Ta’aruf Gagal Terus?
Ditulis oleh Farid Ma'ruf di/pada November 12, 2007
Oleh : Ummu Raihanah
baitijannati. Fenomenaaa yang sering terjadi dikalangan muslim dan muslimah yang
sedang mempersiapkan diri ke gerbang pernikahan biasanya akan melalui “fase ta’aruf”. Suatu usaha atau ikhtiar untuk mengetahui hakikat calon pasangan kita. Bagaimana sifat dan karakternya, keluarganya, gaya hidupnya, dan seabreg-abreg “rahasia si dia” yang
ingin kita ketahui dengan detail dalam ta’aruf adalah di bolehkan dalam islam. Agar mantap sebelum terjadi pinangan/lamaran.
Sayangnya, sering terjadi dari pihak wanita kurang jeli dalam memanfaatkan moment ini, banyak diantara mereka yang melihat beberapa nilai plus dari calonnya langsung mengatakan “iya”, terburu-buru menjatuhkan pilihan. Dengan alasan bahwa lamaran bisa di batalkan atau dengan kata lain mudah dibatalkan maka ketika ditengah perjalanan sering kita temui “korban-korban” berjatuhan, baik dari pihak wanita maupun laki-lakinya. Banyak di pihak lelaki kecewa atau juga mungkin dari pihak laki-laki yang menarik pinangannya sehingga pihak wanita juga kecewa.
Gagal dalam ta’aruf? jangan terlalu bersedih dan kecewa. Tapi juga ingat dan sadari berapa banyak pilihan yang kita inginkan dari calon pasangan kita. Ingatlah,…bahwa sosok yang kita harapkan menjadi pendamping hidup kita tidak akan bisa sempurna total!! bagi pihak wanita biasanya figure yang diharapkan adalah seperti Rasulullah
shalallahu alaihi wassalam dan bagi pihak lelaki sudah sering penulis dengar menginginkan sosok yang cerdas seperti Aisyah atau mungkin yang berhati mulia seperti Khadijah.
Terlalu tinggi memasang target?? Iya,..karena itulah banyak yang mengharapkan calon pasangannya mampu begini dan begitu, harus bisa ini dan itu dan sebagainya. Sehingga sebenarnya kegagalan dalam melewati fase ta’aruf adalah karena tingginya target yang di
harapkan dari calon pasangannya.
Melihat dengan jujur apa yang ada dalam diri kita, mengaca dan menggali kembali kemampuan, kelebihan dan kekurangannya adalah sangat perlu di perhatikan bagi muslim dan muslimah yang berniat akan menikah. Sehingga apabila memang hatinya “khalisan lillah li wajhillah” benar-benar ingin menikah karena Allah, ikhlas karena
Allah semata, karena mengharapkan wajah-Nya semata maka dia tidak akan memasang target atau impian yang terlalu tinggi dan muluk.
Karena sesungguhnya Allah sendiri telah menjamin hal itu bagi hamba-hamba-Nya yang baik yang shalih akan mendapatkan pasangan yang shalihah juga sebagaimana firman-Nya: “Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula.” (An-Nuur: 26)
Berfikir positif dan selalu berhusnudzan (berbaik sangka/ positive thinking- pen) kepada Allah harus selalu ada dalam pikiran kita ketika menghadapi kegagalan dalam ta’aruf. Boleh jadi ketika kita sangat menginginkan calon pasangan kita itu ternyata ia adalah bukan yang terbaik di sisi Allah Azza wa jalla, dan kemungkinan lain Allah akan menggantikannya dengan calon lain yang lebih baik.
Cobalah renungkan pula firman-Nya berikut ini : “boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahuinya.” (Al-Baqarah :216)
Tetaplah berdoa dan berusaha sesuai dengan kemampuan kita dan janganlah terlalu memasang target yang terlalu tinggi sebagaimana penulis ungkapkan diatas agar kita tidak selalu “gagal” dalam ta’aruf .
Buat saudariku muslimah yang masih “gagal” dalam ta’aruf perbanyaklah doa kepada-Nya. Mintalah yang terbaik bagi kehidupanmu di dunia dan akhirat nanti. Janganlah karena omongan kanan-kiri, karena usiamu yang terus bertambah membuat engkau tak sabar. Ingatlah bahwa pernikahan bukanlah hanya untuk satu hari atau dua hari dan berapa banyak tanggung jawab yang akan engkau emban setelah engkau menikah tentu akan membuatmu berfikir dengan akalmu bukan dengan perasaanmu.
Jangan menyerah,..wahai saudariku !! Usaha ta’aruf lagi sampai Allah pertemukan engkau dengan calon pasanganmu. Sesungguhnya IA tidak akan menyia-nyiakan amal usahamu dan juga doamu. Wallahu `alam bish-shawwab. (www.baitijannati.wordpress.com)
Sydney, june 2005
Sumber : www.tentang-pernikahan.com



sincan taubat berkata
assalamualikum iya2 tahu kang farid, permasalahanya kita kadng tdk mengaca diri kita yang sebenarnya banyak kekurangan namun utopis ketika kita menginginkan kelebihan… ya gak… ya gak… siapa yang siap nikah demi Allah segera nikah tunggu apa lagi klu memang alasn itu yang membuat km begini.walhasil tulisan ini membuat aku berfikir lagi untuk memasang target.sesungguhnya hidup ini hanya untuk beribadah kan…hayooo pejuang syariah tunggu apa lagi… cepat gapai kemulian ini dengan MENIKAH…he… lupa saya aja belum nikah..AFWAN was
firda alhimjarry berkata
apa yah… jadi bahan renungan ni tema.. >_>
kalo pun gagal,”bukan gagal” tapi ditunda… allaah swt pasti memberikan rencana indah di balik semuanya ketika ta’aruf pasca khitbah “gagal”
“terkadang allaah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan keinginan kita, allaahu ‘alam wa laa ‘alam”.. ketika gagal diharapkan kita bisa makin belajar..
“semakin mendewasakan diri, lebih berfikir bijak, lebih ‘arif juga”
menurut saya, kegagalan ketika ta’aruf itu disebabkan oleh komunikasi yang kurang efektif antara kedua belah pihak.. dilatarbelakangi, bisa jadi karena perbedaan karakter dan sikap sehingga ada penyikapan yang salah dan kurang tepat..
antara kesukaan, kebenciaan, ketidak sukaan terhadap karakter calon pasangannya… sehingga “jk, niatnya kurang” tulus, akan diputuskan secara sepihak… dengan alasan “ketidak cocokan sifat”..
intinya, ketika akan meminang atau menerima pinangan.. terlebih dahulu dijelaskan mengenai karakter + sifat masing-masing sehingga tidak ada asumsi yang negatif, dan men-judge tanpa ada klarifikasi…
saling memahami dan menerima satu sama lain… dan yang utama adalh niat yang tulus ketika akan meminang ato menerima pinangan, ini yang paling penting… jika niat kita tulus insyaa allaah kita akan menerima calon yang akan menjadi pendamping kita “apa adanya”…
“sikap menerima” bukan berarti kita “diam, menerima” ketika dari calon pasangan berbuat salah akan tetapi.. kita menerimanya sebagai “sosok manusia” yang penuh dengan pesona yang layak untuk tetap dihargai sebagai manusia ketika berbuat salah ato ada sikap dan presepsi yang kita tidak sukai darinya… bukan sebagia “objek” maka pasti kita akan cenderung akan mendikte dia apa yang kita inginkan… walaupun itu “benar tapi cara penyampaiannya bisa jadi kurang tepat…
wallahu’alam bishawab
Katiran Sutrisno berkata
Lho… ini ruang akhwat ya! sori gak liat kanan kiri ga sadar liat langsung masuk pas judul artikelnya memotivasi banget!
Jazakumullah!
boejank berkata
emang….selagi masih muda banyak yang memasang target terkadang susah…..buat akhwat…jangan terlalu tinggi masang targetnya….karena mungkin banyak ikhwan yang bisa berubah setelah menikah….bukan kah ini juga ladang dakwah buat akhwat…….jangan lah dikau berkoar-koar diluar tapi menampik dakwah yang satu ini,,,,,dengan menentukan target yang susah sekali dijangkau ikhwan yang ilmunya pas-pasan kayak saya ini……no body is perpect but you can change it to The Best……saya sering ta’aruf n ditolak akhwat….tapi saya tak berkecil hati….ngapain pusing,,,,…toh masih banyak wanita……wahai akhwat sadarlah sebelum terlambat…karena wanita didunia lebih banyak drpd Pria……maaf bila ada yang tersinggung……..