Adapun dalil As-Sunnah, adalah hadits dari ‘Aisyah RA, dia berkata :

“Bahwa Nabi SAW telah menikahi ‘A`isyah RA sedang ‘A`isyah berumur 6 tahun, dan berumah tangga dengannya pada saat ‘Aisyah berumur 9 tahun, dan ‘Aisyah tinggal bersama Nabi SAW selama 9 tahun.” (HR Bukhari, hadits no 4738, Maktabah Syamilah). Dalam riwayat lain disebutkan : Nabi SAW menikahi ‘A`isyah RA ketika ‘Aisyah berumur 7 tahun [bukan 6 tahun] dan Nabi SAW berumah tangga dengan ‘Aisyah ketika ‘Aisyah umurnya 9 tahun. (HR Muslim, hadits no 2549, Maktabah Syamilah).

Imam Syaukani dalam kitabnya Nailul Authar (9/480) menyimpulkan dari hadits di atas, bahwa boleh hukumnya seorang ayah menikahkan anak perempuannya yang belum baligh (yajuuzu lil abb an yuzawwija ibnatahu qabla al-buluugh).

Berdasarkan dalil-dalil di atas, jelaslah bahwa mubah hukumnya seorang laki-laki menikah dengan anak perempuan kecil yang belum haid. Hukum nikahnya sah dan tidak haram. Namun syara’ hanya menjadikan hukumnya sebatas mubah (boleh), tidak menjadikannya sebagai sesuatu anjuran atau keutamaan (sunnah/mandub), apalagi sesuatu keharusan (wajib). Wallahu a’lam. [www.konsultasi-islam.com  ]

Yogyakarta, 16 Nopember 2008

Muhammad Shiddiq Al-Jawi

About these ads

6 Tanggapan to “Hukum Pernikahan Dini (Kasus Syekh Puji)”

  1. yudhi berkata

    dasar hukum sudah jelas,jadi ga’ada masalah sebenarnya,atau ada pendapat yang lain yang lebih kuat…

  2. Agus setiawan berkata

    Scr syari ok2 z cm scr ilm kshtn jg wjb dprtmbngkn mnjang krngk kyknan logis dlm hkm2 islm yg g mntp pd hal2 yg kntenporer dmi mncrdskn umtny.

  3. nana say's: berkata

    Fenomena pernikahan seperti ini memang sudah dapat kita jumpai di masyarakat, khususNa di pedesaan.Hal ini dikarenakan di desa usia seperti ulfah sudah menikah karena memang adanya faktor seperti: pendidikan yang relatif rendah,sosial,budaya. Sehingga ini jika kita bandingkan dengan pernikahan Syekh Puji dengan Ulfah sangat berbeda konteksnya.. Memang yang membuat berita ini fenomenal dikarenakan beliau sebagai “Pengusaha dan Pemilik Pesantren”.. Beliau berdalih apabila menikahi Ulfah, diperbolehkan oleh ajaran Islam, seperti dalil As-sunnah yang telah disebutkan diatas,, memang sich sah2 saja jika beliau berkata begitu …akan tetapi Syekh Puji juga harus menyadari jika sekarang beliau tinggal di mana dan Indonesia bagaimana dan Hukum indonesia tentang perikahan bagaimana,,,, dan Saya rasa beliau sudah mengetahui tentang ini… Jika beliau tidak bersependapat ya jangan tinggal di Indonesia dunk…. Mudah Kan???

    Menurut saya lebih baik beliau menyadari sekarang beliau tinggal di mana dan Indonesia menggunakan hukum yang bagaimana

  4. yul berkata

    heeee??? Saya ini muslim, dan juga termasuk cucu seorang Kyai yang punya pesantren di Banten..

    Maaf maaf buat yang tersinggung, tapi saya sangat tidak setuju dengan Al-Quran yang mengizinkan anak dibawah umur (apalagi 6-7 tahun!!!) untuk menikah..

    Apakah mereka ngga memikirkan dampak psikologis yang bisa terjadi pada anak itu? apakah ngga sebaiknya mereka berpikir secara LOGIKA untuk memberikan anak itu PENDIDIKAN YANG LAYAK ketimbang memberikannya BEBAN HIDUP yang seharusnya hanya diterima oleh wanita dewasa yang mampu berpikir apa yang terbaik untuk dirinya..

    Subhanallaah…
    Kalau begini sih, kayaknya ngga heran Muslim di dunia selalu di cemooh, karena bodoh, miskin, dan tidak punya masa depan.

    Siapa yang setuju kalau pembangunan negara yang baik itu terletak dari kepiawaian seorang Ibu dalam membina rumah tangganya?

    Sekarang bagaimana suatu keluarga, apalagi negara, dapat maju jika seorang Ibu dalam hampir kebanyakan keluarga adalah masih anak-anak, yang belum bisa berbuat apa-apa demi pembangunan anak2nya??

    PIYE THO NDUUUUUKKKK????

    Tanggapan :
    Pernyataan anda :”Maaf maaf buat yang tersinggung, tapi saya sangat tidak setuju dengan Al-Quran yang mengizinkan anak dibawah umur (apalagi 6-7 tahun!!!) untuk menikah.. ”
    Itu harus diralat karena termasuk salah satu bentuk pengingkaran terhadap Al Quran.

    • boy berkata

      emang nya alquran bisa diralat ???????????

      • boy berkata

        untuk yul: kalo alquran membolehkan tentu ada hikmah dibalik itu karna allah maha tahu..jika anda anda tidak setuju dengan alquran berarti anda menentang allah dong??? jika anda menentang firman allah tunggu aja azab dari allah, azab allah itu maha pedih.. segeralah anda bertobat karena anda tidak setuju dengan al quran, jangan sampai allah mengazab anda terlebih dahulu, allah bisa saja membutakan mata anda atau melumpuhkan anda dalam detik ini juga ..allah mahaperkasa sedangkan anda adalah makhluk yg hina didepan allah..semoga anda diberi petunjuk..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.268 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: